Locita

Trialektika Ruang: Merawat Indonesia

Hal menarik yang menjadi perdebatan di kajian sosiologi ruang adalah hipotesa yang mengatakan jika masyarakat hari ini tengah bergerak dari masyarakat historis kepada masyarakat geografis.

Dialektika

Sebagian ada yang mengatakan jika hari ini muncul kembali kecenderungan di masyarakat kita untuk memutar ulang sejarah kepada satu titik waktu yang dianggap ideal pada masa lalu. Hastaq sepert: “Piye Penak Jamanku To”, “Bahaya neo-orba”, kebangkitan kembali PKI, khilafah dan masa-masa sebelum sekarang kembali ditarik sebagai diskursus. Ia digunakan untuk membandingkan kondisi hari ini yang dianggap tidak lebih baik dari masa itu.

Model pendekatan strukturalis seperti ini dikenal dalam ilmu sosiol sebagai konstruksi dialektika materialisme-historis. Sebuah teori dasar dari Karl Marx tentang dialektika material sebagai dasar pergerakan masyarakat.  Menurut kebanyakan pemikir Marxist, sejarah masyarakat adalah sejarah pertentangan dan karenanya sejarah (his-story) adalah persoalan bagaimana membentuk persepsi tentang waktu dari mereka yang muncul sebagai pemenang.

The ruler class (kelas pengatur) yang muncul sebagai pemenang tadi secara otomatis melakukan pengaturan (ruling) dan penekanan (oppresi) kepada kelas-kelas yang tunduk sebagai kelas sub dominan.  Menurut pandangan ini maka praktik fundamental manusia adalah melulu soal praktik pertarungan membentuk sejarah siapa dan sejarah apa.

Sampai di sini kita masih dapat mengerti mengapa ada sebagian dari pemikir dan masyarakat yang me-reclaim-, satu gagasan di masa lampau untuk digunakan sebagai pembanding dan acuan bagi praktik ke depan. Di antara acuan tadi adalah pola perilaku, praktik, dan nilai-nilai yang semuanya terkait dengan persoalan waktu.

Sebut saja gagasan tentang kembali kepada kebijakan lokal (local wisdom) tentang waktu tanam, masa panen, tata laksana teh sore, makan malam, mudik, dan perayaan-perayaan utama yang semuanya terkait dengan persoalan historis.  Maulid, haul, reuni, sampai keinginan kembali ke model rejim masa lalu, neo nazi, atau khilafah adalah bentuk dari penghargaan kita terhadap dominasi waktu sebagai refleksi dari aktivitas kita membentuk sejarah hidup kita sendiri.

Trialektika   

Semenjak Henry Lefebvre menyebut produksi ruang (Production of Space) adalah aktivitas yang hidup dan menghidupkan masyarakat maka pendekatan geografis sepertinya pelan-pelan menggeser kajian historis. Lefebvre kemudian memperkenalkan teorema yang disebutnya dengan trialektik (triplicety). Sebuah usulan ambisius untuk menggeser dominasi dialektika yang dianggapnya tidak lagi relevan sebagai sebuah teori untuk menerangkan fenomena perubahan sosial.

Mengilustrasikan hal ini ia mengatakan jika pada hakikatnya baik Marx dan pemikir sebelum atau setelahnya selalu akan menempatkan sebuah konsepsi ruang di ujung pencapaiannya. Kata-kata seperti Negara Adil-Makmur, Negara Kesatuan, Negara Utopia, dan atau Negara Polis/politea, hakikatnya adalah pembicaraan tentang pembentukan ruang hidup. Meskipun mereka memasukkan unsur konflik, pertentangan kelas, dan perebutan ekonomi-politik namun pokok pertarungannya adalah pertarungan memproduksi ruang. Apa yang disebut dengan koloni (kolonialisme), imperium (imprealisme), dan politik ekonomi (pasar/market) adalah istilah yang merujuk kepada ruang.

