Locita

Semesta Kebingungan

Penonton wajar menjadi bingung selepas menonton Abracadabra (Faozan Rizal, 2020). Kebingungan terjadi lantaran penonton gagal mencerna apa yang diceritakan film. Dikisahkan, Lukman bermaksud menutup panggung sulapnya dengan atraksi tak istimewa. Ia menawarkan kepada hadirin, adakah di antara mereka yang berkenan membantu atraksinya. Seorang anak kecil dengan penuh sukacita mengacungkan jari. Iwan sempat menyatakan keinginanya menjadi pesulap hebat seperti Lukman, sebelum masuk ke kotak kayu persegi bertuliskan abracadabra dengan pola segitiga terbalik itu dan hilang.

Peristiwa tersebut menjadi pengantar bagi jagat cerita yang dibangun Faozal Rizal. Kotak persegi milik Lukman itu ternyata bukan kotak sembarangan. Ygdrassil namanya. Konon, kotak itu terbuat dari kayu Pohon Kehidupan. Oh, film ini mengajak kita mengingat pelajaran tentang kitab-kitab. Ada Pohon Kehidupan dan Pohon Pengetahuan, kata tokoh Barnas menjelaskan betapa Ygdrassil itu bukan sembarang kotak. Kita mengetahui cerita ihwal Pohon Kehidupan dan Pohon Pengetahuan dari kitab suci hampir seluruh agama.

Ygdrassil merupakan kotak peninggalan Lukito (ayah Lukman) yang juga seorang pesulap. Kotak itu didapat dari gurunya semasa ia belajar sulap di Paris. Menurut pengisahan Barnas, teman sesama pesulap yang dikirim rezim Soekarno untuk mendalami ilmu sulap di akademi ternama, sang guru menghilang dan tak terlacak jejaknya setelah mengajarkan sebuah mantra kepada Lukito. Sejak peristiwa itu, Ygdrassil jatuh ke tangan Lukito.

Di panggung yang direncanakan jadi atraksi sulap terakhirnya itulah Lukman dibingungkan dengan dunia yang selama ini ia geluti. Namanya telah tersohor sebagai pesulap andal, sekaligus di titik itu ia memutuskan hendak berhenti bermain sulap karena ia tidak percaya lagi pada keajaiban. Baginya, keajaiban hanya perkara kecakapan trik di atas panggung. Keajaiban yang kerap ia pertontonkan juga sekadar sebagai hiburan bagi khalayak. Tak lebih dan tak kurang.

Keajaiban itu Ada

Hilangnya Iwan justru di saat Lukman tak ingin atraksi sulapnya berhasil menghebohkan para hadirin yang terdiri dari para pesulap juga. Ada waktu senggang di mana seluruh orang dalam ruang di mana atraksi itu digelar dikelilingi oleh rasa terheran-heran kebingungan. Peristiwa Lukman meminta maaf sembari memberi penjelasan bahwa Iwan tak seharusnya hilang tak lekas diterima hadirin sebagai suatu yang betulan. Mereka mengira hal itu bagian dari kerja sulap Lukman.

Sampai-sampai dua pesulap lain perlu naik ke atas panggung demi membantu mencari jejak Iwan. Mereka melafalkan mantra, mengoreksi mantra, sampai keceplosan membuka trik sulap yang biasa digunakan. Hasilnya nihil. Para pesulap yang biasanya menciptakan keajaiban di atas panggung, dibuat kebingungan ketika keajaiban itu sendiri muncul sebagai sebenar-benarnya kejadian. Iwan dan ibunya hilang begitu masuk ke kotak Ygdrassil. Itu keajaiban yang mencengangkan dan tak pernah diduga.

Setelah peristiwa hilangnya Iwan dan kemudian juga ibunya yang nekad masuk ke kotak persegi itu, penonton diajak bertamasya dari titik kebingungan satu ke kebingungan yang lain.  Hilangnya Iwan menjadi narasi pembuka bagi film ini. Lukman dan seluruh orang kemudian disibukkan dengan petualangan mencari Iwan dan juga memperebutkan Ygdrassil.

Penonton terseret ke dalam petualangan kucing-kucingan antara Lukman dengan tiga polisi yang berkehendak memiliki Ygdrassil. Kita diajak merasai lanskap alam Jogja yang menyenangkan. Dari situs sejarah, museum, pantai, bukit, belantara hutan, mata air tersembunyi dibalik tebing dan pepohonan. Semua itu terekam sebagai ujud visual yang benar-benar hidup dan menantang mata kejut penonton.

