BeritaFeatured

Pemuda Pengangguran, Bonus Demografi, dan Kesadaran Geografis

Suatu kali ketika pulang kampung ke ranah Minang, saya menjumpai seorang kawan lama. Pada usianya yang ke – 26, dia baru saja menjadi ayah di keluarga kecilnya. Di tengah – tengah percakapan, dia bertanya mengenai pekerjaan yang bisa dia lakukan. Saya lalu menelisik pekerjaanya. Selama ini ternyata dia masih bergantung dengan orang tuanya, sebab penghasilan sebagai buruh di kebun milik tetangganya tidak mencukupi.

Pada kesempatan lain, seorang kawan lagi menghubungi saya. Dia datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Dan pertanyaannya sama, adakah lowongan pekerjaan yang bisa dia isi.

Barangkali banyak lagi kisah-kisah seperti ini. Para pemuda kesusahan mencari pekerjaan dan mereka menganggur. Sedikitnya lapangan pekerjaan di desa dan susahnya mendapatkan pekerjaan di kota, adalah fenomena umum terjadi. Kalau mau berspekulasi, diantara alasannya ketidak sesuaian antara kompetensinya dengan pekerjaan didesa atau kualifikasinya tidak sesuai dengan permintaan lowongan pekerjaan di kota.

Menurut UU No. 40 Tahun 2009 usia pemuda berkisar antara 16 sampai 30 tahun. Atas dasar ini, Merial Institute, lembaga kajian yang concern pada riset terkait isu kontemporer, mencoba melakukan perhitungan dan pengelompokkan mengenai pemuda. Tahun 2016 Indonesia memiliki 62.041.000 orang pemuda. Jumlah itu setara dengan 24,07% dari total keseluruhan penduduk Indonesia. Sebanyak 53,8% pemuda Indonesia tinggal di kota dan sisanya di desa. Data yang paling mengejutkan adalah tingkat pengangguran pemuda lebih tinggi (14,9%) dari pada tingkat pengangguran nasional (5,61%).

Data dari Merial Institute, yang bermarkas di Gedung FS Point di Tebet Jakarta, mesti mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah dan juga masyarakat pada umumnya. Sebab menurut ulasan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Indonesia mulai tahun 2020 sampai 2035 akan menghadapi bonus demografi. Sebuah kesempatan emas dan langka untuk melakukan perubahan dan pembangunan yang signifikan. Prediksinya, pada periode itu angkatan kerja mencapai 64% dari keseluruhan rakyat Indonesia.

Peluang emas tersebut sulit untuk dimanfaatkan apabila banyak pemuda yang menganggur. Sebab akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi dan sekaligus menambah beban negara. Di usia yang seharusnya sudah produktif dan bisa berpartisipasi dengan efektif dalam pembangunan, pemuda akan terseok-seok meratapi hidup.

 

Pembangunan Berkesadaran Geografis

Sebetulnya tidak hanya Indonesia yang menghadapi masalah pengangguran pemuda. Negara maju seperti Inggris pun mengalaminya. Kate Hoskins dalam bukunya Youth Identities, Education and Employment mengutip data dari Department for Business, Innovaton and Skills (DfBIS), bahwa pada tahun 2015 terdapat sekitar 87% sarjana dan 70% non sarjana yang mendapatkan pekerjaan. Sisanya menganggur.

Beberapa penyebabnya antara lain perusahaan tidak hanya membutuhkan kualifikasi seseorang namun juga pengalamannya. Jadi meskipun seseorang sudah sarjana, atau mendapatkan kursus keahlian tertentu, belum tentu suatu perusahaan menerimanya. Terkait hal ini Kate Hoskins juga menceritakan salah satu informan risetnya yang tamatan universitas. Anak muda itu sudah 50 kali melamar pekerjaan namun tidak ada yang menerimanya.

Ihwal penanganan bonus demografi, sudah ada setidaknya dua negara yang bisa dijadikan contoh seperti China dan Korea Selatan. Seperti diberitakan detik.com China berhasil melewati fase itu dengan penguatan industri rumah tangga. Penduduknya diarahkan untuk membuat komponen elektronik. Korea Selatan juga relatif mirip, industri rumah tangga di negara ginseng itu menjadi produsen komponen telepon genggam untuk dipasok ke pabrik-pabrik perakitan.

Mencermati beberapa negara diatas Indonesia harus bisa melewati fase transisi menuju periode bonus demografi ini. Salah satu pilihan jalan adalah mengarahkan pemuda untuk mempunyai kesadaran geografis. Ini terinspirasi dari pernyataan Ishak Rafick, pendidikan di Indonesia belum mempunyai kesadaran geografis, dan hanya menciptakan alumni yang siap menjadi tenaga administrasi saja.

Kebijakan sadar geografi ini penting, sebab potensi sumber daya alam dan hasil bumi di Indonesia cukup banyak. Dan yang paling penting adalah untuk menahan laju urbanisasi ke kota karena sulitnya pekerjaan didesa.

Diantara kunci untuk pelaksanaan kebijakan ini terletak pada Balai Latihan Kerja (BLK) yang tersebar disetiap ibu kota kabupaten/kota diseluruh Indonesia. Poin utamanya pada pelatihan dan kursus untuk mengelola hasil bumi di setiap daerah. Pada daerah penghasil karet contohnya, pelatihan dalam durasi waktu yang cukup diberikan untuk bisa mengolah karet. Ini lebih efektif dari pada anak muda hanya bekerja sebagai penyadap karet dan lalu menjual mentahannya untuk dipasok ke pabrik yang ada didaerah lain.

Begitu juga misalnya dengan daerah penghasil kopi. Para pemuda di area setempat diberikan kursus untuk mengolah kopi dan difasilitasi untuk pengembangan usaha. Jadi kopi yang dipetik dan dikeringkan tidak harus disalurkan semuanya ke industri atau pabrik kopi. Di daerah penghasil kopi sudah terdapat banyak industri rumah tangga yang bisa menghasilkan olahan kopi.

Harapan dari kebijakan berkesadaran geografis ini adalah tumbuhnya industri rumah tangga sesuai dengan potensi hasil bumi di seluruh wilayah Indonesia. Pemuda Indonesia tidak banyak lagi yang menganggur dan menggantungkan nasib dengan mencari pekerjaan ke kota. Lapangan pekerjaan akan tercipta banyak dan pertumbuhan ekonomi akan semakin laju.

Pilihan kebijakan ini wajar untuk dipertimbangkan mengingat dibukanya kran untuk masuk tenaga kerja asing ke Indonesia semenjak pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Persaingan produk dan ketenagakerjaan semakin kompetitif. Penciptaan ruang pekerjaan berbasis geografi sekaligus akan meningkatkan produksi olahan hasil bumi dalam negeri oleh pemuda Indonesia sendiri. Dengan demikian, bonus demografi memang benar menjadi sebuah bonus, bukan menjadi bencana bagi Indonesia sebagaimana dikhawatirkan banyak pihak.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Makan Tak Makan Asal Nyirih

Next post

Mengenal Agama Baha’i dan Ajaran Persatuannya