Cerita

Eidetik

Melalui jendela ia memerhatikan jalan itu. Seolah ada harapan akan tiba di pelukannya. Setelah menatap beberapa saat, ia akan memejamkan mata. Menciumi semua aroma dan menangkap segala suara.

Ia akan berdiri di dekat jendela kamarnya hingga jam tujuh pagi. Tak lebih. Setiap orang memiliki kegasalan sendiri, semisal Mallang, sepupunya, suka mengenakan pakian dalam terbalik karena percaya bisa menangkal guna-guna, atau Rudin akan menjilat rokoknya sebelum dibakar. Dan ia sendiri suka berdiri di dekat jendela kamarnya di pagi hari untuk membahagiakan dirinya, dan mengenang kisah di balik jendela yang berpalut rapat.

Hari Minggu kemarin hujan menderas di pagi hari. Dan kamarnya rimbukang ‘kena tempias’ untuk pertama kalinya. Saat itu ia sedang didekap rammusu ‘demam’. Tapi, ia tetap bangun menggelar ritusnya berdiri di dekat jendela kamarnya.

Ketika rimbu’ ‘tempias’ menerpa wajahnya ia bersin tiga kali dan kian gigil. Tapi tak dihentikannya aktivitas itu sebelum waktunya tiba.

Setelah itu ia ke ruang tengah menyeruput kopinya. Minum kopi pagi hari adalah keharusan untuk mengusir kantuknya.

Ayahnya acap melarang agar tak tidur pagi—sebab mengundang berbagai penyakit ke dalam tubuh.

Ayahnya dan sebuah langkah berat

Ia tak pernah berani membantah ayahnya, termasuk dalam hal jodoh. Ketika ayahnya menunjukmu sebagai perempuan yang harus dinikahi ia menurut saja. Membantah tak ada gunanya, sebab kehidupan akan tetap berjalan saat sendiri atau saat bersamamu—hanya tantangannya saja akan berbeda, lainnya akan tetap sama, menarik napas, membuangnya, dan di selahnya itulah kehidupan berlangsung.

Ia tak pernah ingin memusingi kehidupan. Jalani saja, kehidupan akan menunjukkan keajaibannya asal jangan berputus asa.

Sebab satu-satunya kegagalan adalah berputus asa. Dan ia tak ingin gagal menikmati hidupnya.

Baginya, yang paling hebat bukanlah yang kaya, bukan yang berkuasa, tapi yang bisa menikmati hidupnya dengan caranya sendiri, termasuk menikmati perjodohan itu.

Ayahnya seorang petani kopi yang panen sekali setahun. Tapi, selama setahun itu kehidupannya tak pernah sekarat—ia dan kedua saudaranya masih bisa sekolah.

Tak pernah juga ada drama tak makan sehari semalam. Tak pernah.

Waktu yang tak ramah kepada ayahnya

Kamu, perempuan yang dijodohkan oleh ayahnya harus tahan dengan perilakunya yang kadang kekanak-kanakan. Percayalah setiap orang dewasa selalu merindukan masa kanaknya, sebab di sanalah kecerian yang sesungguhnya tersimpan manja.

Ia acap meribangkan masa kanaknya ketika bermain baguli ‘kelereng’, bermain hujan atau memanjat pohon mangga tetangga. Ia kerap ingin mengulang kejahilan itu. Atau saat pura-pura tidur di kursi dan diangkat oleh ayahnya ke katinroang ‘tempat tidur’, begitu kepalanya diletakkan di pa’lungang ‘bantal’ tawanya akan pecah, begitu pun ibunya akan menertawai ayahnya.

Ingatannya juga tak pernah kering saat mandi di sungai bersama kedua saudaranya—maka jangan heran jika ia kadang bersifat kekanak-kanakan—manja, menggemaskan, dan kamu akan menyukainya.

“Aku tak akan membuatmu malu, Ayah,” janjinya pada ayahnya saat ditanya tentang perjodohan itu.

Dan ia membuktikannya, berbakti dengan tulus kepada kedua orangtuanya. Dan pada hari yang telah ditentukan—hari yang dianggap baik—hari kelahirannya, lamarannya kepadamu akan digelar dan kelak akad nikah akan dilaksanakan di hari kelahiranmu. Rencana adalah titian menuju usaha dan usaha adalah jembatan menuju hasil. Begitu yang ia pahami. Maka usahanya menuju hasil tak pernah terjadi. Sebab kamu pergi dengan lelaki lain—enam jam sebelum lamarannya datang ke rumahmu.

