Cerita

Pabrik Kembang Api

Lelaki berbadan tegap berambut cepak itu berlari di tepi jalan di antara deretan pabrik di kawasan Kosambi, Tangerang. Kaos putih membungkus ketat badannya yang berotot dan berkeringat. Ia berlari dengan menjaga kewaspadaan karena jalanan yang tidak terlalu lebar itu penuh dengan kendaraan yang lalu lalang, tak ada trotoar yang nyaman, hanya pinggiran tanah yang kadang dilewati pengendara motor yang tak sabar.

Saat melintasi sungai dangkal yang penuh sampah lelaki itu melambatkan larinya, matanya menangkap sesuatu yang ganjil. Tiga meter di depan sana seorang perempuan bertubuh mungil memakai celana jins dan atasan kembang-kembang. Perempuan berkulit coklat itu berjalan terhuyung dan jatuh. Lelaki itu berlari mendekatinya. Ia jongkok, mengamati sebentuk wajah yang pucat. Ia angkat tubuh perempuan itu dengan kedua tangannya, berlari menuju warung terdekat.

“Minta teh hangat, Bu,” lelaki itu berkata pada pemilik warung sembari menurunkan tubuh perempuan di bangku panjang.

Si perempuan memaksa diri bangkit duduk dengan wajah tertunduk.

“Kamu kenapa? Rumahmu di mana?” si lelaki jongkok di depannya.

Sebelum perempuan itu membuka mulut, si ibu pemilik warung muncul dengan segelas besar teh hangat. Perempuan itu meneguknya hingga tuntas.

Si lelaki memesan sepiring nasi, ayam goreng dan sayur lodeh. Perempuan itu melahapnya dengan sangat cepat seperti sebulan tak pernah makan. Wajah pucat si perempuan berangsur normal.

“Tambah lagi?”

Si perempuan menggeleng lemah. “Enggak.”

Lipstik merah menyala dan kawat gigi tak bisa memanipulasi bahawa perempuan itu masih anak-anak.

“Kamu dari mana? Mau ke mana?” lelaki itu diliputi rasa ingin tahu yang mendalam.

“Dari pabrik. Mau pulang,” perempuan itu melirik sekilas pada si lelaki.

“Dari pabrik? Ngapain?”

“Kerja.”

“Kamu kerja? Usia kamu berapa?”

“15 tahun.”

Si lelaki tercekat. “Kamu tahu pemerintah melarang pengusaha mempekerjakan anak-anak?”

Perempuan itu menggeleng.

“Pengusaha yang ketahuan mempekerjakan anak-anak bisa dipenjara.”

Perempuan itu terdiam.

“Di mana kamu kerja?”

“Pabrik kembang api.”

“Oh di situ,” si lelaki menghela napas. “Banyak bahan kimia pasti di situ. Anak-anak bolehlah kerja yang ringan, tapi kalau ada bahan kimia itu berbahaya. Banyak anak yang kerja di situ?”

“Banyak. Ada yang lebih muda dari aku, 14 tahun.”

“Perempuan semua?”

“Anak laki-laki juga ada. Rame-rame, ada anak-anak sampai bapak-bapak dan ibu-ibu yang tua-tua.”

Mata si lelaki agak melebar. Ia baru dua hari tinggal di daerah ini. Ia adalah bagian dari 200 personil Brimob Polda Kalimantan Barat yang diperintahkan untuk BKO di Polda Metro Jaya. Kebetulan BKO Brimob Kalbar ditempatkan di Polres Tangerang Kota. Anggota Brimob itu ditempatkan di dua lokasi. Sebanyak 100 personil di Polsek Benteng Tangerang, 100 personel lainnya di Teluk Naga. Anggota Brimob termasuk lelaki itu yang bertugas di Polsek Teluk Naga tinggal di sebuah GOR dekat lokasi pabrik kembang api.

“Namamu siapa?” si lelaki mengulurkan tangan.

Sejenak ragu perempuan itu akhirnya menjabat tangan si lelaki sembari menyebut namanya Hanah.

“Saya Argo,” si lelaki tersenyum dengan matanya. “Rumahmu masih jauh dari sini?”

“Lumayan. Jalan kaki setengah jam sampai.”

“Kamu jalan kaki?”

Hanah mengangguk, sejurus kemudian ia tersenyum samar. “Tiap hari aku pulang pergi dari rumah ke pabrik selalu jalan kaki.”

