Cerita

Bayang-Bayang

AROMA tubuhnya masih tertinggal di setiap sudut rumah. Aroma cologne beraroma citrus. Bayang-bayang dirinya masih kerap bertandang. Seolah dia hadir di kamar tidur, kamar mandi, ruang keluarga, ruang tamu, bahkan di pelataran rumah. Tubuhnya yang tinggi tegap tak ubahnya siluet yang selalu hadir setiap waktu.

Semua hal tentang dirinya yang masih tertinggal, nyaris selalu membuatku gila.

“Aku akan cepat kembali. Seperti biasa.” Ucapnya perlahan sebelum dia berlalu.

Aku menaruh percaya kepadanya melebihi siapa pun yang pernah dikenalnya. Mungkin, di atas dunia yang percaya terhadapnya hanya aku seorang. Semua orang tak sudi begitu saja percaya dengan apa yang ada dalam dirinya. Bahkan ibuku sendiri, menganggap menantunya itu tak ubahnya manusia asing yang pantas diwaspadai.

“Ibu tak pernah menduga, kau akan memilih dia. Dia kan belum lama kau kenal. Orang asing. Entah dari mana datangnya tak pernah ada yang tahu,” kata Ibu ketika pertama kali bertemu dengannya.

“Tapi dia orang baik, Bu. Ibu tak perlu curiga dengannya,” jawabku tenang.

“Ah! Bukan curiga, tapi waspada!” suara Ibu semakin meninggi.

Aku tersenyum. Di mataku, wajahnya yang teduh dengan kumis tipis itu terbayang lagi. Wajah yang manis, jauh dari aura manusia jahat.

Perkenalan kami memang begitu cepat. Dia datang ke kios bunga tempatku bekerja. Memesan mawar merah segar sebanyak seratus tangkai.

“Tolong tata yang rapi ya, Mbak. Untuk seseorang yang spesial ini,” ujarnya ramah diiringi senyum bersahabat.

“Untuk pacar?” tanyaku sembari merangkai seratus mawar itu menjadi buket cantik.

“Bukan. Saya belum punya pacar. Istri juga belum.”

Mendengar jawaban polos darinya, aku mendongak. Kali pertama saat itu kami beradu pandang. Cepat aku menunduk, sembari menyimpan senyum. Setelahnya dia kerap datang. Untuk memesan buket atau sekadar bertemu denganku.

“Apa bunga kesukaanmu?” tanyanya satu hari ketika dia datang ke toko bungaku.

“Gladiol.” Jawabku singkat.

“Oh, kalau begitu buatkan buket dari bunga gladiol. Pilihkan warna-warna yang manis dan segar,”

Tanpa bertanya aku merangkai satu buket berisi bunga gladiol cantik. Merah muda dan oranye. Ditambah beberapa batang bunga sedap malam.

“Nah, bunga gladiol ini sudah jadi.” Aku mengulurkan buket itu kepadanya.

Dia menerimanya, mengamati dengan cermat. Lalu mengulurkan beberapa uang untuk membayar buket bunga yang dia beli.

“Buket yang cantik. Gladiol ini aku berikan untukmu.”

Kali ini aku benar-benar terpana. Selama aku membuka toko bunga, belum pernah aku diberi hadiah bunga seperti ini.

“Jangan bercanda, Mas. Masa bunga itu untukku?” aku menggeleng geli.

“Aku tidak main-main. Ini untukmu, dariku.”

Saat itulah awal dari kisah kami berdua. Seminggu kemudian dia datang ke rumah, menemui Ibu. Dan mendapati keputusan yang begitu dingin dari ibuku. Kami tak begitu saling mengenal. Seharusnya tak perlu buru-buru. Tapi keyakinan dalam dirinya mampu meruntuhkan dinginnya hati Ibu.

***

Dia menyelinap begitu saja di kamar mandi. Aku masih merasakan dinginnya air dari pancuran ketika ia memelukku erat.

“Sudah lama kita tidak bermain air seperti ini,”

Aku mencoba menatap wajahnya. Pandanganku lebur lantaran guyuran air yang cukup deras.

“Saat ini kemarau, hujan sudah lama tak datang,” aku tertawa kecil.

Dia hanya menatapku dengan lembut. Matanya seakan sedang mengagumi obyek di hadapannya. Diriku sendiri.

“Oh, kau tahu? Setiap hari aku semakin mencintaimu,” ucapnya perlahan di samping telingaku.

