Esai

Apa yang Tersisa dari Agama?

BEBERAPA hari lalu kawan saya yang seorang akademisi membuat status di akun facebook miliknya:

Jika saja di dalam sejarah tidak pernah ada sosok bernama Ibrahim. Juga tidak ada Ishaq dan Ismail. Barangkali konflik atas nama agama di antara Yahudi, Kristen dan Islam yang pernah tercatat dalam memori manusia tidak pernah ada. Dunia ini akan jauh lebih damai dari yang kita saksikan saat ini.

Terus terang saya tidak tahu persis alasan mengapa ia menulis status seperti itu. Mungkin saja ia sedang menanggapi ramainya pidato kontroversial Trump. Pidato yang memantik banyak reaksi keras sekaligus mengingatkan kita akan berdarah-darahnya konflik Israel-Palestina.

Atau mungkin saja ia hanya bosan melihat debat-debat dan pertengkaran yang seakan-akan tiada habisnya dengan dalih bela agama.

Apa yang ditulisnya tentu saja mudah ditelusuri faktanya. Kita mudah menyebutkan contoh konflik yang asal mulanya atau pada perjalanannya diperbesar menggunakan dalil agama sebagai bahan bakarnya.

Sedikit dari fakta-fakta itu adalah meletusnya Perang Salib antara umat Islam dengan Kristen. Contoh perang antar agama yang menyedot banyak sekali korban jiwa dari kedua belah pihak.

Di internal umat Islam, kita bisa melihat peran ISIS sebagai pelaku teror dengan menggunakan agama sebagai tamengnya. Peristiwa bom-bom atau penyerangan sporadis yang beberapa kali mengguncang Indonesia, Eropa dan Amerika.

Diyakini disponsori oleh doktrin super ekstrim dari kelompok fundamentalis penganut agama abrahamik ini. Jangan lupa, momen maulid beberapa waktu lalu juga dikotori oleh penyerangan brutal terhadap jamaah sholat masjid di Mesir yang menewaskan lebih dari 300 orang. Lagi-lagi dalih agama sebagai akarnya.

***

Di Indonesia, kita juga tengah menghadapi banyak masalah yang timbul dari aksi-aksi bela agama atau bela negara yang dibungkus dengan agama. Bukan berarti saya anti dengan aksi-aksi itu, sama sekali bukan, hanya saja ekses yang muncul seringkali mencemaskan.

Masih segar dalam ingatan bagaimana Pilkada DKI lalu yang seharusnya jadi pesta politik berubah menjadi ajang perdebatan agama. Muncullah istilah munafik, kafir dan fasiq yang ditujukan bagi mereka yang tidak mendukung salahsatu calon.

Di pihak yang berseberangan muncul istilah intoleran, radikalis, islamis yang konotasinya negatif, dan sebagainya. Perdebatan semakin seru karena masing-masing pihak memiliki dalil dengan penafsirannya sendiri yang kemudian secara massif dikontestasikan di ruang publik dengan cara yang kasar.

Kembali ke isu yang sedang ramai, berlarut-larutnya konflik antara Israel-Palestina diyakini salah satunya karena keyakinan agama. Bagi orang Israel garis keras, tanah yang mereka klaim sebagai negara Israel saat ini adalah tanah yang dijanjikan oleh Tuhan bagi mereka. Karena mereka meyakininya maka hal itu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh walaupun menimbulkan banyak korban jiwa dan harta-benda.

Dari paparan itu kita bisa saja menarik sebuah kesimpulan: seolah-olah agama telah kehilangan sentuhannya, atau dalam bahasa Nietzsche, Tuhan telah mati.

Sedangkan dalam bahasa Marx menyikapi hal ini ia menyebut agama sebagai candu: alih-alih menjadi sumber kebaikan, inspirasi untuk saling menolong dan berbuat baik. Dalam narasi besarnya agama telah gagal menjaga pemeluknya dari konflik, kekerasan, dan perang.

Apa yang tersisa dari agama? benarkah ia telah gagal? lalu, apakah agama masih punya masa depan?

Musa dan Khidr

Alkisah, suatu ketika Musa sedang bersama dengan sekumpulan Bani Israel. Kemudian seorang pengikutnya bertanya kepadanya, adakah orang lain yang lebih pintar darinya, Musa menjawab tidak ada. Musa lalu ditegur Tuhan dan diperintahkan berguru kepada Khidr.

Singkat cerita ia pun bertemu dengan Khidr yang pada mulanya enggan bersama Musa. Sebagaimana diketahui, Musa adalah seorang yang kurang sabar dalam menghadapi persoalan yang menurutnya salah.

Sedangkan Khidr adalah orang yang karakternya sangat berseberangan, ia bisa melakukan hal-hal yang mungkin saja menurut logika Musa adalah hal yang salah. Dan itulah yang kemudian terjadi.

Di perjalanan pertama Khidr dan Musa mengunjungi sebuah desa yang berada di pinggir pantai, penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Tentu saja, perahu adalah alat utama mata pencaharian ini.

Tanpa bicara sepatah katapun, sesampainya di sana Khidr mengambil kapak dan melubangi kapal-kapal milik para nelayan miskin itu yang karuan saja hal itu dipertanyakan oleh Musa. Namun Khidr tak menjawab dan mereka melanjutkan perjalanan, sedangkan Musa masih dalam kondisi kebingungan.

Tak lama kemudian keduanya bertemu seorang anak kecil yang lagi-lagi tanpa bicara sepatah katapun Khidr segera membunuhnya. Musa pun kembali protes dengan mengatakan Khidr telah melakukan kejahatan dan kedzaliman.

