Locita

Tidak Ada Meikarta Hari Ini Melihat Defisit Hunian dan Gurita Bisnis Properti

Kawasan pembangunan Meikarta (Sumber foto: photo.sindonews.com)

SETERANG cahaya lampu di langit-langit, seperti itulah binar mata seorang Rosita Rifai (40). Sorot matanya menjejali maket rumah di salah satu stand pameran perumahan di atrium Kuningan City, Jakarta Selatan, Minggu (3/7) sore.

Maket itu memancarkan warna kuning. Dengan tampilan rumah beserta interiornya, dalam kotak kaca dia memikat mata siapapun yang melihat. Di kotak satunya lagi, sebuah kompleks hunian dan hotel terlihat dikitari miniatur hutan dan pepohonan. Dia mulai membaca brosur yang diambilnya dari pajangan di pameran tersebut.

Sudah lama sekali Oci (sapaan Rosita Rifai) ingin mencari hunian tetap. Perempuan ini sudah di ibukota ini sejak tahun 2003. Dia sudah tinggal selama enam tahun di sebuah rumah kontrakan seukuran rumah minimalis 35/40 bersama keluarga adiknya (bersama suami dan dua orang anak kecil). Letaknya di dalam gang yang hanya dapat dilalui dua motor yang berapapasan, Jalan Tebet Raya,  Jakarta Selatan.

“Niatnya sih cari rumah dekat tempat kerja atau dekat transportasi publik,” ujar perempuan yang kerja di daerah Pejaten, Jakarta Selatan itu.

Seorang penjaga stand pameran tersebut kemudian mendekati Oci. Dia menegur perempuan asal Makassar itu ramah.

“Mau cari tempat tinggal ya, Bu?”

Rosita Rifai memandangi sebuah maket pameran rumah (Foto: Dhihram Tenrisau)

Oci kemudian menanggapi pertanyaan tersebut. Pertanyaan demi pertanyaan ia lontarkan kepada sales lelaki yang klimis tersebut. Beberapa pertanyaan seputar lokasi perumahan tersebut hingga harganya turut dicecari kepada lelaki yang tinggi menjulang tersebut.

Si penjaga stand kemudian berusaha membuai Oci dengan pelbagai fasilitas yang ditawarkan perumahan tersebut. Kolam renang, gym, hingga gambar taman di brosur yang memikat hati.

“Lokasinya dekat dengan Tol Ciawi, Bu,” ujar lelaki yang sedikit botak itu.

Mendengar itu perempuan yang bekerja di NGO ini mengerutkan kening. Kemudian dia menanyakan harga satu unit rumah tersebut.

“Satu yang tipe villa itu empat miliar, kondominium harganya satu miliar, Bu.

“Apa ada KPR?”

Sales promotion itu menggelengkan kepala.

“Oke, makasih, Pak.” Tanpa pikir panjang, Oci melenggang meninggalkan stand pameran itu dengan bersungut.

Apa yang dialami dokter bencana tersebut adalah dampak dari defisit hunian. Terkhusus di DKI Jakarta, sebagai kota terbesar pertama yang mengalami urban sprawl.  Laporan Badan Pusat Statistik tahun 2015 menyebutkan angka defisit hunian atau backlog di DKI Jakarta. Dalam laporan tersebut disebutnya DKI Jakarta adalah provinsi yang tertinggi di Indonesia, yakni sekitar 1,3 juta unit.

Hanya sebesar 51% warga DKI Jakarta yang telah memiliki rumah sendiri. Sebanyak 34% lainnya kontrak atau sewa, 13% bebas sewa dan 2% tinggal di rumah dinas. Harga tanah yang terus mengalami kenaikan 18% per tahun sementara upah riil hanya tumbuh 10% tiap tahunnya. Padahal ketersediaan hunian ini menjadi faktor utama dalam peningkatan GDP sebesar 9,3% serta investasi sebesar 73%.

