Locita

Wajah Penuh Kemenangan dari Kebangkitan Oposisi Politik Turki

Sumber Gambar: Euractiv.com

Pada hari Minggu, 23 Juni, kembang api menerangi langit Istanbul saat puluhan ribu orang yang berkumpul di pusat kota merayakan terpilihnya Ekrem Imamoglu sebagai walikota. Imamoglu dari Partai Rakyat Republikan atau CHP, mengalahkan mantan Perdana Menteri Binali Yildirim yang tergabung dalam partai Presiden Recep Tayyip Erdogan, yaitu Partai Keadilan dan Pembangunan atau AKP, untuk yang kedua kalinya dalam tiga bulan. Kemenangan mutlak Imamoglu langsung menjadikan dirinya sebagai wajah baru kebangkitan oposisi politik Turki. Untuk pertama kalinya sejak Erdogan berkarir dalam politik sebagai walikota Istanbul di tahun 1994, seorang penantang akhirnya berhasil menguasai kampung halaman sang presiden tersebut.

Sebelum kemenangannya, Imamoglu tampak seperti orang yang paling tidak mungkin menang melawan Erdogan. Dalam pemilihan tingkat kota nasional pada bulan Maret, Imamoglu hanya menang tipis dari Yildirim – selisih suara kurang dari 14.000 suara, dari total delapan juta suara – dalam pemilihan untuk Istanbul. Para pemilih juga berontak di seluruh negara, mengusir walikota-walikota AKP keluar dari ibukota, Ankara, dan beberapa kota-kota provinsi lainnya.

Kurang dari tiga minggu kemudian, Imamoglu dicabut jabatannya setelah AKP menolak mengakui kekalahan dan badan pemilihan yang dikontrol pemerintah pusat menolak hasil pemilihan, dengan alasan adanya hal yang tidak biasa. Pada pertarungan ulang minggu lalu, selisih suara yang dimenangkan Imamoglu meledak ke angka 800.000 suara, 44% dari total suara, lebih dari dua kali lipat suara Erdogan sendiri saat ia maju sebagai walikota. “Kami akan membawa kebebasan untuk masyarakat, kami akan memperbaiki ketidakadilan di masyarakat,” Imamoglu menyerukan pada para pendukungnya yang merayakan kemenangan malam itu, “Kami akan menerima satu sama lain, dan akan tetap sukses apapun yang menghadang.”

Di Istanbul, Erdogan berkampanye seolah-olah namanya sendiri yang ada di kertas suara. Pemimpin yang terus berubah ke arah otoriter ini, yang telah memimpin negara selama 16 tahun, pertama sebagai Perdana Menteri dan sekarang Presiden, sudah sering mengatakan peribahasa politis Turki: “Siapapun yang memenangi Istanbul, memenangi Turki.” Banyak pendukung Imamoglu melihat kampanye ini sebagai gladi resik untuk tingkat yang lebih tinggi – suatu jalan untuk kekuatan tingkat nasional yang mirip dengan kekuatan Erdogan. Di seluruh negeri, kemenangan Imamoglu telah menyetrum kembali CHP – yang telah lama menjadi penjaga negara yang sekuler namun telah kehilangan kekuatannya selama beberapa dekade – dan menyatukan oposisi-oposisi yang terpecah belah, terdiri dari sayap kiri, orang-orang Kurdi, nasionalis, dan mereka yang tidak taat beribadah.

Seorang yang ceria namun merupakan pengamat yang baik serta mantan petinggi konstruksi, Imamoglu, yang sekarang berusia 49 tahun, baru menjalani satu dari lima tahun masa jabatan sebagai walikota di sebuah kota kecil, ketika ia meluncurkan kampanye untuk melawan Yildirim. Erdogan memperingati bahwa nasib negara ada di tangan pemilihan ini, dan menuduh Imamoglu bekerjasama dengan teroris karena berkoalisi dengan partai politik Kurdi. Tetapi tuduhan-tuduhan tersebut tidak menjawab masalah finansial para pemilih yang menderita di bawah lambatnya pertumbuhan ekonomi yang telah menggerogoti harga lira, membuat harga makanan lebih mahal 30%, dan membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan.

Imamoglu mengambil langkah “cintailah musuh kalian” dalam pesan kampanye dengan sengaja untuk melawan karakter populis kampanye Erdogan yang cenderung memecah belah. Ia menyebut strategi ini sebagai “cinta radikal”. Pidatonya dipenuhi humor dan empati, serta menghindari untuk merespon setiap kali diserang oleh presiden. Menurut Aykan Erdemir – seorang cendekiawan senior dari Pondasi Perlindungan Demokrasi, seorang yang diakui kecerdasannya dari Washington DC, serta mantan perancang peraturan untuk CHP – “gaya kepribadian Imamoglu membuat aturan-aturan sosial demokratiknya lebih mudah diterapkan ke konstituensi, yang zaman dulu pasti sudah gagal diterapkan karena terpecahnya sayap kiri dan sayap kanan”. Seorang Muslim taat, Imamoglu dulu pernah tergabung ke dalam cabang pemuda partai sayap kanan yang sekarang sudah bergabung dengan AKP, dan dulu ia akan meminta pada pendukung Erdogan untuk didoakan, bukan untuk dipilih. “Politiknya sekuler, tetapi ia berpuasa dan tak pernah bolos shalat Jumat. Ia mengerti nilai-nilai konservatif karena ia juga menerapkannya,” Sirin Mine Kilic, seorang penulis biografi tentang Imamoglu, mengatakan pada saya.