Nalar ruang (space/spatial) tadi terbentuk lebih dominan daripada historis (yang hanya memiliki elemen waktu yang abstrak). Ini karena apa yang disebut dengan meruang adalah bentuk abstrak sekaligus konkrit.  Ia bukan hanya percakapan abstrak yang digugat Karl Marx sebatas “percakapan para filsuf” namun dalam praktiknya bersinggungan dengan hal-hal kasat juga.

Levebre kemudian membagi konstruksi abstraksi ke dalam tiga kelompok pengalaman. Yaitu ruang sebagai sesuatu yang terpersepsikan, ruang yang terkonsepsikan dan ruang yang terimajinasikan. Ketika relasi inilah yang nantinya menjadi dasar dari perkembangan teori Trialektika.

Ruang yang terpersepsikan adalah ruang yang kita alami secara empiris dan sensoris. Dunia tempat kita tinggal adalah ruang dimana kita beraktivitas. Pada saat kita membayangkan sebuah kata Indonesian misalnya, ia membentuk pengalaman abstrak tentang sebuah negara di Khatulistiwa, gemah ripah, terdiri dari ribuan pulau dan macam suku bangsa. Pengalaman ini disebut persepsi kita tentang ruang yang bernama Indonesia.

Namun pada saat kita menyebutkan bahwa di ruang tadi adalah sebuah negara Republik, Negara Kesatuan RI berdasarkan Pancasila, menghargai demokrasi, anak yatim dan orang miskin serta berkeadilan sosial maka ini ia menjadi Indonesia sebagai ruang yang terkonsepsikan. Ia hadir sebagai sebuah ruang utopia dalam pengalaman Marxis. Tetapi apa yang kita bayangkan tentang yang terkonsepsikan itu masih terus akan tumbuh dan ia tidak menjadi sesuatu yang berhenti, statis, dan ajeg.

Ini karena secara aktual produksi ruang akan sejalan dengan produksi pikiran. Sejauh ada gagasan pemikiran maka praktik meruang tadi hidup dan terus tumbuh selama masyarakat sosial ada dan tujuan ideal belum punah. Sehingga ia akan tunduk kepada hukum pertumbuhan atau sebaliknya hukum regresi mekanis; akan pudar dan hilang.

Sebagian yang berkata jika NKRI adalah harga mati adalah mereka yang secara struktur terbuang dari definisi ini. Kenyataannya pernyataan tadi bukanlah sesuatu yang revolusioner tetapi lebih kepada putus asa (Foucault: Questions on Geography). Setelah reformasi kita melihat sendiri jika Timor Timur, Sipadan dan Ligitan lepas dari apa yang kita sebut sebagai NKRI harga mati. Artinya argumen ini tidak memiliki dasar teori baik dalam dialektika historis maupun trialektika ruang. Ruang sejatinya adalah sesuatu yang hidup, ia tumbuh dan berkembang atau ia layu dan meredup.

Yang ketiga adalah ruang sebagai media representasi dari imajinasi. Di sini ruang adalah produk dari dua ruang sebelumnya baik yang terpersepsikan dan terkonsepsikan. Gagasan tentang terbentuknya PBB, Asia-Afrika, ASEAN, pemekaran wilayah provinsi, kabupaten kota, distrik perkantoran, perumahan susun, sampai taman bermain atau rumah jompo adalah imajinasi-imajinasi kita yang kemudian dimunculkan ke dalam ruang.

Tentu saja ia dapat merepresentasikan imajinasi kita tentang konsep politik (Ruang debat, Indonesian Lawyer Club, Pojok Diskusi, Pojok Lapor, dll.). Ia juga dapat hadir sebagai imajinasi dari agresivitas ekonomi seperti munculnya Kota Baru A, Kota Mandiri, Meikarta, Reklamasi, Koridor Ekonomi, Tol Laut, Tol Darat, dll.,). Bahkan ia dapat hadir dari sebagai sebuah imajinasi utopis yang sifatnya romantis seperti Negara Islam Irak-Suriah, Negara Khilafah, Negara Zionisme, Kampung Nenek, Dapur Bibi, dst.

