Locita

Asmat Butuh Hutan untuk Sagu, Bukan Hanya Bantuan Makanan

Para keluarga penerima bantuan bahan makanan (foto: Halik Malik)

“MAMA, ini harga berapa?”

Tangan perempuan itu kemudian menunjuk mi instan, sagu dalam kantong plastik, dan ikan kaleng. Tumpukan dos dan plastik berisi bahan-bahan sembako menumpuk di toko tersebut. Rutinitas belanja itu dia lakukan di toko di pelabuhan Agats, siang itu (8/2/2018).

Setiap minggunya, Yance berbelanja di pelabuhan tersebut. Sagu, mi instan, dan vetsin adalah makanan sehari-hari mereka. Makanan pokok mereka sekeluarga adalah sagu yang dicampurkan dengan ikan kaleng atau mi instan.

Ketika menghampiri rumahnya, saya menemukan kedua anaknya, Yustina dan Miranti pun sama dengan anak-anak lainnya yang hampir serupa dengan anak-anak gizi buruk lainnya. Kaki dan tangan mengecil, tubuh kisut, dan kepala yang membesar.

Saya menemani mereka pulang ke rumah. Ketika itu Yustina dan Miranti kelaparan dan sedikit merengek meminta ke ibunya untuk makan. Yance kemudian berlalu ke dalam dapur. Beberapa menit berlalu dan asap kelihatan mengepul. Dia kemudian keluar dari dapur dengan membawa sepiring sagu dan mi instan yang bungkusnya terbuka untuk di masak. Kemudian dia menawarkan saya bersama anak-anaknya makanan tersebut.

Saya mengerutkan dahi. Setelah mengonsumsinya, saya kemudian bertanya kepada Yance.

“Kenapa tidak makan yang lain Mama?”

“Tidak ada perahu, sudah dijual. Ini saja dimakan,” tuturnya dengan senyum yang mengulum.

Dia kemudian bercerita bagaimana kebiasaan itu telah menjadi kebiasannya bahkan saat Yance masih kecil dulu. Kebiasaan ini kemudian dia wariskan lagi ke keluarganya.

Kebiasaan penganan ini bukanlah hal baru di daerah Papua. Selasa kemarin, Tempo melakukan investigasi yang serupa dan temuan yang hampir serupa. Bahkan salah satunya adalah mengonsumsi tempurung kelapa. Hingga hari ini kebiasaan seperti ini sudah menjadi model keluarga di Asmat.

Kiranya kemungkinan hal ini dipicu oleh adanya pergeseran panganan. Harus diakui bahwa masyarakat Asmat adalah masyarakat peramu. Dalam buku Asmat Peramu Sejati Mengukir Jatidiri yang ditulis oleh Albertus Istiarto, diungkapkan bahwa mereka hidup dengan mengambil hasil hutan untuk hidup, selain itu mereka memancing atau menjala. Di hutan, mereka berburu ayam, babi, dan burung.

Semua berubah di era 80-an ketika modernitas yang dibawa oleh para pedagang telah masuk ke tanah Asmat. Saat itu profesi yang dianggap mampu meningkatkan hidup perekonomian adalah menebang kayu. Profesi tersebut kemudian menggeser pekerjaan mereka yang merupakan peramu dan pemburu. Setelah itu, kebutuhan penganan mereka bergeser ke makanan instan yang dibawa oleh saudagar-saudagar tersebut.

Pergeseran pola makanan ini didukung pula oleh adanya paradigma beras sebagai makanan pokok, padahal kenyataanya sebagai orang pedalaman pesisir, makanan mereka sehari-hari adalah sagu dan umbi-umbian plus berburu. Perubahan itu didukung juga oleh pembabatan hutan dan menggantinya kebun kelapa sawit. Human Rights Watch merilis bahwa lahan kelapa sawit di Papua sebesar 2 juta lebih.  Perusahaan perkebunan ini membabati ekosistem asli mereka, menjadikan mereka kehilangan jati diri mereka sebagai peramu dan pemburu. Mongabay menambahkan bahwa kehilangan pohon-pohon yang dipergunakan untuk lahan kelapa sawit itu menjadikan mereka tidak bisa mendulang sagu.

Wajar jika gizi buruk mendera.

Dalam hati saya berujar, mungkin mereka membutuhkan ekosistem awal mereka, tanpa harus diracuni oleh bantuan-bantuan yang seakan merasa diri modern dan kemajuan.

Betul kata beberapa pakar bahwa, Asmat membutuhkan pertolongan sporadis beras, seakan mereka tidak memiliki penganan lagi. Namun, ada perihal yang lebih penting dari itu, kesemuanya tentu dari sudut pandang kita. Saya ingat tulisan Roy Thaniago di remotivi.or.id, bahwa melihat Papua—dalam hal ini Asmat, perlu kacamata lebih holistik dan butuh riset dan informasi yang lebih mendalam. Kalau saja CNN dan Kompas tidak memberitakan rutin berita ini, tentu kasus ini akan menguap begitu saja.

Perbedaan persepsi itu nyata saat saya berbicara dengan Yance. Yance tidak merasa keluarga mereka bermasalah sebelum datangnya bala bantuan.

Di satu sisi lainnya, paradigma medis memiliki takarannya sendiri. Takaran yang terukur itu adalah evidence based medicine. Betul bahwa masyarakat Asmat tidak hanya membutuhkan bantuan sporadis dan sikap terlalu simpatik mereka, namun di satu sisi mereka butuh mengenal bagaimana konsepsi gizi tersebut. Tentu tiada yang rela nyawa anak-anak harus meninggal karena gizi buruk dan campak ini terulang kembali.

Kini status KLB gizi buruk dan campak telah dicabut oleh Kementerian Kesehatan. Namun saya pikir tugas besar untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan di Asmat dan Papua sendiri haruslah dari muaranya, ekploitasi kepada masyarakat Papua dan Asmat.

***

Sabtu (10/2/18), saya bersama rekan relawan kesehatan untuk Asmat hendak bertolak meninggalkan camp, saat itu saya melihat Yance dan kedua anaknya menyambut di depan rumah. Mereka mengucapkan terima kasih kepada saya.

“Terima Kasih Ibu Dokter,” kata Yance. Saya hanya tersenyum. Langkah kaki saya berjalan meninggalkan mereka, namun ingatan akan mereka terus terekam bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia masih jauh dari mimpi.

 

*Penulis merupakan relawan kesehatan Dompet Dhuafa-Ikatan Dokter Indonesia untuk KLB gizi buruk dan campak Asmat.

 

Rosita Rivai

Aktivis kemanusiaan Dompet Dhuafa

Add comment

Tentang Penulis

Rosita Rivai

Aktivis kemanusiaan Dompet Dhuafa

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.