Locita

Perjuangan Tan Hooi Ling, Co-founder Grab Menghadapi Sorot Media

Para co-founder startup paling berharga di Asia Tenggara kini telah menjadi multijutawan, dengan Anthony Tan yang diperkirakan bernilai hingga 300 juta dolar AS.

Tan Hooi Ling mengatakan awal mula motivasinya adalah untuk memberi solusi permasalahan keamanan taksi Malaysia, tetapi sekarang didorong untuk membantu pengemudi dan pedagang.

Tan Hooi Ling bisa dibilang membantu menjalankan start-up teknologi senilai 14 miliar dolar AS dalam sebuah industri yang menguntungkan bagi jenis orang yang blak-blakan, tetapi ia tidak tampak seperti pembicara TED Talk kesukaan Anda.

Tan adalah salah satu pendiri perusahaan perjalanan Grab yang berbasis di Singapura, yang bermula sebagai perusahaan taksi tetapi hingga saat ini menyediakan segala macam layanan mulai dari pembayaran tagihan hingga pengiriman makanan, dalam prosesnya menjadikannya perusahaan start-up paling berharga di Asia Tenggara.

Selama bertahun-tahun wajah perusahaan ini adalah kepala eksekutif Anthony Tan (tidak ada hubungan keluarga), yang lebih ekstrovert dari keduanya dalam memimpin investor dan berbicara kepada media.

Tetapi baru-baru ini Ling – panggilan akrabnya – harus mengatasi sifat introvertnya dan keluar di hadapan orang-orang. Banyak orang. Ia adalah pembicara utama pada konferensi teknologi RISE di Hong Kong tahun lalu, dan merupakan fokus wawancara di atas panggung yang ditunggu-tunggu dengan Kara Swisher, jurnalis teknologi terkemuka AS dan salah satu pendiri situs berita teknologi Recode.

Ling, 35 tahun, juga ikut memimpin World Economic Forum on Asean tahun lalu, berbicara di Money 20/20 pada bulan Maret dan diwawancarai TV langsung dengan outlet berita seperti Bloomberg dan CNBC.

Ling mengakui bahwa penampilan publik semacam itu adalah bagian dari tugasnya untuk menjalankan Grab, tetapi bahkan tim humasnya tahu untuk hanya menjadwalkan acara seperti itu sekali setiap beberapa bulan. Ia mengakui bahwa keterlibatan seperti itu melelahkan baginya.

“Ketika saya harus melakukan kegiatan rutintitas sehari-hari, konferensi, berada di panel … bukan berarti saya tidak menikmati berbicara dengan orang-orang, namun tetap menguras energi,” kata Ling dalam sebuah wawancara dengan Post. “Setelah melakukannya, aku kemudian hanya akan meringkuk di apartemen atau kamar hotelku sepanjang malam, dengan melakukan kegiatan seperti membaca buku, berjalan-jalan, atau makan seorang diri.”

Dalam seri wawancara ini, dimana seorang jurnalis Post berinteraksi dengan orang yang diwawancarai atas suatu kegiatan pilihan mereka, kami menyesuaikan dengan aktivitas yang sesuai. Kami mempertimbangkan usul untuk swing dancing, yang pernah Ling coba dalam jangka waktu singkat ketika bekerja di San Francisco, namun sayangnya tidak memungkinkan.

Tenis juga terlintas sebagai suatu kemungkinan, tetapi kami akhirnya memilih panjat tebing – suatu kegiatan yang ia nikmati dari acara pembentukan tim di Boulder, Colorado.

Ling hadir tepat waktu untuk sesi panjat tebing indoor pukul 10 pagi dengan kami di Climb Central, gym dengan dinding panjat tebing yang menjulang melalui pusat mal Kallang Wave, di sebelah stadion nasional Singapura.

Mengenakan T-shirt abu-abu gelap, ditambah dengan celana pendek yang dikenakan di atas celana ketat hitam, ia tampak siap untuk dua jam pendakian yang telah kita jadwalkan.

“Ini adalah hal paling menyenangkan untuk memulai hari kerja yang pernah saya alami,” katanya ketika kami memakai peralatan pengaman yang diperlukan.

