Locita

Bagaimana Kapitalisme Mengeksploitasi Ketakutan Kita Akan Hari Tua

Jadi saya akan berada di ruang publik, mungkin memesan kopi, dan seseorang yang tak saya kenal akan memanggil saya dengan panggilan “manis”. Saya adalah seorang wanita 60 tahun, dan terlihat seperti wanita tua. Karena orang-orang sudah tak pernah memanggil saya “manis” sejak saya berusia 5 tahun, saya kira mungkin ini karena usia saya. Hal ini terlihat lebih nyata ketika seorang asing menyebut saya dengan “gadis muda” dalam situasi dimana kata “permisi”, “halo”, “hai, kamu”, atau “maafkan saya, bu”, sebenarnya dapat dipakai.

Serangan mikro seperti itu, disadari maupun tidak, tidak hanya ditujukan pada wanita tua. Seorang teman seumuran saya yang punya janggut abu-abu mencolok sedang berkeringat di tengah akhir maraton ketika seorang pria muda di kursi penonton berteriak, “Kerja bagus, orang tua!”

Selama beberapa dekade, “umur-isme” sudah menjadi salah satu “isme” sebagaimana rasisme dan seksisme yang tak dapat diterima dalam diskursus progresif dan ilegal dalam hukum anti diskriminasi AS. Tetapi umurisme terhadap orang-orang tua tetap menjadi bias yang paling tak dipikirkan dan diterima secara luas diantara bias-bias lainnya.

Lihatlah ke media, mulai dari iklan hingga berita, yang memproyeksikan penuaan secara eksklusif sebagai kehilangan – mulai dari aspek fisik dan kemampuan pikiran, pekerjaan produktif, keuangan, romansa, dan kehormatan. Penggambaran menyedihkan dan terkadang merendahkan itulah yang membuat kita takut pada penuaan. Untuk menjauhkan diri dari kecemasan kita, kita melabeli orang-orang tua, mengatakan bahwa mereka adalah “yang lain”, dan memarginalisasi mereka, mungkin paling jelas terlihat dari panggilan-panggilan kasual terhadap orang tua yang asing.

Saya melihat umurisme lebih jelas sekarang karena saya merupakan subjek. Jadi, saya menyambut buku baru Ashton Applewhite, Kursi Goyang Ini: Sebuah Manifesto Melawan Umurisme. Applewhite, yang telah menjadi pembicara dan penulis blog untuk topik ini selama beberapa tahun, mengambil langkah yang menguatkan dengan mendiskusikan umurisme dari perspektif personal maupun politis, menguak mitos-mitos yang ada bersamanya. Sebagai contoh, “model defisit” dari penuaan – asumsi umum bahwa penuaan hanyalah tentang kehilangan dan bukan pendapatan. Kenyataannya, manusia tetap memiliki berbagai kualitas dan kemampuan selama menua.

Kita juga punya kemampuan beradaptasi. Ini adalah kualitas yang dapat memberi keuntungan mengejutkan, seperti “lengkungan U kebahagiaan” yang digambarkan sebuah tulisan ilmiah, dipublikasikan oleh Badan Nasional Riset Ekonomi. Para penulis menemukan bahwa orang-orang yang lebih tua melaporkan dirinya lebih bahagia dibanding mereka yang berada di usia paruh baya. Kita harus menghadapi berbagai penurunan fungsi, tentunya, tetapi kita juga bisa menjadi lebih baik dalam berbagai hal, seperti menanggalkan nilai-nilai yang dangkal, menyelesaikan masalah-masalah emosional, dan menghargai hal-hal menyenangkan dalam hidup.

Bonus dalam hal ketahanan emosional dapat menjadi berguna, karena kita menua di era yang serba labil secara ekonomi, politik, dan sosial. Menurut Applewhite, tingkat kemiskinan untuk orang Amerika berusia diatas 65 tahun terus meningkat dan 50% dari generasi baby boomers merasa mereka tak menyimpan cukup uang untuk simpanan hari tua yang cukup hingga usia 80-90 tahun. Sementara itu, diskriminasi pekerja terhadap orang yang lebih tua (diatas 40 tahun) sangat terkenal namun sulit dibuktikan, separuh generasi baby boomers tak melihat bagaimana mereka akan pensiun sama sekali, seperti dilaporkan Applewhite.

