Locita

Kawa Daun: Rasa Nikmat Kolonialisme di Ranah Minang

SEMILIR angin lembut bercampur dengan aroma kemacetan khas Jakarta menyapa tubuh para pekerja nan letih. Bekerja seharian bahkan mungkin lembur, kemudian pulang di malam hari adalah rutinitas mereka.

Adakalanya tidak mereka sadari, waktu begitu cepat berlalu. Hari pun gelap, motor tumpangan meliuk-liuk di antara sempitnya celah antara kendaraan yang kadang lebih kecil dari mulut goa vertikal.

Wajah saya sumringah sesampainya di Kawa Wahidin, sebuah tempat nongkrong asyik di Jalan Abdullah Syafei, Tebet, Jakarta Selatan. Begitu masuk sebuah lukisan di dinding putih sebelah kanan menyambut.

Ada empat pemuda berbaju khas ala Minangkabau dan berdestar lancip di gambar artistik itu. Di atasnya bertuliskan kato nan ampek (kata nan empat). Ya, itu merupakan etika berkomunikasi di Minangkabau, saya berujar dalam hati.

Kato nan ampek memang terdiri empat kategori yakni kato mandata, kato mandaki, kato manurun dan kato malereng. Kato mandata (kata mendatar) berarti etika berkomunikasi dengan teman sebaya. Sebuah cara yang tidak bisa sama apabila berbicara dengan orang yang lebih tua. Orang yang lebih tua harus lebih dihormati maka disebut dengan istilah kato mandaki (kata mendaki).

Kato manurun (kata menurun) maknanya cara bertutur dengan orang yang lebih muda. Mereka harus disayangi, diberikan keteladanan yang baik.

Sedangkan kato malereng (kata melereng) biasanya digunakan untuk dua keluarga yang berbesanan. Misalnya kalau lelaki Minang menikah, dia akan dipanggil dengan gelar khusus oleh keluarga istrinya.

Lukisan Kato Nan Ampek : Etika Berkomunikasi orang Minang. (Sumber Foto: Muhammad Farid Salman Alfarisi RM)

Tidak mau terpaku dengan lukisan, saya ingat rencana akan duduk di lantai dua. Sekalian mendengarkan live music dan melihat serunya orang membanting batu domino dengan semangat, ketika balak enamnya berhasil lolos.

“Lantai dua penuh,” kata abang pramusaji. Walhasil saya terpaksa duduk di lantai satu. Kawa daun original lalu dipesan.

Kawan, keasyikan nongkrong disini memang terletak pada kawa daun. Di tengah gempuran minuman Eropa-Amerika, mulai dari yang pahitnya level maksimum sampai yang bersoda dengan gelembung, kawa daun menghadirkan cita rasa anak negeri.  Warnanya lebih terang daripada kopi dan lebih gelap dari pada teh. Penyajiannya begitu khas dan unik.

Jangan bayangkan minumnya pakai gelas meskipun bisa saja. Wadahnya adalah tempurung kelapa yang bertahta di atas potongan bambu. Bisa diminum tanpa gula kalau ditemani pasangan yang manis lagi menawan. Karena saya masih sendiri, satu dua cidukan gula bolehlah dari pada melirik gandengan orang di kala minum.

Daun kopinya terasa, cangkirnya khas pakai batok kelapa, komentar Syarif seorang aktivis remaja Masjid. Dia kawan baik saya, asli Jawa beraliran ngapak. Yaah, lagi-lagi laki-laki yang menemani. Saya tahu kamu akan berkata demikian, kawan.

Malam itu saya berkesempatan bertanya pada Ferry Busra, salah satu pemilik kafe Kawa Wahidin. Ferry merupakan Alumnus FISIP Universitas Indonesia yang juga tamatan SMAN 1 Padang Panjang. Entah ia bermurah hati untuk sedikit bercerita mengenai ‘rahasia’ kafe ini. Dia menerangkan sambil menunjuk gambar proses pembuatan kawa yang ada di dinding lantai dua.

