Locita

Sehat Kerelawanan, Sehat Indonesiaku Refleksi Hari Kesehatan Nasional 2017

Penghargaan MURI senam terpanjang di HKN ke-53 (Foto: Rosita Rivai)

PAGI itu (12/11) di Bundaran HI, Jakarta, nampak ramai dengan orang-orang yang memakai baju biru gelap. Ribuan orang bersenam, mengikuti alunan musik. Sepanjang  Imam Bonjol, Sudirman, hingga Thamrin.

Di salah satu panggungnya nampak Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek. Hari ini adalah peringatan Hari Kesehatan Nasional yang bertema “Sehat Keluarga, Sehat Indonesiaku”.  Mereka ditepuk tangani serupa pahlawan, terlebih saat Jaya Suprana saat menyerahkan piagam rekor MURI sebagai senam terpanjang di dunia.

Di situ saya melihat bagaimana antusiasme masyarakat yang hadir, juga effort pemerintah untuk mengikut sertakan peran masyarakat dalam usaha masyarakat. Utamanya dalam program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

Ya, lagi-lagi ini digaungkan secara seremonial di tempat ini. Sekaligus ini menjadi pertanyaan, sampai sejauh mana program ini dapat berlari. Apalagi kegiatan-kegiatan pencegahan dan promotif memang kecenderungan bersifat seremonial dan heboh-hebohan.

Di lain pihak, organisasi-organisasi non-pemerintah dan komunitas-komunitas seperti misalnya Dompet Dhuafa berjejaring hingga ke level paling bawah atau langsung ke masyarakat untuk melakukan pemberdayaan yang serupa GERMAS ini.

Mereka jauh dari sorot kamera dan tepuk tangan. Namun mereka adalah orang-orang yang total untuk mengabdikan diri untuk memajukan kesehatan masyarakat.

Mereka menyadari bahwa kerelawanan alias volunterisme nyatanya sejurus dengan perbaikan kesehatan. Rachel Casiday dari Samford University merilis penelitiannya, “Volunteering and Health: What Impact Does It Really Have?”.

Penelitian itu mengumpulkan aneka penelitian dan riset sepanjang 1997 hingga 2007. Dia menemukan bahwa volunterisme dapat menurunkan tingkat kematian. Pun juga dapat meningkatkan kesehatan individu, kualitas hidup, kesehatan mental, kemandirian terhadap para difabel. Volunterisme adalah kunci, dari gembok bernama program-program kesehatan.

Kerelawanan adalah koentji

Saya sering memanggilnya Bu Melan, usia sekitar 30-an. Seorang ibu rumah tangga. Hampir tiap hari—selain Senin, dia memandu para pasien diabetes melitus untuk bersenam bersama-sama di Gerai Sehat Dompet Dhuafa.

Bu Melan tidak hanya mengurus rumah tangga atau sekedar melayani keluarga. Dia memilih jalan ini, jalan yang terkesan sepele namun nyatanya mampu mencegahan keparahan pada para pasien diabetes.

Sayangnya di Indonesia, ketersediaan orang-orang seperti Melan ini susah-susah gampang. Charities Aid Foundation, sebuah lembaga bantuan dari Inggris menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dalam World Giving Index sepanjang 2010-2014. Nilai tersebut diukur berdasarkan partisipasi uang untuk donasi, alokasi waktu menjadi relawan, dan membantu orang yang tidak dikenal.

Indeks tersebut menjelaskan bahwa Indonesia yang mendonasikan uangnya mencapai 121 juta orang atau 67 persen dari jumlah penduduk—berada diatas Tingkok yang hanya 92 juta orang. Namun dari segi volunterisme, Indonesia berada di peringkat ke-15 dan menolong orang tak dikenal di peringkat ke-123.

Dari situ dapat disimpulkan bahwa Indonesia menonjol dalam memberikan donasi, tetapi minim dalam hal volunterisme dan membantu orang yang tak dikenal. Kesulitan utamanya adalah karena program tersebut, tidak diikuti dengan kerjasama-kerjasama yang elegan dengan pelbagai lembaga-lembaga dan komunitas-komunitas anak muda.

Padahal kalau mau dibilang, orang-orang Indonesia adalah orang yang tinggi empati dan bereaksi cepat dalam menggalang donasi. Lihat saja bagaimana donasi yang terkumpul untuk Alm. Julia Perez yang saat itu perang melawan kanker serviks mencapai 1,6 miliar. Bayangkan bila dana tersebut dikumpulkan untuk perang-perang lainnya dalam mencegah Julia Perez lainnya di luar sana.

Di luar sana lembaga-lembaga seperti misalnya Dompet Dhuafa atau LK2PK seakan berjalan dalam dalam kesunyian. Minim bantuan pemerintah dalam memperbaiki kualitas kesehatan, utamanya dengan metode preventif kepada masyarakat. Juga secara ikhlas tersamar dalam gegap gempita pemberitaan media.

Ada pula komunitas-komunitas yang isinya para anak muda, bergerak secara mandiri dengan prinsip DIY (Do it Yourself). Mereka bergerak pada level grass root dan menekankan perihal yang terkesan sepele dalam menegakkan hidup sehat.

Misalnya: Indorunners, Cancer Information and Support Center (CISC), Komunitas Organik Indonesia, dll. Menariknya, komunitas-komunitas ini dijalankan oleh para anak-anak “zaman now” yang beberapa diantaranya sudah memiliki pekerjaan yang mapan. Merekalah Melan-Melan muda dengan visi besar dari perihal sederhana.

Pemerintah dan PBB telah sukses dalam program pencegahan penyakit malaria di tahun 50-an. Namun  GERMAS ataupun tema HKN 2017, “Sehat Keluargaku, Sehat Indonesiaku” –yang kesemuanya berbasis pada pencegahan penyakit—lain cerita. Ini membutuhkan gerakan-gerakan kerelawanan di atas untuk bergerak bersama-sama, agar gagasan-gagasan itu tidak hanya sebatas seremonial belaka.

Agar ribuan orang yang memadati kegiatan di Car Free Day (CFD) tadi tidak melihat HKN tahun ini sebatas pamer piagam MURI atau ajang mendapatkan kaos gratis.

Rosita Rivai

Aktivis kemanusiaan Dompet Dhuafa

Tentang Penulis

Rosita Rivai

Aktivis kemanusiaan Dompet Dhuafa

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.