Cerita

Air Mata Darah

Di bawah langit kelabu pada pagi hari di kawasan timur Jakarta, Yuyun merapatkan jaket bertudung hitam yang membungkus badan kurusnya. Ketika memasuki halaman sebuah panti asuhan khusus balita, ia dihadang petugas keamanan, ditanya maksud dan tujuan kedatangannya.

“Saya disuruh saudara mencari tahu informasi tata cara adopsi anak. Saya pernah ke sini. Bapak lupa?” Yuyun mengulas senyum, matanya sembap.

Petugas berperut gendut itu mengangguk dengan muka masam seperti menyimpan sekian persen ketidakpercayaan. Empat hari lalu perempuan itu datang dan mengatakan akan adopsi anak. Saat petugas mencecarnya dengan penilaian bahwa ia masih sangat muda kenapa mau adopsi anak, mana suaminya, berapa tahun menikah, perempuan itu gugup kemudian meralat omongannya sendiri bahwa ia datang atas suruhan saudaranya.

“Katakan pada saudaramu itu, lain kali harus datang sendiri kalau memang niat bersungguh-sungguh mau adopsi anak,” petugas mundur dua langkah ke samping.

Yuyun cepat-cepat pergi menjauhi petugas yang memuakkannya itu. Ia melintasi musala dan sekolah untuk anak usia empat dan lima tahun yang bersebelahan di sisi kiri, anak-anak berlarian di tengah taman, ada yang main perosotan, mangkok putar, jungkat jungkit, ayunan bangku, komedi putar, bola dunia, tangga majemuk.

“Mamah… Mamah…,” seorang anak laki-laki berdiri mematung, bola matanya berputar mengikuti langkah Yuyun yang semakin menjauh menuju gedung bagian belakang.

Anak-anak di panti ini dipersiapkan untuk diadopsi pasangan suami istri yang minimal sepuluh tahun menikah tapi belum dikarunia keturunan. Mereka dibiasakan memanggil “Mama” pada pengunjung perempuan, memanggil papa pada pengunjung laki-laki.

Yuyun mendaki tangga di gedung belakang, menyusuri koridor, berhenti di depan bingkai kaca berukuran besar yang terpajang di dinding. Dalam bingkai itu tersemat belasan foto bayi yang lahir antara tahun 2016 sampai 2017. Di samping masing-masing foto terdapat penjelasan identitas; nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, keterangan rujukan, penjelasan mengenai bayi titipan atau terlantar, tanggal masuk panti.

Mata Yuyun terpaku pada foto paling kanan baris kedua dari atas, seorang bayi perempuan bernama Dara Juwita, masuk panti ini tujuh bulan lalu. Ekor mata Yuyun menangkap kedatangan seorang ibu dan anak laki-laki berusia sekitar sembilan tahun di ujung lorong. Ia bergegas menuju ruangan yang setengah dinding bagian atas berlapis kaca. Pada bagian atas pintu tertutup terdapat papan petunjuk bahwa ini merupakan ruang khusus bayi usia nol sampai satu tahun.

Berdiri di balik dinding kaca, Yuyun menghirup aroma wangi badak bayi. Di dalam ruangan tembus pandang, belasan bayi tidur pulas dalam boks-boks berkerangka kayu bercat putih. Pada boks-boks bayi tertempel identitas masing-masing bayi. Tangis bayi terdengar dari boks di ujung ruangan. Seorang suster mendekatinya dengan sebotol susu. Suara tangis bayi itu redam.

Yuyun menggeser posisi saat seorang ibu dengan anak laki-laki berdiri di sampingnya. Seorang ibu yang rambutnya seperti habis disasak di salon, kulitnya putih, wajahnya bening dengan hidung yang mancung, bau badannya wangi lembut, blazernya terlihat mahal dengan sepatu hak tinggi sewarna dengan tas dan rok selutut.

“Bayi-bayi itu nggak punya ibu, nggak punya bapak. Nggak ada yang memeluk mereka sepanjang waktu,” sang ibu itu berkata pelan pada anak laki-lakinya, tapi Yuyun bisa menangkap jelas bunyi ujarannya.

Si anak laki-laki termangu. Ia punya seorang ibu yang memiliki seribu satu cara untuk membuatnya mengerti akan sesuatu.

