Locita

Pertempuran Tiongkok Melawan Kecanduan Internet

Sumber Gambar: Medium.com

Banyak pusat perawatan kecanduan internet di Tiongkok menyediakan layanan ‘detoksifikasi’ yang sebagian besar untuk kaum muda. Sementara itu, industri video-game Tiongkok diperkirakan bernilai 30 miliar dolar AS setiap tahunnya

Li Jiazhuo, 14, ‘diciduk’ pada suatu sore di bulan Mei oleh dua pria kekar yang mengidentifikasi diri mereka sebagai petugas Biro Pendidikan untuk menyelidiki pembolosannya dari sekolah. Hanya saja mereka bukan dari Biro Pendidikan, melainkan perawat dari pusat rehab internet yang dijalankan oleh seorang mantan kolonel Angkatan Darat.

Mereka menyeret remaja itu menjauh dari komputer atas perintah ibunya, yang telah menyaksikan putranya melewatkan waktu makan dan tidak tidur untuk bermain game online selama 20 jam sehari selama berminggu-minggu. Game favoritnya adalah League of Legends dan Honor of Kings, keduanya dimiliki oleh Tencent Holdings, raksasa internet Tiongkok yang juga dalang di balik aplikasi pesan sosial WeChat. “Dia telah memisahkan diri dari dunia nyata,” kata ibu Li, Qiu Cuo, sambil menangis ketika menceritakan peristiwa sore itu. “Kami tidak berani memblokir aksesnya ke internet karena khawatir ia akan membahayakan dirinya sendiri. Itu adalah akhir duniaku. ”

Li adalah satu dari sekitar 100 anak laki-laki dan perempuan remaja di Adolescent Psychological Development Base, sekumpulan bangunan seragam yang terletak sekitar 30 kilometer (19 mil) dari pusat Beijing. Mereka didaftarkan, sebagian besar di luar kemauan diri mereka sendiri, oleh orang tua dan wali untuk menjalani perawatan karena kecanduan internet, yang diklasifikasikan di Tiongkok sebagai gangguan mental pada tahun 2008.

Kecanduan internet telah mendapat sorotan baru setelah World Health Organisation menambahkan gangguan gaming dalam klasifikasi penyakit internasional tahun lalu, 10 tahun setelah Tiongkok pertama kali mengklasifikasikannya sebagai ancaman kesehatan masyarakat. Tiongkok kian meningkatkan pengawasannya terhadap industri video game mengikuti arahan Presiden Tiongkok Xi Jinping Agustus lalu kepada pemerintah untuk mencegah rabun jauh di kalangan anak-anak.

Lebih sedikit game baru yang disetujui oleh regulator, dan perusahaan game didorong untuk membangun kontrol guna membatasi jumlah waktu yang dihabiskan anak di bawah umur dalam bermain game. Pada tahun lalu, Tencent, pemimpin pasar, telah memperkenalkan verifikasi usia dan batasan waktu bermain oleh anak muda.

Perusahaan yang berbasis di Shenzhen ini tidak berkomentar lebih lanjut untuk cerita ini. Sebaliknya, asosiasi industri video game dari AS, Kanada, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, Afrika Selatan, dan Brasil telah menolak klasifikasi WHO, menuntut untuk dilakukan pertimbangan ulang keputusan, yang mereka tetapkan “tidak didasarkan pada bukti yang cukup kuat”. Agar diagnosis dapat dibuat, pola perilaku harus cukup parah untuk memengaruhi area-area penting fungsi perilaku setidaknya selama 12 bulan.

Setiap keputusan untuk mengekang permainan video game mengadu kepentingan antara kesehatan masyarakat dengan kepentingan komersial sebuah industri yang menguntungkan. Tiongkok sebagai rumah bagi populasi internet terbesar di dunia dengan lebih dari 800 juta pengguna, memiliki industri video game yang diperkirakan bernilai 30 miliar dolar AS per tahun dalam pendapatan. Pada saat yang sama, bermain video game adalah hiburan yang semakin populer yang menantang mode hiburan lain dalam menarik perhatian dan dompet konsumen.

The Post mengunjungi pusat perawatan di Beijing pada awal bulan ini. Dijalankan oleh Tao Ran, mantan kolonel Tentara Pembebasan Rakyat yang mengepalai unit psikologi tentara, pusat ini adalah salah satu tempat paling awal di Tiongkok untuk mendiagnosis dan mengobati kecanduan internet serta dikatakan telah mengembangkan protokol perawatan yang digunakan di bagian lain negara.

Fasilitas ini terdiri dari beberapa bangunan yang berfungsi sebagai kantin, asrama, dan ruang perawatan, diatur di sekitar halaman terbuka internal yang berfungsi ganda sebagai lapangan basket dan tempat pasien berkumpul untuk berolahraga. Perangkat elektronik tidak diizinkan. Kecanduan internet adalah “masalah besar di Tiongkok” dan memburuk dengan adanya popularitas smartphone, kata Tao, yang memperkirakan bahwa 10 persen remaja Tiongkok terobsesi dengan internet.

