EsaiFeatured

Walkout Ananda Sukarlan Itu Biasa, Sikap Pak Gub Anies Luar Biasa

AKSI walk out ramai lagi. Ribut lagi. Kali ini soal Ananda Sukarlan yang melenggang keluar dari arena acara saat Anies Baswedan membacakan sambutan di acara  malam penghargaan dalam rangka memperingati ulang tahun ke-90 Kolese Kanisius di Hall D JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Sabtu (11/11).

Dalam acara tersebut, Ananda Sukarlan juga menerima penghargaan. Aksi Ananda ini konon kemudian diikuti beberapa alumni dan hadirin yang lain. Gegap gempita walkout itu jadi selevel dengan drama-drama walk out yang dilakukan oleh anggota dewan di sidang.

Ananda Sukarlan sudah jelas-jelas menyinggung alasannya walkout dengan pernyataan, “Waktu kami datang ke sana, kami kaget, kok, ada Pak Anies. Terus kami pikir, kenapa, sih (diundang). Karena nilai-nilai Pak Anies enggak sesuai dengan yang diajarkan Kanisius, terutama tentang perbedaan, pribumi, dan non-pribumi.”

Merujuk pada kamus Merriam Webster, walkout adalah sikap keluar dari rapat atau pertemuan sebagai wujud penolakan. Catatan sejarah dan demokrasi melukiskan bagaimana walkout sebagai sebuah metode. Salah satunya digambarkan dalam film Walkout yang menggambarkan aksi protes para siswa Chicano (turunan Meksiko) di Los Angeles. Protes anak-anak sekolah itu terjadi karena melihat ketimpangan pendidikan terhadap imigran Meksiko di sana.

Walkout adalah sikap kewajaran dalam demokrasi, karena demokrasi kan ribut? Siapapun bisa mengambil sikap, salah satunya adalah menolak tokoh pemerintah.

Apalagi dia juga menambahkan bahwa penolakan itu bersifat pribadi. Rasaanya perlu melihat Ananda sebagai salah satu bagian yang terdekat dari dirinya: musik.

Walkout itu Lumrah

Karena Ananda Sukarlan adalah seorang yang mengabdikan diri di dunia musik, perlu kita ketahui bahwa pertalian musik dan pemberontakan ataupun penolakan sangatlah erat dan kerap terjadi– terlebih walkout. Baik dari hal yang sangat sepele hingga hal yang bersangkut paut dengan idealisme dan pandangan politik.

Justin Bieber pernah melakukan walkout dari panggung, saat konser di Manchester, Inggris. Bieber merasa jengah saat penonton senantiasa berteriak saat jeda antara lagu. Dia menganggap perlakuan itu tidak menghargainya yang mengharapkan ketenangan di bagian itu.

Tahun 2012, Greenday juga melakukan walkout dari panggung iHeartRadio yang disiarkan secara live. Di tengah lagu “Basket Case”, Sang vokalis Billy Joe Amstrong menyatakan keenganannya melanjutkan konser. Dia menutup konser itu dengan membanting gitarnya dan memberi jari tengah kepada penonton.

Nickelback adalah salah satu band yang sering di-bully di atas panggung, mereka walkout dari panggung setelah “boo” menggema di lagu kedua penampilan mereka di Portugal, serta lemparan batu dan benda-benda lainnya di panggung. Walkout ini lebih karna alasan keamanan.

Kings of Leon saat penampilan tahun 2010 di St. Louis, Missouri. Seekor burung dara buang hajat dan jatuh tepat di mulut sang vokalis. Penampilan yang baru berlangsung dua lagu itu langsung terhenti dan band ini walkout.

Brandon Flowers di tahun 2012, Manchester Arena, pernah meninggalkan konser yang baru menampilkan 4 lagu. Dengan alasan dia merasa tenggorokannya tidak enak, dan harus meminum obat Cina untuk meredakannya. Jadilah The Killers walkout diikuti berhentinya konser.

Untuk alasan lebih ideologis, walkout pernah dilakukan oleh penyanyi gospel, Natalie Grant. Dia dan suaminya meninggalkan Grammy Award tahun 2014 lebih awal. Beberapa media menduga disebabkan oleh penampilan Katy Perry yang menyertakan penari berkostum setan, juga bagian perkawinan sejenis pada penampilan Macklemore & Ryan Lewis.

Tahun 2016, Bruce Springsteen pernah walkout dari jadwal konsernya di Carolina Utara. Alasannya? Pelantun Born to Run ini menolak dengan kebjikan pemerintah setempat mengeluarkan bathroom law, yang dianggapnya diskriminatif dan anti-LGBT.

Franz Magnis Suseno, Eros Djarot, atau Anda boleh saja mengkritis dan berang dengan sikap seorang Ananda Sukarlan. Hey, dia adalah seorang musisi sama seperti mereka di atas. Yang prestasinya dan karyanya sudah internasional. Sangat wajar ketika gerak-geriknya sedikit “menyentil” dan sulit diterima. Walkout di pidato seorang gubernur saya pikir tidak berarti apa-apa, dibandingkan walkout-walkout di atas.

Terlepas dari benar tidaknya motivasi Ananda Sukarlan, anggap saja itu perilaku musisi yang kebanyakan berpikir pakai otak kanan. Musisi ine, kadang kontroversi dan kadang nyeleneh. Saya pikir walkout Dia dan rekanannya itu sah-sah saja, masih sebatas kebebasan berekspresi, seperti keleluasaan tangannya menyisir tuts hitam dan putih grand piano.

Toh, Ananda Sukarlan bukan pelaku penembakan kepala gubernur atau makar terhadap pemerintahannya. Musisi itu juga tidak melakukan tindakan kriminil, asusila atau korupsi kan?

Pak Gub Anies sendiri tidak masalah. Di situ saya salut dengan ketenangan dan kekaleman Anies Baswedan. Kalau mau, dia bisa saja memperkarakan ini lebih jauh. Bala tentaranya di dua dunia (maya dan nyata) pasti sudah siap.

Lantas kenapa yang lain pada pusing?

Anggap saja Ananda Sukarlan seperti halnya penonton yang datang ke konser namun di tengah lagu meninggalkan venue. Karena kecewa penampilan band itu atau kualitas sound yang dihasilkan tidak sesuai dengan ekspektasi. Penolakan dari oposisi perlu dihargai seperti halnya para partisan pendukung.

Sedihnya, seorang Eros Djarot agak reaktif soal ini. Seseorang yang notabene pernah berurusan dengan para begawan musik tanah air, juga bertangan dingin dalam menghasilkan salah satu album terbaik di Indonesia, Badai Pasti Berlalu. Seharusnya Mas Eros tahu betul bagaimana liarnya ide-ide orang yang berkiprah di dunia seni dan kebebasan berekspresi mereka.

Seorang pianis dan komposer besar saja dikritisi dan dimaki. Entah bagaimana dengan saya ini, yang suka walkout saat pidato yang seremonial. Karena tak sanggup menahan ee’ dan pipis.

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Previous post

Saat Sawit Hancurkan Papua

Next post

Matinya Rambu Lalu Lintas