Si ibu berkata lagi pada anaknya, “Mereka ada yang ditemukan di tempat sampah, di tepi jalan, ditinggalkan begitu saja di rumah sakit. Mereka tidak bisa memilih orangtua.”

Si anak tahu ibunya sedang sangat jengkel karena ia mogok sekolah selama dua minggu, hingga si ibu membawanya ke sini. Si anak tahu ibunya sedang berusaha membukakan matanya untuk melihat sisi lain dunia, sisi yang kelam, gelap, penuh kemalangan dan nasib buruk.

“Kamu punya orangtua lengkap, mendapat kesempatan belajar di sekolah terbaik, harusnya kamu bersyukur dengan cara rajin sekolah,” kata si ibu lagi.

“Pindah sekolah aja, Bun. Mereka terus membullyku, mempermalukanku,” akhirnya untuk pertama kali setelah puasa bicara sekian lama si anak menceritakan apa yang sesungguhnya ia alami di sekolah.

Si ibu merengkuh bahu anaknya, “Bunda akan menemui gurumu. Kita hadapi bersama-sama masalah ini.”

Si ibu membimbing anaknya pergi menjauh.

Yuyun termangu di balik kaca dengan wajah beku.

Pengunjung silih berganti datang. Ada yang sendirian, bersama teman, ada juga yang datang dengan pasangannya. Umumnya mereka bakal calon orangtua adopsi itu menghabiskan waktu lima sampai sepuluh menit kemudian beralih ke ruangan lain, lanjut ke ruangan khusus bayi usia satu sampai dua tahun, ruangan khusus bayi usia dua sampai tiga tahun, dan seterusnya. Tapi Yuyun belum beranjak dari tempat berdirinya semula.

Seorang perempuan berusia 45 berkulit gelap bersama anak lelaki usia 14 tahun berkulit terang berambut keriting merapat di samping Yuyun. Perempuan itu memakai busana panjang longgar dan kerudung merah yang ujung-ujungnya dililitkan di leher.

“Sebenarnya ibu ingin mengajakmu ke sini saat kamu berulang tahun ke tujuh belas,” si ibu berkata setengah berbisik.

“Apa pentingnya tempat ini buatku,” kata si anak lelaki dengan suara ketus.

“Penting. Sangat penting. Tuhan mengirimmu ke tempat ini untuk menjadi anak ibu.”

Si anak lelaki mundur selangkah, wajahnya mengeras.

Sang ibu menatap lembut ke dalam mata anaknya. “Seorang anak tidak harus lahir dari rahim kita sendiri. Ia bisa lahir dari hati. Pertama ibu melihatmu ketika masih bayi, ibu langsung jatuh cinta. Selama enam bulan ibu bolak-balik ke sini hampir tiap hari karena ingin cepat-cepat menggendongmu, memelukmu, memberimu susu, menidurkanmu. Ayahmu ikut ke sini pada hari Sabtu dan Minggu. Semua orang menyayangimu di sini, tapi ibu dan ayah ingin merawatmu di rumah. Selama masa penantian proses adopsi disahkan oleh hakim di pengadilan, ibu dan ayah menyiapkan segala sesuatunya di rumah layaknya menyambut seorang pangeran. Kamar untukmu, mainan, baju-baju. Ayah juga sudah membuat rekening tabungan khusus untuk menjamin pendidikanmu hingga perguruan tinggi,” sang ibu menghela napas.

Anak lelaki itu menelan ludah, matanya memerah.

Si ibu berkata lagi, “Hari-hari belakangan ini ibu sudah dua kali dipanggil ke sekolah karena kamu terlibat tawuran. Absensimu menunjukkan kamu berangkat sekolah tapi beberapa kali kamu tidak sampai ke sekolah. Ibu sangat mengkhawatirkanmu. Ibu ingin memastikan kamu baik-baik saja. Ibu berhasil meluluhkan hati ayahmu yang akhirnya memberikan persetujuan untuk membawamu ke sini. Bukan untuk apa-apa. Kami pikir, lebih cepat kamu mengetahui hal ini, kamu bisa segera memperbaiki diri, bisa membuka diri kalau ada apa-apa di sekolah atau di lingkungan pergaulan, agar ibu dan ayah bisa membantumu keluar dari masalah.”

Ibu itu meraih tangan anaknya, tapi si anak menepisnya, membalik badan, berjalan cepat ke arah tangga di ujung koridor.