Peristiwa demi peristiwa terjadi dengan cepat, meloncat ke sana ke mari, ada kalanya tumpang tindih. Kita misalnya belum jenak mengikuti peristiwa tertentu, tapi sudah diajak berpindah ke peristiwa lain dan lainnya lagi. Menonton film ini rupanya tak disarankan untuk bersikeras memakai kacamata logika umum.

Film Abracadabra yang dikatakan sekian orang termasuk jenis film baru dalam sinema Indonesia rupanya tak mengusung misi mulia menghadirkan semesta cerita sebagaimana film-film lain, tetapi ia menawarkan pengalaman menonton yang baru. Penonton tak disiapkan untuk terbuai terharu oleh alur cerita sepanjang peristiwa menonton, tetapi diharapkan memasuki-mengalami lanskap film yang ditata sedemikian rupa. Latar tempat yang dibuat seolah-olah ada di dunia penuh keajaiban, tata busana unik atau aneh yang mendukung semesta keajaiban yang dibangun, termasuk tata rias yang membuat setiap pemerannya seolah-olah bukan hidup di dunia biasa.

Persoalan Ygdrassil yang melibatkan tiga polisi berhasrat memperoleh keuntungan membuat kantor polisi menjadi salah satu latar tempat yang utama. Kantor polisi ini dihadirkan dengan keseluruhan warna merah muda. Tidak cuma warna tembok, melainkan juga seluruh perabotnya seperti jam dinding, kursi, meja, buku-buku, laptop, sampai ponsel sang komandan.

Isu yang Terselip

Sebenarnya selain membenturkan alur cerita dan/atau pola pikir umum, film ini juga menyelipkan isu-isu sosial di sekitar kita. Keberadaan Datuk yang disebut-sebut sebagai harimau sumatera terakhir yang menjadi kawan perjalanan karir sulap Lukman misalnya. Di panggung atraksi terakhirnya, Lukman sempat melontarkan kegetirannya menyoal habitat hewan langka sejenis Datuk yang mulai hilang oleh polah tingkah serakah manusia. Termasuk peristiwa transaksional alias suap menyuap yang terjadi di kantor polisi. Ini agak relevan.

Dalam peristiwa kilas balik, dimunculkan juga video hitam putih yang menceritakan bahwa pada masa kepemimpinan Soekarno, ia mengirim sekian pesulap Indonesia ke akademi sulap kenamaan di Paris. Gunanya untuk mendalami ilmu sulap sebagaimana ilmu yang berkembang di tataran dunia. Istana Kepresidenan dan Indonesia membutuhkan atraksi-atraksi sulap sebagai hiburan.

Kendati sampai tulisan ini rampung disusun penulis belum menemukan sumber atau dokumen sejarah yang menyatakan kaitan antara Soekarno dan perhatiannya kepada para pesulap, tapi video hitam putih itu sungguh bisa diberi tafsir lain. Video kilas balik itu kiranya hendak mengakui betapa Soekarno ialah presiden yang punya perhatian cukup baik terhadap beragam hal, termasuk dunia sulap di dalamnya. Meski tentu saja tafsir ini sangat bisa diperdebatkan.

Akhirnya, daripada sibuk mencerna alur pengisahan yang melaju dengan gegas, dan tidak semuanya bisa kita olah dengan nalar lurus, penonton barangkali lebih bisa menikmati film Abracadabra dengan pertama-tama menanggalkan logika berpikir yang biasanya. Membiarkan mata dan raga memasuki semesta film yang visualisasinya sangat kaya akan cerita. Yang dengan atau tanpa dialog di antara para pemeran, kiranya kita tetap bisa mengerti apa yang mau dipertontonkan oleh film ini. Seirama dengan tema yang diangkat, mata penonton diajak berselancar di dunia sulap yang sarat keajaiban. Tsah!

Avatar

Rizka Nur Laily Muallifa

Pembaca tak khusyuk. Mengeja kata di Diskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, dan Bentara Muda Solo.

Tentang Penulis

Avatar

Rizka Nur Laily Muallifa

Pembaca tak khusyuk. Mengeja kata di Diskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, dan Bentara Muda Solo.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.