“Ini bukan lagi masalah bagi remaja. Kami memiliki anak berusia sembilan tahun dan juga orang dewasa berusia 30 tahun. Kami juga melihat semakin banyak gadis dan anak-anak dari daerah pedesaan.” Beberapa sangat tercandu hingga memakai popok dewasa untuk menghindari keharusan pergi ke toilet dan mengganggu permainan mereka, menurut Tao. Salah satunya ada yang mencuri 30.000 yuan (4.345 dolar AS) dari orang tuanya, pergi ke kafe internet di musim gugur, dan kembali pada musim semi berikutnya. Sebagian besar berusaha untuk melarikan diri dan “sangat menantang dan sombong” pada awalnya, kata Tao. “Tetapi hasilnya jelas setelah berbulan-bulan perawatan.”

Selama bertahun-tahun, laporan berita tentang penyalahgunaan di pusat perawatan detoks ini termasuk penggunaan terapi kejut listrik yang kontroversial, telah mendorong pemerintah untuk meningkatkan pengawasannya terhadap industry tersebut. Tao mengatakan bahwa terapi kejut listrik dan hukuman fisik tidak digunakan di fasilitasnya, yang mengenakan biaya sekitar 10.000 yuan per bulan per pasien dan didirikan pada tahun 2003. Perawatan terdiri dari kombinasi terapi obat, konseling psikologis, latihan fisik, dan kegiatan keluarga, dan biasanya berlangsung setidaknya tiga bulan. Orang tua dan wali diharuskan untuk tinggal di pusat fasilitas, dimana mereka tinggal di asrama yang terpisah dari anak-anak mereka dan menjalani kuliah, seperti pelajaran cara berkomunikasi dengan anak-anak mereka.

Hari biasa di pusat fasilitas dimulai pukul 5 pagi, di mana pasien bangun dari tidur dan berkumpul untuk latihan kamp pelatihan militer pertama dari beberapa rangkaian dalam sehari pukul 6 pagi. Setelah sarapan pukul 7.10 pagi, saatnya untuk sesi konseling, lebih banyak olahraga, dan “kegiatan lain”, sesuai dengan jadwal yang disediakan. Lampu dimatikan pada pukul 21:30. Akhir pekan diperuntukkan untuk kegiatan bersih-bersih, mencuci, lebih banyak olahraga, dan rekap selama seminggu lalu. Ketika kami mengunjungi pusat itu sekitar jam 9.30 pagi, anak-anak sedang berlari, pushup, dan squat mengikuti perintah dari instruktur berseragam tentara. Banyak dari mereka terlihat lesu dan enggan.

Mereka yang memberontak diikat ke tempat tidur mereka dengan pengekangan sampai mereka tenang, sementara kasus yang lebih serius adalah pengisolasian dalam ruangan kecil selama 10 hari, menurut laporan salah satu pasien. Pusat fasilitas membenari penggunaan kurungan isolasi untuk “refleksi diri, seperti di tentara”, tetapi membantah penggunaan alat kekang.

Asramanya sederhana dan fungsional, dengan tiga tempat tidur susun dengan kasur tipis dan tikar jerami di setiap kamar. Barang-barang pribadi disimpan dalam wadah plastik biru dengan nama tertulis di atasnya dan sepatu disusun rapi. Bagi banyak anak-anak di pusat fasilitas itu, ini adalah pengalaman pertama mereka melakukan pekerjaan rumah tangga dan membuat tempat tidur mereka sendiri.

Zhao Xiaojia, 15, ingat hari ia dibawa ke pusat itu di luar kehendaknya. “Saya berteriak pada hari pertama, saya tidak tahu dimana tempat ini dan tidak ingin tinggal di sini,” katanya. “Saya tidak diizinkan bertemu orang tua saya, saya bentrok dengan para penjaga dan diikat ke rangka besi selama setengah hari”. Zhao melakukan obrolan internet QQ selama tiga hari berturut-turut dan menolak melepas earphone-nya bahkan saat tidur.

Ia pergi untuk terapi kelompok di pagi hari, di mana puluhan remaja seperti dia duduk dalam lingkaran dan mendiskusikan berbagai topik dengan psikiater, seperti mengapa mereka mengalami depresi. Kemudian ada sesi konseling individu, kegiatan dengan keluarga, serta pelatihan fisik ala kamp pelatihan. Makan siang di pusat fasilitas biasanya tiga hidangan, nasi, dan sup. “Mie pada Selasa malam,” kata Zhao. Dia telah berada di pusat fasilitas selama 280 hari.

Wang Guoqiang, seorang pekerja pabrik dari provinsi Hebei, telah tinggal di pusat itu bersama putranya selama setahun dan telah menghabiskan lebih dari 150.000 yuan untuk perawatan. Ini adalah beban keuangan yang sangat besar tetapi tidak sia-sia, katanya.

“Kami menghabiskan uang untuk menyelamatkan hidup anak saya,” katanya. “Dia merasakan kehampaan di hatinya dan mencari kesenangan dalam bermain.” Sama seperti putranya yang menjalani konseling, Wang juga mengambil kelas untuk belajar “bagaimana menjadi ayah yang baik”. “Saya percaya anak saya akan menyesuaikan diri dengan masyarakat setelah keluar,” katanya.

=========

Diterjemahkan dari “Inside Tiongkok’s battle to keep internet addiction in check” oleh Celia Chen, South Tiongkok Morning Post. 27 Juni 2019

farraaziza

Tentang Penulis

farraaziza

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.