“Tio,” sang ibu berseru sembari mengejar anaknya.

Yuyun menunduk dengan wajah bisu.

~~~

Di bagian samping sebuah toko grosiran, Yuyun terhimpit di antara gunungan kardus kosong terlipat. Ia mengambil satu demi satu, membukanya, memasang lakban di bagian bawah kemudian memberikannya pada orang-orang yang belanja dalam jumlah banyak untuk dijual lagi di warung di rumahnya masing-masing.

Pekerjaan melakban bagian bawah kardus itu biasanya ia tekuni dari pagi sampai sore, tapi menjelang istirahat siang ini pikiranya dipenuhi kabut. Sepertinya ia tak akan menuntaskan pekerjaan sampai selesai.

Seorang perempuan dengan rambut dikuncir bernama Ruroh, pelayan toko bagian dalam, menghampiri Yuyun. “Cari makan yuk.”

Yuyun masih memasang lakban. “Duluan aja. Nanti aku menyusul,” suaranya dingin.

Ruroh bergabung dengan beberapa pekerja toko menuju warung di pinggir jalan.

Lima menit kemudian Yuyun mengambil arah berbeda. Tapak-tapak kakinya berpijak pada trotoar, namun pikirannya melayang jauh ke belakang, ke masa paling gelap dalam hidup ketika ia kelas dua sekolah menengah atas dan tinggal di sebuah desa di Bengkulu.

Ayahnya sopir angkot dan pemabuk. Ibunya pedagang sayur di pasar, aslinya lembut tapi perangainya menjadi kasar karena tabiat suaminya yang jarang memberikan uang belanja, harus diminta dulu dan memberikanya pun jauh dari kata cukup. Ego ibunya yang merasa sebagai perempuan dan istri yang mestinya dinafkahi sering melecut ke depan, membuatnya sering marah-marah.

Suatu hari jam tiga dini hari ibunya sudah berangkat ke pasar, ayahnya datang dalam keadaan mabuk. Si ayah mendapati Yuyun sedang tidur pulas. Ayah itu melakukan pemerkosaan dan merekamnya dengan kamera ponsel. Yuyun menjerit-jerit dan memberontak, tapi tenaga ayahnya yang bertubuh besar dan gendut jauh lebih kuat. Si ayah itu menampar pipi Yuyun dengan sangat keras. Yuyun tak berdaya, air matanya mengalir tanpa suara. Jauh di kedalaman sana lebih menyakitkan lagi, air mata darah campuran rasa jijik, amarah, kecewa, sedih, dan segala emosi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

“Jangan cerita pada ibumu. Kalau sampai kamu cerita, kubunuh ibumu,” si ayah berkata dengan tatapan mengintimidasi.

Yuyun menutupi badannya dengan kain jarit yang sudah usang. Bibirnya gemetar, tangannya meremas sprei dengan kencang.

“Mandilah. Tersenyumlah seperti biasanya. Jangan tunjukkan air matamu pada orang lain,” si ayah bersendawa usai menenggak alkohol.

Ketika ayahnya terkulai menggelepar di lantai, Yuyun mengeluarkan motor dengan pelan. Ia meluncur ke arah kota. Sepanjang jalan air matanya mengalir deras. Ia menjual motor dan kabur ke Jakarta dengan tujuan ke tempat Ruroh, teman yang ia kenal melalui jejaring pertemanan Facebook.

Yuyun menumpang di kamar kost Ruroh. Ia menceritakan apa yang dialami dan meminta Ruroh merahasiakannya. Ruroh menuruti kemauan Yuyun, bahkan mengajaknya bekerja di toko grosiran.

“Coba baca,” kata Ruroh suatu hari sembari menyodorkan ponselnya pada Yuyun.

Berita mengulas temuan sebuah yayasan yang fokus pada perlindungan perempuan dan anak di Bengkulu. Yayasan itu mencatat sepanjang 2016 hingga triwulan pertama 2017 terjadi 176 kasus kekerasan seksual di Bengkulu. Di antaranya 115 kasus pemerkosaan terhadap perempuan, selebihnya merupakan korban pelecehan seksual. Dalam kasus pemerkosaan ditemukan 95 persen pelaku memiliki relasi personal dengan para korban.

Yuyun mengembalikan ponsel pada Ruroh dengan pandangan hampa. Ia tahu dua minggu sebelumnya anak tetangganya yang masih kelas tiga sekolah menengah pertama diperkosa ayahnya. Ia tak menyangka hal serupa menimpa dirinya.

