Esai

Antara Kemuslimahan atau Siri’

MENOLAK atau percaya, cadar adalah produk budaya, kemudian mengalami proses islamisasi sebagai bentuk egalitarianisme (kesamaan derajat). Demikianlah sejarah bercerita tentang cadar untuk membedakan strata sosial masyarakat saat itu.

Tapi ah sudahlah, mari sejenak tinggalkan polemik tentang cadar dan membicarakan tentang berbagai masalah perempuan yang selalu menarik untuk diperbincangkan.

Tren Muslimah Jaman Now

Memasuki bulan kedua di Yogyakarta sebagai mahasiswa magister pada jurusan Aqidah Filsafat dan Pemikiran Islam, Makassar dan perkembangannya tetap mendapat tempat dalam dunia informasinya saya.

Sedikit menggelitik ketika menonton sebuah video yang dibagikan teman-teman di grup WhatsApp. Wanita muslimah dengan cadar kemudian mempromosikan diri untuk dilamar. Tidak lama saya harus menunggu, sekali lagi saya menyempatkan untuk menonton video yang sama dengan objek (wanita) yang berbeda. Video semacam ini kemudian viral di media sosial, seperti Facebook dan WhatsApp.

Tidak usah badan intelijen untuk tahu orientasinya. Mafhum bahwa orientasinya adalah ibadah dan menghilangkan masa lajang sebagaimana yang mereka inginkan, yakni ikut sunnah nabi.

Nabi aja mengatakan, yang tidak menikah bukan bagian dari umatku. Demikian motivasi mereka untuk melanjutkan hidup bersama suami.

Budaya Siri’ dan Kemuslimahan

Mulia memang niat mereka dengan motivasi kesempurnaan agama, tetapi setiap tindakan selalu mempunyai dua kemungkinan, baik atau buruk, positif atau negatif.

Sama halnya dengan cadar, pro kontra adalah hal wajib yang harus ada sebagai asas keseimbangan antara satu dengan yang lainnya.

Dengan kaca mata kosong, tanpa sejarah, budaya, dan nilai, dengan tegas saya mungkin memberi legitimasi kebenaran atas tindakan berani itu.

Akan tetapi afwan ukhti, pertimbangannya tidak semudah itu. Sejarah bercerita panjang lebar tentang kalian, bagaimana perjuangan al-Qur’an membela kalian, mengangkat derajat kalian dari tempat yang sangat rendah sampai pada puncak keindahan dan kemuliaan.

Ayat-ayat yang disinyalir tentang hukum cadar, jilbab dan penutup kain lainnya dalam kajian konteks sosio historis oleh sebagian pemikir muslim kontemporer dianggap turun untuk merespon kebejatan orang-orang Persia yang yang menganggap dirinya lebih terhormat dengan wanita lainnya. Sehingga wanita di bawah garis kemiskinan, budak dan pelacur terlarang untuk memakai penutup kain tersebut.

Al-Qur’an kemudian merespon dan memerintahkan perempuan untuk menjulurkan kainnya sebagai bentuk kesamaan dan kesetaraan sekaligus ketidakselarasan al-Qur’an dengan pengotak-kotakan strata sosial.

Dalam kajian budaya, Bugis-Makassar memegang erat prinsip siri’ (malu) dan menjadikannya sebagai prinsip dalam dinamika kehidupannya. Sehingga kerap kali dalam kebiasaan orang terdahulu, perempuan tidak dapat mengenyam pendidikan yang tinggi, layaknya laki-laki.

Mengiklankan diri, sesungguhnya melukai sejarah dalam perjuangannya menyelaraskan perempuan dengan yang lainnya. Dan, melukai budaya siri’, yakni masiri’  karena seakan perempuan menjadi produk yang kemudian tidak lagi laku, padahal diminati.

Mana Dalilnya yang Melarang Tindakan Tersebut? Tidak Haram kok?

Memang, secara hukum tidak ditemukan secara eksplisit tentang pelarangannya. Tetapi sekali lagi afwan ukhti. Hukum dalam konteks ibadah menduduki peringkat yang paling bawah, karena yang terpenting dari ibadah adalah etika kepada Tuhan dan nilai ibadah itu sendiri.

Sama halnya ketika saya salat dengan tidak memakai baju, akan tetapi celana saya menutupi seluruh aurat yang disepakati jumhur ulama. Secara hukum sah, tetapi mana akhlak dan etika kita kepada Tuhan?

Memang, di satu sisi kita bisa berkata wajar, dengan pertimbangan perempuan tiga kali lebih sedikit dari seorang laki-laki. Tapi dengan begitu sesungguhnya kalian mempertaruhkan siri’ dan harga diri kalian.

Konsekuensinya, uang panaik (bukan mahar) sebagai syarat menikahi kalian di Makassar juga semestinya  dihilangkan. Toh, dalam kajian budaya dan sejarah, uang panaik diberikan sebagai bentuk penghargaan terhadap kalian. Tetapi bagaimana jadinya kalau yang tidak menghargai diri sendiri adalah kalian? Wallahu a’lam.

Ahmad Tri Muslim HD

Ahmad Tri Muslim HD

Alumni Tafsir Hadis Khusus UIN Alauddun Makassar dan PP Al Urwatul Wutsqaa, Benteng, SIDRAP

Previous post

Tumbuh Kembang Radikalisme Dalam Lingkungan Bisnis

Next post

Jangankan Cadar, Berjilbab Saja Dilarang