Locita

Banjir, Kapan Kita Menyalahkan Diri Sendiri? Sampah yang Kita Buang Sembarangan Turut Menyebabkan Banjir

foto : www.boombastis.com

Barangkali ada bagusnya negara kita memiliki hanya dua musim. Musim kemarau dan hujan. Dengan jumlah musim yang sedikit sekiranya kita bisa lebih siaga dan lebih bisa mengantisipasi dampak buruknya. Jika musim kemarau mungkin kita bisa mengantisipasi potensi kebakaran dan kekeringan. Jika musim hujan, potensi longsor dan banjir bisa diwaspadai. Semestinya begitu!

Bandingkan dengan negara-negara empat musim. Empat musim dengan baik buruknya masing-masing. Jika musim panas, kekeringan melanda. Jika musim gugur, kedinginan mencucuk tulang, tagihan listrik naik, dan pada kedingingan ekstrim bisa menyebabkan lumpuhnya aktivitas. Pun begitu saat salju turun. Salju yang melimpah ruah bisa menjadi pekerjaan baru petugas. Sedangkan, saat musim semi ketika bunga-bunga bersemi, yang dapat menimbulkan alergi dan gangguan pernapasan.

Tetapi, toh nyatanya kita juga belum antisipatif dengan dua musim saja. Sama seperti sekarang. Banjir setiap tahun seperti jadi agenda rutin. Dan selalu menimbulkan kerugian material dan nonmaterial yang tak ternilai. Betapa sulit kita belajar dari pengalaman dan menjadikannya pelajaran di masa depan. Lalu, ketika banjir merendam kota, melumpuhkan aktivitas, merusak barang-barang, dan sampai merenggut nyawa, kita masih saling menyalahkan.

Di Jakarta, yang kini menderita banjir sebagiannya, sedang sibuk saling menyalahkan antara pendukung Ahok dan Anies. Tentu saja, mereka yang saling berdebat biasanya tidak terkena banjir. Bahkan seringkali tempat tinggalnya jauh dari Jakarta. Makassar misalnya, sebuah kota yang yang sebagian wilayahnya tak bebas juga dari banjir.

Ada sebuah foto yang menjadi trending topik selepas hujan deras mengguyur Jakarta dan terjadilah banjir. Foto itu viral. Sebuah foto yang menampilkan kontras. Jalanan yang penuh air berwarna keruh karena banjir dan di sampingnya sebuah kolam renang di sebuah hotel dengan kolam dan air yang jernih.

Sesaat kemudian, saya mengenal tempat itu. Dua tahun lalu saat persiapan pemberangkatan ke Amerika Serikat, kami di tempatkan di hotel itu beberapa malam. Hotel Shangri-La namanya. Sebuah hotel mewah yang tak akan sanggup saya inapi jika tidak dibayarkan. Pada banjir di Jakarta, kolam renangnya jauh dari jangkauan air banjir yang kotor dan berwarna kecokelatan.

Seorang kemudian memberinya kepsyen (caption). Di luar itu adalah kolam renang rakyat jelata dan di kolam renang hotel itu adalah kolam renang orang kaya. Perbandingan ini tidak salah amat tetapi juga tidak begitu benar.

Terlepas dari yang paling merasakan dampak buruk banjir adalah sebagian besar warga menengah ke bawah, warga entah kaya atau miskin, juga berperan terhadap terjadinya banjir. Seberapapun besarnya atau seberapapun kecilnya.

Ketika banjir meluap, seperti sekarang ini, kita hanya saling menyalahkan dan sedikit-sedikit akan menyalahkan pemerintah tanpa sadar kita juga turut berkontribusi. Entah berapa banyak aturan, berapa banyak peringatan, seberapa keras ancaman dendanya, orang-orang kita masih memiliki kebiasaan membuang sampah sembarangan. Tidak pada tempatnya. Kali dan got penuh dengan sampah, terutama plastik yang sulit terurai. Bahkan sampai tulang belulang kita pun jadi debu dan bersatu dengan tanah, sampah-sampah itu masih utuh.

Justru jadi pemandangan aneh ketika kita menemui selokan yang bersih dari sampah. Yang ada sebaliknya. Entah berapapun petugas kebersihan dan seberapa banyak pun undang-undang dan peraturan di tempel di mana-mana, dianggarkan dananya oleh pemerintah tanpa peran serta kesadaran masyarakat kita sendiri, tetap saja akan selalu seperti itu.

Kesadaran itu paling tidak dibudayakan dalam keluarga sendiri. Dimulai dari diri sendiri. Apa susahnya membuang sampah pada tempatnya dan mencontohkannya pada anak? Kalau setiap dari kita melakukan ini, maka akan semakin banyak orang, dan akhirnya menjadi mayoritas yang melakukan, menjadi kesadaran umat bersama sampai mereka yang membuangnya merasa malu sendiri. Sampai akhirnya kita tidak perlu peringatan dan ancaman undang-undang. Peringatan dan aturan yang seringkali sama tidak berartinya bahkan dengan ancaman hadis jika kebersihan adalah sebagian dari iman. Dan sudah tentu membuang sampai sembarangan adalah kebalikannya.

Ya mungkin dengan tidak membuang sampah sembarangan di sungai, kali, dan selokan belum tentu dapat menghalau banjir. Karena penyebab banjir toh bukan karena satu hal belaka. Namun, paling tidak dengan tidak membuang sampah sembarangan ke got, airnya tidak sekeruh dan sekotor seperti yang biasa kita lihat ketika sampah-sampah plastik mengapung.

Seperti halnya ketika beberapa kota di Jepang terkena banjir namun kebersihan airnya membikin takjub. Yah mungkin tidak sejernih di kolam renang Shangri-La tapi setidaknya tidak sekotor yang kita saksikan (dan mungkin sering alami).

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.