Esai

Aksi Bela Palestina, Jangan Boikot Amerika

AKSI Bela Palestina kemarin, 17 Desember 2017 di Monas sungguh patut diapresiasi. Begitu banyak massa yang ikut aksi dan semua menyatakan dengan suara bulat, bahwa Palestina harus merdeka. Saking bergemuruh aksi tersebut, membuat media internasional tak luput memberitakannya.

Menyuarakan nasib Palestina itu sesungguhnya bukanlah pertama kali. Jika tercatat mungkin sudah puluhan bahkan ratusan kali banyaknya. Aksi yang dikoordinasikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut merupakan bagian dari aksi-aksi sebelumnya. Dan khusus untuk demonstrasi akhir tahun ini dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel.

Dukungan bangsa Indonesia terhadap Palestina begitu mendalam. Selain ikut merasakan kepedihan terhadap penderitaan warga Palestina atas Israel, kondisi ini juga didasari beberapa faktor. Yakni komitmen anak bangsa, yang mayoritas Islam, dan sekaligus komitmen warga negara untuk kemanusiaan.

Komitmen kaum Muslimin di Indonesia bersandar pada memori kolektif yang melekat sedari kecil. Mereka diajarkan bahwa Masjidil Aqsha yang berlokasi di Yerusalem, adalah situs penting bagi umat Islam. Tempat suci itu pernah menjadi kiblat kaum Muslimin, sekaligus menjadi tempat yang dilalui Nabi Muhammad untuk menjemput perintah Shalat. Perihnya, lokasi itu menjadi kawasan konflik antara bangsa Palestina dan Israel.

Bagi bangsa Indonesia pada umumnya, Aksi Bela Palestina adalah bagian dari implementasi kontrak sosial bangsa. Hal itu termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Bunyinya “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Atas dasar ini, terlepas dari etnis dan agama apapun, selama terjajah, bangsa itu akan didukung kemerdekaannya oleh Indonesia. Terwujudnya nilai kemanusiaan dengan baik dan terciptanya keadilan di dunia adalah cita luhur yang mulia.

Meskipun Aksi Bela Palestina harus diapresiasi, kegiatan itu menyisakan catatan penting. Yakni, seruan untuk memboikot Amerika, berikut dengan produk-produknya.

Seruan ini patut direnungkan kembali dengan baik mengingat banyaknya produk Amerika yang dipakai di Indonesia. Kalau produk itu hanya bersifa elementer barangkali semua orang akan bersetuju. Namun untuk produk yang fundamental dan menyangkut hajat hidup orang banyak, bagaimana? Saya diingatkan hal ini oleh salah seorang senior organisasi.

Ambil contoh program komputer. Rata-rata orang Indonesia menggunakan sistem operasi Windows keluaran Microsoft yang berbasis di Amerika, untuk kegiatan sehari-hari. Mulai dari sekedar mengetik tugas kuliah sampai kegiatan administrasi perkantoran. Contoh yang lebih mendasar, komputer atau laptop itu sendiri. Kalau seseorang pernah belajar merakit komputer, mereka pasti mengenal Intel, yang populer sebagai prosesor dari sebuah komputer. Perusahaan Intel ini juga berasal dari Amerika.

Bayangkan saja, kalau produk Amerika di atas diboikot, betapa kelabakannya orang Indonesia untuk mengurus aktivitas sehari-harinya. Aktivitas kantor akan mandeg, para pujangga yang sudah siap dengan lirihan cintanya akan kembali terpaku pada kertas dan pensil. Apalagi tugas kuliah yang berlembar-lembar banyaknya, sementara sudah lama tidak menulis secara rutin dengan pulpen.

Hal yang lebih penting daripada produk adalah urusan ketenagakerjaan. Coba saja hitung berapa banyaknya perusahaan Amerika di Indonesia dalam berbagai bidang. Misalnya, Perusahan McDonald, September tahun ini sudah memiliki 177 gerai diseluruh Indonesia. Misalkan satu gerai saja memiliki 10 orang karyawan, berapa banyak yang akan kehilangan pekerjaan kalau diboikot? Pekerjaan apakah yang siap untuk menampung mereka? Ini baru satu perusahaan belum termasuk lagi perusahaan rekanan lokal sebagai pemasok bahan yang akan kehilangan pendapatannya.

Kalau Indonesia memboikot Amerika, tentu hal yang sama juga berlaku pada Indonesia. Saya  jadi teringat sewaktu belajar sebentar di negeri Paman Sam beberapa tahun lalu. Setidaknya ada tiga produk Indonesia yang saya temukan di sana. Mie instan, rokok dan baju kaos. Bahkan baju kaos made in Indonesia berada di deretan harga mahal.

Seandainya pemboikotan berjalan tentu produk tersebut akan tidak bisa lagi masuk ke Amerika. Konsekuensinya, jumlah ekspor berikut pendapatan masyarakat akan berkurang.

Di luar beberapa hal yang dipertimbangkan di atas, masih banyak lagi sebenarnya resiko yang akan ditanggung ketika Amerika diboikot. Urusan beasiswa, pendidikan lanjut semisal militer dan kerjasama antar negara Indonesia-Amerika Serikat lainnya, khususnya di bidang ekonomi. Kecuali rakyat Indonesia sudah siap seperti halnya kondisi Iran diembargo sekian puluh tahun lamanya. Bertahan dengan mengandalkan kemampuan anak negeri sehingga berdikari.

Jadi ketika ingin memboikot produk Amerika, jangan hanya dibayangkan pemboikotan atas makanan dan minumannya saja. Kopi dan juga minuman bersoda barangkali bisa diganti kopi Toraja, Kawa Daun atau Wedang Jahe. Kentang dan ayam goreng mungkin juga masih bisa dimasak sama ibunda atau isteri tercinta. Untuk sistem operasi dan prosesor? Barangkali belum siap, meskipun untuk sistem operasi yang dikembangkan dalam negeri seperti Blankon dan IGOS Nusantara (IGN) semakin berkembang. Kesiapan menanggung beban pengangguran? Apalagi.

Membela Palestina memang sebuah keharusan, namun jangan sampai mengorbankan saudara dalam negeri sendiri.

 

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

M Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Lima Potensi Kekalahan Jokowi

Next post

Kiat Menulis untuk Aktivis Desa