Locita

Aksi Heroik Relawan PMI Entaskan Penyebaran Covid-19 Pasca Bencana

Hampir kurang lebih satu bulan terakhir, kita kembali dihadapakan dengan situasi genting sekaligus menyedihkan. Bagai rakyat jelata yang dipaksa melawan penjajah saat merampas kemerdekaan, namun bedanya saat ini kemerdekaan itu harus diperjuangkan dengan melawan virus yang tidak nampak namun dapat mematikan.

Kondisi ini menjadi semakin parah di sejumlah wilayah. Bak kata pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga pulak”, peribahasa ini terasa sangat mewakili perasaan warga Kota Palu yang masih dalam kondisi berkabung pasca dirundung bencana alam gempa, tsunami, dan liquifaksi yang meluluh lantahkan Kota dengan julukan tiga dimensi ini. Namun demikian, masih ada pihak-pihak yang masih dan terus berjuang, yaitu relawan PMI. Mereka kembali harus melaksanakan aksi kemanusiaan yakni mencegah penyebaran virus Covid-19 yang sudah banyak merenggut nyawa manusia.

Pada situasi bencana, suara sirene itu cukup jelas mengevakuasi korban-korban. Kali ini tidak berbeda, setiap menit dan hampir disejumlah ruas jalan protokol arah rumah sakit umum maupun jalan kecil di kota ini, diramaikan dengan suara sirene ambulans, serta gantungan kain putih tanda berkabung sangat mudah ditemui disejumlah rumah warga. Meski bukan kali pertama, namun dari lubuk hati yang paling dalam, tersimpan kepanikan, rasa was-was dan khawatir akan potensi terjangkitnya covid,

“Kepanikan itu karena apa, karena penyampaian tentang pola penanganan covid belum tersampaikan dengan baik, bagaimana karakter penyakit covid itu, itu tidak terjelaskan ke masyarakat, nah karena itu penanganan kaitannya dengan pandemik yang paling efektif yaitu dengan berbasis masyarakat,” ungkap Ketua PMI Kota Palu, Syamsul Saifuddin yang ditemui disela-sela aktifitasnya.

Ia menambahkan jika hanya mengandalkan pemerintah tidak akan cukup, penanganan berbasis masyarakat harus lebih ditingkatkan, bagaimana teknik isoman, dan sebagainya, dan hal itu dilakukan lewat promosi kesehatan ke tempat keramaian yang menjadi pusat perhatian masyarakat.

Uniknya, meski lahir dari berbagai latar belakang, mahasiswa, wiraswasta, pegawai di instansi pemerintah hingga pejabat yang berperan sebagai pengurus PMI, kemudian menjadi satu atas nama relawan, ya relawan Palang Merah Indonesia Kota Palu, jiwa kemanusiaan yang sangat kental melekat ditubuh, yang memanggil kembali jiwa mereka dalam misi kemanusiaan.

Misi menyelamatkan bumi dan manusia dari penyebaran virus covid-19 akhir-akhir ini semakin merebak, berdampak pada pemutusan pekerjaan sepihak hingga kehilangan sanak saudara, sehinggga jiwa dan raga korps ini pun dipertaruhkan demi keselamatan nyawa masyarakat, tanpa mengenal lelah, para relawan melakukan berbagai aksi pencegahan mulai dari edukasi, imbauan, penyemprotan desinfektan, pembuatan masker, hingga paket bantuan berupa bahan desinfektan mandiri.

Ditengah kesibukannya sebagai mahasiswa akhir yang tidak jarang dituntut dengan perbaikan skripsi dan asistensi, Fikri mahasiswa fakultas kehutanan merasa sangat terpanggil dengan terbentuknya kembali tim penyemprotan desinfektan, “saya sadar saya siapa, ibaratnya pahlawan, saya harus terima resiko ketika tiba-tiba ada yang minta bantuan dan saya harus berubah menjadi hebat untuk menolong, apapun keadaannya, meski kenyataannya saya hanya manusia biasa, tapi demi kemanusiaan saya pertaruhkan sejenak kepentinganku,” ungkapnya.

Tidak berbeda dengan pegawai di instansi pemerintah yang satu ini, beban berat kerjaan di kantor, tidak mengurangi semangatnya untuk kembali memikul beratnya alat penyemprotan yang berisi cairan desinfektan, dengan berjalan kaki memasuki kawasan pemukiman sempit yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat, hingga rumah warga yang sedang melakukan isolasi mandiri, “pake masker, pokoknya apd lengkap terus ditambah memikul alat penyemprotan, sambil berjalan kaki masuk kerumah warga atau gang sempit, kadang badan sudah basah dengan keringat ditambah basah dengan cairan desinfektan, rasanya bangga bisa membantu, tidak semua orang punya kesempatan yang sama, makanya kenapa saya semangat sekali meskipun kadang cape pulang dari kantor,” cerita Ival ditengah kelelahan usai melakukan penyemprotan.

Kekurangan dan keterbatasan tentunya tidak luput dari perjalanan panjang usaha PMI Kota Palu pada masa pandemi ini, menyebar proposal, membuka donasi bagi perusahaan yang bersedia berkontribusi dalam penanganan covid, dengan menjunjung tinggi semangat gotong royong, penyediaan bahan dasar desinfektan untuk kantor pelayanan dan rumah-rumah warga yang terpapar, hingga pemenuhan operasional saat pelaksanaan penyemprotan.

Tidak sedikit dari mereka yang turut membantu. dukungan tersebut membuat semangat relawan PMI terus meningkat, karena selain suplai bahan desinfektan, serta ketersediaan alat pelindung diri, relawan juga mengharap dukungan moril dari berbagai pihak, yang secara langsung turut meningkatkan imunitas tubuh, dan secara otomatis menghilangkan raut kelelahan diwajah mereka. Semangat dan senyum yang selalu mereka tebar mensyaratkan bahwa pandemi covid ini bisa berakhir dan Kota Palu menjadi semakin kuat setelah teruji rasa kemanusiaannya pasca bencana 28 September 2018. Sesuai semangat yang digencarkan saat ini yaitu mosijagai dalam bahasa Kaili yang berarti saling jaga.

Kartika Kumalasari

Kartika Kumalasari

Tentang Penulis

Kartika Kumalasari

Kartika Kumalasari

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.