Locita

Pluralisme dan Keberagaman di Synchronize Festival Sehari di Hari Kedua Synchronize Festival

Foto: Dhihram Tenrisau

MAGRIB mengambang di PRJ Kemayoran, Jakarta, Sabtu (07/09), namun suasana tidak lenggang. Anak-anak muda khusyuk menunaikan salat di musalah. Tepat di dinding sebelahnya, beberapa lainnya menenggak anggur atau bir.

Lantunan “Rock the Casbah” milik The Clash berbunyi di tengah venue. Di dekatnya, sebuah stand jualan CD tergelar. David Karto, pemilik label musik Demajors, Jason Ranti, dan beberapa lainnya, bercengkerama perihal “nakal”.

Di sisi lainnya, sebuah bioskop kecil. Berseberangan dengan itu, ruang karaoke melantunkan samar-samar musik koplo. Di tengahnya, seniman mural sedang sibuk bermain dengan kuasnya di sebuah papan.

Berdekatan dengan itu, para penggemar video game sepakbola saling bertanding. Berjalalanlah terus ke utara, para pengunjung yang lapar atau haus sedang menikmati sajian dari food trailer dan gerobak-gerobak.  Di sebelahnya, seorang bule yang asik goleran di buaian berlatar danau.

Iwan (62) dan istrinya duduk santai depan Dynamic Stage. Kedatangannya atas ajakan anaknya yang merupakan panitia kegiatan ini. Hari ini dia datang untuk menyaksikan OM PMR dan Tony Q Rastafara.

“Festival ini menarik karena berbagai musik disajikan beragam dan terbuka, jadi menarik melihat para pendengar mengekspresikan diri,” tutur Iwan.

Betul, festival ini menyajikan lima panggung dengan pelbagai line up lintas aliran. Djali (24) seorang perupa yang menyumbangkan karyanya sebagai artwork acara ini berujar mengenai acara ini, “Menarik, karena kita bisa menghargai perbedaan pilihan. Utamanya ini betul-betul karya anak-anak lokal.”

Gerai rilisan fisik (Foto: Dhihram Tenrisau)

Itulah bagaimana potret sinkronisasi di Synchronize Festival 2017 hari kedua. Tidak ada kerusuhan, saling menghakimi, bahkan tuduhan penista terhadap pilihan-pilihan itu, terlebih persekusi. Yang tua menonton yang muda, juga sebaliknya. Yang bule berpeluh bersama yang lokal.

***

Semua dimulai dari pukul 15.30. Sebuah ruangan dikerubungi oleh penonton yang hendak menyaksikan Jason Ranti. Suasana intim sangat terasa di panggung Gig Stage. Tiada panggung yang membatasi dengan penonton. Poster melapisi dinding dan dibubui warna-warni cat atau pylox yang menyala dalam gelap. Jason Ranti tampil dengan racaunya. Sesekali candaan mesumnya memacu tawa.

“Mau coba kayak Adithia Sofyan,” kelakarnya saat hendak memulai lagu “Variasi Pink”.

Lagu satir dan seharusnya mendapat peringatan hanya untuk di atas 17 tahun, tidak diindahkan oleh Arif (17). Pengap dan kerumunan tidak menurunkan semangat siswa SMA ini untuk merekam di Instagram Story-nya. Dia mengakui kesukaannya akan penyanyi folk ini karena keseringan mendengar koleksi CD kakaknya.

“Saya suka liriknya. Unik sih dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Saya melanjutkan, apakah dia senakal dan sebinal penggambaran di lirik-lirik Jason Ranti, dia hanya terkekeh.

Jason Ranti di Gig Stage (Foto: Dhihram Tenrisau)

Setelah dari situ, saya beranjak ke  Dynamic Stage yang menyajikan Float, “3 Hari Untuk Selamanya”. Di situ saya bertemu rekanan, Yoesrianto Tahir (32), seorang dokter sekaligus peneliti NGO yang memburu Float dan Fourtwenty, band yang membuatnya mengenang dua film favoritnya, 3 Hari untuk Selamanya dan Filosofi Kopi.

Selanjutnya ada Indische Party memeriahkan panggung District Stage. Saya kemudian iseng mampir ke Lake Stage, tempat Pee Wee Gaskins tampil.

Di kurun waktu 2008 hingga 2009 saat musik pop punk dan poni pinggir sedang nge-hits, band ini kerap mendapat lemparan botol atau acungan jari tengah dari para haters. Para penggemar setianya alias Party Dorks memenuhi garis depan panggung. Hampir sepuluh tahun berlalu, hanya sebanjar saja para fansnya dari barikade panggung dan minus haters.  Perubahan lainnya, Dochi Sadega dan Sansan terlihat dengan perut yang membesar.

Saat lagu “Here Up on The Attic” dibawakan, seseorang lelaki berambut keperakan dan berbaju biru bertulis Morrisey berada di samping saya. Adib Hidayat, seorang jurnalis musik senior yang “berselera tinggi” soal musik. Saya penasaran alasannya memilih menyaksikan band  yang di-review kurang baik ketimbang Indische Party. Dia tetawa.

“Saya memang suka semua musik. Sekedar mengenang saja kejayaan pop punk yang dilibas oleh folk,” tuturnya.

Di tengah penampilan mereka, Hello Dangdut dengan “Kopi Dangdut” mengajak penonton menggoyangkan pinggul dan jempol. Tampak Faisal (22) dan pacarnya Dita (22) yang memakai T-shirt Barasuara menikmati goyangan. Dia tidak menampik kesukaannya akan dangdut diluar The Adams dan Barasuara.

