Locita

AM Fatwa yang Berjiwa Besar Renungan Pemberian gelar Doktor Honoris Causa, AM Fatwa di UNJ 2009.

Almarhum AM Fatwa (sumber foto: TeropongSenayan.com)

SAYA selaku Promotor atas penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa (H.C) kepada AM Fatwa, pada bidang Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta, pada 2009 lalu. Melalui tulisan ini, hendak menyampaikan pertimbangan-pertimbangan ilmiah atas penganugerahan gelar tersebut kepada almarhum.

Ada beberapa pertimbangan kami untuk memberikannya gelar kehormatan ketika itu. Di antaranya ialah:

Pertimbangan pertama, AM Fatwa sesungguhnya adalah tokoh pendidikan. Ia membina Taman Kanak-kanak melalui Yayasan Pendidikan Fatahillah yang telah didirikannya sejak 1973. Melalui yayasan sosial ini, ia membina pengajian untuk pemberdayaan masyarakat miskin perkotaan di Jakarta Pusat.

Kegiatan itu digelutinya secara berkesinambungan hingga hari ini. Namun, ketika ia semasa dalam tahanan lebih satu dekade, kegiatan itu diteruskan oleh isteri beliau. Pusat kegiatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat seperti itu sesungguhnya adalah laboratorium atau rumah sakit bagi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS).

Yang dikaji dan diobati adalah penyakit sosial, berupa kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat. Secara historis, meski proses pendidikan sudah terjadi sejak awal kejadian manusia, namun sesungguhnya bidang keilmuan PLS baru berkembang relatif pesat sejak dua abad lampau, ketika teori Andragogi mulai berkembang atas prakarsa dan kepeloporan oleh Alexander Kapp, asal Jerman pada 1833.

Itulah sebabnya di AS dan di Eropa, PLS seringkali disebut sebagai Pendidikan Orang Dewasa. Pendidikan Sekolah dan Luar Sekolah, keduanya tidak boleh diperlakukan sama karena mempunyai substansi dan isu yang berbeda. Isu pendidikan anak relatif linear dan homogen karena sudah tertata secara formal dalam wadah pendidikan formal atau persekolahan.

Namun, Pendidikan Orang Dewasa tampak lebih rumit karena terkait dengan substansi yang amat beragam, tidak liner, divergen, cross-cutting areas and issues, saling kait mengait seakan tidak  berpangkal dan tidak berakhir, misalnya isu pemberdayaan dan pendidikan masyarakat msikin. Isu ini tidak berdiri sendiri, ada kaitannya dengan persoalan politik, persoalan sosial, persoalan ekonomi, persoalan budaya, dsb.

Lebih-lebih dalam beberapa dekade terakhir ini terutama setelah diselenggarakannya World Conference on Education For All, 1990 di Jomtien, Thailand, dunia seakan tersentak melihat kembali pentingnya peran PLS. Pada Konferensi Jomtien, terdapat 155 negara peserta seakan baru menyadari bahwa di depan mata mereka terdapat lebih 100 juta anak, termasuk 60 juta perempuan yang tidak punya akses sama sekali terhadap pendidikan dasar.

Di sisi lain peran utama PLS dalam menangani pemberdayaan masyarakat miskin, pemajuan hak asasi manusia, demokratisasi, kesetaraan gender dan berbagai isu-isu penting lainnya sebagaimana yang diamanatkan oleh Konferensi Jomtien dan Konferensi Dakar tetap tidak bergeser. Peran ganda PLS dan isu-isu krusial tersebut ternyata telah menjadi perhatian AM Fatwa sejak lama. Karenanya AM Fatwa pantas mendapat penghargaan di bidang ini.

Perjuangan AM Fatwa pada ranah keilmuan PLS mengingatkan saya kemiripan perjuangan seorang Paulo Freire di Brazil pada tahun 60-an. Paulo seperti halnya AM Fatwa, juga aktif membina pendidikan luar sekolah, melakukan pelatihan-pelatihan dan pemberdayaan masyarakat miskin, mengajar dan bahkan pernah menjadi Ketua Jurusan PLS dan Budaya di Universitas Recife, Brazil dari 1961-1964.

