Cerita

Cerpen untuk Diana dan Jasmine

WANITA ini seorang pengagguran. Benar-benar pengangguran selepas wisuda starta satunya di fakultas hukun enam bulan lalu. Tidak ada yang benar-benar dilakukanya setelah itu. Hanya menghitung hari demi hari. Dia ingat betul apa saja yang dilakukanya selepas itu. Mengingat-ingat apa yang telah dilakukan adalah rutinitas seorang pengagguran. Pengangguran itu bernama Diana.

Tidak ada yang mengajarinya mencari pekerjaan. Semua orang disekelilingnya hanya menyuruhnya pergi kuliah lalu menamatkanya agar kelak mendapatkan pekerjaan yang layak. “Sudah enam bulan berlalu dan aku tidak melakukan satu halpun (“hal” dan “pun” dipisah). Sebenarnya bagaimana sih cara orang-orang mendapatkan pekerjaan?” Pikir wanita bernama Diana itu.

Bukan sisi ekonomi yang dikhawatirkan Diana, tetapi kesia-siaan sebagai seorang manusia yang menghantui pikirannya. Selain menghitung hari dan mengingat-ingat apa yang telah dilakukanya belakangan ini, ia merasa  kegiatannya semakin bertambah. Kegiatan itu adalah mengamati jalan raya dan isinya. Itu sesuatu yang belakangan sedikit membantu menyibukkan kepalanya.

Dia datang setiap sore hari sekitar pukul empat. Duduk di tempat favoritnya. Letak tempat duduk itu sepertinya diposisikan khusus untuk seseorang yang ingin duduk menyendiri. Agak sedikit berjauhan dari tempat duduk lain. Cocok untuk seorang penyair romantisme yang sedang menimbang-nimbang untuk mengambil keputusan bunuh diri ataupun penyair lain yang bersiap menulis puisi.

Sinar bulan tepat jatuh di tempat duduk favorit Diana seperti sebuah lampu sorot dalam sebuah konser. Mungkin dengan duduk di situ Diana sedikit merasakan sensasi menjadi seorang artis. Kurang lebih itu mungkin alasannya dia memilih tempat itu.

Tempat duduk itu bagian dari sebuah warung kopi kelas menengah yang selalu memutarkan lagu Jepang. Lebih tepatnya lagu alternatif rock  berbahasa Jepang. Desain dan interior tempat itu sama sekali tidak bernuansa Jepang. Bahkan seperti terlihat tak karuan. Tidak terlihat jelas suasana apa yang ingin disajikan pemilik tempat itu. Tidak karuannya tempat itu langsung bisa  kita rasakan ketika melihat lukisan abstrak Picasso menempel di sebelah barat, tiga meter disebelahnya ada potret Gandhi terpasang.

Tidak jauh dari situ juga terpasang potret  Dipa Nusantara Aidit dengan giginya yang bersih menyala. Bahkan jika dilihat lebih teliti bangunan itu hampir terlihat seperti masjid terkecuali tidak adanya mimbar disitu. Ada empat tiang penyangga di tengah-tengah bangunan itu yang membuat terlihat seperti interior sebuah masjid. Tetapi dari semua ketidakaturan itu yang paling menarik mata Diana adalah kutipan puisi Chairil Anwar tepat terpampang dibawah meja kasir.

Aku masih sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Chairil anwar-Penerimaan

Semua orang pasti merasa aneh jika melihat kutipan itu disebuah meja kasir, teori pemasaran pun akan sangat setuju akan hal itu. Menurut teori pemasaran seharusnya tempat itu memutarkan lagu AKB48 dan menaruh semua potret membernya di dinding lalu menuliskan sayonara di meja kasir bila perlu menambahkan fortune cookie di daftar menunya. Tetapi bagi Diana itu bukan masalah besar, dia hanya suka kutipan itu, entah dimanapun diletakkan.

Diana mulai duduk disitu dan memesan teh hangat dengan jeruk nipis. Dia tidak suka lemon, sehingga lebih memilih jeruk nipis. Ketika pesanannya belum juga datang, dia memikirkan apa saja yang dilakukannya seharian tadi. Mulai dengan bangun pagi yang terlambat pada pukul 11.00, menyiapkan sarapan yang sekaligus menjadi makan siangnya. Setelah makan dia bermalas-malasan di ranjang sembari membuka gawainya.

“Sial, seharian aku hanya memasak makanan lalu duduk di sini, benar-benar tidak berguna.

”Sekarang hari Rabu  ingatnya. “Kemarin Selasa apa yang kuperbuat?” Diana mencoba mengingat hari selasanya tetapi pelayan tiba-tiba datang mengganggu kepalanya yang sedang mencari ingatan.

Setelah menyeruput teh hangatnya, rasa asam dari teh itu menghentakkan dirinya. “Seseorang ingin menghancurkan lambungku dengan menaruh jeruk nipis sebanyak itu,” pikirnya.

Persoalan mengenai hari selasanya pun dilupakan. Dia sekarang mulai mengamati jalan raya. Jalan raya yang cukup panjang dan dari tempat dia sedang duduk tidak terlihat ujung jalan raya itu.

Lampu jalan raya itu terlihat lelah dan kesepian. Sungguh malang nasib lampu jalan itu. Aku bersedia bertukar tempat dengan dirinya semalam. Aku menerangi jalan raya dan isinya, lalu dia duduk di tempat dudukku dengan manis, mungkin jika aku terlihat kewalahan dengan pekerjaan menerangi jalan raya ini, dia akan tersenyum dari tempat dudukunya dan tertawa sembari menyemangatiku. Itu bisa saja terjadi jika lampu jalan itu sesuatu yang baik tetapi jikalau lampu jalan itu sesuatu yang jahat bisa saja dia menjebakku, menyerahkan bebannya kepadaku kemudian dia kabur entah kemana, dan aku terperangkap dalam kewajiban menerangi jalan raya sampai lelah dan kesepian sama seperti lampu jalan itu.

