Esai

Anies-Sandi Tersandera Dukungan Politik 212

KEMENANGAN politik Anies-Sandi dalam perhelatan pilkada Provinsi DKI Jakarta tahun 2017 ternyata bukan perjalanan politik tanpa imbal jasa. Kemenangan ini justru menjadi awal tanggungan dosa politik yang akan terus diungkit, diomongkan, dan bahkan ditagih oleh kekuatan-kekuatan politik. Khususnya kekuatan yang kemaren mendukung mereka dalam pertarungan politik paling panas dalam sejarah demokrasi pemilihan kepala daerah di Indonesia tersebut.

Apa yang disampaikan oleh Al Khaththath disela-sela jumpa pers yang dilakukan oleh La Nyalla Mattalitti beberapa hari lalu, mengungkap kembali ingatan kolektif publik terhadap aksi politik 212. Sebuah aksi yang dianggap menjadi pembuka jalan bagi kemenangan  Anies-Sandi mengalahkan petahana saat itu, Ahok-Djarot.

Seperti La Nyalla, Al Khaththath yang merupakan salah satu tokoh kunci dalam gerakan 212, menggugat komitmen antara koalisi “politik” umat 212 dan parpol pendukung Anies-Sandi. Mereka dinilai tidak konsisten menjaga marwah dan semangat 212 untuk tetap dilanjutkan pada proses politik pemilihan kepala daerah tahun 2018 ini.

Akhirnya, kartu truf tersebut diungkit dan ditagih lagi. Bahwa parpol-parpol pengusung Anies-Sandi jangan sampai melupakan jasa umat 212 yang telah berjuang memenangkan mereka. Pesan Al Khaththath tegas, ia ingin mengatakan bahwa parpol pengusung Anies-Sandi (baca: Partai Gerindra, PKS, dan PAN) harus membayar “jasa politik” umat 212 melalui komitmen politik 2018.

Komitmen politik tersebut ditagih dengan adanya tuntutan agar beberapa tokoh dan kader 212 harus diberi jalur khusus dalam proses penjaringan calon kepala daerah di beberapa daerah yang menyelenggarakan pilkada serentak tahun 2018. Tidak dinyana, keputusan politik yang diambil oleh parpol harapan umat 212 ternyata mementahkan komitmen tersebut dan berdampak pada retaknya kemesraan politik yang dibangun tahun 2017.

Namun yang menarik disini adalah kegenitan politik tokoh-tokoh 212 yang selalu mengaitkan aksi 212 dengan kemenangan Anies-Sandi. Perjuangan politik yang selalu disampaikan berulang-ulang di depan publik ini seakan menjadi dosa politik yang membebani kepemimpinan mereka ke depan.

Dan pernyataan Al Khaththath itu, mengulang apa yang sebelumnya pernah disampaikan oleh Eggy Sudjana dalam peringatan aksi 411 oleh alumni 212 di Masjid Al Azhar. Eggy dengan lantang menyindir Anies agar tidak berperilaku seperti “kacang lupa kulitnya,” sebagai respon atas ketidakhadiran Anies di acara tersebut.

Lagu “kebaikan politik” umat 212 ini ternyata cukup mengganggu duo Anies-Sandi yang tengah berkonsentrasi menangani beragam masalah yang masih membelit Kota Jakarta. Nyanyian terakhir Al Khaththath tentang peran politik umat 212 dalam kemenangan Anies-Sandi langsung ditanggapi oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno.

Dalam pernyataan media, Sandi dengan lantang menegaskan bahwa kemenangan mereka di pilkada DKI Jakarta adalah kemenangan umat, dan kemenangan semua pihak yang terlibat dalam proses tersebut. Ia mengatakan, “kemenangan kita itu kemenangan dari Allah SWT. Kita terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu. Jadi murni ini jalan Allah dan kita sekarang bekerja ibadah, untuk kemajuan rakyat Jakarta.”

Tanggapan Sandi semakin memperlebar jurang pandangan antara pihak-pihak yang begitu menyatu dan mesra dalam pilkada DKI Jakarta. Namun, reaksi Sandi harus dilihat dari kacamata kemanusiaan. Sebagai manusia dan pejabat publik yang telah dimiliki oleh semua golongan, tentu akan terganggu secara psikologis manakala kemenangannya harus selalu menjadi bahan pergunjingan politik.

Bagi para tokoh besar seperti Anies atau Sandi, komunikasi politik di ranah publik oleh para tokoh 212 dengan selalu mengungkit jasa politik umat 212, menempatkan relasi politik yang tidak sejajar dengan mereka. Komunikasi politik semacam itu telah menjadikan Anies-Sandi pada posisi inferior terhadap umat 212.

Pembacaan polemik politik dalam satu pekan ini antara Al Khaththath, La Nyalla, dan koalisi tiga parpol umat 212, yang sedikit bersinggungan dengan Anies-Sandi, mengingatkan saya akan satu cerita sufi yang sangat inspiratif.

Syahdan, Nasruddin Hoja berjalan-jalan di sekitar kota dan hampir terjatuh ke sebuah kolam. Tapi ia beruntung, ada orang yang tidak terlalu dikenal berada di dekatnya, dan  menolongnya pada saat yang tepat. Namun apa yang terjadi setelah itu, menjadi dosa psikologis bagi sang sufi humoris. Setiap kali bertemu Nasruddin, orang tersebut selalu membicarakan peristiwa itu, dan membuat Nasruddin harus selalu berterima kasih berulang-ulang.

Suatu hari, untuk yang kesekian kalinya, orang itu menyinggung peristiwa itu lagi. Nasruddin lalu mengajaknya ke tempat kejadian perkara, dan kali ini ia langsung melompat ke air. Setelah itu Nasruddin berkata ke orang tersebut, “kau lihat! Sekarang aku sudah benar-benar jatuh dan basah seperti yang seharusnya terjadi kalau engkau dulu tidak menolongku. Sudah, pergi sana dan jangan ketemu saya lagi!”

Yang jelas, Anies-Sandi tidak perlu mengambil jalan nekat seperti Nasruddin dengan memutar ulang waktu ke TKP tahun 2017, sembari berdiri di atas podium 212 sambil menyampaikan taklimat, “saya berlepas diri dari kalian wahai umat 212, dan kalian kini bebas mendukung siapa saja selain saya, jika kebaikan politik kalian harus menjadi kenangan buruk bagi saya untuk selalu ditagih-tagih di depan umum.”

Disinilah humor sufi selalu menemukan kebenaran nilai-nilai universalnya, karena dikreasi oleh mereka yang memiliki visi masa depan. Mereka seakan telah membaca masalah-masalah yang akan terjadi pada umat di masa depan, sehingga mereka menyiapkan rambu-rambu zaman melalui cerita-cerita sufi agar mengambil hikmah darinya.

Jalan politik adalah jalan yang berliku, gelap, menanjak, penuh intrik dan ketidakpastian. Maka perhatikanlah rambu-rambu yang telah dipasang oleh Langit agar tidak terjebak dalam perangkap setan, hatta ketika membangun komitmen politik dengan malaikat sekalipun. Inilah jalan politik jaman now!

Ahmad Mony

Ahmad Mony

Baca, Diskusi, Tulis

Previous post

Jadi Ketua DPR: Kecelakaan BEI Sambut Bambang Soesatyo?

Jenderal Moeldoko dan Jenderal Gatot (foto: https://image.iyaa.com)
Next post

Taktik Jokowi untuk Moeldoko