Locita

Dari Kamp Pengungsian Hingga Panggung Catwalk Dunia

Dari Gemma Ward hingga Abbey Lee Kershaw, Catherine McNeil dan Miranda Kerr, 12 tahun yang lalu para model luar negeri Australia yang paling sukses pasti berambut pirang bermata biru, atau berambut merah berkulit putih.

Hari ini, sejumlah supermodel baru Australia telah muncul ke permukaan panggung internasional: hitam legam, dengan tangan-kaki jenjang ala Afrika – khususnya dari Sudan, yang kebanyakan tiba di Australia sebagai pengungsi anak-anak, kabur dari perang sipil di Sudan Selatan.

Mereka tergabung dalam komunitas yang beranggotakan 20.000 orang Sudan Selatan yang sudah pindah ke Australia – bagian dari sebuah kelompok besar dari empat juta orang (menurut perkiraan UNHCR) yang terpaksa pindah karena krisis terus berlanjut di negara termuda dunia tersebut.

Setidaknya delapan model Sudan-Australia melangkahkan kaki di pertunjukan musim gugur 2019: Adut Akech Bior, Achol Ajak Yong (alias “Akiima”), Ajak Deng, Sabah Koj, Duckie Thot, Aweng Chuol, Prince Del dan Adau Mornyang. Mereka mewakili sekelompok model Afrika-Australia yang setidaknya terdiri dari 35 model dalam daftar ahensi model Australia.

Ulasan positif dalam berita tentang kesuksesan mereka sangat kontras dengan judul-judul berita negatif di media Australia selama 18 bulan terakhir tentang meningkatnya kejahatan oleh orang Afrika, yang disebut telah dimulai oleh “geng” pemuda Sudan-Australia – sebuah klaim yang telah disangkal.

Tidak ada yang lebih sukses dari model berusia 19 tahun, Bior, yang dalam tiga tahun setelah pertama muncul di panggung internasional pada September 2016, telah menjadi salah satu model fashion yang paling diminati.

Ia sudah tampil di sampul majalah Vogue versi Paris, Italia, Inggris, Australia, dan Korea, menjadi model untuk hampir semua merek fashion mewah terbesar, dan diminta untuk mempromosikan Saint Laurent, Valentino, Fendi, Versace, Moschino, Coach and Chanel Beauty.

Pada tahun 2018, Bior disebut sebagai model tahun ini oleh otoritas industri modelling online, models.com, dan penghargaan Australian Fashion Laureate; masuk ke dalam daftar 500 pembawa perubahan dalam industri oleh The Business of Fashion BoF; serta masuk dalam daftar 25 Remaja Paling Berpengaruh 2018 oleh majalah Time.
UNHCR sudah menandai pencapaian Bior dalam materi promosinya, dan Bior sendiri menggunakan sosial media – termasuk akun Instagram-nya yang memiliki lebih dari 430.000 pengikut – untuk menarik perhatian akan kesusahan yang dialami para pengungsi.

Menurut orang-orang dalam industri, Bior telah mengubah arah industri untuk para model Sudan lainnya yang berharap bisa sukses di Australia.

“Adut mengubah segalanya,” kata Joseph Tenni, perekrut model internasional di Chadwick Models, yang pertama kali merekrut Bior di akhir April 2016 sebelum merekrutnya untuk 16 pertunjukan di Mercedes-Benz Fashion Week Australia semalam setelahnya. “Sangat luar biasa untuk season pertama seorang gadis.”

Ia menambahkan: “Pernah ada suatu masa, terutama di Australia, saat saya merasa klien tidak mau membuka kesempatan untuk merekrut model yang bukan asal Eropa, tetapi saya rasa masa itu sudah berakhir. Ketika Bior telah menunjukkan bahwa ia pun dapat menjadi model yang laku keras, saya rasa telah banyak ahensi model yang merekrut model Afrika.”

Chadwick mewakili 14 model Afrika-Australia, 10 diantaranya dari Sudan Selatan. Salah satunya adalah Thot, yang naik daun pada tahun 2013 setelah mendapat urutan ketiga dalam serial televisi-realita Australia’s Next Top Model, dan dua pria Sudan, pendatang baru Zac Panyar dan Prince Del – yang terakhir adalah model pria Sudan paling sukses – telah menjadi model Australia dan langganan tampil di catwalk internasional untuk fashion pria.
Cerita Bior sangat berbeda dengan Thot dan Deng, yang keduanya telah mengeluhkan secara terbuka tentang kurangnya kesempatan kerja bagi model kulit hitam di Australia.

Model Sudan-Australia pertama yang menembus dunia internasional, Deng, yang berusia 29 tahun, mulai naik daun di dunia fashion pada tahun 2009, menjadi langganan tampil di panggung internasional, menjadi model sampul majalah i-D dan Vogue Gioiello, serta direkrut untuk mempromosikan diantaranya Kenzo, Calvin Klein serta beberapa majalah prestisius seperti Vogue edisi Amerika Serikat dan Italia.