Peristiwa itu membuatnya keruh, tapi hanya sejenak. Ia menikmati kegagalannya. Yang malu seumur hidup adalah orangtuanya dan orangtuamu.

“Tak perlu sedih, Ayah, jalannya telah ditakdirkan,” bujuknya pada ayahnya yang termenung di ruang tamu.

Membiarkan kopinya dingin. Seharusnya ayahnyalah yang membujuk agar ia tegar. Bukan sebaliknya.

“Di mana mukaku akan disimpan? Rasanya berat membuka jendela. Malu pada tetangga,” jawab ayahnya dengan air mata nyaris tumpah.

“Ayah, banyak perempuan selain dia,” ujarnya datar.

Sepertinya ia diciptakan untuk tak bersedih. Suatu ketika orangtuanya diremasi sedih—harga kopi jatuh di pasaran. Dengan tenang ia meyakinkan orangtuanya bahwa semua akan membaik.

Kehidupan akan membuktikan keajaibannya, dan terang saja panen lain meruah. Sawah yang biasanya hanya dipanen tujuh atau delapan karung melonjak menjadi dua puluh karung lebih dan harga beras melambung.

Kehidupan keluarganya berjalan normal. Tanpa inrang ‘hutang’.

Tak ada peristiwa yang selesai

Kejadian sebelas tahun lalu itu selalu dikenang dan tempat mengenangnya adalah jendela kamarnya setiap pagi—menatap jalan setapak di depannya.

Sejak pergimu ia mulai lihai berpura-pura baik-baik saja. Ia acap meribang lebih rimbun dari biasanya, lebih gebrak dari seharusnya. Ia kerap bayangkan kamu muncul di jalan setapak itu mengenakan baju kembang warna ungu seperti yang kamu kenakan saat lari dari lamarannya.

Peristiwa itu tak pernah kemarau di ingatannya, saat melihatmu lari bergandengan tangan di pagi belia bersama Mallang, sepupunya—lelaki yang acap memakai celana dalam terbalik itu.

Sejak hari itu ia selalu berdiri di dekat jendela kamarnya—menanti kembalimu. Ia selalu percaya kehidupan akan menunjukkan keajaibannya bagi yang tak berputus asa.

Di dapur ia mendengar istrinya sedang menggoreng pisang, benar saja, tiga bulan pasca pergimu. Ia menemukan perempuan dengan tak sengaja.

Pertemuan keduanya tak pernah bisa dipercaya akan bermuara pada pernikahan. Saat luapan ere ‘air’ reda di selokan depan rumahnya. Ia menemukan sepasang sandal berwarna biru—sandal perempuan (yang kelak jadi istrinya) hanyut dari jauh saat hujan.

Dan ketika adik perempuannya mengenakan sandal itu ke pasar kecamatan, perempuan itu melihatnya. Perempuan itu berkunjung ke rumahnya untuk berterima kasih dan pintu jodohnya pun terbuka.Ia jatuh cinta pada perempuan itu, tapi bayangmu tetap jendel.

Dan setelah mereka menikah ia tetap pada ritusnya berdiri di dekat jendela kamarnya dari jam 06.00-07.00 pagi—setiap hari menatap arah pergimu. Dan ketika ada yang tanya kenapa melakukannya, jawabnya selalu sama—sedang menikmati pagi.Orang-orang kemudian memakluminya. Termasuk istrinya.

Menjawab penantian

Ia masih berdiri di dekat jendela kamarnya. Tatapannya meruncing ke arah jalan pergimu. Ia tak berkedip, rammusu dalam tubuhnya seakan menghilang—di ujung jalan setapak itu, seorang perempuan memakai baju kembang berwarna ungu berjalan ke arah rumahnya.

Rambutnya dikuncir serupa rambutmu dulu. Perempuan itu semakin mendekat, namun ia harus menutup jendela kamarnya seperti sebelum-sebelumnya setiap jam tujuh pagi.

Irhyl R Makkatutu

Irhyl R Makkatutu

Laki-laki yang tak pernah menolak ajakan ngopi.

Previous post

Seandainya Saya Yusran Darmawan

ilustrasi polusi di kota jakarta
Next post

Indonesia dan Sebuah Mimpi Menghirup Udara Bebas Polusi