Locita

Vietnam Menolak Huawei

Sumber Gambar: BBC.com

HANOI, Vietnam – Pertarungan dominasi teknologi antara AS dan Cina telah membagi dunia ke dalam dua pihak, tetapi tidak selalu seperti yang kita bayangkan.

Sekutu Amerika, seperti Inggris dan Jerman sudah memberi sinyal bahwa mereka tak akan mendukung usaha Washington untuk menghentikan negara-negara dari bekerjasama dengan raksasa teknologi Cina, Huawei, yang disebut sebagai kuda Trojan untuk mata-mata Beijing oleh para pejabat Amerika. Australia sudah melarang perusahaan tersebut dari membangun jaringan 5G ponselnya, meski perekonomian Australia bergantung pada pesanan sumber daya alam dari Cina. Korea Selatan dan Filipina tidak melakukan pelarangan, meski punya sejarah gesekan dengan Cina.

Lalu ada pula Vietnam. Sekilas, negara yang terus berkembang cepat ini mungkin tampak seperti pelanggan alami untuk produk Huawei. Perekonomiannya terkait erat dengan perekonomian Cina, dan Beijing sudah mengakui para pimpinan Partai Komunis Vietnam di Hanois sebagai saudara dalam ideologi.

Namun perusahaan top teknologi ponsel Vietnam justru tak memasukkan Huawei dalam perencanaan jaringan 5G mereka, meski rasa takut pemerintah Vietnam akan membuat Beijing marah tampak mencegah mereka mengatakannya dengan jelas.

Di seluruh dunia, serangan pemerintahan Trump terhadap perusahaan Cina tersebut telah mengubah pembelian alat telekomunikasi, dari keputusan bisnis ke keputusan geopolitik – sebuah tes kesetiaan nasional terhadap Washington atau Beijing.

Di Asia Tenggara, yang telah dibangun dengan uang dari Cina, Huawei sangat diterima secara luas. Perusahaan tersebut membuka stasiun pengujian 5G di Thailand tahun ini. Menteri Telekomunikasi Indonesia baru-baru ini menyampaikan pada Reuters bahwa pemerintah tak bisa paranoid terhadap Huawei, sementara perdana menteri Malaysia telah mengatakan bahwa negaranya akan menggunakan teknologi Huawei “sebanyak yang mereka bisa”.

Namun di Vietnam, karier ponsel terkemuka telah mengeksplorasi kolaborasi 5G dengan Ericsson dan Nokia, tetapi tidak dengan Huawei. Perusahaan terbesar mereka, Viettel, juga tidak menggunakan peralatan dari Huawei untuk jaringan 4G mereka yang sekarang, meski mereka tak masalah menggunakan teknologi Cina di beberapa negara tempat anak perusahaannya menyediakan layanan 4G, seperti Kamboja, Laos, dan Peru.

Menurut Viettel, hal ini tak berarti perusahaan mereka, yang dimiliki oleh pemerintah Vietnam, tengah melarang Huawei. Hanoi tak pernah melarang penyedia layanan telekomunikasi Vietnam memakai peralatan dari Cina, kata Tao Duc Thang, direktur umum deputi Viettel, dalam sebuah wawancara dengan The New York Times.

Hal ini berarti Viettel dan Huawei masih bisa bekerjasama di kemudian hari, kata Thang. “Untuk masa depan, kami tidak tahu.”

Namun para pengamat menduga penyedia layanan telekomunikasi Vietnam akan mengambil keputusan untuk berhati-hati saat menandatangani perjanjian 5G komersil. Cina dan Vietnam bertarung dalam perang yang singkat namun berdarah 40 tahun lalu, dan Hanoi telah menatap tetangganya di utara dengan khawatir, sebagaimana ambisi keuangan dan militer Cina terus tumbuh sejak perang itu.

“Seluruh dunia perlu berhati-hati terhadap Cina,” kata Mayor Jendral Le Van Cuong, mantan direktur Institut Studi Strategis di Kementrian Keamanan Publik Vietnam. “Bila sebuah negara adidaya seperti Amerika menganggap Cina sebagai ancaman keamanan siber, berarti Vietnam juga harus.”

Huawei sudah lama membantah klaim bahwa mereka menerima perintah dari Beijing, atau bahwa produk mereka mengancam keamanan.

“Vietnam tak pernah menjadi pasar 4G yang kuat bagi Huawei, dan kami tak terlalu berambisi untuk 5G di sana,” kata seorang juru bicara perusahaan, Joe Kelly.

Cakupan layanan internet terus bertambah dengan cepat di Vietnam, dan pemerintahnya sedang terburu-buru mengembangkan jaringannya lebih cepat. Hari ini, bahkan sebuah gunung, teluk, dan pulau terpencil sudah punya jaringan 4G. Pimpinan Vietnam mengatakan mereka ingin jaringan 5G siap tahun depan, berharap internet super cepat akan memberi daya kejut terhadap perkembangan ekonomi.

Tetapi hubungan Vietnam yang baru-baru ini memburuk dengan Beijing mungkin membuat para pejabat khawatir untuk mempercayakan teknologi 5G pada perusahaan Cina. Meski kedua negara sepaham tentang sensor dan mengontrol internet, mereka sudah lama berselisih tentang wilayah Laut Cina Selatan, yang disebut sebagai Laut Timur oleh Vietnam. Setelah Cina meletakkan tambang minyak di perairan Vietnam tahun 2014, para pekerja Vietnam yang marah menyerbu beberapa pabrik dan menyerang pekerja dari Cina.

