Esai

4 Perbedaan Melamar Perempuan dan Beasiswa

WARNING! Tulisan ini subjektif. Berbahaya bagi yang sering memakai ukurannya untuk menilai orang lain.

I. Lisan/Tulisan.

Lamaran pada perempuan dilakukan secara lisan. Dalam adat Bugis-Makassar ada disebut mammanu’-manu’. Pihak calon mempelai laki-laki, sendiri atau diwakili keluarga, berkenalan dan menjajaki kemungkinan pembicaraan lanjutan. Sebaliknya lamaran beasiswa dilakukan secara tulisan.

Pelamar mengirimkan berkas. Berkasnya berupa esai berupa study objective dan personal statement plus esai tambahan. Cara mengirimnya ada yang via online atau offline. Hingga 2017, berkas untuk Fulbright masih dalam bentuk cetak, dikirim lewat Kantor Pos, JNE, TIKI, dititip atau diantar langsung. Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) lewat online.

Chevening juga via online. Australia Award Scholarship (AAS) masih menerima salah satu atau keduanya, physical copy atau online. Mungkinkah kelak melamar perempuan lewat online? Bisa saja. Tetapi jika saya orang tua perempuannya, akan saya cincang tubuhmu dengan badik. Kamu kira anak saya barang online. Kurang ajar!

Setelah mammanu’-manu’ dan dirasa ada kecocokan, pihak laki-laki mendatangi pihak perempuan untuk membicarakan jumlah uang panaik dan tanggal pernikahan. Tim pewancara bukan cuma orang tua perempuan, tetapi paman, tante, atau bahkan keluarga lain yang biasanya jauh lebih ngotot walau bukan mereka yang menjalani rumah tangga.

Film Uang Panai’: “mahar” yang dipelesetkan menjadi “mahal” dalam salah satu adegannya menyinggung ibu-ibu yang biasanya jauh lebih rempong mengurus lamaran orang lain. Mereka seperti tak lelah membandingkan jumlah uang panaik anak gadis satu dengan lainnya. Film ini juga menyindir distorsi makan uang panaik. Tetapi film tetaplah film dan kenyataan tetaplah kenyataan.

II. Penanya dan Pertanyaan.

Baik melamar beasiswa atau perempuan, keduanya sama-sama berbicara soal masa depan dan juga sama-sama memiliki tim “penyidik”. Hanya saja berbeda dalam hal komposisi penanya dan bobot pertanyaan.

Tim penanya saat melamar perempuan terdiri dari orang tua, paman, tante, tetangga, keluarga jauh sampai yang tak berkepentingan pun biasanya ikut ambil pusing.  Sedangkan tim interviewer beasiswa biasanya terdiri 3 pewancara seperti LPDP dan AAS, 4 pewancara dengan masing-masing 2 dari Indonesia dan Amerika Serikat plus seorang bule yang mengawasi jalannya wawancara plus seorang moderator untuk Fulbright. Umumnya sih ada 3 pewancara.

Saat melamar perempuan, berikut daftar pertanyaan yang perlu diantisipasi:

  1. Kerja dimana?
  2. Berapa gajimu?
  3. Apa latar belakang keluargamu? Orang kaya? Bangsawan?
  4. Sanggup tidak penuhi mahar (uang panaik) sekian puluh atau ratus juta?

Dan berikut daftar pertanyaan saat wawancara beasiswa:

  1. Sudah berapa lama kerja dan nilai-nilai apa yang kamu pegang dalam hidupmu?
  2. Apa pentingnya rencana studimu bagi Indonesia? Kenapa pilih Inggris/Australia/Amerika Serikat?
  3. Apa rencana karir dan hidupmu ke depan? Bagaimana kamu memandang dirimu selama 5 tahun ke depan?
  4. Mengapa kamu merasa pantas menerima beasiswa ini daripada pendaftar yang lain?

Masing-masing pertanyaan di poin 4 yang sering kali bikin gagal.

III. Jika melamar perempuan

diterima dan menikah. Tentu kamu akan memiliki keluarga kecil, istri dan (calon) anak. Juga kasih sayang berlimpah-limpah. Tak ada hari-hari yang sepi. Tak ada musim dingin atau musim panas. Semua musim sama saja. Entah sama-sama menyenangkan atau sama-sama susah.

