Locita

Sebastian Kurz, dan Bangkitnya Pemimpin Baru Anti-Islam

TANGGAL 15 Oktober 2017 lalu, merupakan sejarah baru bagi dunia. Hal ini terjadi usai pria bernama Sebastian Kurz terpilih sebagai Perdana Menteri Austria. Pria berusia 31 tahun ini dikenal sebagai sosok yang amat membenci islam juga imigran gelap.

Pada momen itu, Kurz sekaligus menjadi Perdana Menteri termuda di dunia setelah PM Irlandia terpilih pada Juni 2017, Leo Vardarkar (38) serta Perdana Menteri Perancis Emmanuel Marcon (39). Kurz bahkan lebih muda dari pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (33).

Kurz kerap dijuluki sebagai Wunderwuzzi “The Whiz Kid”  membawa partai rakyat (Peoples’s Party ‘OVP) yang dipimpinnya sejak 14 mei lalu. Ia meraih suara 31,5 persen atau 62 kursi mengalahkan partai ultra kanan Freedom Party (FPO) yang hanya mendapatkan 27 persen atau 52 kursi.

Selain itu kubunya juga mengalahkan Partai Sosial Demokrat (Social Democartic Party) yang meraih suara 26 persen atau 51 kursi parlemen.

Bagi yang masih belum mengetahui, Austria menggunakan sistem pemungutan suara proporsional untuk memilih kandidat dari 183 kursi Dewan Nasional. Partai harus memenangkan setidaknya empat persen suara secara nasional untuk memenangkan kursi di parlemen atau setidaknya satu kursi di salah satu dari 43 wilayah pemilihan daerah di Austria.

Pemilu diadakan setiap lima tahun, kecuali semua partai parlementer menyetujui pembubaran parlemen secara prematur untuk mengadakan pemungutan suara secara dini. Orang-orang Austria yang berusia 16 tahun ke atas diizinkan untuk memilih, setelah usia voting nasional diturunkan dari 18 di tahun 2007.

Secara keseluruhan, Austria memiliki sekitar 6,4 juta pemilih terdaftar. Secara terpisah Pemilu ke-Presidenan Austria diadakan setiap enam tahun sekali.

Kurz, terbilang memiliki karir politik yang gemilang. Ia memutuskan berhenti kuliah hukum dan berkosentrasi di dunia politik. Ibarat adegium proses tak pernah mengkhiananati hasil, dunia politik yang ia geluti tak berkhianat. Kurz terpilih menjadi anggota Parlemen pada 2013 di usia yang sangat muda. Ia pernah menjabat pula sebagai Menteri Integrasi di usianya yang ke 24, kemudian ditunjuk sebagai sebagai Menteri luar negeri Austria, di usia yang ke-27 tahun.

Kurz dalam kampanyenya selama ini mengadopsi strategi politik dari partai ultra kanan, FPO dalam mendulang suara. Kampanye Kurz banyak menyinggung urusan imigran gelap dengan gaya dan budaya serta kemasan politik yang berbeda. “Time For Something New” menjadi Jargon politik Kurz yang bisa jadi menarik perhatian voters dan terbilang berhasil.

Kemenangan Kurz memang menarik dalam perpolitikan Eropa. Sebelumnya, saya berpikir bahwa kampanye Kurz atas anti-imigran dan Ati-Muslim sulit memperoleh Kemenangan. Contohnya, kegagalan kandidat yang selalu berkampanye anti-imigran dan anti-muslim oleh Geert Wilders di Belanda dan Marine Le Pen Perancis yang sebenarnya tidak jauh berbeda yang dikampanyekan Kurz. Perancis kemudian dimenangkan oleh Emmanuel Marcon dari partai LREM beraliran liberal dan Mark Rutte dari partai rakyat untuk demokrasi dan kebebasan.

Hal lainnya yang jadi pertimbangan adalah kebangkitan ultra-nasionalis di Jerman untuk pertama kalinya melewati ambang batas perolehan suara partai sebesar 5% dan berhak atas 94 kursi, meskipun pada akhirnya partai Angela Merkel yang memenangkan Pemilu. Pola tersebut jelas menunjukan sentiment kubu pro-liberal dan pro Uni-Eropa serta batas-batas  populisme dalam perpolitikan Eropa.

Meninggalkan profil tentang Kurz, hal yang jauh lebih menarik kedepan adalah menebak arah Koalisi Kurz dan Partai Rakyatnya, apakah Kurz harus memilih koalisi dengan partai yang memuat nilai-nilai liberal atau justru ‘banting stir’ mengubah arah Austria ke arah timur ‘Tidak Liberal’ menuju rezim yang nasionalistik dan xenophobia seperti Hungaria, Polandia, Republik Ceko, dan Slovakia.

Lebih spesifik, bagaimana Kurz harus menghitung koalisi dengan partai sosial democrat (SPÖ) yang dipimpin oleh Christian Kern atau dengan partai ultra kanan Freedom Party (FPÖ) yang dipimpin oleh Heinz-Christian Strache. Hal ini berpengaruh terhadap isu berulangnya krisis migrasi di Eropa, pro Uni-Eropa untuk keseimbangan politik-pemerintahan di Austria.

Sampai disini, hal yang memungkinkan koalisi Kurz adalah dengan FPO mengingat sejarah perpecahan koalisi antara OVP dengan SPO waktu lalu menjadikan koalisi keduanya semakin mustahil. Akhirnya pilihan Kurz ialah bertaruh banyak dengan FPO untuk pertama kalinya dalam kurang lebih 10 tahun. Namun bukan berarti FPO menjadi mitra koalisi yang mudah, perlu diketahui bahwa karakter atau citra FPO adalah islampobhia/anti-islam, anti-imigran dan memiliki garis hubungan dengan Burschenschafter group (Neo-Nazi). Pelemahan Kurz bisa kapan saja terjadi atau apabila koalisi OVP gagal akan sangat menguntungkan FPO seperti yang pernah terjadi saat momen pelemahan FPO dimasa berkuasa tahun 2000-2005.

Ada juga perhitungan besar ketika Kurz harus berkoalisi dengan kaum anti-imigran demi mencetak negarawan-negarawan muda dalam bingkai demografi baru, Milenial. Sebaliknya, harus ada pertimbangan Kurz untuk membawa perubahan Austria untuk lebih terbuka. Dengan demikian, perhitungan Kurz akan menghantar kebijakan Austria pada keseimbangan Eropa akan isu sosial, ekonomi maupun politik.

Rayla Prajnariswari Belaudina Kusrorong

Alumni Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Airlangga

Tentang Penulis

Rayla Prajnariswari Belaudina Kusrorong

Alumni Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Airlangga

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.