“Oh ya? Berapa jam kamu kerja?”

“Dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore.”

“Kamu nggak sekolah?”

‘Andai aku punya pilihan,’ kata Hanah dalam hati. Ia mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Hanah bangkit berdiri, “Terima kasih telah menolongku, terima kasih untuk makanannya.”

Hanah bungsu dari lima bersaudara, ayahnya telah lama tiada, ibunya buruh kasar, mencari penghasilan dari suruhan mencuci baju para tetangga. Uang ibunya sering tidak cukup untuk membayar tagihan listrik dan air. Kelas 2 SMP Hanah berhenti sekolah, pernah kerja di pabrik mainan, terakhir ini baru seminggu yang lalu Bude Garti mengajaknya kerja di pabrik kembang api dengan upah Rp 40 ribu sehari yang dibayarkan tiap akhir pekan. Hari pertama masuk kerja Kamis, ketemu Sabtu Hanah mendapat upah Rp 120.000. Ia gunakan uang itu untuk membeli pulsa dan makanan di restoran cepat saji, sisa sedikit untuk membeli beras. Uangnya habis. Hari ini ia hanya makan sekali tadi pagi di rumah, lelah kerja sampai sore dan kelaparan membuat perutnya melilit, kepala pusing dan mata berkunang-kunang. Ia pasti pingsan kalau tidak segera ditolong Argo tadi.

Setelah membayar pada pemilik warung, Argo berlari menyusul Hanah yang sudah berjalan cepat di depan sana.

“Aku nggak apa-apa, bisa pulang sendiri,” Hanah merasa agak canggung.

“Saya ingin mengenal penduduk di sini. Boleh kan?”

“Memang Bapak orang mana?”

Argo yang masih lajang di usia 35 tahun itu merasa jengah dipanggil Bapak. Sebutan itu selalu membuatnya ingat betapa tuanya dia. Ia satu-satunya jomblo dalam geng lingkaran pertemanan terdekatnya, sering menjadi korban bully dari para sahabatnya. Banyak olok-olok sudah ia terima, di antaranya, ‘Tenang bro, jodohmu pasti ada tapi belum dilahirkan.’

“Oh, saya orang baru di sini,” Argo memberi isyarat tangan saat membaca gerak tubuh Hanah akan menyeberang jalan.

Keduanya memasuki wilayah Kampung Salembaran, Desa Belimbing, Kecamatan Kosambi, Tangerang. Argo mengangguk sopan pada beberapa warga yang memperhatikannya. Setelah melewati jalanan rusak yang lebarnya hanya setengah meter, langkah kaki mereka sampai di rumah orangtua Hanah yang sempit, berdinding kusam tanpa jendela, terselip di antara rumah tetangga kanan-kiri depan-belakang yang juga berhimpit-himpitan.

Sanah ibunya Hanah memakai daster lusuh, kulitnya gelap terbakar matahari, wajahnya kering namun senyumnya hangat. Ia mempersilakan Argo duduk di lantai. Ada televisi 14 inch di atas dipan, kasur dekil yang terlipat, dapur terbuka dengan wajan dan panci yang sudah hitam bagian bawahnya.

Ketika Hanah mandi, Argo mengorek keterangan pada Sanah, banyak hal tentang Hanah dan terkait keadaan keluarga ini. Ia juga menceritakan siapa dirinya.

“Boleh saya sering main ke sini, Bu?” Argo menyesap teh hangat buatan Sanah.

Sanah merasakan intuisi tertentu, sebuah firasat yang menggembirakan. “Boleh, Nak. Tentu boleh.”

Hanah setelah mandi tampak segar, wajahnya tidak cantik, tapi manis dengan senyum yang menyenangkan. Ia menyenderkan punggung pada kasur lipat sembari mengutak-atik telepon selular.

“Kamu mau melanjutkan sekolah kalau ada kesempatan?” Argo menatap ke dalam mata Hanah.

Hanah melirik sekilas pada ibunya, melihat Argo kemudian kembali mengutak-atik ponsel. “Mau.”

“Berdoa aja. Jangan pernah kehilangan harapan.”

Walau merasa keinginan untuk sekolah lagi itu terasa di awang-awang, Hanah memaksa diri untuk mengangguk.

“Saya akan carikan jalan supaya kamu bisa sekolah lagi.”

Hanah meletakkan ponsel di sampingnya. “Sungguh?”