Beberapa kali keinginan bunuh diri melintas di kepala Yuyun, tapi entah mengapa ia selalu tak punya keberanian untuk mewujudkannya. Sampai kemudian ia tahu ternyata pemerkosaan itu membuatnya hamil, Ruroh lah yang membantunya melewati hari-hari yang sulit.

Yuyun melahirkan bayi perempuan di Rumah Sakit Pasar Rebo. Ia dikuasai perasaan jijik mengingat bayi itu merupakan hubungan paksa sedarah. Usai muntah-muntah karena mual yang tak tertahankan, Yuyun menulis surat: Bayi ini bernama Dara Juwita. Saya tak sanggup merawatnya. Semoga bayi ini mendapatkan orangtua yang menyayanginya dengan tulus.

Ia letakkan kertas surat itu di bantal kemudian lari ke luar sebelum suster datang pertama kali membawa bayinya untuk menyusu padanya.

Sejak itu dan hari-hari berikutnya Yuyun memantau perkembangan berita terkait bayi perempuan yang ditelantarkan ibunya di rumah sakit. Bayi itu dilaporkan ke polisi kemudian dikirim ke panti asuhan khusus balita.

Yuyun ingin mengingkari keberadaan bayi itu, tapi tak bisa. Dengan pikiran berkecamuk, ia naik ke jembatan penyeberangan. Berdiri tepat di bagian tengah, matanya melihat ke bawah, mereka-reka berapa meter ketinggian. Apakah sakit ketika ia melayang ke bawah. Apakah ia akan langsung mati ketika badannya berbenturan dengan aspal. Apakah ia akan terlindas mobil atau jatuh di atap mobil yang sedang melintas.

Banyak orang lalu lalang di jembatan penyeberangan yang terhubung ke halte TransJakarta. Tak ada yang memperhatikan Yuyun. Tak ada sesuatu yang istimewa dari Yuyun yang harus menjadi perhatian. Sepintas tak ada bedanya ia dengan beberapa orang yang juga berdiri menikmati pemandangan kota.

“Ibu, apakah kamu merindukanku?” gumam Yuyun kepada angin.

Ibunya yang membanting tulang dan berharap pada Yuyun anak sematawayangnya kelak mampu mengangkat derajat keluarga. Ibunya yang sering ngomel, tapi sesungguhnya menyimpan kelembutan dan kesabaran. Buktinya walau punya suami berperangai buruk, ia tak lari dari rumah seperti dilakukan seorang tetangganya.

“Bagaimana pun keadaan jodohmu nanti, apakah lapang rezekinya atau sempit rezekinya, kamu perempuan harus mandiri. Karena kita tidak pernah tahu ke depannya akan seperti apa. Umur orang tak ada yang tahu. Kita harus siap menghadapi apa pun yang terjadi,” tutur ibunya suatu hari saat suasana hatinya sedang baik.

Saat suasana hati lagi buruk, ibunya pernah menenteng palu ke kamar, nyaris mengayunkannya pada suami yang tidur pada saat orang-orang umumnya sedang bekerja. Ibunya itu kemudian kembali ke dapur, meraup paku di bawah meja, memukul-mukulkan palu pada paku yang menancap di dinding untuk menyalurkan amarahnya.

“Aku telah menikahi iblis,” gerutu ibunya di antara suara palu yang berdebum.

Yuyun merasa lapar dan ingin makan, ‘Ternyata aku masih punya keinginan, makan nasi hangat, urap dan peyek udang sepertinya enak. Bunuh diri bisa menunggu besok.’

Ia menuruni tangga jembatan, melongok mencari warung tegal, tapi yang terjangkau matanya rumah makan padang. Kakinya melangkah ke depan dan berhenti di depan kantor Polsek. Beberapa detik kemudian ia bergegas ke dalam kantor polisi itu.

“Ada yang bisa dibantu?” seorang petugas mempersilakannya duduk.

“Saya ingin melaporkan kejahatan yang telah dilakukan ayah saya.” []

Arimbi Bimoseno

Arimbi Bimoseno

jurnalis, novelis

Previous post

Kyai Saleh dan Seorang Pemuda Gila

Next post

Ikhsan Asaad: Sosok Visioner di Balik Langit Biru Jakarta