Locita

9 Calon PKS di 2019: Melawan atau Bersama Jokowi?

Ilustrasi (Sumber foto: terasjabar.co)

SETELAH Presiden PKS, Sohibul Iman, memunculkan spekulasi mengenai cawapres Jokowi untuk 2019, tiba-tiba partai dakwah itu merilis sembilan nama. Akun Twitter resmi @PKSejahtera pada tanggal 5 Februari 2018 mencuit sebuah gambar yang dengan judul 9 Capres/Cawapres RI Dari PKS.

Mereka adalah Ahmad Heryawan, Hidayat Nur Wahid, Muhammad Anis Matta, Irwan Prayitno, Mohamad Shohibul Iman, Habib Salim Segaf Aljufri, Tifatul Sembiring, Muzammil Yusuf dan Mardani Ali Sera.

Sehari kemudian Sohibul Iman (akun @msi_sohibuliman) juga memberikan cuitan. Isinya tentang kurang logisnya PKS jika mendukung Jokowi. Alasannya, sudah lima partai pemerintah mengusung Jokowi dengan harapan kader mereka menjadi cawapres dari kader PDI-P itu.  Selain itu, Sohibul Iman juga menyatakan bahwa peluangnya kecil bagi PKS dan tidak bagus dalam demokrasi. Karena akan melahirkan pasangan calon tunggal.

Dari kesembilan nama yang dimunculkan, baru Anis Matta yang sudah mempunyai relawan sebagai capres. Deklarasi dukungan untuknya sudah dilakukan di Sulawesi Selatan dan direncanakan juga ditempat lain. Bagi Anis Matta sendiri, ini merupakan kali kedua diusung menjadi capres setelah pemilu tahun 2014 lalu. Ketika itu dia gagal masuk gelanggang pilpres.

Berdasarkan temuan survei Median awal Februari ini, Anis Matta masuk dalam 10 besar kandidat yang mempunyai peluang untuk maju. Dia berada diperingkat kesembilan dengan elektabilitas 1,5 persen. Bahkan menurut temuan Median, di wilayah politisi berbasis Islam, Anis Matta mempunyai elektabilitas paling tinggi.

Namun, dalam survei Poltracking Indonesia yang dilakukan akhir Januari sampai awal Februari, nama Anis Matta malah tidak masuk sama sekali. Bahkan dalam simulasi tiga puluh nama pun tidak ada. Terlebih lagi tidak ada kader PKS yang masuk jadi 15 besar kandidat presiden dalam pernyataan spontan (terbuka).

Dalam temuan Poltracking diatas, kader PKS yang masuk radar adalah Ahmad Heryawan (Aher) dan Sohibul Iman. Aher menduduki peringkat ke-11 dalam simulasi 30 nama capres dengan elektabilitas 0,5 persen. Sementara Shohibul Iman, dalam simulasi 20 nama berada di peringkat ke-18 dengan elektabilitas 0,2 persen.

Berdasarkan data kedua survei tersebut, praktis hanya tiga orang dari kesembilan nama yang dimunculkan PKS sebagai calon potensial. Sedangkan yang lain belum mendapatkan tempat sama sekali. Kalau pengerucutan calon dari PKS ditentukan berdasarkan hal tersebut, maka tiga nama inilah yang berpeluang untuk berkompetisi di 2019 nanti.

Munculnya tiga nama ini sebetulnya tidak mengherankan. Sebab ketiganya masih kuat dalam ingatan publik dengan mengingat posisi mereka. Anis Matta, meskipun dia sudah tidak menjabat presiden PKS lagi, tentu loyalisnya masih ada. Apalagi dia pernah deklarasi untuk maju sebagai capres tahun 2014 yang lalu.  Jargonnya sebagai pemimpin muda masih tengiang-ngiang dalam benak masyarakat.

Adapun mengenai Shohibul Iman, ini praktis karena masih menjabat Presiden PKS saat ini. Dia sering muncul di media massa sebagai representasi partai. Dan kendalinya atas partai membuat pengaruhnya tidak sedikit.

Sementara Aher, wajar muncul dengan posisi cemerlangnya sebagai Gubernur Jawa Barat selama dua periode.

Peluang untuk naiknya elektabilitas ketiga kandidat tersebut masih terbuka. Apalagi dengan barisan kader PKS yang terkenal disiplin dan loyal dalam melakukan tugasnya. Hanya saja konsolidasi internal partai yang perlu ditingkatkan lagi.

Ini penting mengingat turbulensi dalam tubuh PKS pasca pemecatan Fahri Hamzah dari  partai dakwah itu. Sebagaimana diketahui Fahri merupakan anggota legislatif DPR RI yang menyumbangkan suara terbanyak bagi PKS. Berlarutnya konflik dengan PKS dapat membuat suara partai itu beralih ke tempat baru Fahri nantinya.

Di sisi lain, PKS sendiri saat ini kelihatannya masih dalam proses penentuan keberpihakan. Ini dilihat dari adanya semacam kontradiksi dari ujaran sang presiden partai,  Sohibul Iman. Sewaktu acara Rembuk Budaya dan Ngaji Nasional Fraksi PKS beberapa waktu lalu, dia sempat menyampaikan kemungkinan kader PKS menjadi cawapres Jokowi di Pilpres 2019. Kondisi ini berbeda dengan cuitan Twitternya beberapa lama kemudian seperti yang diterangkan diatas.

Situasi kontradiktif ini sebetulnya bisa membingungkan kadernya. Namun sekaligus mencerminkan dilema sebuah partai menengah. Selain intensitas penyiapan partai, kubu mana yang akan dipilih 2019 nanti juga menjadi pertimbangan. Hal ini ditambah dengan temuan kedua survei diatas, bahwa Jokowi dan Prabowo masih menjadi dua poros elektabilitas tinggi yang akan bertarung 2019.

Melihat kerjasama PKS dengan PDI-P pernah terjadi di Solo untuk suksesi Jokowi sebagai walikota, tidak ada salahnya kalau koalisi itu diulang kembali 2019 nanti. Jika PKS ingin kembali masuk ke dalam barisan pemerintahan. Tetapi hal itu hanya bisa terjadi, jika target 12 persen suara PKS terpenuhi.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Add comment

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.