“Gombalan seperti itu sudah kadaluarsa!”

“Gombalan boleh kadaluarsa, tapi tidak dengan cinta!”

Aku tertawa renyah mendengar perkataannya. Kalimat picisan seperti itu tak terlalu mempan untuk merayuku. Tapi aku kerap terhibur mendengar ucapannya yang semacam itu. Saat itu aku tahu, betapa Ibu salah besar menilai tentangnya.

Dia tak seburuk dugaan Ibu. Meski perihal pekerjaannya, dia tak pernah berterus terang. Dia hanya kerap pergi beberapa hari, lalu kembali dengan uang yang sangat cukup untuk kehidupan kami berdua. Anak, anugerah Tuhan yang paling menakjubkan itu belum kami miliki.

***

Ternyata janjinya malam itu tak pernah terwujud. Dia tak pernah kembali. Penantian itu harus aku pikul di kedua bahuku. Setiap hari Ibu selalu menanyakan kepulangannya. Setiap hari aku memberikan jawaban yang tak pasti.

Aroma tubuhnya masih sering kucium. Seolah gaib, datang begitu saja membelai penciuman. Aroma citrus yang selalu membangkitkan gairah yang paling purba dalam diriku. Bayang-bayang dirinya terkadang muncul begitu saja.

Seolah menyambangi rumah. Sekali waktu aku melihat seolah bayang-bayang dirinya berdiri di samping jendela. Lain waktu seolah duduk di beranda. Tapi wujud aslinya seolah lesap ditelan tanah.

Selama menunggu kepulangannya, aku menghabiskan banyak waktu untuk merangkai bunga dan membaca buku-buku. Kekasihku itu, dia sangat gemar membaca buku. Sehari setelah kami menikah, ratusan buku dia bawa ke rumah.

Buku apa saja dia bawa. Dia bukan penimbun buku semata, melainkan benar-benar membaca semuanya. Waktu senggangnya dia pergunakan untuk menguliti lembar demi lembar buku yang dia baca. Sekali waktu aku mencoba turut membacanya. Membosankan.

“Sekali waktu kau perlu membaca, jangan merangkai bunga melulu,” kelakarnya suatu kali ketika aku merangkai bunga di sampingnya.

“Aku pernah membaca satu buku koleksimu itu,” sahutku pelan.

“Lalu bagaimana menurutmu?”

“Membosankan.”

Dia tergelak. Air mata menitik sedikit di sudut matanya.

“Dulu saat pertama kali bertemu denganmu, aku kira kau suka membaca,”

“Aku kurang suka membaca. Kenapa? Menyesal memilihku lantaran aku tak suka membaca?”

Sekali lagi dia tertawa. Direbutnya setangkai krisan di tanganku.

“Ah, jangan merajuk. Aku tak pernah salah memilih!”

Aku menyimpan senyum. Dia selalu begitu. Mampu membuat hubungan kami layaknya kisah cinta anak ingusan. Segala hal yang ada di hatinya selalu diucapkan dengan terus terang. Aku kerap menganggap semua itu tak lebih dari gombalan. Namun sekali waktu, aku menganggap hal itu sisi manis dari dirinya.

***

Secepat ia datang, secepat itu pula dia menghilang. Aku terpaksa menghalau pertanyaan-pertanyaan Ibu dengan hal-hal yang menentramkan. Meski semua jawabanku tak bisa menenangkan hati Ibu. Ibu masih kerap menanam curiga dengan pemikiran-pemikiran yang kerap membuat dadaku bergetar.

“Jangan-jangan dia punya istri baru. Laki-laki tetaplah sama saja,” sungut Ibu ketika kami selesai makan malam.

“Bu, tak semua laki-laki sama…”

“Ah, semua laki-laki sama saja. Seperti bapakmu itu!”

Aku terdiam. Bapak memang bukan laki-laki baik. Saat umurku belum genap tujuh tahun, Bapak pergi. Pembantu kami yang muda belia, segar dan belum pernah dipetik itu mampu membuat bapakku tergila-gila. Lelaki yang seharusnya menjadi pengayom keluarga itu minggat begitu bersama.

Tentu saja pembantu yang muda segar dan belum pernah dipetik itu turut dibawanya. Aku dan Ibu terpaksa hidup berdua saja. Perempuan yang dulunya selalu optimis dan cerah itu berubah menjadi perempuan yang selalu dipenuhi rasa curiga. Ibu yang dulu hangat, berubah menjadi sedemikian dingin.

