Locita

Sekedar Membela Teori Evolusi Tanggapan Atas Tulisan Mohammad Nasih, "Evolusi Tidak Sempurna?" Di Rilis.Id

Ilustrasi (Sumber foto: mercatornet.com)

EVOLUSI, merupakan topik yang senantiasa hadir di bangku-bangku kuliah. Dulu saya memahami bahwa evolusi hanya populer dalam disiplin Biologi. Ternyata tidak, evolusi merambah berbagai bidang dan didiskusikan lintas disiplin. Terakhir saya melihat tulisan Mohammad Nasih, pengajar di FISIP UI membantah evolusi dan menghadap-hadapkannya dengan kitab suci Islam, Al Quran. Judulnya Evolusi Tidak Sempurna? dimuat di Rilis.id.

Pada tulisan kali ini saya hendak menyanggah beberapa hal dari artikelnya itu.

Nasih membuka tulisannya dengan asumsi bahwa manusia berasal dari kera. Dari sini kemudian Darwinisme berkembang ke arah ilmu sosial dan terbentuklah suatu anggapan bahwa manusia kulit putih adalah manusia yang sempurna menurut evolusi. Sementara itu manusia kulit berwarna tidaklah sempurna, dan masih dekat kekeluargaannya dengan kera.

Atas dasar ini muncullah diskriminasi ras di Eropa bahkan sampai ke Australia ketika bangsa kulit putih Eropa telah banyak mendiami benua itu.

Guru utama di Monash Institute itu kemudian mengadu persoalan asal usul ala Darwin dengan teks Al Quran. Masih dalam narasi yang sama Nasih mengutip firman Allah yang menyatakan semua manusia berderajat sama, hanya ketakwaan di antara mereka yang menjadi faktor pembeda di mata Allah.

Berdasarkan hal itu, Nasih mengklaim bahwa bangsa Indonesia lebih maju dari Barat dalam urusan diskriminasi ras. Sebab menerima perbedaan warna kulit terlepas apapun sukunya sebagai suatu kesatuan dalam bangsa Indonesia.

Dalam tulisannya itu, Nasih tidak mendudukkan dulu apa yang dimaksud dengan evolusi. Padahal ini penting sebelum masuk pada suatu paradigma tertentu. Evolusi berasal dari istilah latin yaitu e-volvere, artinya membentangkan atau membuka. Darwin sendiri menurut Elizabeth Grosz dalam tulisannya Darwin and Ontology tidak menekankan istilah evolusi, namun mempopulerkan istilah seleksi alam.

Dalam konteks seleksi alam ini, seseorang bisa melihat bahwa diskusi mengenai evolusi tidak melulu mengenai urusan siapa nenek moyang manusia. Dan untuk masalah ini sudah jelas, dan saya yakin hal itu, bahwa tidak ada seorang Muslim dia seorang Darwinian sekalipun akan mengakui bahwa nenek moyang mereka adalah kera. Baa ka baa (Minang: bagaimanapun juga) nenek moyang mereka adalah Adam.

Seleksi alam terdiri atas tiga aspek yakni variasi, warisan dan seleksi. David Buss dalam buku Evolutionary Psychology menjelaskan bahwa variasi merupakan hal yang fundamental dalam evolusi. Setiap organisme bervariasi dalam hal apapun mulai dari bentuk fisik, kekuatan tubuh dan juga struktur sel. Variasi inilah yang sebagiannya diturunkan dari nenek moyang kepada keturunannya dan sebagian yang lain tidak. Peran penting variasi yang diwariskan menjadi komponen pokok bagi organisme untuk melanjutkan reproduksi dan bertahan hidup.

Istilah seleksi alam merupakan jawaban dari persoalan adaptasi yakni mengapa spesies berubah dan mengapa organisme menyesuaikan diri dengan lingkungannya? Pertanyaan ini diajukan Darwin setelah ekspedisinya di kepulauan Galapagos di mana dia menyaksikan keragaman dari burung kutilang.

