Locita

Menguatnya Ikatan Anti-Cina antara Hong Kong dan Taiwan

Saat Margaret Thatcher dan Deng Xiaoping menandatangani perjanjian serah-terima Hong Kong dari Inggris ke Cina pada 1997, Asia Timur merupakan tempat yang samasekali berbeda dengan sekarang.

Pada tahun 1984, Cina berada dalam masa awal kebangkitan ekonomi dan sedang mengalami masa paling bebas secara politik dibawah pemerintahan Komunis; Hong Kong merupakan tempat dagang yang sedang meledak dan menjadi salah satu mahkota berlian sisa peninggalan Kerajaan Inggris; lalu ada Taiwan yang tengah berada dalam akhir dari empat dekade pemerintahan militan yang brutal. Pada masa itu, jika Anda bertaruh negara mana yang akan menjadi negara paling bebas dalam 35 tahun kedepan, Taiwan pasti memiliki kemungkinan terkecil.

Sejak itu, Cina telah menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua dan memiliki salah satu kekuatan militer yang cukup kuat di dunia, meski tetap menghabiskan uang untuk keamanan lokal, termasuk untuk kamp konsentrasi yang diperkirakan menahan hingga dua juta Muslim di Xinjiang. Kebutuhan akan Hong Kong bagi Cina sebagai tempat masuk pengaruh asing – dulu berguna pada tahun-tahun awal serah-terima – sudah hilang hampir seluruhnya, dan wilayah tersebut telah dipenuhi demo karena Beijing mengikis kebebasan yang sudah lama dimiliki. Taiwan, yang mana Partai Komunis Cina bersumpah untuk mengambilalih kekuasaannya, menjadi wilayah demokratis pada tahun 1990-an dan telah menjadi fokus pembangunan Cina.

Selama ini, hubungan Hong Kong dan Taiwan terbatas hanya dalam perdagangan dan pariwisata (dan meskipun Beijing menganggap Taiwan sebagai wilayahnya, pemerintahan lokal Hong Kong bahkan tak mengakuinya secara resmi). Hubungan ini mulai berubah, dan ikatan antar keduanya mulai dibangun dari tingkat aktivis pro-demokrasi hingga tingkat pemerintahan.

Pengaruh Cina terhadap Hong Kong dan Taiwan telah menyebar secara bertahap mulai dari perekonomian hingga sistem politik, dan Beijing telah mempromosikan model “satu negara, dua sistem” yang digunakan untuk menggiring Hong Kong ke dalam sistem yang diinginkannya, bila Taiwan mau bergabung secara damai. Tetapi saat pemerintahan pro-Beijing Hong Kong mengabaikan permintaan damai demonstran, dan Cina terus menyerukan tentang “satu negara, dua sistem”, muncul suatu ketidakyakinan apakah Cina benar-benar akan memberi otonomi apapun untuk Taiwan,

para demonstran Hong Kong pun mulai melirik Taiwan dan suatu rasa solidaritas mulai tumbuh diantara keduanya. Hal ini kemungkinan besar akan menjadi sumber kekhawatiran bagi Beijing (dan, tentunya, media pemerintah Cina sudah memperingatkan kedua pihak untuk tidak bekerjasama).

Ketika para petinggi Hong Kong tampak mengabaikan kekhawatiran para demonstran, pimpinan senior di Taiwan justru bicara untuk mendukung demonstran. Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu menyampaikan pada suatu perkumpulan politisi, eksekutif bisnis dan jurnalis di Pertemuan Demokrasi Copenhagen bulan lalu tentang situasi politik Hong Kong yang memburuk sejak diserahkan ke Cina.

Orang-orang Hong Kong telah direnggut hak demokrasinya, beberapa legislator terpilih sudah dipecat karena alasan politis, dan kebebasan jurnalisme mulai dikikis, kata Wu. Menyalahkan Beijing sepenuhnya, ia menyampaikan dukungan untuk sejumlah besar orang yang telah turun ke jalanan Hong Kong untuk menolak rancangan hukum ekstradisi yang kontroversial.

