Locita

Al Ghazali dan Bencana Informasi

ilustrasi

Kemajuan teknologi informasi saat ini membawa pengaruh signifikan terhadap kehidupan manusia, khususnya perihal bagaimana mereka mengelola informasi yang diterima dan menterjemahkannya kedalam perilaku. Ibarat pisau dapur untuk mengolah bahan makanan, pisau itu juga bisa dipakai untuk melukai seseorang.

Informasi yang diterimapun demikian pula adanya. Ia memiliki aspek kebaikan dan keburukan, tergantung bagaimana orang menggunakannya. Ada orang yang hanya mendiamkan informasi yang mereka terima, ada pula yang menelannya mentah-mentah serta juga bereaksi berlebihan akibat informasi tersebut.

Imam Al Ghazali mengutip nasihat seseorang yang bernama Abu Al Qasim Al Hakim dalam bukunya Peringatan Bagi Penguasa (Al Tibr al Masbuk fi Nashihat Al Mulk) bahwa bencana manusia terakhir berasal dari tiga kelompok manusia yaitu penyampai berita (informasi), pendengar berita dan penerima berita. Pesan ini sangat terkait dengan kondisi personal Al Ghazali dan situasi kehidupan pada masanya.

Profesor di Madrasah Nizamiyyah Baghdad itu menyatakan dalam bukunya yang lain, Pembebas Dari Kesesatan (Al Munqidz min adh Dhalal), bahwa menyelidiki hakikat suatu perkara terkait dengan perbedaan pendapat merupakan kegemarannya semenjak kecil. Dia melakukannya dengan metode istibshar yaitu menelaah, membandingkan lalu menganalisisnya. Kegemarannya ini bertemu dengan situasi di mana banyaknya aliran pemikiran dan keagamaan. Sebagaimana dicatat oleh Montgomery Watt beberapa aliran pemikiran pada masa itu diantaranya adalah kelompok ahli filsafat, batiniyah, ahli kalam dan para sufi.

Kerumitan untuk menemukan kebenaran di kala kekacauan ditimbulkan oleh berbagai golongan juga diakui oleh Al Ghazali. Ini dapat dipahami sebab apabila seseorang mengikuti suatu kuliah atau pengajian suatu golongan lalu dia menyampaikannya kepada orang lain yang ternyata berbeda kelompoknya maka akan timbul perseteruan. Pada sisi lain, akan terjadi saling mempengaruhi termasuk juga saling mencela yang pada gilirannya akan menimbulkan kebingungan yang cukup luas.

Sekarang, tiga kelompok manusia yang disampaikan di awal bisa dimasukkan kedalam dua kategori saja, yaitu penyampai informasi dan penerima informasi. Karena akses informasi sudah demikian lancar, sehingga setiap orang bisa menjadi pendengar dan penerima informasi sekaligus. Barangkali pada zaman lampau berita atau informasi dibawa oleh seseorang ke orang lain. Ketika disiarkan, barulah khalayak dapat menerimanya. Sekarang semuanya sudah instan, sehingga apapun yang terjadi seakan-akan tidak ada lagi kerahasiaan hatta masalah privat sekalipun.

Nasihat yang dikutip Al Ghazali diawal sudah banyak dilihat. Faktanya saat ini informasi menjadi sudah sering menjadi bencana, baik bagi penyampai informasi, maupun penerima informasi. Misalnya topik terkait isu-isu sensitif seperti agama. Kelompok agama atau memiliki keberpihakan tertentu sering menjadi bahan ejekan dalam berbagai bentuk di internet, hanya karena informasi yang diterima ditelan mentah-mentah. Mestinya, dalam hal yang sepenting agama, perlu dilakukan penelaahan yang lebih jauh ke dalam referensi dalam bentuk buku ataupun pendapat tokoh dari kelompok terkait.

Kalaupun ternyata dalam pencarian memang ditemukan bahwa kelompok tersebut melakukan kesalahan dalam pandangan si penerima informasi, respon yang paling bagus adalah menasihati dengan cara baik yakni lisan maupun tulisan atau dalam model yang dialogis. Namun yang banyak terjadi adalah sebaliknya, orang begitu cepat melakukan cercaan baik dalam bentuk gambar maupun dalam tulisan sinis. Sehingga kelompok yang dicercapun menjadi tidak senang. Sebagai konsekuensinya, timbullah kekacauan.

Contoh lainnya berhubungan dengan tokoh masyarakat, di dalamnya termasuk presiden, pejabat negara, selebriti dan sebagainya. Ada pencari informasi yang kegiatannya fokus mencari kelemahan-kelemahan dari para tokoh tersebut. Setelah itu, menyampaikannya kepada publik walaupun informasi yang didapatnya tidak relevan dengan jabatan yang sedang diemban. Akibatnya, akan timbul ketidakpercayaan masyarakat kepada tokoh yang aibnya sedang dibuka.

Di lain pihak, para tokoh alih-alih menjaga kewibawaan dan martabatnya malah melakukan hal yang memalukan diri sendiri. Mereka sepertinya tidak sadar, bahwa sekarang informasi begitu bebas beredar, sehingga merekapun dengan bebas ditertawakan masyarakat. Pertanyaannya, di mana lagi wibawa sebuah bangsa ketika para tokohnya saja ditertawakan rakyatnya?

Terakhir, berhubungan dengan media penyampai informasi. Sebagai pemegang kunci informasi yang dibawa kepada masyarakat, media informasi seperti surat kabar, berita televisi dan terlebih lagi situs berita online mestinya menyampaikan informasi secara berimbang. Sebab dengan cara demikianlah masyarakat bisa mengetahui keadaan yang berlaku sebenarnya. Namun, sebagaimana yang dapat disaksikan mediapun terkelompok sesuai kepentingannya masing-masing.

Contoh yang paling nyata dalam hal ini adalah pada waktu ajang pemilihan kepala negara ataupun kepala daerah berlangsung, di mana media tertentu melebihkan salah satu pasangan calon dibandingkan dengan calon yang lain. Sehingga masyarakat tidak dapat membandingkan mana di antara calon tersebut yang terbaik. Dengan demikian, persepsi masyarakat sudah terbelah semenjak awal menurut informasi yang paling banyak yang mereka terima.

Pada titik inilah metode istibshar ala Al Ghazali sangat relevan untuk digunakan. Poin penting yang harus diperhatikan adalah argumen dari masing-masing pihak yang berseberangan Apakah landasan argumennya teoritis, teks keagamaan ataukah pengalaman yang dijalaninya. Disisi lain ada juga argumen yang hanya sifatnya satir atau menyindir pihak yang berseberangan dengannya.

Untuk hal ini perlu kejelian tersendiri untuk memperhatikannya dari pada sekedar baca lalu kemudian diteruskan kepada orang lain tanpa ditimbang lebih dahulu. Apalagi urusannya dengan tafsir terhadap teks-teks keagamaan di ranah politik, dimana untuk belajar saja tidak cukup satu dua tahun. Dus, meskipun seseorang mempunyai keberpihakan pada seseorang atau suatu kelompok, perilakunya akan lebih santun dan menghargai.

 

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.