Locita

Berpikir Kritis dengan 3 Langkah Sederhana

Sumber Gambar: Medium.com

Beberapa tahun yang lalu, seorang CEO meyakinkan saya bahwa perusahaannya adalah pemimpin dalam pasarnya. “Klien kami tidak akan berpaling ke pesaing lain,” tambahnya. “Biaya untuk beralih terlalu besar bagi mereka.” Dalam beberapa minggu, raksasa manufaktur Procter & Gamble memilih untuk tidak memperpanjang kontraknya dengan perusahaan tersebut. Sang CEO terkejut – padahal harusnya tidak.

Selama lebih dari 20 tahun, saya telah membantu organisasi-organisasi yang kesulitan. Terkadang mereka mencari saya karena mereka terjadi salah pengelolaan. Terkadang mereka tidak mengantisipasi perubahan teknologi. Dalam beberapa kasus, anggota tim senior hanya lalai saja. Tetapi dalam pengalaman saya, masalah-masalah organisasi ini memiliki akar penyebab yang sama: Kurangnya pemikiran kritis.

Terlalu banyak pemimpin bisnis yang tidak bernalar ketika dihadapkan dengan masalah mendesak, malah meluangkan waktu untuk mengevaluasi masalah dari semua sisi. Pemimpin seringkali langsung melompat ke kesimpulan pertama, apa pun buktinya. Lebih buruk lagi, para pemimpin C-suite (CEO, COO, dan CIO) hanya akan memilih bukti yang mendukung keyakinan mereka sebelumnya. Kurangnya metakognisi – atau berpikir tentang berpikir – juga sebuah pendorong utama, membuat orang terlalu percaya diri.

Berita baiknya adalah, berpikir kritis adalah keterampilan yang dipelajari. Untuk membantu orang menjadi lebih baik, baru-baru ini saya memulai yayasan nirlaba Reboot Foundation. Berdasarkan pengalaman pribadi dan beberapa hasil penelitian kami, saya telah mengumpulkan tiga hal sederhana yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis Anda:

  1. Pertanyakan asumsi
  2. Bernalar melalui logika
  3. Diversifikasi pemikiran

Mungkin sekarang Anda berpikir, “Saya sudah melakukan itu semua.” Dan Anda mungkin memang sudah, tetapi tidak secara sengaja dan seteliti mungkin. Menumbuhkan tiga kebiasaan utama ini akan sangat membantu Anda menjadi lebih baik dengan keterampilan yang semakin dicari di dunia kerja.

Pertanyakan asumsi

Ketika saya bekerja untuk membantu sebuah organisasi, biasanya saya memulai dengan mempertanyakan asumsi perusahaan. Saya pernah mengunjungi lusinan toko rantai ritel, menyamar sebagai pembelanja. Segera saya temukan bahwa perusahaan tersebut berasumsi bahwa pelanggannya memiliki pendapatan jauh lebih tinggi daripada yang sebenarnya mereka miliki. Keyakinan keliru ini membuat perusahaan menetapkan harga pakaiannya terlalu tinggi. Mereka akan menghasilkan jutaan lebih banyak setiap tahun jika mereka menjual kemeja dan celana dengan harga lebih rendah.

Tentu saja, sulit untuk mempertanyakan segalanya. Bayangkan melalui hari-hari biasa dan bertanya pada diri sendiri: Apakah langit benar-benar biru? Bagaimana jika orang di sebelah saya bukan rekan saya tetapi saudara kembarnya? Bagaimana saya benar-benar tahu bahwa perekonomian tidak akan hancur besok?

Maka langkah pertama dalam mempertanyakan asumsi adalah mencari tahu kapan untuk mempertanyakan asumsi. Ternyata, pendekatan tanya jawab sangat membantu ketika risiko yang dipertaruhkan tinggi.

Jadi, jika Anda sedang berdiskusi tentang strategi jangka panjang perusahaan yang menjadi dasar upaya dan biaya selama bertahun-tahun, pastikan untuk mengajukan pertanyaan mendasar tentang keyakinan Anda: Bagaimana Anda tahu bahwa bisnis akan meningkat? Bagaimana pandangan para ahli menurut ekspektasi Anda terhadap masa depan pasar? Sudahkah Anda meluangkan waktu untuk menempatkan diri sebagai pelanggan, menjadi seoran “pembelanja rahasia”?

Cara lain untuk mempertanyakan asumsi Anda adalah dengan mempertimbangkan alternatif. Anda mungkin bertanya: Bagaimana jika klien kami berubah? Bagaimana jika pemasok perusahaan gulung tikar? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membantu Anda mendapatkan perspektif baru dan penting untuk membantu mengasah pemikiran Anda.

Bernalar melalui logika

Bertahun-tahun yang lalu, saya bertugas merombak habis sebuah divisi dari perusahaan besar di bidang pakaian dalam. Pertumbuhan salah satu lini produk utamanya telah menurun selama bertahun-tahun. Entah mengapa.

Ternyata perusahaan tersebut telah membuat kesalahan dengan alasan generalisasi yang berlebihan, menarik kesimpulan menyeluruh berdasarkan bukti yang terbatas atau tidak cukup. Yaitu, perusahaan percaya bahwa semua pelanggan internasional mereka memiliki preferensi yang sama dalam pakaian. Jadi ia mengirimkan gaya bra yang sama ke setiap toko di seluruh Eropa.

