Locita

Budidaya Udang Vannamei Kian Memikat di Sulselbar

SELAMA dua pekan saya bersama rekan, berkeliling Sulawesi Selatan dan Barat. Kami melakukan perjalanan sejak tanggal 2 hingga 15 Januari 2018. Untuk mengamati kondisi petambak udang Vannamei di wilayah itu, kami menyisir pesisir Maros, Pangkep, Barru, Pinrang, hingga ke Polewali Mandar.

Kemudian menuju Takalar, Jeneponto, Bulukumba, dan Sinjai. Pada umumnya sudah banyak tambak yang panen, selain itu masih ada yang tahap persiapan lahan dan berumur muda.

Lazimnya, perubahan cuaca tidak hanya mempengaruhi suasana batin seseorang, tapi juga berdampak pada udang. Cuaca dapat jadi penentu berhasil tidaknya budidaya udang jenis Vannamei. Vannamei merupakan udang yang secara resmi ditetapkan sebagai salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak 2001.

Sejak itu perkembangan budidayanya sangat cepat. Udang jenis ini memiliki pertumbuhan cepat dan nafsu makan tinggi, namun ukuran yang dicapai pada saat dewasa lebih kecil dibandingkan udang windu (Paneus monodon), habitat aslinya adalah di perairan Amerika. Tapi karena ketahanannya, udang ini bisa hidup di daerah tropis seperti Indonesia.

Namun, saat Kondisi hujan terus menerus, bisa mempengaruhi kondisi Vannamei. Pasalnya terjadi perubahan suhu di tambak, perubahan salinitas atau kadar garam dan keasaman serta kesadahan air tambak. Jika demikian, kondisi tubuh udang akan terganggu, sehingga mudah terserang penyakit. Selain itu, pada suhu rendah disertai konsentrasi limbah yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan sumber-sumber penyakit bagi udang.

Di Pangkep hanya dua pemilik tambak yang beroperasi, yaitu Joko di Minasate’ne dan Yusran di Labba’kang. Keduanya berhasil menahan udang hingga ukuran 50 – 40 ekor/kg atau 20 -25 gram. Petambak lain rata-rata sudah panen dan posisi baru tebar.

Di Barru, tambak yang masih beroperasi hanya milik PT. Esa Putli di Kupa dan H. Maming di Lawellu. Keduanya dapat beroperasi dengan penggunaan teknologi pengaturan air, serta penerapan sistem kolam beton. Tambak – tambak semi intensif atau tambak yang telah menerapkan teknologi seperti kincir dan penggunaan pakan, rata-rata panen cepat, diantaranya banyak mengalami berak putih.

Di Pinrang, yang dominan tambak tradisional plus dan semi intensif, rata-rata telah panen. Hanya tambak supraintensif (penerapan teknologi secara maksimal) Bosowa dan sedikit tambak semi intensif yang bertahan pada ukuran besar. Tambak banyak melakukan panen cepat karena terpapar hujan yang merubah kondisi air serta memicu munculnya penyakit.

Budidaya udang di Polman (foto: Idham Malik)

Selain itu, beberapa tambak terkena penyakit berak putih. Panen cepat lantaran pertumbuhan lambat dan berak putih juga menjangkiti Takalar dan Sinjai. Hanya tambak – tambak tradisional plus di Tarowang, Jeneponto dan di Ujung Loe, Bulukumba yang bertahan.

Hal ini disebabkan karena curah hujan di wilayah selatan ke timur tidak begitu tinggi. Sehingga, bencana banjir, fluktuasi suhu, salinitas dan pH, dan berak putih tidak menjangkiti. Namun, tambak-tambak di Kecamatan Panaikang, Sinjai Timur, rata-rata terpapar berak putih, meski cuaca di sana tidak separah daerah barat Sulsel.

Tambak-Tambak yang Berhasil Bertahan di Musim Penghujan

Tambak di Pangkep menggunakan plastik sistem intensif dengan padat tebar antara 80 – 130 ekor/m2, menggunakan pakan yang efektif serta pengelolaan kualitas air dengan bantuan probiotik, kincir, dan menggunakan sumber air dari sumur bor serta siponisasi, berhasil mengatasi pertumbuhan yang lambat hingga dua tambak di sana dapat mencapai ukuran hingga 25 gram/ekor serta sintasan di atas 80%. Tambak – tambak ini sebelumnya merupakan lahan sawah.

Tambak di Barru yang bertahan adalah tambak yang menggunakan tembok beton. Tambak – tambak ini menerapkan sistem sterilisasi air yang ketat, penggunaan benur berkualitas, serta pakan efektif, kontrol kualitas air secara rutin. Sehingga, gejala-gejala penurunan kualitas air dapat segera dicegah. Selain itu, menggunakan air yang disedot sepanjang lebih dari 100 meter ke arah laut, penggunaan tandon untuk sterilisasi.

Tambak di Suppa Pinrang bertahan dengan sistem tradisional plus, berupa diterapkannya pakan alami serta asupan phronima (were’ sejenis crustacea berukuran kecil). Namun, hanya sebagian kecil tambak yang dapat menumbuhkan udangnya hingga ukuran besar.

Beberapa tambak terkena bencana banjir, sebagian lainnya panen ukuran kecil (200 – 100 ekor/kg) lantaranya mulai terlihat gejala kematian dan pertumbuhan lambat. Selain itu, yang masih beroperasi adalah tambak Bosowa, sebab berada di pinggir pantai yang sumber airnya diperoleh jauh dari laut, serta penerapan sistem teknologi tinggi.

