Locita

Transisi Indonesia Berdaulat Pangan

A hungry mob is an angry mob

Yang lapar adalah khalayak yang marah – Bob Marley

 

Tulisan ini sengaja saya tulis sebagai pengantar dan stimulan bagi pengetahuan kita terhadap persoalan pangan, yang sebentar lagi menjadi salah satu tema penting pada debat pemilihan calon presiden dan wakil presiden.

Tujuannya sederhana, agar kita tidak terjebak pada cara pandang persoalan pangan yang hanya melihat permukaan masalah. Tulisan ini banyak mengambil gagasan dan hasil penelitian Paul McMahon dalam bukunya yang diberi judul “Berebut Makan; Politik Baru Pangan”.

Sejarah Sistem Pangan Dunia yang dibentuk oleh kekuatan perusahaan besar seperti Cargill, Daniels Midland, Louis Dreyfus, Bunge dan terakhir Glencore yang sudah tumbuh di Amerika dan Eropa puluhan tahun silam mendapat perlawanan dari kekuatan-kekuatan perusahaan baru yang lahir di Asia seperti Noble, Olam dan Wilmar.

Perusahaan-perusahaan ini memiliki sarana dan prasarana yang tidak bergantung lagi pada sarana bisnis pertanian yang disiapkan oleh pemerintah dimana mereka membangun kekuatan, mulai dari sarana prasarana pengangkutan, bongkar muat dan pergudangan.

Mungkin dari nama-nama perusahaan diatas tak ada satupun yang dikenali oleh petani, apalagi petani kita di Indonesia. Tapi komoditi dari petani desa seperti beras, kopi, pala, biji mete, jagung, wijen, kapas, kayu lapis, hingga sawit yang berasal dari pelosok desa kita bisa tiba dengan cepat digudang penyimpanan dan pengolahan mereka diberbagai belahan dunia.

Perusahaan-perusahaan perdagangan komoditi pangan ini telah membangun mata rantai pasok mereka dihampir semua negara didunia. Merekalah yang menentukan harga pangan dunia. Perusahaan-perusahaan ini sangat mengerti kapan saatnya membeli hasil produksi petani, lalu menyimpannya dan kapan menjualnya kembali dengan selisih harga yang menguntungkan.

Mereka berebut, bukan hanya dihulu atau hilir aktivitas pertanian tapi sampai dilantai bursa perdagangan pangan. Selanjutnya McMahon dalam tulisannya memberi gambaran bagaimana China dan Korea Selatan menghadapi persoalan perang bisnis pangan ini dengan kebijakan Negara yang berbeda.

Sadar akan ketergantungan mereka terhadap monopoli perusahaan pangan dunia seperti Carggill, Bunge, Glencore dan juga Sogo Sosha (singkatan untuk perusahaan konsorsium pangan Jepang), Korea Selatan memutuskan untuk melakukan pembelian langsung hasil produksi pangan AS melalui BUMN mereka.

Adalah Korea Agro-Fisheries Trade Corp yang ditugaskan melakukan pembelian hasil produksi pertanian seperti jagung, gandum dan kacang-kacangan untuk memenuhi 30% kebutuhan pangan nasionalnya sampai tahun 2020.

Bagaimana dengan China? China tidak menempu jalan seperti pilihan agresif Korea Selatan. China justru memilih pembelian langsung dari perusahaan-perusahaan raksasa pangan dunia, sembari membangun perusahaan-perusahaan raksasa pangan dengan mengendalikan sumber-sumber pangan dinegara-negara Amerika Latin.

Targetnya mampu menyerap 6 juta ton kedelai pertahun dari petani Brasil. Pada awalnya hampir semua perusahaan-perusahaan pangan ini pada tidak pernah bermaksud membuka perkebunan sendiri, mereka menghindari untuk terlibat langsung dengan sektor hulu produksi komoditi, karena itu dianggap sangat beresiko, padat modal dan lebih sering tidak menguntungkan.

Tapi lahirnya kompetitor baru perusahaan raksasa pangan lainnya memaksa semua perusahaan besar itu melakukan penguasaan komoditi pangan, dari hulu hingga hilirnya.

Olam menjadi salah satu contoh perusahaan yang paling aktif memulai invetasi di Negara-negara Afrika, dengan Investasi besar diatas hamparan 10.000 hektar sawah. Membangun industri pertanian yang mencengangkan. Dalam beberapa tahun terkahir Olam telah melakukan 24 investasi disektor hulu diberbagai penjuru dunia dan saat ini memiliki 400.000 hektar kebun komoditi.

Tidak ada lagi pilihan membeli komoditi dipasar bebas, atau bergantung pada para perantara. Mereka memutuskan melakukan pengendalian terpadu, mulai dari benih sampai penjualan makanan olahan.