Setelah istirahat magrib, salah satu legenda musik folk Indonesia, Ebiet G. Ade hadir dengan gitar elektrik bolongnya. Di kursi plastik dia mulai mendendangkan lagu-lagu lawasnya. Tua-muda yang hadir di sini turut menyanyikan “Untuk Kita Renungkan” dan “Titip Rindu Buat Ayah”. Salah satunya adalah Aisyah Kirana (16). Siswa SMA kelas 3 ini memang tidak lahir di masa single ini bergaung, namun ayahnya yang senantiasa mendengar lagu ini membuat lisannya terbiasa akan liriknya.

Aksi perupa dengan muralnya (Foto: Dhihram Tenrisau)

Menjelang akhir penampilan Ebiet, Presiden Joko Widodo hadir. Langsung saja gawai-gawai teracung tinggi, beberapa orang berswafoto dengan sang presiden.

Rinai hujan membasahi namun tidak mengurung niat para metalhead telah bersiap menyambut Deadsquad di Lake Stage. Turut juga Jokowi hadir di situ. Tatapannya fokus ke arah Stevie Item dkk, seakan menganalisis rumus matematika dari ketukan rapat nan berpresisi dari band death metal ini. Atau mungkin dia terkesima pada moshpit dan wall of death yang terbentuk lewat provokasi sang vokalis, Daniel Mardhany.

Tampak seorang metalhead asal Jerman, Rene. Sambil menggenggam gelas bir, dia menggangguk-anggukan kepala. Dia mengakui kehadirannya di acara ini untuk menonton Deadsquad.

“Saya dengar band ini seminggu lalu di Spotify. Penasaran ingin menonton mereka,” tandasnya.

Melancholic Bitch hadir di Forest Stage. Dikelilingi pohon-pohon rimbun ini menambah kesan gloomy  set list yang mayoritas bernada minor. Ugoran Prasad sukses dengan aksi panggungnya yang sangat teaterikal.

Seharusnya Jokowi hadir di penampilan band ini sehingga dia bisa mengingat lagi janji-janjinya untuk menuntaskan tragedi HAM di negeri ini atau memikirkan ulang mengenai wajib nonton Pengkhianatan G30SPKI. Lagu “Bioskop, Pisau Lipat” menggambarkan bagaimana bahaya laten kebencian yang disusupkan di film tersebut.

Setelah itu saya beralih ke District Stage yang menampilkan Pesta Rap Reunion. Para penonton di stage ini, didominasi oleh para generasi 90-an. Di sini seorang milenial dapat belajar pentingnya film seri Kera Sakti dan pager.

Saya bertemu kembali dengan Uchi (sapaan Yoesrianto Tahir) yang meneteng plastik hadiah hasil memenangkan laga di gerai video game.

The Adams memanaskan Dynamic Stage. Di situ pasangan jurnalis, Muammar Fikrie dan Putri Fitria sedang merayakan keberhasilan menemukan anaknya yang sempat hilang. Lagu “Konservatif” dia plesetkan,“Jam sembilan malam Abang (panggilan anaknya) hilang.”

Beberapa menit kemudian, Elephant Kind menghambur penonton. Bam Maestro seperti hendak berparipurna menjadi seorang bule lewat seringnya umpatan berbahasa Inggris dia lesatkan di jeda antara lagu.

Suasana romantis sangat terasa saat penampilan Fourtwenty. Beberapa penonton yang berpasangan terlihat saling berpelukan. Sialnya, beberapa cowok—yang sendiri—tampak merem melek, entah apa ini sange atau bentuk penghayatan lagu.

Dan acara ini ditutup dengan Orkes Madun Pengantar Minum Racun. Di sini wajah pluralisme melebur dalam tabuhan tabla dan kocokan mandolin, menghambur menggerakkan tubuh.

Melancholic Bitch di Forest Stage (Foto: Dhihram Tenrisau)

Botol anggur bergerak di beberapa orang seakan menegaskan musik orkes seperti ini erat dengan tuak atau alkohol.

Salah seorang yang nampak asik bergoyang adalah Yuni (46). IRT yang tinggal di daerah Kelapa Gading ini hadir bersama 5 orang anggota keluarganya. Seorang anaknya yang entah pergi ke mana. Saya kemudian iseng menanyakan mengenai ketakutannya bila ternyata anaknya menegak alkohol atau mabuk. Penggemar Ebiet G. Ade ini membalas, “Gak masalah sih saat dia minum alkohol. Dia kan sudah dewasa udah tau konsekuensinya.”

Mungkin inilah salah satu wajah toleransi, keberagaman, atau mungkin demokrasi di Indonesia. Seandainya saja festival musik seperti ini tiap hari dilakukan, bisa jadi Indonesia akan lebih damai.

Terlepas dari kenikmatan dan keamanan selama menikmati Synchronize Festival ini, menurut saya festival di hari kedua ini absen dari kolaborasi para penampil yang sering didapatkan di festival-festival yang serupa. Juga tiadanya pementas dari Indonesia Timur rasanya membuat event yang memakai label “berskala nasional” ini kurang pas.

***

Di pemeriksaan tiket saat pulang, di pos seberang saya, seorang lelaki membonceng, terhuyung dan hampir terjungkal dari motornya. Saat palang pintu motor di depan terbuka, sang pengendara melesat, cepat tanpa menyerahkan membayar tiket. Ia meninggalkan penjaga yang tampak geram dan hanya bisa mengumpat membalas kelakuannya.

Di situ saya berpikir, seindah apapun demokrasi, toleransi, dan keberagaman, terkadang bisa kebablasan.

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.