Sejak kecil, Ling menderita asma sehingga ia rutin melakukan kegiatan fisik untuk membantu menjaga kebugarannya. Setelah mencoba berenang, ia beralih ke bulu tangkis dimana ia berhasil masuk tim negara di saat masih remaja.

Kuat dan ramping, ia memiliki tubuh yang sempurna untuk pemanjat tebing. Bagi Ling, panjat tebing adalah kegiatan yang membutuhkan keseimbangan baik antara strategi dan tindakan. Memanjat serampangan tanpa berpikir panjang akan menguras energi karena Anda bisa jadi tidak mengambil jalan yang paling efisien.

Tetapi jika menghabiskan terlalu banyak waktu untuk merenungkan gerakan selanjutnya dan lengan Anda akan kelelahan terlebih dahulu sebelum Anda mencapai puncak. Mengingat kepribadian analitis dan kontemplatifnya, tidak sulit untuk melihat bagaimana ia bisa tertarik pada kegiatan semacam itu.

Tidak lama kemudian, Ling memanjat tembok di sebelah saya, meraih pegangan tangan dan pijakan yang strategis saat ia menaiki tembok setinggi 12 meter. Sebaliknya, saya berjuang keras untuk naik – kurangnya kebugaran dan kekuatan lengan secara umum menyebabkan saya terjebak di tengah jalan, tidak yakin bagaimana melanjutkannya, namun tidak mau menyerah.

“Lihat pijakan merah di sebelah kananmu? Anda bisa mencapainya, ambil [panjat] dan melangkahlah ke kanan Anda,” Ling menjelaskan dengan sabar. Ia jauh mendahului saya di dinding, tetapi tetap menyempatkan berhenti dan bahkan turun untuk memberi nasihat sambil menunggu saya membuat kemajuan pada pendakian saya.

Seperti yang akan dibenarkan oleh banyak karyawan Grab, bukan tidak biasanya Ling beralih ke mode “pemecah masalah”. Di perusahaan ia mengawasi strategi, operasi orang dan bisnis baru, menghabiskan sebagian besar hari kerjanya dalam rapat untuk menganalisis cara terbaik untuk memajukan perusahaan.

Sementara untuk semua keterampilan manajemen bisnisnya, hanya sedikit yang tahu bahwa latar belakangnya adalah bidang teknik. Tumbuh dalam keluarga kelas menengah di Kuala Lumpur, cintanya untuk bermain-main dengan gadget dan memperbaiki benda-benda datang dari menonton ayahnya melakukan hal yang sama.

Ling mengejar gelar teknik mesin di Inggris yang ia “sangat nikmati” tetapi segera menyadari selama penempatan industri di sebuah perusahaan farmasi bahwa meskipun insinyur sangat penting untuk proses itu, manajer bisnis lah yang menentukan keputusan.

“Untuk benar-benar membuat keputusan terbaik dan menggabungkan apa yang dipedulikan perspektif teknik, Anda harus dapat berbicara dengan manajer bisnis,” kata Ling. “Jika Anda tidak berbicara bahasa mereka, Anda tidak akan bisa melakukan perubahan.”

Ia mulai meneliti program-program master di bidang keuangan dan manajemen dan sekitar di waktu yang sama mendaftar untuk acara yang diadakan oleh perusahaan konsultan McKinsey & Company.

“Ada makanan gratis, dan itu adalah bangunan tingkat 57 tertinggi [di Malaysia] – saya seperti merasa, daftarkan saya,” katanya. “Aku bahkan tidak tahu apa yang dilakukan perusahaan tersebut.”

Tan akhirnya mendapat pekerjaan di McKinsey Malaysia dan memutuskan ia bisa mempelajari keterampilan manajemen bisnis yang ia butuhkan melalui pekerjaan itu. McKinsey kemudian mensponsori pendidikan MBA-nya di Universitas Harvard – dimana ia bertemu salah satu pendiri Grab, Anthony Tan.

