Locita

Revolusi Mental di Lahan Jagung Dokumentasi Program Acara Tanam Jagung Serentak Kerjasama Kementan dan Nahdatul Ulama

Pagi buta, pukul 06.15 rombongan Humas Kementerian Pertanian bergegas meninggalkan penginapan. Mereka bertolak menuju Kabupaten Pringsewu yang berjarak 37 kilometer dari ibukota Bandar Lampung. Rencananya mereka akan menghadiri acara tanam jagung serentak di seluruh Indonesia yang merupakan kerja sama antara kementerian Pertanian dan Nahdatul Ulama. Saya mewakili Locita.co mendapatan kehormatan untuk turut serta dalam rombongan tersebut.

Tepat pukul 08.20 kami sampai di tujuan. Tepatnya di Desa Pekon Srikaton, Kec. Adiluwih, Kabupaten Pringsewu. Hamparan lahan pertanian yang sangat luas menjadi pemandangan pertama yang kami jumpai. Panitia sudah tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.  Tenda besar lengkap dengan panggung yang berhiaskan kain penutup berwarna hijau khas warga Nahdhiyin membuat acara ini terlihat cukup menenangkan hati. Disamping panggung, bantuan bibit dan alat mesin pertanian (alsintan) sudah berjejer dengan rapih.

Tidak berselang beberapa lama, rombongan menteri pertanian pun tiba. Kedatangan beliau disambut dengan lantunan shalawat dari kelompok santri yang telah disiapkan oleh panitia.

Tanpa terlihat canggung sedikit pun, satu persatu petani yang berada di jalur kedatangan disalami olehnya. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terlihat sangat dekat dengan para petani. Para petani dan panitia juga nampak sangat antusias untuk menyambut kedatangan beliau. Nyaris aturan protokol yang ketat. Tanpa sekat, tak berjarak dengan rakyat.

Setelah memasuki tenda, Master of Ceremony (MC) pun mengarahkan Menteri Amran Sulaiman untuk langsung ke belakang panggung. Sepetak tanah sudah disiapkan lengkap dengan cultivator untuk melakukan aksi simbolis penanaman jagung. Bersama gabungan kelompok tani penerima bantuan, mentan tampak sangat antusias. Petani juga tampak sangat bahagia karena bantuan tersebut jelas lebih memudahkan mereka dalam bercocok tanam.

Menteri Amran juga didampingi oleh Ketua Bidang Ekonomi PB NU, Umarsyah, Asisten Teritorial Angkatan Darat, Mayjen TNI Supartodi, anggota DPD RI, Anang Prihantoro dan Bupati Pringsewu, Sujadi. Hadir juga Direktur Pengadaan Perum Bulog, Bachtiar.

Aksi simbolis ini menandai aksi tanam perdana jagung serentak di seluruh Indonesia. Program ini  mencakup lahan seluas 73.051 hektar yang meliputi Provinsi Lampung, Bengkulu, Kalimantan Timur, Jawa Barat, NTB dan Jawa Timur. Pada awalnya saya beranggapan acara ini akan berakhir sebagai kegiatan seremonial belaka seperti program pemerintah kebanyakan. Heboh saat pembukaan namun sepi saat pelaksanaan.

Namun setelah mendalami fakta lapangan, keraguan saya ini nampaknya tidak berdasar sama sekali.

Pola seperti ini terbukti berhasil mendongkrak produksi jagung nasional secara signifikan. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2014 produksi jagung di Indonesia  sebesar 19,0 juta ton. Peningkatan produksi mulai terjadi pada tahun 2015 menjadi 19,6 juta ton. Pada tahun 2016 produksi jagung masih melanjutkan tren peningkatan dengan capaian produksi 23,6 juta ton. Puncaknya, pada tahun 2017 produksi jagung sudah mencapai 28,94 juta ton.

***

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian sambutan dari pihak-pihak terkait. Sambutan pertama datang dari Bupati pringsewu, bapak Sujadi. Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi program dan bantuan Kementan di antaranya berupa alat mesin pertanian, benih jagung dan padi. Menurutnya, berbagai bantuan Kementan sangat bermanfaat bagi petani, sehingga Kabupaten Pringsewu sampai hari ini tetap swasembada pangan.

“Mari kita sambut dan sukseskan program Kementan sehingga pangan Indonesia terus tersedia,” sebutnya.

Terkait kerja sama Kementan dengan PBNU 2018, adapun bantuan benih jagung di Pringsewu sebanyak 45 ton untuk 3.006 ha yang nilainya mencapai Rp 1,9 miliar. Kementan pun memberikan bantuan untuk Kabupaten Pringsewu berupa padi gogo 1.050 ha, traktor 2 roda 10 unit, pompa air 10 unit, cultivator 5 unit.

