Locita

Bagaimana Media Sosial Menimbulkan Kecemburuan di Negara-negara dengan Ketimpangan yang Tinggi ( Studi kasus di Indonesia)

  • Postingan yang memperjelas kesenjangan kekayaan antar teman di negara berkembang seperti Indonesia telah terbukti menimbulkan kecemburuan, kegetiran, bahkan depresi.

  • Pejabat di bidang kesehatan masyarakat harus berpikir secara kreatif tentang bagaimana cara mengingatkan warga terkait dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental, kata penulis laporan.

Media sosial telah lama menyediakan platform bagi orang untuk berbagi gambar gaya hidup kesirikan mereka. Tetapi penelitian baru dari Indonesia mengatakan bahwa orang-orang yang suka bersenang-senang saat berlibur atau di pesta-pesta keren dapat berdampak buruk pada orang lain. Data dari Indonesian Family Life Survey mengungkapkan bahwa orang dewasa sering merasa kesal terhadap teman-teman mereka yang lebih kaya setelah melihat unggahan media sosial positif mereka.

Penelitian yang mensurvei 9.987 rumah tangga, dilakukan oleh para ilmuwan sosial di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Yogyakarta di Indonesia, dan akademisi dari Universitas Manchester di Inggris. Studi ini mengamati secara khusus Facebook, Twitter dan obrolan, dan menganalisis 22.423 individu di hampir 300 wilayah di negara yang berpenduduk sebanyak 264 juta ini.

Meskipun efek media sosial terhadap kesehatan mental telah dilaporkan secara global, penelitian baru-baru ini mengungkapkan masalah-masalah khusus di negara-negara berkembang seperti Indonesia.”Dalam kehidupan masyarakat seperti Indonesia dengan ketimpangan yang tinggi seperti itu, media sosial dapat menimbulkan kecemburuan dan kepahitan, karena orang miskin terpapar dengan kebahagiaan dan citra positif dari teman-teman mereka yang lebih kaya,” kata studi tersebut, yang diterbitkan dalam International Journal of Mental Health and Addiction.

Ketimpangan di Indonesia terus meningkat dengan cepat sejak tahun 2000 dan negara ini memiliki ekonomi dengan pertumbuhan tercepat ketiga di antara negara-negara G20. Indonesia pun memiliki kelas konsumen berkembang yang hidupnya sangat kontras dengan orang-orang Indonesia yang kurang mendapat pendidikan atau tidak bisa mendapatkan pekerjaan.

Masa pemilihan umum juga dimainkan di media sosial dengan hasil yang negatif, menurut penulis penelitian. Berita yang sangat ramai tentang kegagalan pemerintah, korupsi, kejahatan, konflik dan kemiskinan diungkap di media sosial setiap hari – memberikan sedikit pelarian bagi netizen.

Tanpa dibekali kemampuan untuk mencegah begitu banyak informasi yang negatif, individu mungkin dihadapkan dengan frustrasi yang memengaruhi kesehatan mental mereka, kata penelitian itu. “Studi tersebut merupakan pengingat ampuh bahwa teknologi ini dapat memiliki kelemahan,” kata rekan penulis, Gindo Tampubolon.

Hal ini diperburuk oleh prevalensi media sosial dan meningkatnya waktu yang dihabiskan orang pada platform ini. Statistik terkini dari Indonesia Internet Exchange menunjukkan bahwa orang Indonesia mengakses media sosial seperti BlackBerry Messenger, WhatsApp, dan Twitter rata-rata setiap 72 detik selama hampir 11 jam setiap hari.

Facebook melaporkan total 54 juta pengguna individu di Indonesia, yang menjadikannya negara pengguna Facebook terbesar keempat di dunia. Sementara itu, Twitter melaporkan 22 juta pengguna Indonesia, yang mempublikasikan 385 tweets per detik, menempatkan negara ini di tempat kelima di seluruh dunia.

Pada saat yang sama, jumlah kasus gangguan mental meningkat di negara ini, dengan perkiraan 11,8 juta orang yang terkena dampaknya, menurut survei terbaru Indonesia Basic Health Research. Para penulis penelitian mendesak pembuat kebijakan untuk mengambil langkah-langkah serius untuk memastikan orang menggunakan media sosial dengan lebih hati-hati.

“Kami ingin melihat pejabat kesehatan masyarakat berpikir kreatif tentang bagaimana kami dapat mendorong warga untuk berhenti dari media sosial atau menyadari dampak negatif yang dapat ditimbulkannya terhadap kesehatan mental,” kata Gindo.

======

Artikel ini diterjemahkan dari “How social media can breed envy in countries with high inequality – lessons from Indonesia detailed in study” oleh Lili Charter yang diterbitkan di South China Morning Post

ophini

ophini

Mahasiswa Kedokteran Hewan di IPB University

Tentang Penulis

ophini

ophini

Mahasiswa Kedokteran Hewan di IPB University

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.