Locita

Anak-Anak Kami Dalam Jajahan Upin Ipin

SETIAP pagi saya harus menunggu waktu tayangan Upin Ipin selesai dulu ditonton Nadine (anak saya yang berumur dua tahun 6 bulan). Setelah itu barulah ia mau berangkat ke sekolah. Jika tidak, saya harus bersiap-siap menyaksikan konser tunggal, ia menangis sejadi-jadinya karena saya begitu berani meng-counter aktifitas kesayangannya.

Tidak selesai sampai disitu, Nadine dalam usia sekarang yang mulai lancar berbicara, selalu meniru bahasa dan gerak film kartun Malaysia itu. Lagaknya seperti anak dari Negeri Jiran saja. Jika dikoreksi, pembelaannya selalu sama. “Begitu Upin Ipin bilang bunda, cocokmi,” seakan-akan anak sudah dibius dengan tayangan si Upin Ipin. Bahkan karena rating yang tinggi, serial ini pun bersaing dengan jadwal minum obat saya, tiga kali sehari. Pagi, sore dan malam, sampai saya juga khatam dan hafal setiap episodenya.

Upin Ipin merupakan serial televisi animasi anak-anak yang dirilis pada 14 September 2007 di Malaysia. Diproduksi oleh Les’ Copaque dengan aspek kebudayaan Malaysia sangat kental dan menjadi film yang paling spektakuler dalam sejarah perfilman Malaysia. Indonesia menjadi pasar ekspor utama untuk serial kartun Upin Ipin ini.

Serial kartun Upin Ipin yang dari seri pertama masih TK sampai di musim terbaru pun masih terus TK, memang banyak menyita perhatian masyarakat hingga mencapai jutaan penonton. Itu pun masih berlangsung sampai detik ini. Kehadiran tayangan ini tentu tidak bisa dicegah bahkan oleh Lembaga Sensor Film. Selain kontennya positif juga tidak menyimpang dari aturan yang berlaku.

Diakui memang jika tontonan Upin Ipin ini menitipkan banyak pembelajaran moral untuk pengembangan karakter anak. Di setiap sisi kehidupan yang diceritakan, film animasi ini banyak memiliki hal menarik. Disamping itu, juga mendidik dan dapat dijadikan tontonan alternatif buat anak-anak, ditengah serbuan tayangan alay dan tidak sesuai bagi anak-anak.

Akan tetapi perlahan saya mulai risau dengan beberapa seri tayangannya yang terpampang jelas mengambil beberapa ikon budaya dan kekayaan intelektual Indonesia. Misalnya lagu daerah Rasa Sayange, wayang kulit, dan keris. Sepertinya ada klaim terselubung sepihak yang dilakukan melalui tayangan ini. Saya khawatir anak saya pun nantinya meyakini bahwa beberapa budaya yang diklaim itu adalah milik Malaysia.

Terlalu berlebihan memang, namun tidak bisa dipungkiri hegemoni budaya Upin Ipin melalui media televisi dan internet yang berulang-ulang disaksikan seorang anak, secara psikologis akan membentuk pikiran bawah sadarnya.

Belum lagi anak-anak dengan mudah mencontoh bahasa Upin Ipin yang berantakan menurut Ejaan Bahasa Indonesia. Akibatnya, butuh usaha ekstra untuk berkomunikasi dan memperbaiki pola kalimat yang terlanjur mereka contoh. Memang terlalu dini membebani anak dengan pola kalimat yang harus sesuai dengan kaidah berbahasa yang benar.

Akan tetapi perlu diingat bahwa Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional, identitas bangsa serta alat pemersatu masyarakat yang berasal dari latar belakang bahasa, budaya, dan suku yang berbeda. Dan hal ini wajib ditanamkan sejak awal kepada anak, menanamkan kecintaan mereka terhadap bahasa, budaya, dan bangsa mereka sendiri yaitu Indonesia.

Kekhawatiran dengan pengaruh negatifnya akan terus terjadi jika tidak ada upaya seimbang untuk membatasi tayangan ini. Karena itu perlu bimbingan dan tuntunan orang tua dalam menemani atau membatasi anak menonton tayangan Upin Ipin, begitu juga dengan tayangan lainnya,. Hal ini bertujuan agar bisa mengambil contoh yang baik dan memperjelas posisi bahasa dan budaya kita.

Di zaman old ada tayangan “Si Unyil” yang sedikit banyak berbekas di ingatan saya dan banyak mengajarkan moral serta etika dalam setiap tayangan. Namun tayangan Si Unyil ini sudah tidak kekinian lagi, tidak sesuai lagi dengan perkembangan teknologi animasi dan selera anak-anak zaman sekarang.

Dibutuhkan kreatifitas anak negeri untuk memacu dan menghasilkan karya yang mengangkat tema dari budaya kita sendiri dan mencuri perhatian anak-anak sehingga beralih ke tontonan dalam negeri. Bukan tayangan jiplakan dengan tokoh dan alur yang sama dari negara lain lalu diadaptasi menjadi tontonan televisi.

Atau tayangan untuk anak namun berisi konten dewasa, cenderung eksploitatif serta minim edukasi. Dan, tidak semata-mata memburu rating melainkan menghasilkan karya animasi ramah anak yang mendidik serta selevel bahkan lebih kuat dengan Upin Ipin.

Hijriani Hadz

akademisi hukum, tinggal di Kendari

3 comments

  • Saya sepakat dgn artikel ini dan memang sempat menjadi ketakutan saya juga di mana adegan upin ipin yang menonjolkan kebudayaan mereka yang sebenarnya ketika ditelusuri budaya tersebut berakar dari indonesia. Toh tak bisa di pungkiri jg acara tv kita sekarang seakan2 mengeksploitasi anak2 dengan acara2 sampah dan tidak berbobot. Dibandingkan acara penuh gimmick dan rekayasa, atau acara yg menebar sensualitas kartun menjadi pelarian sebagai sarana pengisi waktu luang anak. So solusinya adalah bagaimana orang tua mulai membatasi waktu menonton anak kalo toh tetap tidak bisa setidaknya orang tua haruslah menemani dalam menonton tontonan anak tersebut, paling tidak ada ‘filter’ yang membatasi anak dengan tontonannya. Dan usai menonton orang tua haruslah menyimpulkan dan memberikan penjelasan terkait tontonan anak, meski tontonan itu bersifat positif sekalipun.

Tentang Penulis

Hijriani Hadz

akademisi hukum, tinggal di Kendari

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.