Esai

5 Hal Mendasar yang Harus Dipersiapkan untuk Melamar Beasiswa

BANYAK yang bertanya bagaimana cara mendapatkan beasiswa? Sejujurnya jawaban pertanyaan ini adalah jawaban dari pertanyaaan, “Apa yang telah kamu persiapkan untuk meraihnya?”

  1. Doa

Sebagai seorang yang mengimani adanya Tuhan, saya percaya bahwa Dia harus dilibatkan dalam setiap keputusan apapun. Sebab bisa jadi apa yang sangat kita inginkan baik menurut kita tetapi buruk bagiNya dan sebaliknya. Jangan lupa bahwa Tuhan berjanji akan membantu apapun urusanmu tetapi selesaikan dulu urusanmu dengan urusanNya.

Tetapi ada kok yang, misalnya ia seorang muslim tidak pernah salat tetapi lolos beasiswa bergengsi. Ada kok yang tak pernah kebaktian hari minggu tapi jalannya mulus saja. Tes IELTS pertama langsung dapat, ikut seleksi langsung lolos. Dalam situasi seperti ini sering kali rasa iri menggelisahkan hati.

Saya meyakini bahwa Tuhan tak pernah menyia-nyiakan kebaikan dan perjuangan hambaNya. Selalu ada mozaik-mozaik hidup yang suatu kelak baru akan tersadari mengapa Tuhan menggagalkan di bagian ini dan memberhasilkan di bagian lain.

Doa mungkin hanya 10% tingkat pengaruhnya tetapi ia sangat signifikan. Seberapa cerdas apapun, seberapa hebat apapun kalau Tuhan berkata tidak, kamu mau apa? Itu sebabnya selalu disarankan meminta doa kepada orang tua, kepada orang-orang terkasih, kepada para guru.

Doa akan selalu membimbing dalam duka ataupun suka. Ia akan menjaga untuk tak tumbang ketika gagal dan tetap ingat diri ketika berhasil. Jangan segan-segan mendoakan yang lain. Jika kita yang terbaik maka loloskanlah. Tak perlu berdoa, “Loloskan saya dan gagalkan yang lain.” Masa iya kamu mengajak Tuhan menggagalkan hambaNya.

Tetapi doa tak sekedar kata-kata. Doa hanya akan berwujud jika ia ditindakkan. Berdoa sebaik-baiknya, bertindak sekeras-kerasnya. Sesudahnya biarkan takdir dan doa bertarung di langit.

  1. Kesehatan

Stay healthy! Smartness is nonsense if you are sick.”

Kata-kata ini diucapkan oleh seorang profesor saya di kampus saya di Amerika Serikat. Ia tak berlebihan. Tubuh yang sehat adalah prasyarat melakukan aktivitas dengan baik. Daya tahan yang payah berdampak pada konsentrasi dan fokus ketika belajar.

Pelamar beasiswa harus memenuhi syarat-syarat administratif ketika hendak mendaftar. Syarat bahasa seperti nilai IELTS atau TOEFL dengan standar nilai tertentu misalnya.

Bagi sebagian pelamar, mencapai standar IELTS 6,5 atau TOEFL IBT 80 tidaklah mudah. Tak sedikit yang belajar keras sampai larut hingga tubuh drop. Di saat hendak menjalani tes, akhirnya sakit. Skor tes akhirnya tak maksimal.

Pentingnya kesehatan tak hanya sebelum mendapat beasiswa tetapi terutama setelah kuliah di negara tujuan. Sebab sistem pendidikan di luar negeri menuntut kerja lebih keras dibandingkan di Indonesia, umumnya. Meski tak banyak, tak sedikit yang tak maksimal dan akhirnya gagal dan dipulangkan.

Barangkali kenyataan ini mendasari LPDP mensyaraktan surat keterangan sehat dan surat keterangan bebas narkoba (bagi tujuan dalam negeri) dan ditambah surat keterangan bebas TBC (tujuan luar negeri) diawal seleksi.

