EsaiFeatured

Abu Tours, Perjalanan Haji dan Bisnis yang Diberkati Allah

KEPENTINGAN bisnis kadang ikut berkelindan dalam proses penyelenggaraan haji dan umroh. Kasus yang sama terulang lagi, jamaah travel Abu Tours di Sulawesi Selatan kembali gagal.

Modusnya sama, menawarkan harga yang sangat murah. Ini menambah daftar panjang travel-trave yang bermasalah. Tidak saja First Travel, tetapi ada travel lain yang juga mengalami kondisi yang sama.

Padahal, dengan perjalanan secara mandiri tetap saja memerlukan pembiayaan sekitar dua puluh juta. Sementara jikalau menggunakan biro perjalanan, tentu masih ada aspek pembiayaan lain yang perlu dikeluarkan untuk mengurus rombongan. Mulai dari biaya pegawai, juga katering, dan biaya operasional lainnya.

Menengok sejenak sejarah perjalanan haji dan umrah, Agen Herklots pada tahun 1893 dalam laporan Konsul Jenderal Belanda di Jeddah menyatakan ada penyimpangan dan kecurangan dalam pengangkutan jamaah haji.

Uang yang diterima dari jamaah bukannya digunakan untuk pembiayaan penyelenggaraan haji dan umrah itu sendiri tetapi justru digunakan untuk kepentingan lainnya yang sama sekali tidak berhubungan dengan aktivitas utama. Akibatnya, perusahaan ini harus berususan dengan pihak kepolisian dan juga proses pengadilan.

Penyelesaian yang sama, telah digunakan di masa lalu. Agen Herklots juga sudah meminta kepada jamaah untuk menambah biaya jikalau mereka tetap mau berangkat. Sementara yang sudah berada di Tanah Haram, sementara menunggu pemulangan dari mekah ke Jeddah, juga harus menambah sampai $ 8 di luar dari biaya tiket untuk pulang.

Lagi-lagi, jamaah yang menjadi korban. Mereka harus merogoh kembali koceknya dalam-dalam untuk pulang. Jikalau saja, mereka masih berada di tanah air, bukan sebuah masalah. Bagi jamaah yang sudah berada di Saudi Arabia kerap diterlantarkan.

Oktober 1893, Agen Herklots masih menyisakan ratusan jamaah yang tidak bisa dipulangkan karena keterbatasan pendanaan yang dimiliki perusahaan. Akibatnya, mereka harus mengupayakan sendiri kepulangan untuk sampai ke Nusantara.

Gambaran ini menggambarkan, pengusaha yang bergerak dalam bidang haji dan umrah sesusngguhnya memulai dengan usaha yang tepat. Hanya saja, dalam perjalanan usaha tersebut mereka kemudian mulai melenceng.

Saat memegang uang jamaah, mereka tergoda untuk menggunakan uang tersebut untuk kepentingan di luar keperluan jamaah. Bahkan sama sekali tidak berhubungan dengan pengurusan umrah. Sebagaimana First Travel yang menggunakan dana jamaah untuk investasi yang bukan domain bisnis umrah.

Sebagaimana Abu Tour dan First Travel, juga menyelenggarakan umrah dengan sangat baik. Namun, setahun terakhir mereka mengalami likuiditas keuangan seiring dengan semakin berkurangnya jamaah yang mendaftar. Sementara perusahaan menggunakan skema promo dengan tiket murah yang tidak selamanya tersedia di maskapai.

Sirkuler (pengumuman) Gubernemen, Februari 1894 memberikan informasi bagi umat Islam untuk senantiasa selektif dalam memilih agen perjalanan. Itu juga sudah dilakukan Kementerian Agama RI bagi jamaah untuk memperhatikan beberapa aspek sebelum memilih biro perjalanan.

Hanya saja, jamaah selalu tergiur dengan angka yang murah. Begitu pula dengan iming-iming promo walau harus menunggu beberapa waktu untuk berangkat. Sementara itu, para jamaah dengan mudah percaya sebab agen pemasaran senantiasa melibatkan tokoh masyarakat bahkan sampai pada guru dan juga ustadz.

Ini sudah terjadi sejak 1896. Agen Herklots juga menggunakan pengaruh para syeikh dan tokoh agama di Surabaya untuk memasarkan paket haji. Namun, Gubernur Jenderal di Batavia melihat gelagat ini segera menyebarkan peringatan untuk tetap berhati-hati dalam memilih agen perjalanan haji.

Sekilas, pola-pola yang digunakan sejak sama Hindia Belanda berulang. Dien Majid (2008) secara khusus menggambarkan aspek kesejarahan dalam berhaji di masa kolonial, namun dalam gambaran itu kita juga bisa memperoleh potret lain bahwa urusan bisnis juga mengemuka dalam pelaksanaan umrah. Akibatnya, jamaah senantiasa menanggung kesilapan para pengusaha.

Sementara pemerintah sejak awal sudah melakukan sosialisasi sehingga masyarakat tidak terjebak pada masalah. Namun, para pengusaha selalu saja berhasil memperdayai masyarakat sehingga mereka bisa mengeruk keuntungan sendiri.

Mungkin inilah kuasa Allah, memberi kita mata akan kebenaran. Bisnis kalau memang tidak jujur akan kolaps, sama halnya Menara Babel. Menara yang setinggi dan sekuat apapun namun berdiri di atas tiang pancang ketidakjujuran dan keborokan akan selalu rapuh.

Sekalipun ini sudah berlalu, saya selalu percaya Ilahi akan selalu bersama lemah dan tertindas, mereka yang ditipu dalam permainan bisnis ini.

Ismail Suardi Wekke

Ismail Suardi Wekke

STAIN Sorong

Ilustrasi (sumber foto: https://kelakarhuruhara.wordpress.com)
Previous post

Contohlah Peran Ulama Nusantara

Next post

Kemenangan Putin dan Boikot Piala Dunia di Rusia