“Ya.”

Argo meninggalkan rumah Hanah dengan perasaan berbeda. Keinginannya tumbuh dengan cepat. Ia berpikir mungkin Hanah adalah jodohnya. Tak mengapa bila ia harus menunggu beberapa tahun. Atas nama cinta, perbedaan usia 20 tahun bukan masalah besar.

Malam usai makan bersama seluruh anggota Brimob di sebuah ruangan besar, Argo dan seorang rekan sekamarnya bernama Ghani mencari udara segar di halaman depan. Lampu jalan tak terlalu terang, tapi Argo bisa melihat pintu gerbang pabrik kembang api yang bercat hitam. Di antara beragam obrolan, Argo sempat menyinggung tentang Hanah.

“Menafkahi nggak harus menikahi,” celetuk Ghani, ayah tiga anak dengan nada menggoda.

“Slogan itu cocok buat yang mau poligami. Atau, mungkin itu nasehat yang pas buat kamu, Ghani?” Argo tergelak.

“Hahaha…. Kamu benar. Tapi kalau kamu nggak naksir anak itu, apa kamu terpikir untuk mempedulikan sekolahnya?” Ghani mengusap perutnya yang agak melar.

Argo diam sesaat. “Yup. Bisa jadi saya nggak peduli. Begitu banyak anak putus sekolah. Hal yang terjadi di mana-mana di banyak daerah di seluruh penjuru negeri ini.”

~~~

Pagi mendekati jam 8 jalanan di kawasan pabrik sangat sibuk. Para pekerja berdatangan dari dua arah, kebanyakan mengendarai sepeda motor, bercampur dengan anak-anak berseragam putih biru karena ada gedung SMP dekat area pabrik.

Hanah berjalan cepat melintasi lahan kosong yang ditumbuhi rumput liar yang berada di sisi kanan pabrik kembang api. Ia menoleh saat mendengar namanya dipanggil dari balik punggung. Seorang perempuan pengendara motor dengan wajah tertutup helm berhenti. Hanah mengenal perempuan itu, namanya Rum asal Jawa Timur. Sama sepertinya, Rum juga baru seminggu kerja di pabrik kembang api. Rum bersama suami dan satu anak laki-lakinya tinggal di rumah kontrakan di Gang Putri.

Hanah duduk di jok belakang motor Rum. Motor melaju perlahan memasuki pintu gerbang berbelok ke arah parkiran yang sudah penuh dengan mobil petinggi pabrik dan motor pekerja. Bergerak memutar, Rum mendapat tempat parkir di pojok sebelah kiri.

Area di dalam pabrik yang dikelilingi tembok tebal dan tinggi itu cukup luas, tertutup rapat dengan atap seng, hanya ada satu pintu gerbang di bagian depan.

“Hari Minggu datang ke rumahku ya,” Rum melepas helm. “Anakku ulang tahun.”

“Asyik bakal makan enak,” Hanah membetulkan posisi tali tas yang menyelempang di pundaknya.

“Masak sendiri aja kok, tapi dijamin enak,” Rum tersenyum sembari merapikan jilbab birunya.

Keduanya berjalan ke arah gudang di antara lalu lalang pekerja yang bersiap untuk menempati posnya. Hanah dan Rum sama-sama bertugas di bagian pengepakan, bedanya Hanah masuk dalam kelompok pengepakan di dalam gudang, sedangkan Rum dalam kelompok pengepakan di luar gudang. Bagian pengepakan ini hampir semuanya dikerjakan perempuan.

Hanah duduk di samping Bude Garti, di sebarangnya seorang ibu dan dua anak perempuan berusia 14 dan 16 tahun. Tangan anak-anak itu cekatan memasukkan kembang api kawat dalam kemasan kertas merah, sedangkan Bude Garti dan seorang ibu lagi bagian menutup kemasan dengan lakban.

Seorang laki-laki berkulit putih berkemeja rapi, penanggung jawab pabrik, berjalan perlahan mengawasi proses produksi. Ia menegur seorang pekerja yang lamban. Seseorang mendekatinya.

“Panggil Tarto,” kata lelaki berkemeja rapi pada seseorang yang melaporkan sesuatu padanya itu.

Tarto seorang tukang las. Ia muncul dengan tubuh kurusnya.

“Ada kerusakan di gudang bagian atas, kamu bereskan itu,” perintah si lelaki berkemeja rapi.