Sedangkan beasiswa yang lain biasanya mensyaratkan di akhir tahap. Beasiswa Fulbright misalnya. Sebelum pengajuan visa, grantee (penerima beasiswa) akan dikirimkan medical form untuk dilengkapi.

Mulai dari pemeriksaan kesehatan secara umum, vaksinasi, dan TBC atau tuberculosis. Anda bisa saja meremehkan tetapi nyatanya ada yang gagal berangkat karena bermasalah di kesehatan, terindikasi TBC misalnya.

Saya sempat khwatir ketika hasil skin test menunjukkan saya TBC positif padahal saya bukan perokok, tidak batuk dan gejala lain. Bersyukur hasil chest x-ray normal. Walau begitu saya diminta periksa detil ke ahli TB. Tentu saya harus bolak balik.

Selain karena negara tujuan tidak ingin kita membawa penyakit, kesehatan juga penting ketika anda tiba. Anda harus beradaptasi dengan cuaca, makanan, dan lingkungan yang berbeda dengan Indonesia. Sayang kan jauh-jauh sudah merantau dan gagal karena sakit? Atau gagal berangkat ke kampus idaman setelah melalui serangakain tes panjang?

  1. Bahasa

Banyak diantara teman-teman yang saya kenal sangat layak mendapatkan beasiswa. Ketua di beberapa organisasi. Aktif di berbagai komunitas relawan. IPK lebih dari cukup. Namun ketika tiba pada syarat bahasa, mereka langsung angkat tangan. Kampus  dalam negeri biasanya mensyaratkan TOEFL ITP 500. Kampus tujuan luar negeri mensyaratkan TOEFL ITP 550 atau TOEFL IBT 80 atau IELTS 6,5.

Setelah meraih skor yang disyaratkanpun belum tentu komunikasi akan terjamin lancar di tempat tujuan. Tak sedikit yang meraih skor IELTS dan TOEFL tinggi tapi masih bermasalah ketika berkomunikasi, terutama ketika diawal-awal semester.

IELTS atau TOEFL tak dapat mengukur kemampuan bahasa seorang seobjekti-objektifnya. Hanya saja kita memang butuh standar dan sampai kini IELTS atau TOEFL masih dijadikan patokan terbaik.

Selain untuk komunikasi akademik, bahasa juga adalah juga komunikasi sehari-hari seperti pada masyarakat. Ada perbedaan komunikasi dengan orang-orang akademik dengan masyarakat biasa dari sisi intonasi atau dialek. Mereka yang berada dalam lingkungan akademik telah terbiasa bercakap Bahasa Inggris dengan variasi logat dari berbagai negara.

Tetapi masyarakat biasa, seperti karyawan toko dan supir taksi atau mereka yang berpendidikan rendah tak terbiasa berbincang dengan orang luar. Tak sedikit rekan yang stres dan merasa Bahasa Inggrisnya payah ketika berbicara dengan mereka.

Sebab kita dan mereka sering kali sulit menangkap kata tertentu dan terjadilah miskomunikasi. Sebagai nonpenutur asli, kita akan merasa kemampuan Bahasa Inggris kita jelek dan merasa rendah diri.

Bagi yang masih mahasiswa dan hendak mendaftar beasiswa, sebaiknya sekarang memulai mempersiapkan. Jangan nanti selesai baru kelabakan. Bahasa sebagai skil membutuhkan banyak praktek dan tidak dapat dilakukan hanya dalam hitungan hari.

Sementara bagi yang telah sarjana, tak ada kata terlambat. Anda bisa belajar sendiri atau kursus. Saat ini fasilitas belajar tersedia di mana-mana, lewat buku cetak atau elektronik. Anda bisa belajar lewat youtube misalnya.