Sebagai respon dari hal tersebut, Vietnam telah membangun relasi yang lebih erat ke Washington dengan hati-hati. Meski begitu, Cina tetap mitra dagang terbesar Vietnam, dan perusahaan-perusahaan Cina telah memberi uang serta kesempatan kerja bagi orang Vietnam. Tinggal di dekat Cina berarti Vietnam tetap harus menjaga hubungan dengannya, tetapi tidak boleh terlalu dekat.

“Kita tak bisa mengangkat dan memindahkan negara ini ke tempat lain,” kata Do Tien Sam, mantan direktur Institut Studi tentang Cina di Akademi Ilmu Sosial Vietnam di Hanoi.

Dengan begitu, Hanoi telah mendukung Inisiatif Sabuk dan Jalan Beijing, sebuah rencana infrastruktur global yang luar biasa besar. Tetapi Hanoi belum menyatakan proyek pembangunan manapun sebagai bagian dari program tersebut.

Dekat namun tak terlalu dekat nampaknya juga menjadi strategi untuk urusan dengan Huawei.

“Mereka tak ingin memberi alasan bagi Cina untuk marah,” kata Alexander L. Vuving, seorang spesialis Vietnam di Pusat Studi Keamanan Asia-Pasifik Tengah Daniel K. Inouye di Honolulu. “Indikasi apapun bahwa pemerintah Vietnam mendiskriminasi Cina akan digunakan sebagai alasan bagi pemerintah Cina untuk terus menekan Vietnam.”

Sudah banyak perusahaan teknologi Cina yang cukup sukses di Vietnam. Sejalan dengan jalanan Hanoi yang dipenuhi motor-motor, toko-toko ponsel juga mengiklankan merek-merek Cina seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo secara masif.

Negara tersebut dulunya tak terlalu khawatir soal peralatan telekomunikasi dari Cina. Saat Viettel mulai membangun jaringan 3G-nya satu dekade lalu, mereka menandatangani kontrak dengan Huawei dan sebuah pemasok Cina lainnya, ZTE, menurut perusahaan riset TeleGeography.

Thanh Son Dang, sebuah mitra di Hanoi yang bekerja di firma hukum Baker McKenzie dan seorang mantan konsulat jendral Viettel, mengatakan hukum Vietnam yang meregulasi industri telekomunikasi mengirim sinyal jelas ke perusahaan-perusahaan tentang ke arah mana prioritas mereka harus diberikan.

“Dalam regulasi apapun, pemerintah Vietnam selalu menitikberatkan kepentingan keamanan nasional,” kata Dang. Hantu perang dengan Cina dan Barat tidak pernah luput dari ingatan, katanya.

Huawei mungkin tak dilarang secara resmi di Vietnam, tetapi para pejabat mengambil langkah-langkah serius untuk tak bicara tentang hal itu.

Bulan lalu, mentri deputi informasi dan komunikasi, Nguyen Thanh Hung, menyetujui wawancara dengan The Times. Tetapi ketika seorang reporter Times sampai di Hanoi, Kementrian Informasi dan Komunikasi menunda wawancara tersebut secara berulang dalam satu minggu.

Pada akhirnya, tak ada wawancara yang terjadi. Kementrian juga menolak menjawab pertanyaan tertulis.

Thang, seorang direktur deputi jendral di Viettel, awalnya lebih terbuka saat ia bertemu dengan reporter Times di kantor perusaahan di Hanoi.

Viettel telah mengembangkan perangkat lunak dan peralatannya sendiri selama bertahun-tahun, kata Thang, dan mempekerjakan 300 insinyur di unit riset dan pengembangan. Perusahaan ini telah mendesain dan memproduksi stasiun basisnya sendiri, yang dapat menukar sinyal radio dengan ponsel, dan memiliki sistem komputernya sendiri untuk melakukan pembayaran dari pelanggan, katanya.

Kebanyakan karier ponsel hanya membeli hal-hal diatas dari vendor-vendor terpisah, seperti Ericsson atau Huawei. Thang mengatakan Viettel telah meluncurkan sekitar 1000 stasiun basis 4G di Vietnam, Kamboja, dan negara-negara lainnya.

Tetapi saat ditanya apakah tujuan Viettel mengembangkan peralatan sendiri adalah untuk menjaga keamanan, Thang berkonsultasi terlebih dahulu dalam bahasa Vietnam dengan seorang pejabat komunikasi perusahaan, Le Duc Anh Tuan, yang kemudian menjawab dalam bahasa Inggris.

Alasan terpenting Viettel mengembangkan perangkat lunaknya sendiri, kata Tuan, adalah agar bisa merespon lebih cepat terhadap perubahan kebutuhan pelanggan. Keamanan bukanlah faktor utama, katanya.

Saat ditanya kenapa Viettel tak menggunakan Huawei di Vietnam tetapi menggunakan jasa mereka di negara lain, Tuan mengatakan para pembuat alat-alat memberi perusahaan mereka penawaran yang berbeda di tiap negara. “Kami punya banyak mitra,” katanya, dan Viettel menganggap semua mitra memberi keuntungan-kerugiannya masing-masing.

Pada titik ini, Thang diam-diam bertanya pada seorang kolega lain dalam bahasa Vietnam, berapa lama waktu yang dijanjikan untuk wawancara ini.

Satu jam, jawab kolega tersebut.

“Mengapa sangat lama?” tanyanya.

Thang lalu memberi jawaban-jawaban tak jelas untuk beberapa pertanyaan tentang Huawei sebelum Tuan berkata waktu wawancara hanya tersisa lima menit saja, dan bahwa Thang tak punya apapun lagi untuk dijelaskan tentang Huawei.

====

Artikel ini diterjemahkan dari “Is Huawei a Security Threat? Vietnam Isn’t Taking Any Chances” yang diterbitkan di Newyorktimes.com

tanjunglarasati

Tentang Penulis

tanjunglarasati

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.