Sebaliknya jika kamu diterima beasiswa dan harus merantau kamu akan kehilangan kehangatan keluarga dan orang-orang yang engkau cintai. Sendiri di tanah rantau akan membuatmu makin kesepian, apalagi kalau jomblo. Musim dingin, musim semi, atau musim sama saja. Sama-sama kesepian. Haha

Jika melamar, terutama dalam suku tertentu yang membutuhkan biaya mahal macam uang panaik pada Suku Bugis-Makassar maka kamu memberikan uang. Jumlahnya sering kali besar dan bikin tekor. Syukur-syukur jika harta penting tak melayang atau tergadai di pegadaian yang kalau tidak salah jargonnya: “mengatasi masalah dengan masalah”.

Jika melamar beasiswa dan diterima, kamu akan mendapat kesempatan lanjut studi di negeri orang dan jika berhasil akan mendapat ilmu dan gelar. Biayanya mencakup biaya melanjutkan studi, uang buku, komputer, dan uang bulanan. Jika tak berhura-hura nan foya-foya, kamu bisa menyimpan untuk tabungan. Bisa jadi untuk tabungan uang panaik.

Semisal gini, jika kamu penerima penerima Beasiswa Fulbright. Eh jangan Fulbright deh, yang agak besar sedikit dananya, siapa tahu kamu lebih semangat.  Misal Beasiswa LPDP memberi uang bulanan sesuai dengan standar hidup kota masing-masing.

Contoh di Clayton, Australia, biaya hidup bulanan diberikan Rp. 20 juta per bulan. Jika tak boros seperti seorang kawan, biaya apartemen bisa Rp. 5 juta dan belanja bulanan katakanlah Rp. 3 juta. Tersisa Rp. 13 juta bisa kamu tabung. Ya terserah kamu apakan tabunganmu. Jika merujuk kawan saya itu, ia akan kembali menuntut balas perempuan yang pernah mengacuhkannya. Kalau perlu, katanya, ia akan poligami. Tentu ia bercanda ditengah tumpukan paper dan jurnalnya.

Sementara untuk LPDP Dalam Negeri (DN) juga tergantung kota. Misal di Makassar, per bulan akan mendapat uang bulanan Rp. 3,3 juta. Kamu tinggal belajar saja. Kurang baik apa negara ini? Penuhilah persyaratannya dan daftarlah agar kamu bisa berdiskusi dan berdebat dengan mahasiswa dari negara yang sering kamu tuduh kafir, liberal, dan calon penghuni kerak neraka. Jangan cuma berani teriak-teriak di jalanan bikin susah orang.  Berlagak pahlawan tapi bikin susah orang tua. Berlagak pintar tetapi zaman SD sampai hampir Drop Out (DO) cuma tahu yes dan no.

Bung Karno atau Soe Hok Gie yang sering kamu kutip kata-kata atau wajahnya terpampang di bajumu itu tak cuma garang saat berorator, mereka juga garang saat menulis dan berdebat dalam Bahasa Inggris. Buku bacaannya dari berbahasa Indonesia sampai berbahasa Inggris. Kamu disuruh bikin makalah saja sudah salin sana sini. Sudah copy paste, tidak mengerti pula. Mau jadi sarjana macam apa?

  1. Lamaran beasiswa biasanya dibuka di awal tahun dan deadline pertengahan tahun. Fulbright deadline Februari, AAS deadline April, dan LPDP tujuan Dalam Negeri (DN) April dan Luar Negeri (LN) Juli. Walau berbeda, pemberangkatan sekitar Agustus dan Februari. Sebab perkuliahan biasanya dimulai di bulan-bulan tersebut pada Musim Fall atau Spring.

Sedangkan jadwal pernikahan biasanya ramai di bulan setelah idul fitri dan idul adha. Tahun ini misalnya ramai di bulan September setelah idul adha di akhir Agustus. Terkhusus bagi Suku Bugis-Makassar seperti di kampung saya, selain bulan-bulan tersebut di atas, pesta pernikahan biasanya ramai setelah musim panen cengkeh dan merica.

Pada akhirnya, entah melamar perempuan atau beasiswa keduanya adalah pilihan. Keduanya perihal masa depan. Ada yang melamar kekasihnya lalu melamar beasiswa. Lalu, istrinya diajak turut serta. Ada yang melamar beasiswa dahulu sebelum pulang melamar pujaan jiwa. Ada pula yang cukup salah satunya, entah beasiswa atau perempuan. Yang mana bagus? Ya terserah. You are the boss of your life.

Arief Balla

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Previous post

7 Kesedihan Selain Hantu PKI yang Terabaikan di Bulan September

Next post

Sehari Bersama Anggia Ermarini, Sang Nakhoda Fatayat NU