Kalau Nasih mengikuti alur berfikir evolusi dengan paparan di atas mestinya tidak bisa serta merta menghakimi bahwa diskriminasi ras yang terjadi dari barat adalah akibat evolusi Darwin. Diskriminasi dapat terjadi sebab nenek moyang bangsa kulit putih mewariskan perangkat yang membuat mereka lebih powerfull dari pada bangsa kulit berwarna. Teknologi mereka maju adalah hasil kemajuan berfikir mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan. Karena itu mereka mempunyai daya tahan yang tinggi, dan untuk mempertahankan daya tahan tersebut mereka harus menjajah manusia kulit berwarna.

Di pihak lain perangkat bertahan hidup yang dimiliki kulit berwarna, karena mereka hidup di lingkungan dan mengalami proses adaptasi yang jauh berbeda, tidak secanggih yang dimiliki oleh kulit putih. Akibatnya, mereka terjajah dan sebagian yang terbunuh tidak berlanjut keturunannya hari ini. Bahkan sebagian yang dapat bertahan hidup dan mempunyai keturunan, memiliki nama-nama khas barat walaupun mereka berasal dari belahan Afrika.

Hal yang relatif sama terjadi Indonesia. Dalam tulisannya yang berjudul Penuntun Kaum Buruh, Semaun, mantan anggota Sarekat Islam dan pimpinan Partai Komunis Indonesia, menyatakan bahwa pada awalnya nenek moyang bangsa Indonesia setidaknya memiliki sebidang tanah untuk bercocok tanam. Tanahnya yang bagus sehingga apa yang ditanam dapat tumbuh, dan karena itu mereka tidak membutuhkan peralatan yang canggih untuk menghidupi diri.

Berbeda halnya situasi di Eropa, kondisi lingkungan membuat mereka harus membuat senjata untuk berburu bertahan hidup. Kondisi yang dingin membuat mereka harus berkelana sampai ke Nusantara mencari rempah-rempah sekedar memanaskan badan. Karena persenjataan mereka lebih canggih, walhasil mereka dapat menjajah Indonesia.

Penjajahan ini juga yang membuat saya menolak klaim Nasih tentang tidak adanya diskriminasi ras di Indonesia. Diakui atau tidak, etnis Tionghoa masih menjadi objek rasisme di Indonesia. Bahkan mereka pernah dipersekusi dalam beberapa kesempatan. Suatu hal yang merupakan warisan zaman penjajahan di mana kelompok etnis yang terlebih dahulu mendiami Nusantara dijadikan kelas ketiga setelah Eropa dan Tionghoa oleh Belanda. Sampai hari ini rasisme tersebut masih kentara.

Diskriminasi ras juga tidak perlu disebabkan oleh percaya pada teori evolusi. Misalnya saja kita lihat iklan shampo dan sabun atau produk kecantikan. Mengapa yang ditampilkan hanya model berkulit putih atau kuning langsat? Mengapa tidak ada orang Papua dijadikan model? Ini merupakan suatu bukti bahwa nyatanya bangsa Indonesia masih rasis bahkan terhadap sesama mereka sendiri.

Sesungguhnya pesan Al-Quran bahwa setiap manusia itu setara kecuali dalam hal ketakwaannya sangat mendasar bagi kehidupan manusia. Namun, sekali lagi berat untuk dilaksanakan di manapun. Bahkan dalam sejarah Islam hal ini terjadi. Sebagaimana dilukiskan dengan apik oleh Djarji Zaidan dalam Bendera Hitam dari Khurasan, bahwa terjadi pembedaan kelas antara Arab dan ‘Ajam (bangsa selain Arab). Ini juga yang menjadi kritik kelompok Humanis Arab terhadap ilmuwan tersohor Ibnu Khaldun dan Ibnu Sina yang menyatakan bahwa bangsa Negro dalam aturannya adalah budak sebab mereka mempunyai karakteristik hampir sama dengan binatang yang dungu.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.