Diana tak bisa membanyangkan hal itu. Dia kembali ke dunianya lalu menyeruput teh hangat yang mulai mendingin tetapi rasa asam belum berkurang dan menghentakkan tubuhnya kembali.

Diana memang seorang pengangguran tapi tidak bisa dikatakan manusia tidak berguna. Banyak manusia tidak berguna tapi Diana bukan. Teman-teman sekampusnya dulu bahkan banyak menaruh perhatian kepada Diana berkat pemikirannya yang visioner. Bahkan kadang terlampau visioner. Seperti membayangkan seseorang mejadi lampu jalan. Diana tidak terlalu menyukai kelebihanya tersebut. Seringkali dia hanya diam tidak berkomentar dalam hal apapun agar pemikiran visionernya itu tidak menjadi sesuatu yang menghinggap di kepala teman-temanya. Dia merasa pemikiranya itu bukan sesuatu yang visioner. Itu sesuatu yang asal-asalan. Asal-asalan yang keluar dari kepalanya yang menurutnya entah apa isinya.

Jadi walaupun teman-temannya menganggap itu sesuatu yang visioner. Tetapi Diana tidak merasa begitu. Teman-temanya hanya bersikap positif kepadanya bahkan memungkinkan kemunafikan. Itu yang tidak diinginkan Diana dalam diamnya.

Diana berharap teman-temanya berterus terang, tanpa dalih apa-apa. Apalagi dalih sebuah pemikiran visioner. Yang diharapkan Diana pemikiran yang seperti membayangkan seseorang menjadi lampu jalan cukup dimaknai sebagai hal yang lucu. Dengan itu dia akan senang. Dengan itu dia akan merasa menjadi gadis yang lucu. Itu yang diharapkanya.

Menganggap pemikirannya adalah sebuah pemikiran visioner, pemikiran jauh kedepan, bermakna lintas dimensi bahkan ada beberapa dosennya yang melabeli pemikiran Diana adalah sebuah spekulasi filsafat. Diana merasa sedih malah hampir konyol. Dia mengerti itu semua tetapi dia hanya tidak mau akan hal itu. “Cukup saja kalian katakan aku gadis yang lucu!” teriak Diana sekuat-kuatnya dalam hati. Dia tidak ingin disamakan dengan Simon de Beauvoir, Mother Teresa ataupun Megawati.

Dekat dari situ, tepatnya di belakang meja kasir ada gadis lain bernama Jasmine. Gadis yang berharap rutinitasnya berada di sebuah pesisir pantai Amerika Selatan. Dari dulu Jasmine memimpikan hal itu. Membangun keluarga sederhana di pinggir pantai Kosta Rika. Beromantis ria dengan keluarga kecilnya dan menjadi wanita latin yang bahagia. Bukan terjebak di warung kopi aneh yang memasang potret pemimpin komunis dan selalu memutarkan musik Jepang. Ditambah lagi kutipan tidak masuk akal yang terpasang tepat di depannya. Gara-gara kutipan itu Jasmine pun terlihat aneh juga.

Jasmine mungkin lebih beruntung dibandingkan Diana, setidaknya dalam pekerjaan. Walaupun hanya duduk menunggu manusia-manusia itu menghabiskan makanan dan minumanya, tetapi setidaknya ada yang membayar dia setiap bulan. Tetapi itu juga tidak bisa dikatakan baik.

Manusia diciptakan bersama bayangannya dan bayang-bayangnya. Bayangannya adalah sesuatu yang ada dalam dirinya. Sedangkan bayang-bayang adalah sesuatu yang ada di luar dirinya. Mungkin hal ini akan sulit dimengerti.

Jasmine dan Diana adalah sebuah pasang yang dipahami sebagai bayang-bayang. Entah apa dan bagaimana Diana selalu di bawah bayang-bayang Jasmine dan begitupula sebaliknya Jasmine di bawah bayang-bayang Diana. Tergantung siapa yang menguasai situasi.

Sekali lagi mungkin hal ini sulit dimengerti. Sama seperti Marx dan Engels, Jokowi dan Basuki ataupun Lenin dan Stalin. Pasang ini sudah ditakdirkan bersama. Ada yang ingin dikehendaki dari takdir pertemuan pasang bayang-bayang itu. Sesuatu yang harus terjadi agar dunia bergulir pada lintasannya.

Sosialisme harus hadir sebagai tandingan kapitalisme, komunisme harus hadir sebagai lawan fasisme, begitu juga Demokrasi Indonesia Perjuangan harus hadir bersaing dengan dominasi Golongan Karya. Walaupun dipahami sebagai bayang-bayang yang terdiri dari sebuah pasang, bukan berarti hanya atau harus terdiri dari dua individu.

Bahkan di belahan bumi Korea Selatan sana ada sebuah pasang yang terdiri dari sembilan individu yang ditakdirkan bertemu untuk menghadirkan wacana musik pop tandingan. Diana dan Jasmine belum bertemu. Mereka hanya semakin dekat antara pelanggan dan kasir. Hanya meja-meja dan bangku itu yang memisahkan mereka. Apa yang dihasilkan dari pertemuan mereka, sampai saat ini tidak ada yang tahu.

Wazib Abdul

Wazib Abdul

Sarjana Sosial

Previous post

Abu Janda, Felix Siauw, dan Bendera Rasulullah

Next post

Sejumput Kisah dari Gaza