Locita

Cerita Anak Menyembuhkan Diri dari Ayah yang Berpoligami

Ilustrasi: jenecit.com

SAAT kakak saya memutuskan untuk bercerai, hal pertama yang saya ingat adalah anak mereka. Apakah anak itu siap menerima kondisi Ayah dan Ibunya, apakah ia rela dibesarkan dari keluarga yang gagal menyimpan doa-doa pernikahan yang direstukan kepada mempelai?

Pertanyaan serupa sepertinya perlu kita tanyakan juga pada keluarga yang memutuskan untuk berpoligami atau dipoligami. Kebanyakan dari kita memandang poligami hanya dari pihak isteri dan suami tanpa melibatkan dan memperhitungkan posisi anak.

Komnas Perempuan mencatat rekapitulasi kasus perceraian yang diproses pengadilan agama karena alasan poligami pada tahun 2015 sebanyak 7.476. Angka tersebut meningkat dari sepuluh tahun silam.

Dirjen Bimas Islam Departemen Agama menyampaikan bahwa pada tahun 2004, tercatat 813 perceraian terjadi akibat poligami. Tahun-tahun berikutnya angka tersebut terus meningkat. Pada tahun 2005 terdapat 879 kasus, dan meningkat ke angka 983 pada tahun 2006.

Keputusan berpoligami tentu tidak melulu berakhir di meja sidang, ada keluarga yang hidup seperti biasa dan tenang-tenang saja. Secara umum ada dua hal yang mendasarinya.

Pertama, isteri yang rela dipoligami karena sepenuhnya ikhlas berbagi dengan wanita lain. Kedua isteri yang rela dipoligami karena tidak ingin anaknya hidup dalam keluarga yang berstatus perceraian.

Tapi apakah dengan alasan itu kita bisa sepenuhnya yakin, jika tak ada beban moral dan psikologi yang membuntuti kehidupan anak? Setiap anak tentu mendambakan hidup dalam keluarga yang ideal. Rumah yang hangat nan penuh cinta.

Setiap orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendukung impian naka-anaknya itu. Mengutip buku yang ditulis Maidin Gultom, menurut Arif Gosita perlindungan anak adalah segala usaha yang dilakukan untuk menciptakan kondisi agar setiap anak dapat melaksanakan hak dan kewajibannya demi perkembangan dan pertumbuhan anak secara wajar baik fisik, mental, dan sosial.

Perlindungan anak merupakan perwujudan adanya keadilan dalam suatu masyarakat, dengan demikian perlindungan anak diusahakan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Orang tua memiliki peranan yang penting, termasuk dalam pengambilan keputusan berpoligami. Anak idealnya harus dilibatkan.

Tulisan ini mempertemukan saya dengan dua orang anak yang hidup dari keluarga yang bertahan (tanpa perceraian) meski masing-masing Ayahnya memutuskan berpoligami. Alasannya seperti yang saya sampaikan sebelumnya.

Pertama, anak yang dibesarkan dari Ibu yang rela dan ikhlas dimadu. Kedua, anak yang dibesarkan dari Ibu yang tidak menginginkan anaknya mendapatkan tanggungan beban (keluarga yang bercerai); bertahan demi anak.

Sebelum saya mengetahui latar belakang kedua teman dekat saya ini, perkiraan saya,  semuanya baik-baik saja. Mereka nampaknya hidup secara normal dan penuh cinta. Hingga mereka berani menceritakan peliknya kehidupan keluarganya.

Rita dan Rima, saya menggunakan dua nama samaran untuk menghindari munculnya gangguan dan konflik dari luar. Serta demi kenyamanan bersama.

***

Sambil membetulkan posisi kacamatanya, Rita menceritakan kembali masa-masa paling terpuruk dalam hidup keluarganya. Waktu itu ia masih bayi, Ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dengan perempuan yang juga merupakan sekretaris Ayahnya. Rita lahir secara prematur.

“Itu adalah masa dimana Ibu saya sedang stres-stresnya. Saya seperti dikandung dan dilahirkan tanpa kebahagiaan dan keinginan dari Ibu waktu itu.”

Saat Ayahnya menikah, Ibu Rita datang ke pesta pernikahan sang Ayah sambil membopong dirinya. “ Saya gak tahu apa yang ada dalam pikiran Ibu waktu itu, tapi dugaan saya. Ibu pengen agar pernikahan Ayah batal. Tapi ya tetap, tetap terlaksana.”

Dua puluh tiga tahun berlalu, Rita masih belum sepenuhnya menerima keluarga baru Ayahnya. Menurutnya, masih terbayang ingatan-ingatan saat ia kecil. Adegan demi adegan ketika kakak-kakaknya menyuruh Rita agar berpura-pura bertanya dan menangis saat Ayah dan Ibunya berdebat.

“Karena saya yang paling bungsu, Kakak-kakak sering menyuruh saya untuk pura-pura bertanya kepada Ayah atau Ibu. Sebenarnya saya tahu mereka sedang bertengkar, tapi saya menyelesaikan acting itu dengan baik.”

Saat Rita berumur 10 tahun, ia mulai mempertanyakan dan mengunggat keputusan Ayahnya. Mengapa memilih berpoligami. Ia juga mulai memahami mengapa Ibunya bisa mempertahankan pernikahan itu hingga hampir 30 tahun.

Pada suatu malam Ayah Rita datang ke kamarnya. “ Ayah datang dan saya sedang nangis di kamar.

Saya bilang ke Ayah, mau sampai kapan punya dua keluarga. Ayah bilang, memangnya ada jalan lain selain ini,”tutur Rita, bulir air mata mulai menggenangi pipinya.