Ketika tim saya mulai berbicara dengan staf dan konsumen, kami menyadari bahwa pelanggan di berbagai negara melaporkan selera dan preferensi yang sangat berbeda. Wanita Inggris, misalnya, cenderung membeli bra berenda dalam warna-warna cerah. Wanita Italia lebih suka bra krem, tanpa renda. Dan mereka yang di Amerika Serikat tertinggi di dunia dalam pembelian bra olahraga.

Untuk perusahaan pakaian dalam ini, meningkatkan penalaran mereka membantu meningkatkan laba perusahaan secara drastis. Kabar baiknya adalah praktik formal logika berawal setidaknya 2.000 tahun dari Aristoteles. Selama dua milenium itu, logika telah menunjukkan kemampuannya dengan mencapai kesimpulan yang masuk akal.

Maka di organisasi Anda, perhatikan baik-baik “rantai” logika yang dibangun oleh argumen tertentu. Tanyakan kepada diri sendiri: Apakah argument tersebut didukung di setiap titik dengan bukti? Apakah semua potongan bukti saling membangun untuk menghasilkan kesimpulan yang masuk akal?

Menyadari kesalahan umum juga dapat membuat Anda berpikir lebih logis. Misalnya, orang sering terlibat dalam apa yang dikenal sebagai pemikiran “post hoc”. Dalam kekeliruan ini, orang percaya bahwa “karena peristiwa Y mengikuti peristiwa X, peristiwa Y pasti disebabkan oleh peristiwa X.”

Jadi, misalnya, seorang manajer mungkin percaya bahwa agen penjualannya mengalami peningkatan penjualan di musim semi karena mereka terbakar semangat dari pidato motivasi yang ditampilkan pada konferensi penjualan tahunan pada bulan Februari – tetapi sampai asumsi itu diuji, tidak mungkin Manajer dapat mengetahui apakah kepercayaannya benar.

Cari keragaman pemikiran dan kolaborasi

Selama bertahun-tahun, saya adalah satu-satunya mitra wanita di tim transformasi McKinsey. Dan hari ini, di saat saya melayani lebih dari setengah lusin dewan perusahaan, biasanya saya adalah satu-satunya orang Asia dan satu-satunya wanita di dalam ruangan selama pertemuan.

Berdasarkan latar belakang dan pengalaman hidup saya, saya cenderung melihat sesuatu secara berbeda dari orang-orang di sekitar saya. Hal tersebut seringkali menguntungkan saya. Tapi saya juga tidak kebal terhadap pemikiran kelompok atau groputhink. Ketika saya berada di sekitar orang-orang yang serupa dengan saya untuk alasan apa pun – usia, politik, agama – saya mencoba untuk meminta sudut pandang yang berbeda. Itu membuat saya menjadi pemikir yang lebih baik.

Wajar bagi manusia untuk mengelompokkan diri bersama orang yang berpikir atau bertindak serupa seperti mereka. Ini terjadi terutama saat online, dimana sangat mudah untuk menemukan ceruk budaya tertentu. Algoritma media sosial semakin mempersempit perspektif kita, hanya menyajikan berita yang sesuai dengan keyakinan individu.

Ini adalah sebuah masalah. Jika setiap orang di lingkaran sosial kita berpikir serupa seperti kita, kita menjadi lebih kaku dalam pemikiran kita, dan kecil kemungkinannya untuk mengubah keyakinan kita berdasarkan informasi baru. Bahkan penelitian menunjukkan semakin banyak orang mendengarkan orang lain yang berpandangan sama dengannya, pandangan mereka akan semakin terpolarisasi.

Sangat penting untuk keluar dari gelembung pribadi Anda. Anda bisa mulai dari yang kecil. Jika Anda bekerja di bidang akuntansi, bertemanlah dengan orang-orang di bidang pemasaran. Jika Anda selalu pergi makan siang dengan staf senior, pergilah ke pesta dansa bersama kolega junior Anda. Melatih diri sendiri dengan cara ini akan membantu Anda keluar dari pemikiran biasa dan mendapatkan wawasan yang lebih kaya.

Dalam bentuk tim, beri semua orang kesempatan yang sama untuk memberikan pendapat secara mandiri tanpa pengaruh kelompok. Ketika saya meminta saran, misalnya, biasanya saya akan menahan preferensi saya sendiri dan meminta anggota tim untuk memberi saya pendapat mereka melalui catatan terpisah. Taktik ini membantu mencegah orang terlibat dalam groupthink.

Meskipun taktik sederhana ini mungkin terdengar mudah atau bahkan terlalu jelas, dalam praktiknya masih jarang terjadi, khususnya di dunia bisnis dan terlalu banyak organisasi tidak meluangkan waktu untuk terlibat dalam bentuk-bentuk penalaran yang kuat. Tetapi buah manis dari berpikir kritis sangat setimpal. Sementara keberuntungan juga memainkan perannya sendiri – kadang kecil, kadang besar – dalam keberhasilan perusahaan, kemenangan bisnis yang paling penting dicapai melalui pemikiran cerdas.

=======

Diterjemahkan dari “3 Ways to Improve Your Critical Thinking” oleh Helen Lee Bouygues, Harvard Business Review 6 Mei 2019. Bouygues adalah presiden dari Reboot Foundation yang berbasis di Paris, mantan mitra di McKinsey & Company, dan telah menjabat sebagai CEO sementara, CFO, atau COO untuk lebih dari selusin perusahaan.

Avatar

farraaziza

Tentang Penulis

Avatar

farraaziza

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.