“Kedua wajah demokrasi ini berpegang pada nilai-nilai yang sama, dan jalan serta takdir kami sangat berhubungan erat,” kata Wu tentang Hong Kong dan Taiwan. “Kami sama-sama berada di garis depan melawan perluasan otoriterisme.”

“Taiwan harus berpegang teguh dan berhasil agar orang-orang di Hong Kong dan negara lainnya tetap bisa melihat secercah harapan,” tambahnya. “Kami juga tahu bahwa jika kami jatuh, yang lain bisa jadi akan ikut jatuh.”

Kata-kata Wu meluncur ditengah serangkaian kejadian, demo, dan pertemuan di Taipei maupun Hong Kong, menggambarkan ikatan yang terus menguat antar keduanya. Pada tingkat akar rumput, pengguna Facebook dari Taiwan mengganti foto profil mereka dengan bendera Hong Kong yang digelapkan, sembari mengatur beberapa kegiatan di seluruh negeri untuk menunjukkan dukungan serta menyebarluaskan pengetahuan tentang keadaan buruk di Hong Kong.

Pada 16 Juni, sebuah gerakan di Taipei berhasil menyerap 10.000 peserta, menurut panitianya. Pada Penghargaan Golden Melody di Taiwan – semacam penghargaan Grammy untuk negara-negara berbahasa Cina – musisi Hong Kong sekaligus aktivis Denise Ho berterimakasih pada Taiwan atas dukungannya, sementara sekelompok seniman Hong Kong baru-baru ini merekam sebuah mars solidaritas, dinyanyikan dalam Mandarin dan Kantonis, dua bahasa yang dominan di Taiwan dan Hong Kong secara berturut-turut.

Bahkan di tingkat tertinggi, Taiwan telah membantu pembatalan rancangan hukum ekstradisi, yang tadinya akan mengizinkan Hong Kong mengekstradisi tersangka kriminal ke Cina, Taiwan, atau bekas koloni Portugis, Makau.

Hukum ini tadinya diajukan setelah pembunuhan seorang wanita Hong Kong, Poon Hiu-wing pada bulan Februari 2018 oleh kekasihnya, Chan Tong-kai yang juga warga Hong Kong, saat keduanya sedang liburan bersama di Taiwan. Chan terbang kembali ke Hong Kong dan belum ditangkap, sedangkan Carrie Lam, pimpinan tertinggi Hong Kong, berargumen bahwa rancangan hukum ekstradisi dapat mengizinkan ditangkapnya Chan kembali ke Taiwan agar dapat diadili oleh pengadilan Taiwan. Namun pemerintah Taiwan mengatakan bahwa mereka tak akan menangkap Chan meskipun hukum tersebut diresmikan, semakin meyakinkan orang-orang yang mengkritisi rancangan hukum tersebut sebagai kuda trojan untuk memfasilitasi pemusnahan siapapun yang ingin dimusnahkan Beijing.

Para demonstran akhirnya mendapat sebuah kemenangan kecil, sebagian besar simbolis, setelah berminggu-minggu turun ke jalan, termasuk pada tanggal 9 Juni yang menarik satu juta demonstran damai, menurut panitia. Lam awalnya bilang bahwa ia tak akan tunduk pada oposisi namun pada minggu berikutnya, setelah polisi menggunakan gas air mata, semprotan merica, dan peluru karet terhadap demonstran yang berdemo dengan damai, Lam mengumumkan ia akan menghentikan sementara, tetapi tidak menarik rancangan hukum tersebut. Hal ini belum cukup bagi warga Hong Kong yang menuntut penarikan secara utuh, lalu beberapa hari kemudian demo yang lebih besar pun terjadi, yang menurut para panitia melibatkan sekitar dua juta demonstran.