Beberapa pemuda sempat mampir ke dalam hidupku. Tapi semuanya dihalau Ibu. Bagi Ibu tak ada pemuda yang jujur dan setia. Dalam hati aku memberontak. Ibu keliru dalam hal itu. Tentu banyak pemuda yang baik dan jujur. Meski banyak juga yang seperti bapakku itu.

Tapi tampaknya Ibu tak mau tahu. Semua pemuda yang dekat denganku dicurigai sedemikian rupa. Salah satunya Zaman. Pemuda berwajah lembut itu seorang tukang pos. Perkenalan kami cukup lama. Zaman sering mengirimkan surat-surat ke rumah. Ketertarikan itu terjadi begitu saja. Tapi Ibu berpikir lain. Zaman tetaplah tak cocok untukku.

“Dia kan tukang pos. Mungkin di luar sana banyak yang dia suka, bukan hanya dirimu. Sebaiknya cari yang lain!”

Tak lama hubunganku dan Zaman pupus begitu saja. Selesai tanpa masa depan. Ibu yang dingin membuat Zaman menjauh. Selanjutnya aku tak pernah bertemu lagi dengan Zaman. Dia memilih pindah tugas. Seorang tukang pos setengah baya menggantikan tugasnya mengirim surat ke alamatku. Hal itu tampaknya menentramkan hati Ibu.

Sering aku berpikir tentang Ibu. Sakit hati yang tumbuh subur dipupuk dendam ternyata bisa mengubah seseorang menjadi sedemikian berubahnya.

***

Aku sedang merangkai sebuah buket dari bunga gladiol dan sedap malam di beranda ketika Ibu tergopoh-gopoh dari dalam.

“Lihat! Ada berita tentang suamimu itu di televisi.” Ibu menarik tanganku.

Aku segera berlari ke dalam. Berita di televisi sedang menyiarkan sebuah berita kriminal. Gembong perampok yang selama ini menjadi buron ditembak mati. Nama kekasihku itu disebut-sebut. Aku tak bisa berkata-kata. Sampai beberapa hari kemudian, namanya sering disebut-sebut. Orang-orang banyak mengutuknya. Aku meratapi nasibnya. Kali pertama Ibu juga sama. Dia tak banyak berkata-kata.

Setiap hari aku menghafalkan judul berita. Tentang dia.

Gembong perampok yang selama ini menjadi buron ditembak mati. Perampok yang selama ini menjadi buron ditembak mati. Yang selama ini menjadi buron ditembak mati. Selama ini menjadi buron ditembak mati. Menjadi buron ditembak mati. Buron ditembak mati. Ditembak mati. Mati…

***

Televisi sudah berhenti memberitakan tentang dirinya. Orang-orang sudah lelah merutuki kejahatannya. Tak ada lagi kudengar ucap syukur atas kematiannya. Buku-buku di rak yang dia tinggalkan sudah habis kubaca. Terkadang aku masih menunggunya. Seolah dia masih ada. Ibu tak lagi berbicara tentang dirinya. Dia masa lalu, yang pantas dipendam dalam-dalam.

Bayang-bayang dirinya masih kerap muncul. Berdiri di samping bingkai jendela kamar, duduk di beranda, menatap keluar dari jendela ruang tamu, atau duduk-duduk santai di ruang keluarga. Bahkan sesekali bayang-bayang dirinya muncul begitu saja ketika aku mandi. Berdiri di bawah guyuran shower. Bayangan dirinya seakan ingin menyentuhku. Mungkin ingin mendekap dan melumat bibirku seperti dulu. Aku mencoba meraihnya. Tapi bayang-bayang dirinya lebur bersama air yang deras mengucur.

Bayang-bayang dirinya masih kerap muncul. Aroma tubuhnya masih sering tercium, menyaru di antara wangi bunga-bunga yang kurangkai. Bayang-bayang, aroma tubuh kekasihku itu. Yang ditembak mati. Mati.[]

 

Salatiga, Oktober 2017.

Artie Ahmad

Artie Ahmad

Artie Ahmad lahir dan besar di Salatiga. Menulis cerpen dan novel.

Previous post

Bersediakah Mahasiswa Mengkritik Dirinya?

Next post

Kyai Saleh, Jihad, dan Calabai