Pertarungan Ruang

Reorientasi kepada ruang inilah yang kemudian kita sendiri lihat dalam beberapa kasus terjadinya konflik dalam produksi ruang. Yang dengan sendirinya melibatkan kompetisi kekuasaan seputar penguasannya.

Tertangkapnya bupati Bekasi, reklamasi, pengambilalihan lahan, perubahan fungsi hutan, kerusakan sistem adat, penggusuran warga adat, masyarakat miskin kota,  dan praktik land-banking yang mengubah lahan produktif menjadi aset-aset perbankan atau properti pemain besar merupakan praktik dari produksi ruang.  Yang kita lihat jika perebutan ruang inilah yang menjadi warna utama dari konflik ekonomi-politik kita hari ini.

Ini tentu saja menjadi penting dikaji bila kita mulai melihatnya sebagai sesuatu yang destruktif. Misalnya bagaimana produksi reklamasi pantai di satu sisi memperkaya pemodal namun ia menyingkirkan nelayan dan penduduk pesisir pantai utara Jakarta, Bali atau Riau. Sementara kita berbicara tentang perlunya penyediaan rumah layak bagi rakyat di sini lain kita melihat praktik land-banking dari korporasi besar membuat harga lahan di perkotaan menjadi sesuatu yang hampir mustahil diakses oleh rakyat. Ada adagium yang menjadi dilema bagi pegawai dan kaum pekerja; setiap kenaikan gaji sebesar 10% dari gaji pokok, maka tempat tinggal mereka bergeser 10 km menjauh dari kota.

Untuk itu ada tiga sudut pandang yang barangkali dapat kita ajukan demi menghindari pertarungan ruang berakhir kepada konflik.

Pertama mengembalikan hakikat ruang sebagai sesuatu yang memiliki nilai superstruktur. Sebagaimana ditetapkan oleh para tokoh pendiri negeri dalam pasal 33. Bahwa Bumi, Air dan Kekayaan yang ada di dalamnya harus dikuasai –dalam pengertian pengorganisasiannya- oleh negara bagi kepentingan sosial. Ernest Mandel setuju untuk memasukkan ruang sebagai superstruktur ini di atas persoalan ekonomi an-sich. Ruang menurutnya bukan hanya merepresentasikan ekspresi sosial tetapi juga menjaga harkat hidup masyarakat di dalamnya.

Kedua, harus ada pemahaman dialektika socio-spasial yang berimbang bagi semua eksponen masyarakat. Apa yang terjadi hari ini adalah, sebagian mendapatkan informasi dan data jauh lebih lengkap tentang ruang sebagai sebuah aset dan investasi. Sementara sebagian besar lainnya miskin akan informasi dan peluang-peluang yang mungkin ada dalam pemanfaatan ruang tadi.  Termasuk di dalamnya pandangan sosiologis terhadap ruang harus dihargai setinggi mungkin. Apa yang terjadi dengan misalnya mengubah sebuah kawasan yang dulunya tanah adat atau milik sekelompok masyarakat dengan ciri-ciri keagamaan atau identitas tertentu dengan menghilangkan semua elemen tadi.

Ketiga adalah usaha-usaha mengidentifikasikan dengan bijak praktik yang dapat mengganggu dan rapuh dalam ruang hidup. Proses separatisme ruang dalam bentuk pembagian kategori (distrik elit, distrik menengah, atau distrik miskin, distrik muslim atau distrik non muslim) harus dieliminir mengingat potensinya merusak rekatan sosial. Lebih jauh diskriminasi ruang (ruang VIP, VVIP) pun pada akhirnya pelan-pelan dihilangkan dalam masyarakat.

 

andihakim03

andihakim03

Add comment

Tentang Penulis

andihakim03

andihakim03

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.