Locita

Start-up Teknologi ini Merubah Arti Bertani

Memberi makan populasi yang terus tumbuh dengan cepat tanpa menghabiskan sumberdaya bumi yang terbatas adalah salah satu tantangan utama di abad ke-21.

Keempat enterpreneur ini – yang telah dipilih sebagai Pionir Teknologi Forum Ekonomi Dunia 2019 – memiliki pandangan untuk merubah cara kita bertani untuk menyediakan makanan bagi dunia.

Lahan pertanian mini di lahan parkir bawah tanah

Di sebuah lahan parkir yang tak lagi dipakai di Beijing, sejumlah loyang tanah pembibitan ditumpuk satu sama lain.

Ini merupakan lahan tani mini, persis di jantung kota, dan memasok hotel-hotel terdekat dengan selada, seledri, berbagai herbal, kale, dan sayuran hijau lainnya.

“Sekarang sudah mungkin untuk menumbuhkan makanan di tempat orang bekerja dan tinggal,” kata Stuart Oda, yang menjadi ko-founder start-up pertanian, Alesca Life, di tahun 2013, merujuk pada sejumlah infrastruktur kota yang tak terpakai lagi, termasuk kontainer-kontainer bekas.

Lampu LED menyediakan cahaya, dan nutrisi mineral ditambahkan ke air, bukan ke tanah. Alat-alat monitor yang terhubung dengan internet mengawasi kelembaban, level keasaman, dan jumlah oksigen terlarut dalam air, mengizinkan variabel-variabel tersebut disesuaikan untuk meningkatkan produksi.

“Sistem kami mengizinkan untuk otomatisasi sejumlah poin utama yang biasa menjadi sumber kesalahan manusia, yang dapat mengurangi produksi tanaman,” kata Oda.

Kelebihan lahan tani mini bagi konsumen adalah hasil tani yang segar, dan pengurangan transportasi serta pembungkusannya.

Alesca Life sudah menandatangani kontrak untuk distribusi 1000 kontainer lahan tani di sepanjang Timur Tengah, Afrika, Cina, dan Amerika Utara.

Keputusan Oda meluncurkan perusahaannya dipicu oleh perubahan yang dapat ia lihat terjadi di sekitarnya di Cina, termasuk urbanisasi yang meningkat cepat, pertumbuhan populasi, dan degradasi lahan pertanian tradisional.

“Ada rasa urgensi yang tinggi untuk segera menangani tantangan ini, dan saya ingin mendedikasikan seluruh usia produktif saya, termasuk semangat dan masa muda saya, untuk mengatasinya,” katanya.

Menemukan pasar untuk buah dan sayur yang dinilai kurang bagus

Christine Moseley sudah menyaksikan sampah makanan yang dibuang secara masif, secara langsung.

Sepanjang musim panen selada romaine, Moseley menyaksikan 25% dari tiap tanaman dimasukkan ke dalam pembungkus yang seragam, sementara sisanya dibuang.

“Saya langsung tahu bahwa kita memiliki sistem yang rusak untuk makanan. Itulah momen ‘aha’ saya dan saya bersumpah tak akan berhenti hingga menemukan cara untuk menggunakan sampah produksi tersebut agar bisa dikonsumsi,” katanya pada Forbes.

Saat itulah ia memutuskan untuk mendirikan Full Harvest, wadah B2B (buy to buy) untuk menjual buah dan sayur yang dinilai kurang bagus, daripada dibuang.

Sekitar sepertiga produksi pangan dalam dunia konsumsi manusia per tahunnya – sekitar 1,3 milyar ton – hilang atau dibuang, menurut FAO dari PBB.

Di Amerika Serikat saja, 9 milyar kilo produksi ‘jelek’ dan berlebihan dibuang tiap tahunnya, hanya karena standar estetika dari toko-toko sayur.

Full Harvest menghubungkan perusahaan pangan dengan perusahaan truk dan pertanian agar mereka bisa menggunakan hasil produksi yang surplus atau cacat.

Hal ini tak hanya memberi penggunaan yang baik untuk pangan, tetapi juga menghentikan pembuangan air berlebihan serta membatasi emisi karbon dioksida dari pertanian.