Sebagaimana keluarga Erdogan, Imamoglu, yang namanya berarti “anak seorang imam”, berasal dari provinsi Laut Hitam yang konservatif. Ia dan Erdogan sama-sama pemain bola semi-profesional di masa mudanya, dan keduanya naik daun dalam politik karena memenangi pemilihan di Istanbul. Imamoglu juga tampak mengambil prinsip dari kampanye awal AKP, saat Erdogan masih menerima politik tenda-besar dan berjanji memberantas korupsi. “Keduanya merupakan pemimpin secara alami, seperti peniup seruling yang membuat orang mengikuti mereka berjalan,” kata Kilic.

Tetapi memaksakan pemilihan ulang adalah kesalahan Erdogan yang tak biasa, mengingat statusnya sebagai politisi modern Turki paling sukses yang telah memenangi 15 pemilihan. Kesalahan politiknya yang paling mengagetkan, menurut beberapa kritikus, adalah melupakan bahwa ia sendiri juga pernah dicabut status walikotanya pada tahun 1998, dan dipenjara empat bulan setelah mengutip sebuah puisi bernuansa Islami, yang oleh pemerintahan sekuler pada masa itu dianggap “menyulut kebencian”. Beberapa pengamat merasa kesalahan Erdogan di pemilihan Istanbul berasal dari keangkuhan. “Kegagalan AKP untuk mengerti bahwa hasil pemilihan pertama menyebabkan pemilihan kedua yang inkoheren, eklektik, membingungkan, dan bertujuan tidak baik, membuat apa yang seharusnya menjadi kekalahan biasa, justru menjadi kekalahan telak,” kata Kemal Can, seorang jurnalis yang telah menulis untuk sayap kanan Turki selama tiga dekade. “Kesalahan berturut-turut ini juga membentuk suatu figur yang kontras, dan jauh lebih kuat, dari Imamoglu.”

Namun AKP masih jauh dari menyerah. AKP mengontrol hampir semua distrik kota Istanbul, dewan perwakilan rakyat kota, dan tengah bekerja dalam legislasi untuk membatasi biaya yang bisa dipakai Imamoglu untuk memimpin kota. Erdogan, yang telah berusia 65 tahun, tetap memimpin pemerintah pusat dan tidak akan menghadapi pemilihan ulang hingga 2023. Tahun lalu, ia meresmikan sistem Presidensial baru yang jauh lebih diperkuat, dan melemahkan parlemen Turki, serta membuat beberapa institusi kunci seperti mahkamah yudisial dan bank pusat berada dibawah kekuasaaannya. Para kritikus melihatnya sebagai kehancuran lebih lanjut dari demokrasi Turki, yang paling terlihat dari pemenjaraan puluhan ribu musuh Erdogan, kudeta militer ceroboh pada tahun 2016, dan kekerasan terhadap politisi Kurdi. Publik berdebat tentang isu-isu ini dan mengabaikan masalah lain: Turki merupakan negara yang memenjarakan jurnalis paling banyak, sementara sembilan dari sepuluh kantor berita dimiliki pemerintah atau dimiliki swasta yang dekat dengan pemerintah.

Kebanyakan perusahaan-perusahaan swasta ini telah diuntungkan oleh meledaknya pembangunan di Istanbul selama masa pemerintahan Erdogan. Kontrol dari empat miliar dolar dana kota memberi walikota kekuatan untuk menjual kontrak dan membuka lapangan pekerjaan, memberi makan mesin pelindung di suatu kota yang menguasai hampir sepertiga perekonomian Turki. Setelah 18 hari di kantor walikota, Imamoglu mengatakan ia telah menemukan contoh-contoh pemborosan dari pemerintahan yang lalu, termasuk jutaan dolar yang diberikan pada perusahaan dan yayasan yang dekat pada pemerintahan. “Erdogan mengandalkan ideologi dan uang suap untuk menjalani pemerintahan yang serba terjepit, dan pada titik ini, ia sudah tidak punya keunggulan moral maupun uang suap untuk menggerakkan pendukungnya,” kata Erdemir dari Pondasi Perlindungan Demokrasi.

Pada hari-hari terakhir kampanye, Erdogan meluncurkan taktik tangan besi yang khas dari agenda domestiknya. Ia menyinggung bahwa Imamoglu dapat dipenjara karena menjelekkan seorang gubernur provinsi (Imamoglu membantah tuduhan ini). Pada saat yang sama, persidangan yang menuntut kampanye Imamoglu dimulai minggu lalu, dengan dasar bahwa ia menghina Erdogan dan menyebarkan kampanye teroris pada unggahan-unggahan sosial media bertahun-tahun lalu.

Bila dinyatakan bersalah, Imamoglu akan dipenjara selama 17 tahun. Meski begitu, sejak kemenangan oposisi, Erdogan telah mengambil langkah damai dengan memberikan ucapan selamat kepada Imamoglu dalam sebuah pertemuan parlementer AKP, serta berjanji ia tak akan dendam terhadap Istanbul.

“Kita tidak mungkin menutup mata dan telinga akan pesan yang telah diberikan rakyat untuk kita,” katanya.

=====

Diterjemahkan dari “The Triumphant New Face of Turkey’s Resurgent Political Opposition” yang diterbitkan di newyorker.com

Avatar

tanjunglarasati

Tentang Penulis

Avatar

tanjunglarasati

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.