Lukisan dinding Kafe Kawa Wahidin mengenai proses pembuatan Kawa Daun. (Sumber Foto: Muhammad Farid Salman Alfarisi RM)

Kawa daun memang diracik dari daun kopi. Setelah dipetik, daun kopi dicuci dan dikeringkan. Begitu kering, daun itu kemudian disangrai dengan menggunakan tungku kayu atau diasoki (diasapi).

Kata Ferry, sebetulnya bisa disangrai dengan menggunakan oven jenis tertentu, namun penggunaan tungku membuatnya lebih kerasa kopi. Hasil sangrai dimasukkan ke dalam karung, lalu dijual.

Daun hasil pengasapan itu yang kemudian direbus untuk dijadikan minuman. Adakalanya dicampur dengan kayu manis sebagai penguat rasa. Ferry sendiri mendapatkan bahan racikannya dari kawasan Tanah Datar, Sumatera Barat.

Saya bertanya sekiranya boleh melihat daun kopi yang belum direbus. Ferry menunjukkannya dengan senang hati, bahkan ia bersedia memegang piring berisikan sampel untuk difoto.

Daun kopi kering siap untuk direbus (Sumber Foto: Muhammad Farid Salman Alfarisi RM)

Saya lalu minta izin pulang, setelah dia menjelaskan bahwa dia telah memiliki sebuah kafe yang sama di daerah Margonda, Depok.

Sesampai dirumah, saya mencoba menelusuri sejarah kawa daun, bertanya kepada Ustadz Google. Ada perbedaan pendapat dari beberapa artikel bebas yang ditemukan. Satu pihak menyatakan kawa daun ditemukan sebagai akibat tanam paksa kopi pada zaman Belanda. Semua hasil kopi harus dijual ke Belanda. Penduduk mengakalinya dengan merebus daunnya, supaya tetap bisa ngopi. Di sinilah kawa daun bermula.

Pihak lain menyatakan budaya meminum rebusan daun kopi sudah ada sebelum Belanda masuk ke daerah Minangkabau. Justru Belanda lah yang mengajarkan cara minum kopi. Tak puas hati, beberapa hari kemudian saya menelusuri tulisan ilmiah.

Sejarawan Mestika Zed menjawab rasa penasaran saya dalam artikelnya yang berjudul Dilemma Ekonomi Melayu: Dari Melayu Kopi Daun Hingga Kapitalisme Global. Dia menerangkan bahwa pada abad ke-19 ada ungkapan Melayu Kopi Daun untuk orang Minang apabila Belanda telah kesal. Orang Minang dipaksa untuk menanam kopi dan hasilnya harus disetorkan kepada pemerintah Belanda.

Awalnya tidak masalah sebab orang Minang sudah terbiasa dengan tanaman kopi. Daunnya lebih penting dari pada buahnya. Disinilah saya temukan, ternyata minum kawa sudah pernah ada sebelum sistem tanam paksa bermula. Uniknya kata kawa itu sendiri diambil dari bahasa Arab qahwa yang artinya kopi.

Setelah harga komoditas semakin naik, masalah muncul ke hadapan. Namun alih-alih menyasar orang Minang, persoalan justru timbul bagi Belanda sendiri.

Orang Minang bersedia menanam bibit kopi melebihi permintaan. Hasilnya tidak sepenuhnya lagi disetor kepada Belanda. Mereka menjual sendiri ke pantai Timur hingga sampai ke Malaka. Akibatnya, awal abad ke-20 sistem tanam paksa kopi terpaksa dihapuskan karena Belanda kesulitan mengontrolnya.

Saya lantas berpikir, inilah buah pelajaran peribahasa Minang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Taimpik nak di ateh, takuruang nak dilua. Terhimpit hendak di atas, terkurung hendak di luar. Orang di luar etnis Minang mungkin bertanya, bagaimana caranya? Lihatlah cara orang Minang menghadapi sistem tanam paksa kopi itu.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.