Esai

Adil Terhadap Veronica Tan

BEBERAPA waktu yang lalu, kisah perceraian antara Basuki Tjahaja Purnama aka Ahok dan Veronica Tan menjadi headline pemberitaan di banyak media. Tidak sedikit di antara kita yang turut sedih dengan kandasnya bahtera rumah tangga dari mantan orang nomor satu di Jakarta ini. Bagi mereka yang terlanjur mengagumi kemesraan pasangan ini sebagai potret relationship goals sesungguhnya maka prahara ini tentu sangat menyesakkan dada.

Sayangnya laju pemberitaan melulu menempatkan Veronica Tan di kursi pesakitan. Vero -sapaan akrab veronica Tan- dianggap bersalah karena telah mengkhianati suaminya. pelabelan negatif pun bermunculan di media sosial. Ibu tiga orang anak ini dicap perempuan tidak bermoral, munafik dan memalukan. Tanpa ada sedikitpun klarifikasi darinya wacana ini terus menggelinding bertubi-tubi menyerang dirinya.

Bagi orang yang pernah mengalami getirnya diselingkuhi (tolong jangan dibaca curhat) perbuatan ibu Vero ini tentu tidak layak mendapatkan simpati. Bagi banyak laki-laki, selingkuh itu merupakan dosa besar yang tak termaafkan. Anda boleh berbuat dosa apa pun, tapi tidak untuk perselingkuhan. “Pantang pisang berbuah dua kali, pantang pemuda memakan sisa!” tegas Zainudin di film tenggelammnya Kapal Van Der Wijk.

Tapi Ibu Vero bukanlah Hayati. Dia terlanjur menjadi istri dari seorang public figure yang dielu-elukan oleh banyak orang. Andai Pak Ahok orang biasa ceritanya mungkin berbeda. Jangankan dibela, dimaklumi saja sudah syukur. Coba anda bayangkan jika Dhihram Tenrisau yang bukan siapa-siapa ini diselingkuhi. Saya sendiri tentu akan sulit untuk menyalahkan pacarnya.

Selain cuek, doi juga terkenal sibuk dengan dunianya sendiri. Jadi kadang saya memaklumi jika pacarnya sering “uring-uringan” di media sosial. Seumur-umur bergaul dengan dia, tidak pernah sekalipun saya mendengarkan dia teleponan sama pacar. Doi kadang lebih memilih untuk mengkaji dan mendalami diskursus tentang LGBT ketimbang nyepik pacar saat malam minggu.

Tapi bagaimanapun ikatan pacaran dan pernikahan tidaklah sama. Saya tidak akan berpanjang lebar pada wilayah itu. Saya takut kena bully karena saya sendiri belum berumah tangga. Membincang masalah sedahsyat ini tentu di luar kuasa pengetahuan saya. Tapi entah mengapa saya beranggapan bahwa media sering tidak adil karena terus menerus mencitrakan bahwa hanya Ibu Vero yang bersalah.

Kasus Ibu Vero mengingatkan saya pada sosok Cecilia Sarkozy. Mantan istri dari Nicholas Sarkozy (mantan Presiden Perancis) ini berhasil menghebohkan seantero negeri setelah mengakui kasus perselingkuhannya kepada publik. Dia dengan jujur mengungkapkan keputusannya untuk meninggalkan rumah karena jatuh cinta dengan pria lain. Alasan utamanya adalah karena dia merasa tertekan karena sorotan publik yang tak kenal ampun.

“Prancis memilih seorang pria, bukan pasangan,” katanya dalam sebuah wawancara.

Dia juga menambahkan, “Saya adalah seseorang yang menyukai bayang-bayang, ketenangan, dan ketentraman”.

Meskipun banyak orang yang menyudutkannnya Cecilia tetap memuji mantan suaminya sebagai orang yang mampu berbuat banyak untuk Prancis. Dia hanya merasa posisi itu bukanlah tempatnya. Dia merasa kehilangan tempat yang nyaman untuk sebuah pernikahan bahkan kehidupan.

Sudut pandang ini tentu tidak akan tepat jika kita masih memandang fenomena perselingkuhan sebagai gejala defisiensi. Kita kadang sibuk untuk mencari siapa yang salah, apa yang tidak bisa diberikan oleh satu pihak kepada pihak lain atau tentang hadirnya orang ketiga. Kita kadang menutup mata untuk melihat fakta bahwa ikatan atau hubungan itu bersifat diametral yang menuntut hubungan resiprokal di antara dua belah pihak.

Esther Perel seorang terapis hubungan dari Belgia dalam sebuah wawancara di the Atlantic mengatakan bahwa orang yang berselingkuh bukan karena mereka merasa terkungkung dalam pernikahan mereka, tapi karena mereka hanya menginginkan hal lebih dari apa yang ditawarkan dari ikatan yang ada.

Kita mungkin mengasumsikan bahwa hubungan pernikahan meniscayakan kedua belah pihak akan berkembang bersama. Namun, dalam kenyataannya kadangkala tidak demikian. Saat Pilkada Jakarta, saya sempat bertanya-tanya bagaimana beratnya beban yang diemban oleh istri dari Pak Ahok. Tekanan politik yang sangat besar tentu membutuhkan mental yang kuat pula. Pak Ahok mungkin bisa, tapi Ibu Vero belum tentu.

Menurut Perel, seseorang berselingkuh bukan karena mereka ingin meninggalkan orang yang telah mereka dampingi selama ini; tapi mereka hanya ingin meninggalkan apa yang menjadi diri mereka selama ini.

Saya tentu tidak akan membenarkan sebuah perselingkuhan. Bentuk ketidaksetiaan ini hanya menimbulkan luka yang berdampak buruk pada masa yang sangat panjang. Tidak hanya bagi kedua pihak tetapi juga kepada anak-anak, teman dan komunitas mereka.

Tapi sedalam apapun pemaknaan kita atas kasus ini, tetap saja tak akan mampu mencapai pemahaman yang utuh atas kompleksnya permasalahan yang dialami oleh keduanya. Tak elok kiranya, jika kita terus menerus menghukumi bahwa hanya ibu vero yang bersalah. Jika anda pernah berselingkuh ataupun berselingkuh, marilah kita bertanya pada diri sendiri.

Seberapa adilkah kita pada Veronica Tan?

Alhe Laitte

Alhe Laitte

Founder & CEO Locita.co

Previous post

Membela Dilan yang “Terciduk” Syiah

Next post

Saat SBY Berkata "This is My War"