Tentu saja Khidr tidak diam dengan tuduhan itu, ia pun mengingatkan Musa bahwa sejak awal dia sudah mengatakan bahwa Musa tidak akan mampu mengikuti perjalanannya. Musa terdiam dan minta maaf, berjanji tidak mengulangi, jika terjadi lagi maka dia bersedia mundur.

Lalu sampailah mereka berdua di sebuah kampung yang penduduknya jumawa, enggan menjamu tamu. Dalam keadaan kelaparan dan letih, mereka menemukan di salah satu rumah terdapat dinding yang miring dan hampir roboh.

Khidr pun membenahi dinding itu, Musa pun membantu. Setelah selesai memperbaikinya Khidr pun pergi tanpa meminta imbalan sedikitpun yang hal itu membuat Musa kembali kebingungan dan bertanya, bukankah mereka berhak atas imbalan.

Pada saat itulah Khidr menyatakan bahwa itulah saat perpisahan antara Musa dengannya. Kemudian ia ceritakan alasan di balik perkara yang dikeluhkan Musa.

Menurut Khidr, berdasarkan wahyu yang diterimanya maka ia melubangi kapal untuk melindungi kapal itu dari perampasan penguasa yang saat itu sedang menuju kampung nelayan itu dengan maksud mengambil kapal yang kondisinya baik.

Alasan membunuh anak kecil tak berdosa itu karena ketika dewasa ia akan durhaka dan karenanya Tuhan berkehendak menggantinya dengan anak sholeh; dan dinding yang akan roboh itu milik seorang anak yatim dari orang tua sholeh yang menyimpan hartanya di bawah dinding. Jika roboh maka akan ketahuan dan Tuhan berkehendak agar harta itu baru diketahui pada saat sang anak telah dewasa.

Kisah ini, yang saya reka ulang dan gunakan kata-kata saya sendiri, bisa anda baca di Alquran Surat Al Kahfi ayat 60-82.

Apa yang terjadi pada Khidr dan Musa bisa kita ambil hikmahnya. Barangkali, cara kita beragama saat ini mengikuti pola pikir Musa yang melihat dengan pandangan formal, kemudian mengkritik yang berbeda dengan habis-habisan dan tidak bisa menerima hal yang tidak sama dengan keyakinannya.

Barangkali semua itu muncul karena ketidakpahaman atau keegoisan beragama yang kemudian memaksa mereka berpisah dengan substansi agama karena tidak sabar menjalaninya.

Atau barangkali, ada juga yang merasa hebat dan suci dalam beragama lalu dengan pongah meniru Khidr dengan cara merusak properti hingga membunuh orang karena merasa sedang melakukan perintah-Nya.

Padahal Khidr melakukannya karena ia mendapat ilmu laduni, langsung dari Tuhan: hanya para nabi dan rasul yang mendapat keistimewaan seperti itu.

***

Menanggapi pertanyaan apakah agama telah gagal, Graham E. Fuller menulis sebuah buku menarik berjudul A World Without Islam. Setelah meneliti berbagai konflik yang terjadi di Timur Tengah, Fuller menyimpulkan agama bukanlah, secara spesifik bukan Islam, faktor penyebab berbagai konflik melainkan akarnya adalah kepentingan lain seperti politik dan ekonomi yang dibungkus agama, atau bias karena pelakunya beragama tertentu.

Jadi, menurut Fuller, tanpa ada agama sekalipun konflik akan tetap ada dengan skala dan intensitas yang sama. Konflik bukan buah dari kegagalan agama.

Karen Armstrong dalam bukunya Masa Depan Tuhan bahkan amat sangat optimis peran agama ke depan akan semakin penting. Di balik gemerlap dan digdayanya sains ternyata ada ruang-ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh hal-hal spiritual. Termasuk agama di dalamnya yang dibutuhkan oleh manusia modern melebihi kebutuhan materialnya.

Apa yang disampaikan oleh Fuller dan Armstrong tentu sangat mengejutkan. Selama ini banyak yang percaya bahwa konflik itu muncul karena agama dan karenanya ia menjadi sesuatu yang tak menarik lagi.

Namun kesimpulan itu membuka tafsir baru bahwa dengan atau tanpa agama manusia akan tetap berkonflik, bahkan atas alasan yang kadang sepele sekalipun. Agama akan tetap mendapatkan simpati dari para pengikutnya.

Agama juga terbukti memberikan kontribusi dalam sejarah. Banyak artefak-budaya yang lahir dari perkawinan agama dengan budaya.

Di Jawa misalnya, kita tentu akrab dengan kisah wali songo yang menyebarkan Islam dengan pendekatan seni-budaya seperti menggunakan medium wayang, seni musik, atau lainnya.

Lalu, apakah Nietzsche dan Marx telah salah ketika mengatakan Tuhan telah mati dan agama adalah candu. Menurut saya justru ada benarnya yaitu ketika agama telah dijadikan alat pembenaran untuk melakukan tindakan buruk, perang, perebutan kekuasaan, atau apapun yang tujuannya bukan untuk amal kebaikan.

Jadi kalau ditanya apa yang tersisa dari agama maka mungkin jawabnya adalah paradoksnya. Di tangan A agama bisa menyejukkan, sebaliknya di tangan B agama bisa jadi sumber konflik. Dan kita terpaksa harus bisa menerimanya, suka ataupun tidak.

Hilmi Amin Sobari

Hilmi Amin Sobari

Penikmat sastra, seneng nonton bal-balan, penutur jawa ngapak, tumbuh di priangan timur. Tertarik dengan kajian agama.

Previous post

Yerusalem: Pemersatu yang Diperebutkan

Next post

Kutemukan Cinta Saat Riset di Nusa Penida