Mencegah pembuangan dengan pencitraan hiperspektral NASA

Pencitraan hiperspektral melihat informasi dalam bagian-bagian spektrum elektormagnetik yang tak dapat dilihat manusia. Hal ini berarti pencitraan tersebut dapat menguji kesegaran makanan – dari stik daging sapi hingga alpukat – tanpa menyentuhnya.

Teknologi ini – yang pertama kali dikembangkan NASA untuk pencitraan aerial – mendeteksi kualitas internal dan kualitas komposisi kimia produk pangan.

ImpactVision lalu menggunakan teknik-teknik pembelajaran mesin untuk memindai kualitas produk, menyediakan informasi langsung bagi perusahaan pangan tentang stok mereka.

Dengan alpukat, misalnya, pencitraan dapat memindai kematangan buah dan membuang yang sudah busuk. Sistem yang ada sebelumnya hanya mengandalkan pemeriksaan contoh – lalu membuang-buang – buah.

“Menggunakan pencitraan terkini dan pembelajaran mesin, kita membantu perusahaan pangan mempelajari kualitas produk pangannya secara non-invasif, dan menyediakan data langsung secara berkelanjutan,” kata CFO ImpactVision, Rachael Gan.

“Hal ini memberi pengambilan keputusan yang optimal selama proses, yang akhirnya mengurangi sampah pangan.”

ImpactVision kini bekerja dengan beberapa produsen pangan ternama dan supermarket di AS, serta percaya bahwa data yang mereka kumpulkan punya kekuatan untuk mengubah rantai produksi pangan sebagaimana GPS mengubah navigasi.

Sebagaimana kontrol kualitas makanan terdigitalisasi, teknik baru ini juga membantu pemindaian kontaminasi dan mencegah penarikan pangan yang membawa kerugian besar di kemudian hari.

Benih yang lebih produktif

“Benih adalah pahlawan pertanian modern. Bila kita meningkatkan kualitas benih, kita juga dapat memperkirakan berapa luas lahan, volume air, dan jumlah pupuk yang akan digunakan,” kata Ponsi Trivisvavet, CEO Inari Agriculture. “Kita bisa menyelesaikan masalah lingkungan yang besar dengan kembali pada sumber awal masalah – yaitu benihnya.”

Inari mengoperasikan pembibitan dimana gen tumbuhan akan diedit – beberapa gen mungkin dihilangkan, yang lain dimasukkan, dan lainnya diperbaiki. “Semua yang kita lakukan mungkin akan terjadi secara alami dalam 1000 tahun lagi,” kata Trivisvavet. “Kita hanya mempercepat proses tersebut.”

Tiga perubahan dilaksanakan secara simultan dalam benih tomat untuk memperbesar ukuran tangkai, meningkatkan jumlah bunga, dan memperbesar ukuran buah. Hal ini meningkatkan produktivitas lebih dari 90%, yang tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perkembangan pertanian, menurut Trivisvavet.

Teknologi yang sama juga digunakan untuk kacang kedelai, dimana gen benih diedit untuk meningkatkan jumlah pod di tiap node, dan jumlah kacang dalam satu pod.

Pembibitan Inari menggunakan desain bibit dengan komputasi oleh AI (kecerdasan buatan) untuk memahami genom-genom tumbuhan dan bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain.

“Membiarkan gen yang mengedit dirinya sendiri lebih mudah daripada mengidentifikasi apa yang harus dirubah,” kata Trivisvavet, “AI memberitahu kita apa yang harus dirubah.”

Salah satu area yang sedang dikerjakan adalah membuat tanaman lebih tahan terhadap kemarau, dan tidak terlalu tergantung pada pupuk.

“Kami sedang berusaha menemukan cara memberi makan dunia tanpa harus mengorbankan planet,” kata Trivisvavet.

“Bila kita bisa menumbuhkan lebih banyak makanan dengan sumber daya lebih sedikit, kita bisa mengembalikan lahan ke alam dan mencerahkan jejak langkah ekologi pertanian.”

tanjunglarasati

Tentang Penulis

tanjunglarasati

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.