Ketua Bidang Ekonomi PBNU, Umarsyah mengatakan kerja sama Kementan dengan PBNU dimaksudkan untuk mendorong peningkatan produksi jagung nasional, sehingga swasembada jagung terus terjaga dan petani semakin sejahtera. Selain itu, untuk menyelesaikan segala persoalan petani.

“Misalnya kesulitan modal dan ketika panen raya, harga jatuh. Inilah tujuan PBNU berjalan bareng Kementan untuk menyelesaikan ini dengan membangun mitra kerja. BNI dan BRI kami ajak memberikan kredit usaha raykat kepada petani dengan bunga rendah,” ujarnya.

“Petani tidak lagi kesulitan modal dan ketika panen Kementan memberikan pengering jagung dan menyediakan pembeli, sehingga tidak perlu khawatir harga jatuh walaupun rendemen rendah,” imbuhnya.

Ke depan, lanjut Umarsyah, kerja sama Kementan dengan PBNU tidak hanya budidaya jagung, tetapi juga pada budidaya padi dan kedelai. Dengan begitu, swasembada padi, jagung dan kedelai bisa diwujudkan.

“Ini penting agar keanehan negara kita yang subur yaitu impor bisa terhapuskan. Indonesia tidak lagi sedikit-sedikit impor. Kita harus kita hentikan,” tegasnya.

***

Sebelum penyampaian sambutan dari menteri pertanian, terdapat sesi acara yang menurut saya patut mendapatkan apresiasi. Pihak penyelenggara menggandeng beberapa lembaga pendanaan baik itu bank konvensional (BNI dan BRI), lembaga pembiayaan syariah, pihak swasta serta BULOG untuk menandatangi nota kesepakatan dengan gapoktan penerima bantuan.

Petani tidak lagi khawatir akan sulitnya akses perbankan. Tidak hanya karena mereka mendapatkan keringanan bunga pinjaman yang rendah (7%) tapi juga karena adanya kepastian pasca panen yan dijamin oleh BULOG.

Setelah penandatanganan nota kesepakatan ini selesai, menteri Amran pun naik ke podium. Beliau memulai sambutannya dengan mengucapkan “tabik pun”. Salam pembuka khas orang lampung ini pun dijawab serentak oleh hadirin dengan mengucapkan “ya pun”.

Dalam kesempatan tersebut Menteri Amran menyampaikan maksud dan tujuan dari program tersebut. Beliau mengatakan bahwa tanam perdana jagung ini merupakan realisasi dari kerja sama Kementan dengan PBNU di tahun 2018 yang totalnya mencapai 100 ribu ha. Kerja sama dimaksudkan untuk mendorong peningkatan produksi jagung nasional, sehingga ekspor jagung terus ditingkatkan dan juga berdampak langsung pada perekonomian umat.

“Hal tersebut sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Presiden Joko Widodo untuk mengentaskan kemiskinan. Kita harus menyanyangi rakyat,” ungkap dia.

Kata-kata menteri Amran ini pun disambut dengan tepuk tangan dari para hadirin. Setelah itu beliau mengajak beberapa orang petani untuk naik ke panggung. Satu persatu petani yang naik ditanyai tentang kendala yang mereka alami selama ini. Salah satu hal yang membuat saya takjub adalah setiap keluhan petani tersebut langsung ditangani olehnya.

“Saya tak tenang pulang ke jakarta kalau masalahnya tidak selesai” ujarnya.

Salah satu momen yang sangat membekas dalam ingatan saya adalah ketika Menteri Amran menanyakan kepada salah satu petani tentang berapa lama waktu kerja yang dia lakukan setiap harinya.

“Saya berangkat ke ladang subuh pak, tapi jam 9 pulang ke rumah karena panas”.

Menteri Amran terlihat tidak senang seraya mengatakan bahwa kebiasaan tersebut harus dirubah.  Dengan tujuan menasehati, beliau menggambarkan etos kerja bangsa lain yang patut kita tiru. Menteri Amran pun memutuskan untuk memberikan benih dengan satu syarat. Petani tersebut harus berjanji dengan modal tersebut dia harus bekerja lebih giat agar kesejahteraan meningkat. Menteri Amran juga berpesan untuk menyisihkan sebagian keuntungannya kepada pemberdayaan umat disekitar

Bagi saya, momen tersebut memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Beliau tidak memandang jargon revolusi mental hanya sebatas jargon abstrak kosong yang nir makna. Revolusi mental itu dimulai dari hal-hal kecil yang banyak diantara kita tak sadari. Bangun subuh, menambah jam kerja dan menyisihkan sebagian keuntungan untuk ulama adalah hal-hal kecil yang diajarkan olehnya.

Tidak hanya memberikan arahan tapi juga memberikan solusi atas permasalahan nyata yang dihadapi oleh masyarakat. Beliau menyentuh sisi emosional terdalam dari petani yang menjadi tombak utama perekonomian kita hari ini.

Tabik pun.

 

 

Alhe Laitte

Founder & CEO Locita.co

Add comment