Locita

Apa jadinya jika ARN dan Taqy Malik berada dalam satu meja?

Awan mendung menyambut kedatangan rombongan Andi Rukman Nurdin (ARN) di bilangan Pramuka saat itu. Setelah melakukan sholat jumat di Sunda Kelapa, rombongan memutuskan untuk bersantap siang sekaligus rapat kordinasi dengan tim pemenangan. Sebagaimana yang kita tahu Puang (sapaan akrab ARN) memiliki hajatan besar tahun ini.

Beliau memutuskan untuk maju dalam pemilihan calon legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Beliau merupakan caleg dari Partai Golongan Karya dengan nomor urut 1 untuk daerah pemilihan Jakarta III yang meliputi Jakarta Utara, Jakarta Barat dan kepulauan Seribu.

Meskipun di luar mendung, suasana hati diantara para tim relawan senantiasa hangat. Selain karena ikatan emosional yang telah terjalin cukup lama, kehadiran Akbar konyol (ajudan pribadi) juga menjadi kunci kekuatan tim ini. Ada ada saja tingkahnya yang memancing gelak tawa. Doi selalu berhasil menjadi pelipur lara dari para tim yang bekerja dengan keras di tingkatan grass root untuk menarik simpati para pemilih.

Saya tak hentinya terpingkal-pingkal saat dia dengan gayanya yang khas menirukan kata “ahhhsiaaap” yang sering diucapkan oleh Atta Hlilintar. Meskipun kerap diulang-ulang, aksi dari selebram dengan 911 followers ini tak membuat kami bosan. Dia memang terlahir dengan bakat yang unik. Dia tak butuh banyak energi untuk menghibur orang lain.

****

Namun ada yang berbeda rapat pemenangan kali ini. Kami kedatangan tamu istimewa. Seorang anak muda yang selama ini saya kenali di sosial media dan layar kaca. Dia bernama Taqy Malik.

Di kalangan kaum millennial muslim Indonesia dia cukup terkenal. Bukan hanya karena dia mampu menghapal 30 juz al quran di usia yang masih sangat muda tapi juga karena konon katanya dia bisa menirukan lantunan al quran dari 40 imam besar Arab Saudi.  Uniknya, hafiz ganteng satu ini juga up to date dengan trend fashion terkini.

Sosial media juga menjadi ciri khas jalan dakwah yang ditempuhnya selama ini. Tidak tanggung-tanggung, Followers Instagram lelaki kelahiran 17 Juni 1990 sudah mencapai lebih dari satu juta akun.

Kala itu Taqy tidak sendiri. Dia datang dengan abi dan kedua adiknya. Sesampainya di tempat kami makan, Taqy langsung memeluk dan menyiumi tangan ARN. Mereka terlihat sangat akrab seperti telah mengenal satu sama lain. Ternyata keduanya bertemu saat ARN melangsungkan ibadah umrah beberapa waktu yang lalu.

Setelah bersantap siang keduanya pun berbincang-bincang santai. Mereka memperbincangkan banyak hal dari urusan paling privat sampai urusan publik seperti politik. Awalnya saya menyangka dia akan sama dengan kebanyak anak muda yang alergi terhadap politik. Ternyata dugaan saya salah.

Taqy nampak sangat antusias mendengarkan pemaparan visi misi ARN terutama yang berkaitan dengan agenda memajukan perekonomian ummat. Sesekali dia menanggapi dan memberikan saran. Salah satu obyek yang banyak diperbincangkan adalah Gerakan Belanja Warung Rakyat yang diusung oleh ARN.

Gerakan ini bisa dikatakan sebagai bentuk keberpihakan politiknya untuk memperkuat sektor UMKM. Meskipun upaya pengembangan UMKM sudah banyak diinisiasi dan dilakukan oleh banyak pihak, namun tampaknya belum ada gerakan serius dan berkelanjutan untuk menghadang laju industry ritel dengan modal besar. Warung rakyat tetap saja sulit berkembang karena terkendala permodalan dan sumberdaya manusia.

Menurut penuturan beliau, program ini merupakan hasil refleksi panjang selama beliau bergelut di dunia usaha. Seabrek pengalamannya di dunia usaha dan aktivisme mulai dari Organisasi kemahasiswaan, Profesi, Asosiasi, Sosial, Olahraga dan Kemasyarakatan menegaskan kuatnya kapasitas networking ARN.  latar belakang ini menjadi salah satu kunci kekuatan dalam mewujudkan agenda kerakyatan tersebut.

Saya kadang sering mempertanyakan langkah banyak pengusaha sukses yang masuk ke dunia politik. Apalagi orang sekelas ARN.

Kalau kata anak muda sekarang ARN ini “bukan kaleng-kaleng”

Segenap pencapaian yang telah beliau raih seharusnya membuat kita berkesimpulan bahwa beliau seharusnya sudah selesai dengan dirinya sendiri. Sederet posisi strategis seperti wakil ketua KADIN, Sekjen Gapensi,  dan Anggota Dewan Kehormatan HIPMI merupakan impian dari banyak pengusaha. Lantas untuk apa menghabiskan materi, waktu dan energi untuk menjadi caleg?.

“Terjun ke dunia politik tidak lebih dari sebuah langkah pengabdian”. Demikian penuturan beliau yang selalu saya ingat.

***

Perbincangan antara Taqy dan ARN pun ditutup dengan foto bersama. Meskipun hanya pembicaraan non formal namun ada banyak hikmah yang bisa saya tangkap. Keduanya mewakili dua generasi yang berbeda dengan cara pandang yang berbeda pula.

Namun, kita tengah berada di zaman yang telah berubah. Industri revolusi 4.0 meniscayakan pesatnya laju pemanfaatan dan pertumbuhan teknologi. Siapapun itu baik pelaku usaha maupun politisi dituntuk untuk menyesuaikan diri. Agar tidak terdisrupsi, kolaborasi menjadi kata kunci untuk wujudkan inovasi.

Ada baiknya kita bersabar untuk menunggu kolaborasi mereka berdua di masa yang akan datang.

 

 

admin

tukang utak-atik locita.co

Add comment

Tentang Penulis

admin

tukang utak-atik locita.co

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.