Locita

Tahun Politik dan Masa Depan Ekonomi Kita

DI HARI terakhir bulan kesebelas ini, hujan tetap turun dan langit Jakarta masih saja gelap. Saya dengar dua badai memang sedang mengintai Jakarta. Badai Dahlia dan badai Cempaka, membuat angin bertiup begitu kencang. Hal ini memaksa saya menikmati suasana libur di dalam kamar saja, sembari mendengarkan lagu Iwan Fals.

Lirik lagu berjudul Rubah yang kuputar melalui telpon genggam sore itu, menggema di dalam kamar sewa saya. Coba dengarkan celotehan Iwan Fals ini:

“Zaman berubah perilaku tak berubah
Orang berubah tingkah laku tak berubah
Wajah berubah kok menjadi lebih susah
Manusia berubah berubah – rubah
Gandhi yang dicari yang ada komedi
Revolusi dinanti yang datang Azahari..”

Lirik lagu yang diciptakan Iwan Fals tahun 2007 lalu, seolah menceritakan hal yang akan berlaku tahun depan di negeri kita. Saya menyebut tahun 2018 adalah “tahun politik” sementara setahun berikutnya “tahun perburuan”. Setidaknya nuansa saling menerkam memang sudah terasa di pengujung tahun 2017.

Para politisi sudah mulai sibuk menampakkan citra diri mereka meski sebenarnya mereka adalah ‘rubah’. Hitung-hitungan politik dan biaya politik pun nampaknya sudah dimulai. Dalam banyak kasus, upaya mendongkrak citra seperti ini akan membuat mereka saling menerkam. Dan faktor kekuasaan di bidang ekonomi jadi salah satu cara ampuh.

Jelang tahun politik 2018 dan 2019 kita patut was-was. sebab politik selalu menarik-narik banyak hal ke dalam pusaran masalahnya, khususnya ekonomi. Setidaknya itulah yang terjadi di Amerika Serikat (AS) jelang Pilpres mereka 2016 lalu.

Kebijakan bank sentral sebuah negara terhadap faktor politik memang tidak bisa disangkal bahkan di negara demokrasi paling maju seperti AS. Mungkin kita masih ingat heboh-heboh perihal suku bunga bank sentral dari Amerika Serikat (AS) yang tertahan begitu lama.

Jadi ceritanya begini, dua bulan sebelum pemilihan presiden AS, tepatnya November tahun 2016. Bank sentral negara tersebut The Fed, melakukan pertemuan direksi, dan memutuskan menahan suku bunga mereka atau dikenal dengan sebutan suku bunga acuan pada level 0,25-0,5 persen. Level rendah ini sebenarnya sudah berlangsung selama sembilan bulan. Hal yang cukup aneh bagi sebuah negara yang menjunjung tinggi ekonomi liberal.

Tak salah jika polemik di kalangan ekonom dunia bermunculan, calon presiden Trump pun meradang. Ia menuding pimpinan The Fed, Janet Yellen, mempertahankan suku bunga rendah itu untuk membuat Barrack Obama terlihat baik di mata masyarakat AS. Karena memang jika suku bunga acuan dinaikkan akan mengerek bunga simpanan di bank, juga tentunya kredit perbankan. Hal ini bakal menaikkan pula ‘bunga-bunga’ di sektor lain, dan sama sekali tidak bagus di tengah lesunya perekonomian.

Trump menganggap ‘perjudian’ The Fed ini sebagai trik Obama membantu calon presiden Hillary Clinton yang didukungnya guna meraih simpati. Trump lantas mengancam mengganti Janet jika ia terpilih, hal yang telah ia lakukan awal November tahun ini.

Guna menyikapi tahun politik Bank Indonesia (BI) tiga hari lalu, Selasa (28/11/2017) juga telah mempersiapkan diri. Sebagai bank sentral, BI mengeluarkan rekomendasi menjelang tahun politik 2018 dan 2019. Dalam lansirannya, BI menyebutkan beberapa hal yang bisa saja terjadi tahun depan dan tahun berikutnya.

Saya akan coba membedah seperti apa laporan yang dirilis BI ini.