Dinamika Penduduk dan Geopolitik Pangan Dunia
Selanjutnya, mari kita lihat lebih dalam bagaimana masa depan China dan India bisa berdaulat atas pangan? Dari banyak kajian menunjukkan bahwa revolusi sistem pertanian di China telah membawa kejayaannya menjadi negara Asia yang paling sedikit bergantung pada pangan dunia.

Saat ini China hanya melakukan impor pangan 5% dari total kebutuhannya, meski berbagai data menunjukkan bahwa eksploitasi lahan pertanian yang massif membuat degradasi lahan dan kapasitas produksi di negara mereka.Melalui ilmu pengetahuan China mampu keluar dari situasi itu. China dengan kebijakannya berhasil menekan laju pertumbuhan penduduk.

Tapi apakah China akan berhenti melakukan impor pangan?

Para peneliti memperkirakan bahwa justru mereka akan menambah jumlah impornya, karena dengan kemakmuran penduduknya, China akan terus menyerap pangan dari negara-negara lain untuk memenuhi kebutuhan makanan mewah mereka yang tidak atau belum diproduksi dalam negerinya.

Lantas bagaimana dengan India?

Laju pertumbuhan penduduk India yang tidak terkontrol meskipun dengan produksi pangan yang meningkat saat ini tetap membuat India mengimpor sebanyak 15% kebutuhan pangannya.Diperkirakan penduduk India akan terus bertambah, dengan lahan yang semakin sempit.

Asia pada umumnya akan tetap bergantung impor pangan dari Amerika Latin, Amerika Utara, Australia dan Selandia Baru yang masih memiliki lahan luas. Negara-negara Asia pengekspor pangan khususnya bebuliran seperti Thailand, Vietnam, Mianmar mungkin masih mampu bertahan 10 hingga 15 tahun yang akan datang, tapi dengan catatan terus melakukan inovasi untuk meningkatkan produksi mereka, mengingat lahan pertaniannya yang semakin sempit.

Kawasan Asia Selatan, Negara seperti Afghanistan, Pakistan, Bangladesh, Nepal, Irak dan Iran, diperkirakan pada tahun 2050 penduduknya akan meningkat pesat dari 1,7 miliar penduduk menjadi 2,4 miliar penduduk jika ditambah dengan penduduk India, sementara lahan yang mereka miliki paling miskin kandungan air. Kawasan ini hanya akan memiliki 0,07 hektar lahan untuk setiap penduduk. Kawasan inilah, dimasa yang akan datang menjadi pengimpor pangan terbesar dunia.

Afrika (kawasan tepian gunung sahara) adalah kawasan yang paling sulit diperkirakan dalam peta pangan dunia. Dengan laju pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi dan pendekatan pola produksi pangan yang berbeda-beda dengan kerusakan lingkungan yang parah, nasib masyarakat Tanzania, Mozambiq, dan Zambia meskipun masih memiliki lahan yang luas sangat sulit akan terus melakukan impor pangan.

Praktek zero sum games kekuatan pasar bebas pangan dunia ini terus memaksa negara-negara miskin dan berkembang memaklumi bahwa gejolak harga pangan adalah hal yang wajar dalam sistem perdagangan pangan.

Transformasi politik pangan di Indonesia

Sejak dulu, pangan memang menjadi senjata diplomasi yang penting bagi AS. Dimasa Perang Dunia I dan Perang Dunia II, Amerika telah menolak melakukan permintaan untuk impor pangan dari negara musuh mereka dan mengalihkan ekspor ke negara sekutunya.

Perusahaan-perusahaan komoditi pangan mereka dipaksa untuk mengikuti arahan kepentingan internasionalnya, memasok dengan harga murah dan segera menutup keran jika negara-negara sekutu itu berubah menjadi tidak bersahabat. Itulah gambaran bagaimana sistem pangan dunia ini menjadi kekuatan politik yang sangat strategis.

Kita semua tahu bahwa dalam sejarah bangsa kita, pada masa penjajahan telah terjadi pencaplokan dan pengambilan paksaan lahan secara besar-besaran (land grab). Praktek paling kelam ini muncul kembali pada masa Orde Baru hingga pasca reformasi, meski dengan wujud yang berbeda.

30 juta hektar lahan menjadi milik anak perusahaan-perusahaan raksasa komoditi pangan dunia yang didukung oleh kekuasaan pemerintah. Perkebunan skala luas bermunculan, izin-izin pemanfaatan lahan dan sumberdaya alam tak terkendali, inilah yang mewarnai kebijakan lahan kita sampai 4 tahun terakhir ini. Petani kita menjadi petani tuna lahan, miskin dan rentan miskin dan sebagian besar menggantungkan hidupnya sebagai buruh tani.