Krisis ini juga diutarakan oleh pakar kependudukan, Raldi Hendro Koestoer (72). Saat ditemui di diskusi Suropati Syndicate, Minggu sore (17/7) di Taman Suropati, dosen UI ini memaparkan bahwa defisit hunian ini mulai terjadi di Jakarta sejak tahun 1960-an. Dalam buku Jakarta: Sejarah 400 tahun disebutkan bahwa hal itu disebabkan utamanya karena migrasi.

“Saat itu Jakarta disebut the big villages, di mana berbagai macam suku dan etnis berdatangan di tempat ini. Hal itu terjadi karena adanya urbanisasi untuk kehidupan yang dianggap dapat lebih baik,” tutur Raldi.

Hal ini menurutnya menyebabkan timbulnya urban economics, di nama tempat-tempat untuk hunian di kota memiliki nilai ekonomi yang tinggi.  Sehingga, harga tanah menjadi tinggi disebabkan karena tingginya pajak.

Kesulitan tersebut membuat warga Jakarta untuk mencari tempat tinggal di pinggiran kota (misalnya: Bekasi, Tangerang, atau Bogor) yang memungkinkan akses transportasi untuk mereka dapat bekerja di ibukota. Tiap hari sejumlah 9000 orang tersebut diangkut oleh mode transportasi Busway atau Kereta Rel Listrik (KRL) setiap jamnya. Namun, menurut Raldi itu tidak cukup.

Infografis: La Ode Atri Munanta/Suropati Syndicate

“Idealnya, setiap jam, harusnya 100 ribu orang diangkut masuk ke Jakarta,” tambahnya.

Melihat hal ini, menurutnya developer kemudian melihat peluang. Mereka kemudian dengan menjual hunian-hunian di pinggiran kota Jakarta dengan harga tinggi.

“Jualannya ya, semakin dekat akses ke kota (Jakarta). Itupun disusul harga tanah yang tinggi dan cicilan apartemen yang meroket,” lanjutnya.

***

DI SEBUAH meja bundar di kafe Starbucks Atrium Kuningan City, tergeletak beberapa brosur berdampingan dua gelas plastik kopi. Oci menceritakan kepada suaminya Rifai Maisuroh (35) kronologis kekecawaannya di stand pameran perumahan tersebut. Matanya menyusuri layar ponsel pintarnya sembari kedua tangan mereka bersentuhan. Hingga kini mereka belum mendapatkan hunian yang tepat untuk keluarga mereka.

Dilihatnya beberapa situs yang menjajakan rumah hunian. Salah satunya adalah Meikarta. Oci kemudian menunjukkan situs yang menampilkan hunian vertikal yang dikelola oleh Lippo Group ini. Bobi (sapaan Rifai Maisuroh) langsung menggelengkan kepala. Lelaki yang juga bekerja di NGO ini memiliki alasannya sendiri,

“Hidup di sini seperti tidak manusiawi, seperti hidup di ghetto-ghetto dan terasing dengan lingkungan sosial.”

Pasangan yang berpenghasilan di atas 20 juta rupiah perbulan ini bukannya tidak mampu untuk mendapatkan tempat tinggal. Nyatanya pasangan kelas menengah atas (dalam klasifikasi Asian Development Bank Institute berpenghasilan sekitar 20 hingga 100 USD) ini memang berharap tinggal di hunian yang di mana dekat dengan akses transportasi, tempat kerja, taman, fasilitas untuk bersosialisasi lainnya.

Bobi dan Oci sedang mencari properti menggunakan gawai (Foto: Dhihram Tenrisau)

Namun kesulitan mencari tempat ideal tersebut membuat mereka harus berkompromi.

“Ya, mau tidak mau kami harus realistis bahwa mencari rumah yang hanya berfungsi sebagai tempat untuk bergerak lebih mudah dari tempat kerja. Rumah sebagai tempat peristirahatan,” ujar Oci.

Hal itu juga dijelaskan oleh Raldi. Menurutnya, pandangan rumah dan budaya untuk konteks Jakarta harus menyesuaikan dengan ruang sempit yang tersedia di ibukota ini.