Pertama, pendapatan negara dari pajak tahun ini diperkirakan akan turun Rp150 triliun. Artinya, tahun depan bakal ada efisiensi pada setiap kementerian dan lembaga. Tanpa melakukan efisiensi, program-program prioritas takkan mampu berjalan baik karena tetap minimnya dana. Ini berarti masyarakat akan kurang mendapatkan pelayanan di beberapa kementerian.

Kedua, BI menyebutkan pertumbuhan ekonomi kita pada triwulan III-2017 atau hingga bulan September tumbuh 5,06 persen. Hal ini patut membuat kita ketar-ketir jika berkaca dari tahun-tahun lalu pertumbuhan ini jelas tidak bagus. Hampir pasti target pertumbuhan yang dicanangkan sebesar 5,2 persen tahun ini meleset. Serupa dengan dua tahun terakhir, pada 2015 meleset menjadi 4,79 persen dan pada 2014 sebesar 5,02 persen.

Perlambatan ekonomi ini utamanya dikontribusikan oleh menurunnya konsumsi rumah tangga. Hingga akhir 2017 konsumsi sektor ini juga belum membaik, hanya tumbuh 4,93 persen. Berarti masyarakat tidak kunjung berbelanja, pelemahan daya beli yang terasa sejak 2015 masih berlangsung rupanya. Semoga pertumbuhan ini tidak terus melambat, dan justru turun hingga dua tahun kedepan.

Tahun Politik 2018 dan 2019 serta masa depan ekonomi kita.

Sebenarnya agar daya beli kelas menengah dan ke bawah ini bisa meningkat, dengan menaikkan upah riil buruh. Caranya tentu dengan menggenjot sektor yang banyak diisi oleh buruh. seperti properti dan manufaktur. Oleh karena itu penyerapan di sektor ini harus benar-benar terjadi, jangan sampai pembangunan infrastruktur seperti tahun ini malah menyerap tenaga asing.

Ketiga, menurut BI pertumbuhan pendapatan di tingkat petani sudah mengalami perbaikan, terutama di sektor komoditas yang ekspornya meningkat. Ini berarti penjualan di sektor ini sudah mulai membaik setelah gagal panen atau bisa jadi paceklik karena cuaca ekstrim perlahan membaik. Sebelumnya, juga pendapatan petani perkebunan anjlok karena penurunan harga komoditas ekspor khususnya sawit, dan cokelat di tingat internasional. Mungkin saja harga di sektor ini sudah mulai berangsur menanjak.

Keempat, kata BI pertumbuhan pendapatan kelas menengah berlum terjadi. Penyebab belum bertumbuhnya pendapatan kelas menengah adalah penurunan remitansi tenaga kerja Indonesia. Pada 2015, pertumbuhan remitansi turun 20 persen, sedangkan 2016 turun 12 persen hingga Juni 2017 remitansi pahlawan devisa turun Rp4,3 triliun jika dibandingkan periode sama tahun lalu. Remitansi sendiri transfer uang yang dilakukan pekerja asing ke negara asalnya. Selain bantuan internasional, uang remitansi memang salah satu arus uang terbesar di negara berkembang  yang mampu menopang perekonomian. Tak salah jika TKI menjadi pahlawan devisa.

Kelima, jumlah pengangguran di Indonesia masih sekitar 7 juta orang sejak 2011 hingga Agustus 2017. Hal ini diakibatkan minimnya ekspansi industri yang akhirnya berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat kelas menengah ke bawah. Mengapa hal ini terjadi? besar kemungkinan karena harga bahan baku industri yang mahal.

Apalagi setahun ini banyak tenaga kerja dalam negeri dikurangi jam kerjanya bahkan dipecat. Sementara industri-industri baru yang tumbuh seperti perusahaan Start-Up di bidang teknologi tidak optimal menyerap tenaga kerja kasar. Ini terjadi karena kompetensi yang dibutuhkan bidangyang tengah naik daun ini tidak memungkinkan merekrut buruh apalagi dalam jumlah besar.

Jadi, menurut BI tahun 2018 dan 2019 bisa menjadi tahun yang berat bagi kita semua. Semoga para politisi itu tidak berubah menjadi rubah yang benar-benar memangsa kita semua.

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.