“Entahlah ini sebuah ‘kecelakaan’ atau nggak,  tapi saya cuma beda setahun dengan adik tiri saya ini. Tapi saya salut,  Ayah sudah bertanggung jawab.”

Rita mengaku hingga saat ini belum berani menanyakan secara tegas keputusan Ayahnya berpoligami. Meski demikian, Rita bersyukur tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Walaupun demikian, butuh waktu 23 tahun untuk memulai menerima adik barunya.

“Saya mulai membuka komunikasi dengan adik saya ini. Sudah sering chat di wa, dan saling memfollow di instagram. Tapi saya belum sanggup bertemu. Saya tahu, dia juga adalah bagian dari tanggung jawab saya kelak. Tapi, mungkin butuh waktu lagi.”

Ada sebuah keanehan, ketika Rita melihat postingan foto-foto adiknya di instagram. Ada seorang laki-laki yang ia tahu itu adalah Ayahnya befoto bersama isteri dan anak-anaknya, tapi itu bukanlah ibu dan saudara-saudara Rita.

“Aneh aja, kalau lihat foto-foto adikku di instagram, terus ada Ayah. Oh Tuhan, foto Ayah sama keluarganya yang lain.”

Rita menuturkan bagaimana ia berbangga dengan orang tua terutama Ibunya yang mampu mempertahankan keluarganya hingga hari ini.

“Meski saya gak bisa merasakan bagaimana lelahnya Ayah yang punya dua keluarga. Bagaimana menyembuhkan luka dan proses Ibu berbagi dengan wanita lain. Terkadang saya heran dengan pasangan yang dengan mudahnya bercerai.”

Ibu Rita sering mengingatkan suaminya untuk mendatangi keluarga keduanya. “ Ayah kan dua hari di rumah Ibu, dua hari di rumah yang satunya. Ibu tuh sering mengingatkan kalau Ayah harus sudah ke rumah isteri keduanya.”

Pergolakan emosi, batin, dan jiwa Rita membenturkannya pada realitas yang lebih kejam. Menurutnya, setiap orang memimpikan hidup yang ideal.

“Tapi kita hidup tidak dari mimpi-mimpi itu Ais. Hidup kita adalah apa yang kita jalani saat ini, detik ini.”

Rita menceritakan bagaimana sulitnya menjalin hubungan dengan laki-laki, ada trauma jika ia kelak memiliki keluarga yang berkonflik dan berpisah.

“Saya selalu takut salah, apa yang saya lakukan selalu terbayang. Apalagi jika punya pacar, suka ada trauma. Takut salah memilih,” tuturnya.

“Tapi aku belajar,  hidup itu gak bisa ideal seperti yang selalu kita bayangkan dan inginkan,” lanjut Rita.

***

Rima datang dari keluarga yang sederhana, Ayahnya merantau dan bekerja di pulau lain. Intensitas pertemuan antara Ayah dan Ibunya sangat rendah. Saat Rima duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Atas, disitulah ia mengetahui jika Ayahnya menikah lagi dan memilih poligami.

“Saya gak terima Ayah nikah lagi, karena caranya gak adil.”

Keputusan Ibunya bertahan bukan karena perasaan cinta ataupun Iba kepada Ayah Rima. Melainkan Ibu Rima tidak ingin jika anak-anaknya dicerca oleh masyarakat karena hidup di keluarga yang telah bercerai.

“Saya tahu mama juga gak mau, tapi mama bertahan karena kami, anak-anaknya.”

Rima mengaku, Ayahnya telah tinggal lama bersama isteri keduanya tanpa menafkahi Ibu Rima. Baik secara materil maupun biologis. Tapi Ayah Rita masih bertanggung jawab akan kehidupan Rima dan kedua saudaranya.

“Dampaknya ke saya jadinya Ayah kurang perhatian, bukan cuma ke saya tapi ke semua anaknya. Saya juga jadi rada males ladeni Ayah kalau lagi ngomong, ya hubungannya jadi nggak sedekat dulu. Perhatian ya perhatian sih sama Ayah sendiri, wajib malah, tapi jadi kaku.”

Meski mengaku menjalin komunikasi dengan isteri kedua Ayahnya, tapi menurut Rima, masih banyak konflik dari keluarga dan kedua adiknya, terutama Ibu Rima.

“Kalau sekarang mah masalah hubungn mereka ya harus diterima tapi kalau dia mau jadi emak gue, belum terima. Aku panggil dia Ibu pun cuma demi menghormati dia sebagai orang yang lebih tua bukan orang tua ya. Karena dia isteri Ayah saya. Kejam kan gue,” tuturnya sambil terkekeh.

Apalagi Rima memiliki tiga saudara yang harus menjalani hari-hari tanpa didikan dari Ayah.

“Adik bungsu saya itu laki-laki, masih kecil waktu Ayah menikah lagi. Ayah menjadi sosok yang paling dibutuhkan tapi mau bagaimana. Kami mungkin hampir tidak bisa bertemu Ayah, sekali dalam setahun mungkin bisa. Atau waktu saya menikah, Ayah datang.”

Rima menceritakan keputusan berpoligami tidak bisa dilarang, sebab menurutnya Tuhan saja tidak melarang. Tapi terkadang, laki-laki berpoligami tanpa mengetahui ilmunya.

“Jatuhnya nanti tidak adil seperti Ayah saya. Menjadi shaleh saja tidak cukup tapi ketahui ilmu poligaminya. Aku mah kasihan jadi dosa ketidakadilannya saja. Suami kalau mau poligami, pelajari dulu ilmunya, pahamkan ke isterinya, tujuannya kan jadi jannah.” Tutup Rima

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.