Kalau susah komitmen, Anda bisa ikut kursus. Memang butuh perjuangan dan pengorbanan baik waktu, tenaga, dan finansial tetapi memang demikianlah harga yang harus dibayar. Semua perjuangan akan terbayar ketika telah berhasil. Jika belum berhasil? Tak ada perjuangan yang sia-sia. Tak ada kegagalan selama masih berjuang.

  1. Organisasi

Nilai akademik yang baik tidak menjamin lolos beasiswa. Nilai IPK hanya akan membantu sampai tahap seleksi berkas. Dan perlu dicatat, mereka semua yang mendaftar memiliki nilai IPK atau nilai TOEFL/IELTS yang mencapai standar minimum.

Artinya sampai pada tahap ini, semua memiliki peluang yang sama. Nyatanya, banyak yang nilai IPK 3,9 atau skor TOEFL 580 tetapi tidak lolos, terutama ketika berhadapan dengan tes wawancara.

Bergabunglah di organisasi baik dalam kampus atau luar kampus. Jangan hanya bergabung dan menjadi anggota pasif. Aktif dalam kepanitiaan atau menjadi pengurus inti. Dalam organisasi, Anda akan belajar bertanggungjawab, menjalin komunikasi, mengambil keputusan pada situasi penting, dan belajar menjadi pemimpin.

Kandidat dengan nilai-nilai seperti ini yang dicari oleh pemberi beasiswa. Nilai-nilai tersebut akan tampak ketika wawancara dan kandidat tidak akan dapat berbohong. Sebab di setiap seleksi tahap wawancara akan selalu ada pewancara dari bidang psikologi.

Hanya saja, memilih organisasi harus berhati-hati dan tidak terjebak. Tidak semua organisasi menumbuhkan kepribadian kadernya secara positif. Memilih seniorpun harus berhati-hati. Tak sedikit senior yang sibuk memberi motivasi tetapi ia sendiri tak becus mengurus diri sendiri.

Bijaklah memilih organisasi dan senior serta teman-teman sepergaulan. Sebab mereka akan mempengaruhi cara berpikirmu ke depan. Akademik dan organisasi, seimbangkanlah sebaik-baiknya.

  1. Networks

Network atau jaringan dapat dibangun dari berbagai cara. Cara paling mudah dengan berorganisasi. Di dalam organisasi Anda akan berkenalan dengan sesama anggota.

Dari sesama anggota anda akan berkenalan dengan teman dari teman Anda. Entah melalui kegiatan seperti seminar, workshop, bertemu di acara yang sama atau kebetulan bertemu di kafe atau di pelataran masjid.

Melalui kegiatan seminar misalnya, Anda akan bertemu dengan pemateri seperti pemateri sharing info beasiswa. Baik sebagai peserta atau panitia, upayamembangun relasi dapat dimulai dari sini.

Simpankan kontaknya dan bertemanlah di sosial media. Jagalah silaturahim dan jangan hanya menyapa saat sedang butuh. Biasanya orang juga malas membantu jika hanya datang pada waktu tertentu.

Mungkin saja ia tidak dapat membantumu namun ia memiliki teman atau kenalan yang bisa membantu. Mungkin ia tak banyak tahu tentang beasiswa Fulbright tetapi ia memiliki teman yang bisa membantu informasi perihal beasiswa Fulbright.

Dari temannya tersebut Anda berkenalan dengan seorang temannya yang bersedia memberi masukan saat menulis esai. Hubungan-hubungan ini akan menjadi titik-titik penghubung. Itu sebabnya silaturahim perlu dijaga sebaik-baiknya.

Mungkin masih ada banyak hal lain yang mesti dipersiapkan. 5 hal di atas hanya beberapa diantaranya. Selamat mempersiapkan diri. Doa-doa terbaik untukmu.

Arief Balla

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Previous post

Ketika Kyai Saleh Menolak Seseorang Masuk Islam

Next post

10 Dosa Besar Saat Tes IELTS