Locita

Membela Wanita Bercadar Tanggapan Atas Tulisan Restu Alpiansah "Aku Takut Wanita Bercadar" di Qureta.com

SAYA tertarik dengan tulisan Restu Alpiansah di Qureta.com yang berjudul Aku Takut Wanita Bercadar. Tulisan itu tidak masuk dalam kategori esai, namun cerpen. Kontennya berupa dialog batin tokoh “aku” tentang wanita bercadar. Tidak jelas apakah tokoh “aku” disana merefleksikan pengalaman pribadi penulis ataukah hanya kisah fiktif yang dibuat-dibuat.

Isinya mengenai  ketakutan si tokoh dengan wanita bercadar. Kondisi itu terjadi dari masa kecil hingga besarnya. Ketakutan yang dimilikinya tidak mempunyai argumen yang pasti kecuali dia dibesarkan dalam lingkungan dimana tidak ada wanita bercadar.

Dia menyatakan perasaan takut yang tidak hilang walaupun sudah menginjak usia dewasa. Bahkan saking takutnya dia menjauhi wanita bercadar ketika sudah memasuki dunia kampus. Tidak ada nyalinya untuk berkomunikasi sekalipun.

Dalam kisah tersebut saya melihat ada perspektif sosiologis dan juga psikologis dalam memandang wanita bercadar. Orang bercadar dilukiskan sebagai sesuatu yang baru bagi si tokoh sehingga menimbulkan perasaan takut. Sebuah perasaan yang timbul karena melihat sesuatu yang tidak biasa.

Awalnya saya berpikir, penulis akan menjelaskan sumber lain tentang ketakutan si tokoh. Karena secara pribadi salah seorang kawan juga pernah mengalami hal relatif serupa. Dia kaget tiba-tiba saya belajar memasang sorban lewat situs video. Dia bilang, “Mau jadi teroris kamu?”

Sumber ketakutan seperti ini barangkali bisa dipahami. Kawan tersebut terpengaruh oleh pemberitaan mengenai perang yang terjadi di Timur Tengah dimana para milisi banyak yang bersorban. Apalagi ditambah dengan citra teroris bagi milisi yang tidak sejalan dengan pihak musuhnya.

Penggambaran ketakutan dalam cerita Restu itu, mempunyai tendensi untuk mengkritisi keberadaan wanita bercadar. Sebab mereka aneh, tidak lazim dan bahkan susah untuk dikenali. Bahkan keberadaan mereka merupakan ancaman, sebagaimana ungkapan tokoh “aku”, yang membuatnya siaga. Artinya ada kecurigaan tertentu pada wanita bercadar seakan-akan mereka akan membuat sesuatu yang membahayakan.

Padahal sejauh pemberitaan yang saya temukan, belum ada wanita bercadar yang terjerat kasus kriminal. Yang ada, mereka malah menjadi korban. Jadi sebenarnya tidak cukup alasan untuk mencurigai keberadaan mereka. Ketakutan alias cadar-fobia, yang digambarkan penulis, sangat tidak berdasar.

Hal ini sama dengan tidak beralasannya seseorang yang besar dalam lingkungan pakaian tertutup namun harus takut dengan perempuan yang memakai hot pants dan tanktop ketika merantau ke kota besar. Mereka hanya memiliki preferensi busana yang berbeda.

Dalam masyarakat Indonesia, populernya wanita bercadar baru akhir-akhir ini. Setidaknya setelah dakwah Salafi merebak dimana-mana dan anjuran untuk bercadar muncul. Para wanita yang mengikuti kajian tersebut lambat laun tidak hanya memakai jilbab yang lebar namun juga menutupi wajahnya.

Bagi sebagian orang, bercadar merupakan pengaruh budaya Arab yang masuk melalui kegiatan keagamaan. Namun yang saya lihat, pilihan untuk bercadar bagi mereka tidak sekedar meneladani pakaian perempuan Arab namun juga spiritual. Ada perasaan religiusitas lebih tinggi ketika memakai penutup muka itu.

Setidaknya mereka ingin menghindari  fitnah yang ditimbulkan oleh wajah mereka. Sepakat atau tidak laki-laki yang suka perempuan tentu akan mengobrolkan kecantikan. Apakah pipinya seperti pauh dilayang, dagu bak lebah bergantung, lesung pipit yang begitu manis, atau gigi gingsulnya yang menawan.

Mereka tidak mau kalau laki-laki mempunyai banyak dosa atas kecantikan yang mereka miliki. Sekaligus tidak nyaman kalau ditatap lama-lama karena terpesona akan parasnya. Mereka paham, menurut ajaran agama Islam, seseorang harus menundukkan pandangan ketika bertemu lawan jenisnya.

Disisi lain, pilihan bercadar juga bentuk perlawanan atas eksploitasi kaum hawa. Ini cukup beralasan, sebab wanita hari ini cenderung dilihat fisiknya saja. Sehingga lahirlah operasi plastik, pemutih wajah hingga ragam kosmetik yang tujuannya mempercantik muka perempuan. Padahal perempuan juga mempunyai inner beauty berupa budi yang baik dan kesantunan yang mulia.

Kalaupun pilihan bercadar dianggap pengaruh budaya Arab sebetulnya juga tidak ada persoalan. Sebab berpakaian adalah hak individu yang terserah dia mau mengambil contohnya siapa. Dan tidak ada juga aturan baku tentang pakaian seperti apa yang harus dipakai.

Kedudukan pilihan ini juga berlaku bagi orang lain yang memilih berpakaian ala aktris film Hollywood. Mereka memilih dipengaruhi kebudayaan barat dari pada budaya lain. Bedanya, pada wanita bercadar pakaiannya “lebih banyak”, sebaliknya perempuan yang meneladani aktris Hollywood berpakaian “lebih sedikit”.

Keberadaan wanita bercadar tidak sepatutnya untuk dicurigai. Mereka hanya menjalankan apa yang menurut mereka baik. Selama mereka tidak mengganggu orang lain apa salahnya? Dan tidak perlu pula risih dengan mereka karena alasan apapun. Sebab hal itu tentu juga akan berlaku berupa risihnya perempuan berpakaian tertutup dengan mereka yang pakaiannya lebih terbuka.

Harusnya dengan adanya wanita bercadar seseorang lebih bisa menyelami pilihan busana model lain. Karena dengan keadaan dunia virtual yang tidak bersekat, seseorang bisa saja tertarik dengan model busana dari kebudayaan mana saja. Ini penting untuk menemukan pikiran seperti apa yang membuat mereka berpakaian seperti itu.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Add comment

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.