Pertimbangan kedua, dalam perjalanan hidup seorang AM Fatwa sarat dengan begitu beragam nilai-nilai pendidikan yang perlu diwariskan kepada generasi mendatang. Meski ia telah dipenjara selama 12 tahun oleh rezim Soeharto akibat perbedaan haluan politiknya namun ia dengan jiwa besar memaafkan mereka semua yang telah mendholiminya di masa lampau.

Kegigihan AM Fatwa melawan rezim otoriter Orde Baru, termasuk pergolakan politiknya melalui Petisi 50 bersama A H Nasution, Ali Sadikin dan sejumlah tokoh lainnya menyebabkan ia divonis 18 tahun penjara. Namun Presiden Habibie telah memberikan amnesti sehingga ia dapat segera menghirup udara bebas, lebih cepat 6 tahun dari sisa tahanannya.

Jiwa yang Besar

Jiwa besar AM Fatwa mengingatkan saya pengalaman serupa yang telah dialami oleh Nelson Mandella ketika ia melawan rezim Apartheid Afrika Selatan. Kebesaran jiwa AM Fatwa ntuk bangkit kembali, sembuh dari luka-luka pedih masa lampau dan membangun optimisme masa depan dengan memaafkan meraka yang telah mendholominya di masa lalu sungguh suatu proses pendidikan yang tidak ternilai bagi sebuah proses pendidikan antar generasi,generasi masa depan.

Kebesaran jiwa AM Fatwa untuk bangkit kembali, sembuh dari luka-luka pedih masa lampau dan membangun optimisme masa depan dengan memaafkan meraka yang telah mendholominya di masa lalu sungguh suatu proses pendidikan yang tidak ternilai bagi sebuah proses pendidikan antar generasi, generasi masa depan.

Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak terbelenggu oleh dendam masa lampaunya? mereka yang dapat memetik hikmah dari kelampauan itu dan memperspektifkannya ke alam kekinian dan keakanan sebagai satu pertautan linier bagi peradaban modern bangsanya. Afrika Selatan meski mengalami transisi politik dua tahun lebih awal dari era reformasi kita, namun kini ia jauh lebih maju dibanding kita. Income per kapitanya pada 2008, diukur dengan menggunakan purchasing power parity sudah mencapai US $10.000, sementara Indonesia masih US $3.900, atau dua setengah kali lebih rendah. Kuncinya karena kepemimpinan yang sejuk.

Pertimbangan ketiga, AM Fatwa adalah seorang tokoh yang tidak tersekat-sekat dengan identitas etnis, agama, atau latar belakang politik. Ia telah diterima sebagai keluarga Batak dengan penerimaan Penganugerahan Gelar Marga “Ginting” di Brastagi, Sumatera Utara, 1 Maret 1999; Dianugerhi Gelar Marga “Harahap” dengan panggilan “Mangaraja Ompu Sarudak Hatorangan” dan sebutan untuk istri “Namora Ikutan Boru Regar”, di Padang Sidempuan, 24 Agustus 2001; Menerima Piagam Adat dari Sai Batin Raja Adat Keratuan Paksi Pak Skala Brak (Kerajaan tertua di Lampung) dengan gelar “Tumenggung Alip Jaya”, 7 September 2003.

AM Fatwa juga menerima Lencana Kehormatan Radyolaaksono dari Pakubuwono XII dan pemberian nama “Notohadinagoro”, 19 Juli 2003, dan diwisuda sebagai Kanjeng Pangeran di Kraton Surakarta Hadiningrat, 28 September 2003.

Atas pengakuan itu, AM Fatwa telah membuktikan bahwa ia tidak terbelenggu oleh romantisme sempit yang diikat oleh identias suku, agama, budaya atau latar belakang politiknya. Ia ternyata relah diterima dan mendapat tempat tersendiri dari kalangan masyarakat yang multikultural. Sebagai warga kampus dan kelak menjadi alumni UNJ, AM Fatwa mempunyai tanggung jawab moral akademik dan moral keimuan untuk terus menerus berpegang teguh pada toga keilmuan dari misi universitas.

Hafid Abbas

Anggota Komnas HAM RI periode 2012-2017.

Tentang Penulis

Hafid Abbas

Anggota Komnas HAM RI periode 2012-2017.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.