Karena sebuah sistem memberatkan yang mengizinkan separuh dari 70 anggota legislatif Hong Kong untuk dipilih oleh para pebisnis pro-Cina, dengan separuh lainnya dipilih penduduk, anggota legislatif yang mendukung kebebasan demokrasi menjadi minoritas. Mereka yang menjadi minoritas dalam berjuang untuk kebebasan demokrasi Hong Kong melihat perjuangan yang sama di Taiwan.

“Warga Hong Kong merasa tidak sendirian dalam pertarungan melawan Goliath (raksasa dalam kisah Nabi Daud, red.) ini,” kata Ray Chan, seorang perancang hukum pro-demokrasi di Hong Kong. “Hong Kong dan Taiwan sama-sama berada di garis depan dalam pertarungan global untuk menghentikan otoritarianisme dan kontrol Beijing, kerjasama dan dukungan timbal-balik akan menjadi kunci untuk menjaga kebebasan kita.”

Implikasi hubungan antara Hong Kong dan Taiwan melampaui sekedar tentang rancangan hukum ekstradisi dan prospek demokrasi Hong Kong. Mayoritas warga Taiwan sudah tak setuju untuk bergabung dengan Cina, tetapi jika Beijing tak terlihat bisa mengimplementasikan “satu negara, dua sistem” dengan adil di Hong Kong, prospek macam apa lagi yang kita harapkan, kata para kritikus Taiwan akan Cina. “Kami adalah contoh untuk Taiwan bahwa jika mereka menerima konsep ‘satu negara, dua sistem’ dari Cina, inilah yang akan terjadi pada mereka,” kata Ho, sang musisi, dalam suatu wawancara.

Tsai Ing-wen, Presiden Taiwan, tak menyetujui penggabungan dengan Cina, namun meski merugikan untuk Partai Komunis, rangkaian kejadian di Hong Kong telah memaksa bahkan anggota-anggota paling menonjol dari partai oposisi-bersahabat Cina, Kuomintang, untuk menjauh dari tetangga raksasa mereka. Han Kuo-yu, kandidat yang diinginkan Cina dalam pemilihan bulan ini untuk menjadi penantang Tsai dari Kuomintang tahun depan, mengatakan bahwa jika mereka terpilih, apa yang terjadi di Hong Kong akan terjadi di Taiwan, “langkahi dulu mayat saya”. “Para elit politik Taiwan sedang menonton kejadian-kejadian di Hong Kong dari dekat,” kata Lauren Dickey, analis perihal Cina di CNA, sebuah firma pusat studi di Arlington, Virginia.

Pada level lebih rendah, para aktivis sudah mulai melihat masa depan Hong Kong yang berbahaya untuk Taiwan. Para pemimpin Gerakan Bunga Matahari di Taiwan pada tahun 2014 memiliki hubungan dengan anggota Revolusi Payung di Hong Kong pada tahun yang sama – kedua gerakan protes tersebut terbukti efektif bagi para pemuda untuk memukul mundur pengaruh Cina yang terus tumbuh – dan sejumlah gerakan akar rumput telah diatur di seluruh Taiwan dalam beberapa minggu terakhir ketika demonstrasi di Hong Kong telah memudar.

Monique Wu, seorang terapis drama Taiwan yang tinggal di Taipei, telah berpartisipasi dalam dua gerakan solidaritas sejak pertengahan Juni yang melibatkan orang-orang Hong Kong domisili Taiwan menceritakan kisah mereka, pemuda Taiwan berbagi tentang perasaan mereka, bahkan beberapa pertunjukan teatrikal.

“Efek tirani yang mengerikan mampu menyebrangi lautan dan mempengaruhi seluruh dunia,” katanya. “Bila hari ini kita tidak membela Hong Kong, tidak akan ada yang nanti membela Taiwan.”

=====

Artikel ini diterjemahkan dari “Hong Kong and Taiwan Are Bonding Over China” yang ditulis oleh Christ Horton dan diterbitkan di theatlantic.com

tanjunglarasati

Tentang Penulis

tanjunglarasati

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.