“Mungkin hampir mustahil mendapatkan rumah yang ramah untuk bersosialisasi. Biaya sewanya pasti tinggi. Selain itu, harus berusaha beradaptasi dengan hunian vertikal (baca: apartemen),” tuturnya.

Dia menambahkan bahwa Jakarta perlu belajar dari Jepang dalam mengakali defisit hunian ini. Salah satunya adalah dengan menyediakan sarana transportasi yang murah dan adekuat ke arah kota.

“Jepang mengakali sempitnya ruang di Tokyo dengan membangun sarana-sarana transportasi yang mumpuni untuk para penduduk yang hendak bekerja di kota tersebut,” lanjut peraih doktor dari Griffith University, Australia ini.

Menurutnya dampak dari kepadatan yang disebabkan urban sprawl  dapat diakali dengan menjadikan Jakarta seperti Tokyo yang hanya diisi oleh gedung perkantoran saja. Daerah kawasan-kawasan pemukiman tersebar di pinggiran kota atau luar kota.

Namun dia juga menambahkan perlunya penertiban terhadap developer-developer dalam memonopoli bisnis hunian tersebut. Raldi juga menjelaskan bahwa di Indonesia, sektor properti dikuasai 50-60 persen oleh pihak swasta. Sekalipun itu, Raldi tidak menampik peran sektor swasta tersebut,

“Bukan masalah di bisnis properti. Masalah terjadi ketika tidak ada regulasi yang jelas.”

Dalam hal ini dia memakai sampel Meikarta, yang belum mengantongi izin sepenuhnya. Pun jargon kota mandiri, Meikarta, dalam pandangannya merupakan hal yang mustahil.

Dalam diskusi tersebut yang dilakukan di Taman Suropati tersebut, Marco Kusumawijaya dari Rujak Center for Urban Studies,  memaparkan bahwa Singapura menyerahkan bisnis properti ke swasta setelah 94 persen penduduknya memiliki rumah. Indonesia dalam pemahamannya perlu belajar dari situ.

Diskusi “Defisit Hunian dan Gurita Bisnis Properti” oleh Suropati Syndicate. Dari kanan: Marco Kusumawijaya, Raldi Hendro Koestoer, La Ode Atri Munanta, dan Ajis Talaohu. (Foto: Ajis Talaohu)

Dalam buku Membayangkan Ibu Kota, Jakarta di Bawah Soekarno karya Farabi Fakih, Soekarno memiliki mimpi besar akan ibukota ini. Harapannya, Jakarta menjadi mercusuar bagi semua perjuangan manusia, simbolisasi dari perjuangan melawan imperialisme. Mercusuar untuk kelompok negara yang pernah dijajah seperti Asia-Afrika.

Hingga hari ini,  nyatanya kota ini gagal dalam memperbaiki kehidupan sebagian besar rakyat Jakarta. Salah satunya adalah ketidakmampuan untuk melengkapi kebutuhan primer manusia: papan. Juga melawan penjajahan para developer.

Hal itu pulalah yang dirasakan oleh Oci dan Bobi. Terlebih kelompok masyarakat yang penghasilannya di bawah mereka berdua.

Ironisnya, hal itu di tengah-tengah pemerintah yang mengumbar-umbarkan pertumbuhan sektor properti dan daya belinya yang meningkat di tahun 2016 serta kelas menengah yang akan berkontribusi terhadap pasar properti di Indonesia.

Pasangan itu tidak sendiri. Di belakangnya rentetan pasangan yang kesulitan mencari hunian yang manusiawi di Jakarta dan sekitarnya menumpuk serta sulit mencapai titik terang.

Sekaligus menegaskan bahwa kepemilikan properti di sekitaran Jakarta adalah keterasingan, seperti penggambaran M. Aan Mansyur dalam puisinya, “Tidak Ada New York Hari Ini”.  Ya, tidak ada Jakarta hari ini, juga Meikarta.

Avatar

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Avatar

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.