Deng sempat berhenti menjadi model pada tahun 2016, dengan mengeluhkan tentang rasisme dalam industri fashion. Pada Februari 2014, ia mengklaim di Twitter bahwa ia telah “ditendang” dari pertunjukan musim gugur 2014 di rumah mewah Balmain, Perancis, “karena berkulit hitam”. Pada 2010 ia menyampaikan pada Vogue Italia bahwa beberapa pihak di Australia telah menolaknya dengan berkata, “Maaf mereka mengirim Anda sejauh ini, tetapi kami tidak mau bekerja dengan model kulit hitam.”
Menurut Stephen Bucknall, direktur manajemen FRM Model Management di Melbourne, untuk setiap kesuksesan taraf dunia mereka, hampir semua model Sudan-Australia tetap belum tampil dalam iklan-iklan mahal di Australia. Meski begitu, Bior telah difoto untuk iklan usaha retail Australia, Forever New dan David Jones, sementara Thot sudah tampil dalam iklan Bonds, merek pakaian dalam yang sangat umum di Australia.

“Saya masih belum melihat mereka sebagai bintang utama merek-merek besar [secara lokal],” kata Bucknall, yang tetap berpendapat bahwa sudah ada peningkatan rasa tertarik akan model-model Sudan beberapa tahun terakhir.

“Sudah ada lompatan jauh ke depan [dalam hal perekrutan model-model Sudan] – tentu saja, seratus persen,” kata Bucknall, yang dapat dengan mudah mengklaim dirinya sebagai pionir yang membangun industri untuk model Sudan-Australia; ia terlibat besar-besaran dalam kompetisi kecantikan Miss South Sudan Australia, yang dimulai di Melbourne pada tahun 2007 dan menobatkan Deng sebagai pemenang di tahun 2008. Salah satu hadiah untuknya adalah kontrak dengan FRM Management.

Bucknall juga meluncurkan karir Thot, saudaranya Nikki Thot, dan Koj, yang sudah pindah ke ahensi-ahensi besar.
Ia baru-baru ini juga merekrut saudara Deng, Majok Deng, yang telah mengatakan soal keinginannya untuk menjadi contoh bagi pemuda Sudan-Australia.

Tumbuhnya perekrutan model Sudan-Australia menggambarkan keberagaman yang terus meningkat dalam dunia fashion, terlihat dari perpaduan ras yang terus berubah di atas panggung selama dua tahun terakhir, serta dalam pertemuan dengan kepala editor kulit hitam pertama di Vogue Inggris, Edward Enninful, seorang Briton asal Ghana, serta pria Ghana-Amerika Virgil Abloh sebagai direktur artistik fashion pria untuk Louis Vuitton.

Diantara wajah-wajah baru yang tampil di panggung ialah sejumlah pengungsi Sudan yang pernah tinggal di belahan dunia lain, termasuk Anok Yai, Grace Bol, Shanelle Nyasiase, Angok Mayen dan George Okeny.

Wanita Muslim Somali-Amerika, Halima Aden, juga merupakan salah satu pengungsi yang tengah berkarir di fashion, merebut sejumlah titel “pertama kali”.
Lahir dan besar di Kamp Pengungsian Kakuma Kenya, dimana Bior juga tumbuh besar, Aden pindah ke Amerika Serikat saat berusia tujuh tahun, dan pada tahun 2017 menjadi model pertama yang menggunakan hijab dalam kompetisi kecantikan Miss Minnesota USA, dimana ia berhasil masuk ke semifinal.

Sejak direkrut IMG Models, ia telah berangkat dari model pertama pengguna hijab menjadi model hijab pertama yang tampil di sampul majalah Vogue Inggris. Ia juga tampil di sampul majalah Elle Inggris dan CR Fashion Book. Pada awal tahun ini ia juga menjadi model pertama di edisi pakaian renang tahunan Sports Illustrated dalam balutan hijab dan burkini.

Pada bulan September, Aden akan menambah satu sampul majalah lagi ke dalam daftar pencapaiannya – yaitu menjadi model untuk sebuah merek fashion Australia yang belum diumumkan namanya. Pengambilan gambar akan dilakukan di Sydney, pertengahan Mei ini, dimana Aden juga akan menghadiri Mercedes-Benz Fashion Week Australia.

“Hal yang indah dari industri ini adalah bahwa industri ini benar-benar merayakan wanita dari latar belakang apapun,” kata Aden kepada South China Morning Post di Sydney.

“Saya sangat bangga mengatakan bahwa saya berterima kasih kepada wanita-wanita sebelum saya – kau tahu, para Naomi, para Iman, wanita-wanita kulit berwarna yang memberi jalan bagi saya untuk menjadi wanita pengguna hijab pertama [dalam fashion]. Saya juga sangat senang menjadi pembuka jalan untuk gelombang wanita-wanita selanjutnya.

“Para pengungsi adalah orang-orang yang berkemauan keras. Saya bisa mengatakan apa? Saya tidak kaget ada banyak pengungsi yang akhirnya menjadi model dalam industri ini. Tetapi, hal ini sangat luar biasa.”

=====

Artikel ini diterjemahkan dari “From refugee camp to runway, African fashion models making big strides on the world’s catwalks” yang ditulis oleh Patty Huntington yang diterbitkan di South China Morning Post

tanjunglarasati

Add comment

Tentang Penulis

tanjunglarasati

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.