Locita

Benarkah Cedera Kaki Menggunakan Koyo atau ke Tukang Pijat? Gelar Seminar Sport injury oleh IDI dan Thomson

Seminar IDI bersama Thomson Medical (foto: Dhihram Tenrisau)

KATA orang, tahun ini adalah tahun politik, tapi tidakkah kita menyadari bahwa tahun ini juga adalah tahun olahraga?

Sebut saja mulai dari penyelenggaran ASEAN Para games, hingga ASIAN Games menanti di tahun ini. Di cabang bulutangkis ada Indonesia Master. Oh iya, jangan lupakan di pertengahan tahun kelak ada World Cup di Rusia.

Tahun olahraga ini kiranya selaras dengan apa yang diinginkan Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek yang menginginkan masyarakat menjadikan olahraga sebagai gaya hidup. Terlebih lewat program Germas (Gerakan Masyarakat Sehat) yang ditujukan untuk menekan perubahan pola penyakit atau transisi epidemiologi ke penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung, dan diabetes yang konon katanya memberatkan pemerintah dan BPJS.

Harapan itu bersambut dengan kesadaran masyarakat akan olahraga.  Antusias terhadap gaya hidup sehat lewat olahraga meningkat, khususnya di kalangan masyarakat perkotaan. Itu dapat dilihat dari rutinnya penyelenggaraan acara olahraga seperti misalnya lari dan senam di tiap car free day (CFD). Perhelatan event tersebut tercatat diikuti oleh ribuan peserta.

Namun, adanya kesadaran untuk gaya hidup sehat tersebut tidak selaras dengan cara pandang masyarakat akan olahraga yang baik dan benar. Hal tersebut dapat memicu adanya cedera olahraga, sport injury yang mengancam.

Nyatanya, cedera terbanyak yang dialami oleh orang yang berolahraga ini adalah di bagian lutut, berkisar 41 persen. Perlu diketahui bahwa cedera lutut inilah yang menyebabkan banyak olahragawan harus pensiun dini di karir-karir mereka yang menanjak. Apalagi dengan girah berolahraga yang tinggi masyarakat awam yang bisa dibilang tidak sefit para atlet profensional tersebut, tentu bahaya tersebut akan mengintai.

Melihat keadaan tersebut, Ikatan Dokter Indonesia bersama dengan Thomson Medical, grup rumah sakit yang salah satunya berfokus di penanganan sport injury itu mengadakan seminar ilmiah bertajuk “Sport Medicine dalam Sport Injury” di Ritz Charlton, Pacific Place, SCBD, Jakarta Selatan, Kamis kemarin (25/1/2018).

Kegiatan yang diselenggarakan ini bertujuan untuk membina kesadaran masyarakat akan sport injury di tahun olahraga ini. Hal itu dijelaskan oleh Country Manager Thomson Medical Centre Treeza Ruth Sihombing.

“Pengalaman Thomson selama hampir 40 tahun memberikan kami pengalaman dalam penanganan berbagai macam kasus. Salah satu yang kini kami geluti adalah sport injury. Apalagi Indonesia akan menyambut ASIAN Games tahun ini, jadi ini sebagai bakti Thomson untuk Indonesia,” tuturnya.

Sedangkan IDI sendiri menuturkan bahwa kegiatan ini adalah upaya untuk memberi pemahaman kepada masyarakat dan profesi dokter untuk sadar akan keselamatan dalam berolahraga.

“Kita perlu tahu, karena cedera olahraga ini bisa juga terjadi bukan hanya saat berolahraga, saat melakukan pekerjaan fisik yang menggunakan otot juga salah satunya,” ujar perwakilan IDI, Rosita Rivai.

Kegiatan yang diikuti puluhan dokter dan masyarakat awam ini menghadirkan materi dari dr. Chiam Tut Foo mengenai “Managing Neck, Lower Back and Knee Pains” dan dr. Veranika Darmidy Sp. Ko dengan topik “Stay Active and Injury Free”.

Dalam materi tersebut, Veranika Darmidy mengutarakan mengenai beberapa kesalahan persepsi masyarakat yang dapat berujung lebih parahnya cedera olahraga. “Sebut saja seperti penggunaan koyo atau yang panas saat cedera. Padahal harusnya mereka harus membedakan dulu mana sprain dan strain atau cramps (keram),” tuturnya saat membawakan materi.

Dalam bahasa Indonesia sprain adalah cedera pada sendi yang melibatkan robeknya ligamen dan kapsul sendi. Sedangkan strain adalah cedera otot atau tendon, sedang cramps adalah keram. Penanganan keduanya menurut Veranika berbeda. Cramps menggunakan panas sedangkan strain dan strain menggunakan yang dingin.

Kesalahan persepsi tersebut, juga berupa dengan adanya kepercayaan umum masyarakat akan tukang urut dalam penatalaksanaan cedera. Bagi Veranika, ini merupakan masalah karena seharusnya masyarakat harusnya segera ke dokter atau pakar fisioterapi untuk menghindari cedera lebih lanjut lagi.

Materi tersebut kemudian diikuti dengan berbagai pemahaman lainnya soal cedera olahraga. Sebut saja mengenai penyebab cedera yang disebabkan ketidakstabilan tubuh dan elektrolit dalam tubuh serta beberapa kesalahan persepsi lainnya seperti yang ditanyakan oleh antusias oleh beberapa penanya.

“Salah satu kesalahan pemahaman lainnya, adalah terkadang kita suka memaksakan dan tidak bertahap dalam melaksanakan olahraga. Maunya langsung lari 5 kilometer padahal jarang olahraga. Ini membaut kita rentan cedera,” tutur dokter lulusan Universitas Indonesia ini.

Setelah seminar, peserta diajarkan cara pemanasan atau stretching yang tepat. Salah satu peserta, Nayla (24) menunjukkan antusiasmenya terhadap kegiatan ini.

“Kegiatan ini memberikan ilmu yang penting kepada saya. Apalagi belakangan ini saya lagi tertarik senam dan lari,” tuturnya.

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Add comment

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.