Jika berkaca pada transformasi negara-negara berkembang yang mengubah diri menjadi negara maju, hanya sedikit negara yang tidak memulainya dengan membangun sistem ekonomi pertanian terlebih dulu, lalu menjelma menjadi negara industri yang kuat, dan selanjutnya menggalakkan sektor-sektor ekonomi lainnya. Inggris, Perancis, China, Taiwan menjadi contoh yang nyata untuk transformasi ini.

Namun apakah transformasi ini tidak terkait dengan transformasi politik?

Dalam banyak penelitian sosial, politik dan ekonomi, transformasi sistem pertanian selalu diawali oleh transformasi sistem politik suatu negara. Selain sistem politik yang memihak pada petani, kepemimpinan juga menjadi penentu transformasi ini bisa terjadi.

Dibutuhkan pemimpin yang memahami dan mau melayani rakyatnya pada lapisan paling bawah, bukan pemimpin yang terbiasa mengelola sistem bisnis pasar bebas yang dengan gampang membawa kepentingan ekonomi dan bisnisnya masuk dalam sistem ekonomi pertanian nasional.

Lalu bagaimana memulai membangun sistem pertanian yang mampu membawa keluar dari jebakan sistem pangan dunia yang umumnya mencekik petani?

Beberapa negara-negara lain telah memberi contoh yang baik. Seperti China, Thailand, Vietnam, Filipina dan Taiwan. Mereka memulainya dengan membangun jalan raya, membangun bendungan, irigasi, sarana pergudangan, membangun jalan-jalan desa, lalu menghubungkan sektor ekonomi desa dan kota dengan cepat.

Yang paling mendasar mereka lakukan adalah penataan kembali lahan pertanian, (land reform) memaksimalkan potensi lahan. Di negara seperti Vietnam, lahan tidak harus menjadi milik petani dengan sertifikat kepemilikan pribadi, cukup dengan jaminan hak pengelolaan lahan, petani mampu meningkatkan produktivitas kerja dan produksi mereka.

Di Indonesia yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidupnya sebagai petani, hal yang sama masih sulit untuk dilakukan. Petani kecil harus menjadi kekuatan produksi pangan kita.

Dengan penataan kembali hak pengelolaan lahan, pemberian subsidi yang lebih besar untuk alat-alat pertanian modern, peningkatan standar upah petani, subsidi benih, pupuk hingga alat modern pertanian, bisa menjadi pilihan untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani.

Pilihan yang lain dengan mengadopsi konsep Eco-Agriculture, yang meletakkan ekologi dipusat sistem pangan. Pada beberapa Negara maju, konsep Eco-Agriculture justru mengurangi pembukaan lahan seluas-luasnya yang seringkali menyebabkan kerusakan lingkungan. Eco-Agriculture memberi peluang kembalinya kesuburan tanah, dengan pergiliran penggunaan pupuk kimia dan organik akan meningkatkan hasil produksi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Membiasakan memberi harga yang tinggi terhadap produk pertanian juga menjadi salah satu pilihan. Orang-orang kelaparan bukan disebabkan oleh harga pangan yang tinggi, tapi lebih karena mereka tak punya uang untuk membeli. Ini terkait dengan pendapatan dan daya beli.

Jadi mereka yang tak mampu membeli makanan adalah orang-orang desa yang tuna lahan atau orang-orang kota yang tak punya sumber pendapatan. Merekalah orang pertama yang terdampak oleh fluktuasi harga bahan pangan. Di China pada tahun 1980 harga hasil pertanian naik 40%, namun hal ini justru mendorong tingginya investasi dibidang pertanian.

Para petani mampu menambah alat produksi mereka. Sama seperti rumah tangga pedesaan di Vietnam yang semakin bergairah meningkatkan produksi setelah mereka mendapat selisih dari meningkatnya harga hasil pertanian mereka.Langkah terbaru yang dilakukan pemerintah saat ini adalah dengan mendorong penciptaan bahan bakar hayati. Ini juga bisa menjadi solusi jangka panjang bagi petani kecil.

Semakin besar penggunaan bahan bakar hayati (Biofuel) peluang peningkatan kesejahteraan petani semakin besar, karena hasil produksi mereka terserap oleh pasar dengan harga yang lebih baik.

Jadi berdiskusi soal pangan ini tidak semata soal berapa banyak jumlah impor yang dilakukan, melainkan seberapa baik kita menciptakan pondasi kebijakan dan praktek pembangunan yang tepat untuk masa depan kedaulatan pangan kita. Semoga tulisan ini menjadi bahan diskusi yang mencerahkan kita semua.

Kang Nurhan

Kang Nurhan

Petani Jagung Cianjur

2 comments

  • Hello! I’m at work browsing your blog from my new iphone! Just wanted to say I love reading through your blog and look forward to all your posts! Carry on the great work!

Tentang Penulis

Kang Nurhan

Kang Nurhan

Petani Jagung Cianjur

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.