“Sekarang lagi produksi, Pak. Apa nggak sebaiknya pas hari libur saja?” Tarto menebar pandang ke seluruh gudang.

“Lakukan saja.”

Tarto bergegas ke bagian belakang gudang, mengambil peralatan, menegakkan tangga, memanjat hingga ujung teratas. Ia mengelas sambungan besi yang tidak merekat sempurna. Percikan api dari las menyambar empat ribu kilogram bahan baku kembang api.

Saat Tarto menuruni tangga, bahan baku kembang api itu meledak, api menyambar ke segala arah, ruangan sangat panas, Tarto terguling bersama tangga. Semua pekerja dalam gudang terkepung api, banyak di antara mereka termasuk Hanah nekat menerjang api menuju pintu ke luar. Ada yang jatuh terinjak-injak.

Lidah api menjilati apa saja hingga ke luar gudang, bertemu bensin yang tersimpan dalam mobil dan motor di parkiran, memicu ledakan-ledakan berikutnya.

Rum dan puluhan perempuan dengan baju berkibar api berlari ke samping kiri, menyeburkan diri ke kolam limbah cairan kuning pekat dan berbau tajam, berpegangan pada paralon. Rum melompat ke luar dari kolam, memanjat tembok dengan mengaitkan jempol kaki pada panel.

Jalanan depan pabrik dipenuhi warga sekitar yang melihat asap tebal membubung tinggi menyelimuti pabrik kembang api. Anggota Brimob yang sedang apel membubarkan diri, serentak berlari ke arah pabrik kembang api.

Para pekerja menggedor-gedor pintu gerbang, berteriak-teriak minta tolong.

Argo, Ghani, dan beberapa temannya menerjangkan badan ke pintu gerbang yang terkunci hingga pintu besi itu jebol. Puluhan orang dengan pakaian compang-camping bahkan ada yang bertelanjang dada berlarian ke luar, menghambur ke jalanan.

“Masih banyak yang di dalam! Masih banyak yang di dalam!” seorang lelaki dengan wajah berlapis asap hitam menuding-nudingkan telunjuknya.

Seorang warga melepas jaket, memakaikannya pada perempuan bertelanjang dada yang punggungnya terluka bakar.

Argo merangsek ke dalam, menerjang api, menggendong seorang ibu yang terjatuh. Sebagian personel Brimob dengan martil seadanya dari warga sekitar berusaha menjebol tembok pabrik sebelah kanan, membongkar atap seng. Seorang anggota Brimob menangkap tangan yang menggapai-gapai di balik atap seng. Itu tangan Rum. Tubuh Rum diturunkan, ditangkap anggota Brimob yang bersiaga di bawah. Rum berlari di rerumputan hingga dengkulnya lemas. Mendekati jalan raya ia jatuh pingsan.

Di bagian dalam pabrik, kobaran api menjilati baju Argo yang matanya menatap nyalang ke segala arah yang berselubung asap. Ghani menarik tangan Argo, membawanya mundur menjauh, memadamkan api di baju Argo.

“Hanah,” gumam Argo dengan mata nanar. Sudah banyak orang yang ia keluarkan, tapi ia belum melihat keberadaan Hanah

Satu setengah jam kemudian muncul iring-iringan sebelas mobil pemadam. Api berhasil dipadamkan tepat jam 12 siang. Kantung-kantung jenazah dipersiapkan. Sepasukan polisi memeriksa gudang bagian dalam, mayat gosong seperti arang bertebaran dimana-mana.

Warga dan personel Brimob mengangkat korban luka-luka ke dalam ambulans.

“Kamu harus segera ke rumah sakit,” Ghani melirik lengan kiri Argo yang terbakar.

Raga Argo seperti terpisah dari jiwanya, dengan jalan agak pincang matanya mengamati satu persatu korban kebakaran yang selamat yang berserak di sudut-sudut jalan. Ia berharap satu di antara mereka adalah Hanah. []

 ___

*Cerpen ini didedikasikan untuk mengenang para korban kebakaran pabrik kembang api di Kosambi, Tangerang, yang terjadi pada Kamis 26 Oktober 2017

Arimbi Bimoseno

Arimbi Bimoseno

jurnalis, novelis

Previous post

Defisit Kebahagiaan BPJS Kesehatan

Next post

Ketika Kyai Saleh Menolak Seseorang Masuk Islam