Ketika kami pertama kali berbicara dengan Ling pada Juli tahun lalu, ia memberi tahu kami bahwa ia memiliki “prasangka khas” tentang Anthony Tan sebagai putra orang kaya. Saat itu, mitra bisnisnya lebih dikenal sebagai keturunan Tan Chong Motor, sebuah perusahaan Malaysia yang didirikan oleh kakeknya, yang saat ini merakit dan mendistribusikan mobil-mobil Nissan di seluruh Asia Tenggara.

Kemudian, ketika keduanya memutuskan untuk memulai Grab (saat itu disebut MyTeksi) setelah memenangkan kompetisi bisnis berdasarkan gagasan untuk meningkatkan keselamatan bagi penumpang di Asia Tenggara, keluarga dan teman-temannya mulai khawatir.

“Mereka bertanya mengapa saya memulai [Grab] dengan Anthony [yang] dari keluarga kaya … seseorang yang tidak perlu bekerja,” katanya.

Anthony Tan ternyata menjadi salah satu pekerja paling keras yang pernah ia temui dan bersama-sama mereka telah mengarahkan Grab untuk menjadi platform yang melayani ratusan juta pengguna.

Meskipun keduanya telah memulai perusahaan, setelah lulus dengan gelar MBA Ling tetap harus kembali ke McKinsey untuk melayani ikatannya dengan perusahaan, dan kemudian pindah ke Salesforce, sebuah perusahaan perangkat lunak yang berbasis di San Francisco, sebelum kembali penuh waktu untuk bekerja di Grab pada 2015.

Sebelum itu, ia akan menyisihkan waktu dari jadwalnya untuk membantu perusahaan dengan cara apa pun yang ia bisa, bahkan pernah mengambil liburan dua minggu selama waktunya di Salesforce untuk tur lima negara di Asia Tenggara menghadiri pertemuan Grab.

“Itu adalah dua minggu tersulit yang pernah saya kerjakan [untuk waktu yang lama]. Saya menerima banyak panggilan larut malam, ”katanya. “Itu menyenangkan.”

Sementara para co-founder lainnya telah menjadi multijutawan – Anthony Tan diperkirakan bernilai 300 juta dolar AS oleh Forbes tahun lalu – kekayaan bukanlah motivasi utama bagi Ling.

Apa yang mendorongnya, katanya, adalah bekerja menuju apa yang ia yakini, mulai dari motivasi awal untuk memecahkan masalah keamanan taksi Malaysia hingga kini membantu pengemudi dan pedagang di berbagai platform Grab untuk mencari nafkah.

“Saya selalu ingin mencapai titik di mana saya tidak perlu khawatir tentang [uang], dan saya mencapai pada titik tersebut ketika bekerja di San Francisco,” katanya. “Itu adalah akhir dari segalanya bagiku.”

“Saya tidak menerima kekayaan ini begitu saja. Tapi apakah itu yang mendorong saya? Tentu saja tidak.”

Saat sesi kami di Climb Central berakhir, Ling mengucapkan selamat tinggal, meletakkan ranselnya dan pergi ke titik pickup terdekat untuk menunggu jemputan Grab yang akan membawanya kembali ke kantor pusat.

Dalam kesempatan untuk satu pertanyaan terakhir, suatu pertanyaan remeh yag paling sering dilontarkan: Apakah ia mendapatkan prioritas khusus yang menembaknya ke puncak antrian untuk naik Grab?

Jawabannya, seperti yang diharapkan, adalah “tidak” – ia juga mengantri gilirannya seperti orang lain.

“Jika ada masalah yang dihadapi penumpang, kami ingin tahu sehingga kami bisa menyelesaikannya,” katanya.

Dalam beberapa menit, penjemputnya tiba. Ia berpamitan sebelum masuk ke dalam mobil, tidak diragukan lagi menyelam kembali ke dalam tumpukan email dan pesannya saat menarik diri dari kerb – mungkin senang untuk sekali lagi berada di perusahaannya sendiri.

=====

Diterjemahkan dari “Grab co-founder Tan Hooi Ling has had to work hard to embrace the spotlight” oleh Zen Soo, South China Morning Post. 7 Juni 2019

Avatar

farraaziza

Tentang Penulis

Avatar

farraaziza

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.