Dalam buku barunya, Terus menurun dari sini: kecemasan pensiun di usia inekualitas, Katherine S. Newman melihat keadaan ekonomi masa kini untuk orang-orang tua Amerika dan menyimpulkan, “Kecemasan akan pensiun adalah manifestasi lebih serius dari ketidakadilan meluas yang menggerogoti struktur sosial Amerika.” Apa yang sekarang menjadi situasi buruk untuk banyak anggota generasi baby boomers dapat menjadi makin buruk bagi generasi X dan milenial ketika giliran mereka tiba.

Jadi inilah kita, setiap tahun terus melemah dalam sistem yang telanjur memperlakukan orang seperti barang bekas pakai. Applewhite, dengan nada suaranya yang ceria, merujuk sistem tersebut sebagai kapitalisme global, sebagaimana saat ia mengkritik narasi kompetisi antar generasi. Gambaran yang bangkit adalah orang-orang tua rakus menghabiskan lapangan pekerjaan serta rumah-rumah, juga jatah Bantuan Sosial dan Medicare, tak menyisakan apapun untuk generasi selanjutnya.

Sangat mudah untuk ditarik ke dalam permainan saling menyalahkan antar-generasi, apalagi didasari umurisme, dan melupakan bahwa sistem ekonomi yang ada bukan fenomena tak terhindarkan seperti gravitasi atau waktu; melainkan sesuatu yang dihasilkan dari rangkaian keputusan.

Faktanya, daripada menganggap orang-orang tua sebagai lintah penghisap, kita harusnya ingat bahwa interdependensi ekonomi adalah suatu hal yang lintas-generasi. Orang tua merupakan bagian intrinsik suatu masyarakat. Kebanyakan mereka telah mendukung generasi yang lebih muda maupun tua dalam hal-hal yang dapat mereka capai. Dan apakah mereka bekerja atau sudah pensiun, mereka tetap membeli berbagai produk dan jasa, serta membayar pajak dan berkontribusi dalam tenaga, dukungan, serta finansial untuk keluarga dan komunitas mereka.

Applewhite menutup manifestonya dengan rekomendasi yang menurut saya, dapat menjadi bagian dari kesepakatan baru yang baik untuk urusan umur. Ini bisa dimulai dari peningkatan fleksibilitas dalam pekerjaan sehingga orang dapat berkarir lebih lama, dengan lebih banyak waktu untuk pelatihan, eksplorasi, serta keluarga.

Sumber daya akan ditempatkan dalam desain berakses mudah untuk tempat-tempat publik, juga program-program untuk mendukung mobilitas manusia di seluruh spektrum umur dan kemampuan. Ini dapat memfasilitasi inklusi mereka dalam komunitas, dan mereka dapat menjaga kesehatan untuk mengambil peran karena peningkatan layanan kesehatan, praktek klinis, pendanaan, serta riset. Bila pada akhir hayat mereka dibutuhkan perawatan intensif, para pekerja dan anggota keluarganya yang melakukan perawatan, baik dibayar maupun tidak, akan dikompensasi dengan adil atau setidaknya didukung.

Kenyataannya, meningkatkan kualitas sistem untuk melibatkan orang-orang tua akan meningkatkan akses serta kesejahteraan dan kualitas hidup bagi semua.

Semua itu membutuhkan gebrakan baru melawan diskriminasi umur, serta pengaturan untuk mendapat perwakilan dan pembuat aturan yang bertanggungjawab secara sosial di dalam dewan. Hal ini juga memerlukan semacam peningkatan kesadaran dan ketidakpuasan yang ada di tengah isu rasial, keadilan, iklim, dan gender. Bangun dari tidur dan menatap konsekuensi buruk umurisme, serta menolak memberi makan monster itu dengan kata-kata dan aksi kita, adalah langkah pertama. Kabar baiknya? Pekerjaan ini terbuka untuk siapapun dan semua orang, tak peduli umurnya.

=====

Artikel ini diterjemahkan dari “How capitalism exploits our fear of old age” yang diterbitkan di opendemocracy.net

 

tanjunglarasati

Tentang Penulis

tanjunglarasati

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.