Budidaya udang di Maros (foto: Idham Malik)

Di Polman, rata-rata pertumbuhan masih baik. Budidaya udang Vannamei masih sekitar dua tahun yang berada pada satu kawasan, yaitu Campalagian. Budidaya udang menerapkan sistem intensif dengan dasar tanah dan plastik. Budidaya dengan dasar tanah, terdapat beberapa masalah pada siklus terakhir lantaran daya dukung lingkungan sudah menurun.

Terdapat perbedaan pandangan terhadap metode budidaya dalam satu kawasan tersebut. Ada petambak yang berpandangan bahwa tambak-tambak di daerah tersebut harus menerapkan instalasi pengelolaan limbah (IPAL), sebab dapat menjamin keberlanjutan usaha budidaya. Namun, terdapat petambak yang belum berkeinginan untuk menginvestasikan modalnya untuk penerapan IPAL.

Di Maros, kami memfokuskan dua tambak yang beroperasi, yaitu tambak penelitian BPPBAP Maros di Manrimisi’ serta tambak semi intensif milik warga di Bontoa. Tambak BPPBAP Maros menerapkan sistem intensif di kolam mini, yaitu berukuran 20 x 10 meter.

Kolam tersebut diisi udang sebanyak 25.000 dengan penggunaan pakan yang ketat, serta tidak menggunakan input budidaya yang lain, seperti pupuk. Lingkungan tambak ini pun terjaga dengan adanya komunitas mangrove yang lebat di sekitarnya.

Di Takalar kami mendatangi tambak milik BBAP Takalar di Galesong dan milik Pak Andre di Takalar Lama. Keduanya menerapkan sistem yang terintegrasi dengan lingkungan sekitar. Tambak BPPBAP menerapkan sistem tandon dan IPAL, sedangkan tambak Pak Andre yang terletak di pinggir pantai memanfaatkan kondisi air yang baik di sekitar komunitas mangrove yang lalu dikelolanya dalam sebuah tandon beton. Selain itu, air limbah buangan ditampungnya di kolam tanah yang di dalamnya terkandung rumput laut gracilaria.

Di Jeneponto, kami berhadapan dengan tambak–tambak tradisional plus di Desa Tarowang. Tambak seluas 50 are dipelihara udang vannamei hingga 50.000 ekor. Petambak hanya menambahkan pakan berupa jagung yang dikukus. Pertumbuhan udang baik dan ada yang telah mencapai ukuran 25 gram/ekor.

Di sekitar tambak masih banyak mangrove. Begitu halnya dengan tambak yang terletak di Pantai Binamu yang rimbun tumbuhan mangrove. Kondisi udang sangat baik. Terdapat tambak tradisional lain yang pertumbuhannya agak lambat. Hal ini terjadi karena lokasinya yang agak jauh dari pantai.

Di Bulukumba, hampir semua tambak intensif masih berumur muda, sehingga udang masih sangat kecil. Budidaya udang tradisional berkembang di Ujung Loe, dikelola dengan sederhana, mengandalkan kekuatan alam dalam hal ini pasang surut air serta tersedianya pakan alami berupa kelekap dan plankton.

Rata-rata udang dapat bertahan hingga ukuran besar. Sebagian tambak, pertumbuhannya kurang baik lebih karena kurangnya pakan alami atau tebarannya terlalu tinggi dan tidak didukung oleh pakan buatan.

Sedangkan tambak yang terletak jauh dari permukaan laut, lebih rentan terhadap kematian serta pertumbuhan yang lambat. Hal ini kemungkinan terjadi karena air lebih bersifat tawar. Untuk itu, sangat dibutuhkan perbaikan saluran air dan perlunya dicoba komoditas lain, seperti budidaya gracilaria serta bandeng.

Budidaya udang Vannamei merebak di Sinjai Timur dalam satu tahun terakhir. Kondisi tanah berliat, membuat para petambak menabur kapur untuk meningkatkan konsentrasi pH tanah. Sebagian petambak berhasil panen baik, tapi tidak sedikit yang mengalami panen cepat, lantaran terpapar berak putih. Tidak tanggung-tanggung, petambak intensif yang menggunakan plastik maupun supraintensif juga terpapar penyakit ini.

Budidaya udang yang telah berusia 40 – 50 hari saja masih berukuran sangat kecil, yaitu 5 – 6 gram, selain itu, nafsu makan udang menurun dan dapat menimbulkan penurunan berat badan. Pembudidaya di sana telah mencoba banyak cara, seperti menambah kunyit dalam pakan, hingga menggunakan combantrin atau obat cacing.

Namun, belum membuahkan hasil. Berak putih adalah penyakit yang disebabkan oleh perubahan kualitas air akibat konsentrasi bahan organik yang cukup tinggi.

Oleh karena itu, agar budidaya udang Vannamei dapat bertahan di segala medan cuaca, tetaplah memperhatikan kondisi – kondisi tersebut. Sebaiknya mulai menerapkan konsep budidaya ramah lingkungan yang tetap memerhatikan aspek lingkungan, dalam hal ini ketersediaan tutupan mangrove dan pengolahan limbah air tambak. Agar budidaya dapat bernafas panjang, hingga anak, cucu, dan cicit kita.

Idham Malik

Aquaculture Officer, WWF-Indonesia.

1 comment

Tentang Penulis

Idham Malik

Aquaculture Officer, WWF-Indonesia.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.