Locita

Bahkan Demokrat Juga Merapat ke Jokowi

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

“JIKA Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa menakdirkan, sangat bisa. Partai Demokrat berjuang bersama bapak,” kata Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam sambutan pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat baru-baru ini.

Pernyataan tersebut langsung disambut riuh tepuk tangan para kader Demokrat yang hadir.

Bagi sebagian kalangan, pidato SBY itu langsung dianggap sebagai sinyal merapatnya Demokrat ke barisan Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang.

Proses apresiasi SBY terhadap Jokowi bukan kali ini saja. Dalam pidatonya pada peringatan Hari Lahir Partai Demokrat tahun lalu, SBY sudah menginstruksikan kadernya untuk mengawal pemerintahan.

Dia meminta kadernya untuk memberikan kritik konstruktif kepada pemerintah. Pernyataan itu dia sampaikan sebab terjadinya hambatan dalam pemberantasan korupsi yang terjadi dalam negeri.

Jika SBY dengan Partai Demokratnya benar-benar berkoalisi dengan pendukung Jokowi di Pilpres 2019, ini akan menjadi dinamika politik baru. Selama ini, nama SBY dan Demokrat dalam pentas politik nasional seakan-akan tenggelam. Orang selalu berbicara poros Jokowi atau poros Prabowo semenjak berakhirnya perhelatan Pilpres 2014 lalu. Bicara politik Indonesia seolah-olah hanya dua kubu itu.

Secara koalisi, ini pun akan menjadi keunikan tersendiri. Sebab semenjak Pilpres 2004 sampai 2014, belum pernah Demokrat berkoalisi dengan PDI-P, partai Jokowi. Adanya head to head antara koalisi pimpinan Demokrat dan PDI-P.

Pilpres 2004 pasangan SBY – JK berhadapan di putaran kedua melawan Megawati – Hasyim Muzadi. Tahun 2009, SBY dengan Boediono berhadapan dengan Megawati dan Prabowo. Dan, kedua momentum itu dimenangkan oleh SBY bersama pasangannya.

Meski demikian, catatan di atas sekaligus menunjukkan bahwa peluang koalisi antara Demokrat dan PDI-P sulit untuk diwujudkan. Misalnya, butuh kebesaran hati seorang Megawati untuk legowo, bahwa partainya akan berkoalisi dengan kelompok yang pernah mengalahkannya dua kali berturut – turut.

Memang, Megawati dan partainya pernah melawan kelompok yang pernah berkoalisi dengannya di Pilpres 2014 lalu. Akan tetapi belum pernah berkoalisi dengan orang yang pernah menjadi pesaingnya di pentas politik nasional.

Sulit untuk diwujudkan bukan berarti tidak mungkin. Syarat utama yang harus dipenuhi adalah seberapa besar Demokrat bisa mendulang suara untuk meyakinkan Jokowi dan PDI-P.

Pada pemilu lalu, Demokrat mengalami penurunan suara yang signifikan, hanya 10,19 persen. Padahal di momentum yang sama tahun 2009 partai berlambang mercy  itu memperoleh suara 20 persen lebih. Sebaliknya, PDI-P sebagai calon koalisinya, mengalami kenaikan. Mendapatkan sekitar 14 persen suara di pemilu 2009 menjadi 18 persen lebih pada tahun 2014.

Situasi pelik ini harus dihadapi Demokrat dengan serius kalau ingin kembali menjadi bagian dari barisan pemerintahan. Sebab agak miris sebenarnya melihat penurunan suara itu ketika Demokrat baru saja menjadi the ruling party sepanjang periode 2009 hingga 2014. Ini juga berarti banyaknya suara yang beralih ke partai lain, entah karena ketidakpuasan selama pemerintahan SBY periode kedua, atau karena tawaran kompetitor lebih meyakinkan.

AHY Sebagai Cawapres Jokowi?

Susah untuk memperhatikan kandidat lain dari Demokrat. Selain SBY praktis yang muncul ke permukaan adalah anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Selain sudah menjalani proses politik praktis di Pilkada DKI yang lalu, AHY juga kerap bersilaturahim dengan para tokoh termasuk juga menemui Presiden Jokowi beberapa kali. Selain itu AHY kerap turun kedaerah-daerah. Nampaknya AHY memang serius melanjutkan kiprah sang ayahanda di dunia politik.

Hasilnya pun sudah mulai tampak. Nama AHY sudah dikenal publik secara luas. Meskipun elektabilitasnya belum tinggi, dalam beberapa survei terakhir namanya selalu muncul sebagai kandidat presiden.

Dalam survei Poltracking Indonesia akhir Januari sampai awal Februari lalu, AHY dikenal oleh 65% responden dari total 1.200. Dia menduduki peringkat kelima untuk urusan dikenal publik setelah Jokowi, Prabowo, JK dan Anis Baswedan secara berturut-turut.

Menariknya lagi, dalam pertanyaan terbuka mengenai siapa calon presinde yang akan dipilih jika Pilpres dilaksanakan saat itu, AHY menduduki peringkat ketiga, setelah Jokowi dan Prabowo.

Kondisi yang tidak jauh berbeda juga ditunjukkan dalam hasil survei Median. Elektabilitas AHY berada pada posisi kelima setelah Jokowi, Prabowo, Gatot dan Anies.

Rilis Median juga menunjukkan bahwa terjadi kenaikan elektabilitas AHY dari bulan Oktober tahun lalu. Kala itu, elektabilitasnya hanya berada di bawah satu persen. Namun pada awal Februari, persentasenya sudah mencapai tiga persen.

Semakin populernya AHY sebagai pelanjut SBY tentu bisa dimanfaatkan Demokrat untuk mendulang suara. Apalagi dengan sosoknya yang masih muda dan keberaniannya terjun ke dunia politik meski meninggalkan karir militer.

Kalau proses politik menjelang pemilu 2019 berjalan dengan baik bagi Demokrat, bukan tidak mungkin AHY maju menjadi cawapres Jokowi. Gayung pun juga bersambut.

Sinyalemen yang disampaikan SBY di atas dijawab Jokowi dengan menyatakan bahwa dia adalah seorang demokrat. Namun, tentu saja dalam makna Jokowi adalah seorang yang pro demokrasi, menghormati perbedaan, dan menjalani proses politik dengan santun. Bukan berarti bahwa Jokowi adalah simpatisan atau kader partai Demokrat.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Add comment

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.