Locita

Saat Indonesia Positif Corona, Ke Mana Mereka yang Suka Membuatnya Lelucon itu?

Presiden Jokowi dan Menteri Kesehatan Terawan (Foto: Tempo.co)

Presiden Jokowi Widodo mengumumkan dua warga negara Indonesia (WNI) yang terdeteksi positif virus Corona. Jika pengumuman ini dilakukan langsung presiden dan bukan sekadar oleh juru bicaranya atau menteri kesehatannya. Dapat dipahami jika pengumuman ini dianggap penting. Lantas bagaimana seharusnya kita, warga negara +62 ini, bersikap?

Ketika virus ini menyebar dan mulai memakan korban awal tahun lalu di Wuhan, China, kita bereaksi dengan berbeda-beda. Ada yang menjadikan ini sebagai olok-olokan dan menyebutnya sebagai azab kepada China. Negara komunis yang dianggap telah mendzalimi Muslim Uighur. Maka penyakit ini dianggap sebagai hukuman yang pantas kepada negara berpenduduk 1,2 miliar ini. Tentu saja kemudian diikuti dengan dalil demi dalil.

Sebagian yang lain menanggapinya dengan santai. Bahkan dijadikan dagelan. Orang-orang Indonesia memang tidak pernah kehilangan ‘kreativitas’, kadang-kadang tanpa mempedulikan perasaan korban atau keluarga korban.

Virus Corona dibaca [korona] dijadikan konten beberapa YouTuber. Di Makassar, virus ini dikontekslokalkan dalam bahasa Makassar. YouTuber Sukri Bassitoaya misalnya mempelesetkan nama Corona ini dengan ‘koro-koroang’ alias ‘suka marah’. Yang lain dicocoklogikan dengan coto dan konro, keduanya makanan khas Makassar.

Setelah sebulan lebih, Corona semakin menyebar ke berbagai negara, masih tak ada pemberitaan jika virus ini telah sampai ke Indonesia. Lagi, berbagai macam meme dan lelucon tercipta. Virus Corona dikatakan tidak berani masuk ke Indonesia karena sudah ada penyakit DBD (Demam Berdarah) atau Malaria. Virus Corona akan kalah dengan mereka.

Orang-orang Indonesia dianggap atau merasa kebal dengan virus Corona. Meski sebenarnya, beberapa orang luar meragukan pengakuan pemerintah jika Indonesia masih bebas dari Corona. Amerika Serikat saja yang biasanya amat peduli dengan vaksin toh juga tak bisa lepas dari jeratan kasus Corona.

Tak heran rasanya ketika orang-orang luar itu meragukan apakah memang kita memeriksa dengan baik atau jangan-jangan tidak punya alat yang bisa mendeteksi dengan akurat. Beberapa yang lain menyebut rasanya tidak mungkin jika Indonesia dengan jumlah penduduk sekian banyak itu bebas dari Corona.

Perspektif saya pribadi, saya tidak tertarik untuk menyebar atau menjadikan Corona sebagai lelucon. Betapapun permainan kata dan bahasanya bisa dijadikan konten menarik. Saya tidak tertarik menjadikannya bahan lucu-lucuan ketika ada orang-orang di sana yang mempertaruhkan hidup dan setengah berjuang untuk bertahan hidup. Saya tidak tega membayangkan keluarga mereka yang telah meninggalkan harus menghapus bekas-bekas kesedihan di matanya.

Saya bahkan pernah menegur seorang kawan sebab menjadikan virus ini sebagai lelucon. Saya menegurnya dan mendapat balasan jika yang dimaksudnya adalah virusnya, bukan orang-orang atau negaranya. Meski kadang-kadang ada yang membela diri dengan menyebut yang dijadikan tertawaan adalah virusnya bukan orang-orang China atau pun negaranya, tetapi perbedaan keduanya terkadang terlalu tipis. Bahkan mungkin bercampur baur.

Dan kini setelah presiden resmi mengumumkan jika virus itu sudah ada di Indonesia, ditandai dengan dua pasien positif terjangkit virus ini, apakah kita kemudian masih menyebutnya azab atau menjadikannya lelucon atau bahan meme?

Pernyataan presiden itu, akhirnya, bisa memberikan dua hal, kita semakin was-was atau merasa lega karena Indonesia akhirnya menemukan atau mungkin juga mengakui jika ada pasien virus Corona. Ketidakterbukaan bahwa Indonesia bebas mungkin secara semu menggembirakan tetapi dengan melirik fakta menyebarnya virus ini di berbagai belahan dunia lain patut membuat kita meragu.

Kini, virus itu telah sampai di Indonesia. Entah memang baru ada atau sudah lama namun baru diakui, yang pasti virus itu bisa menyebar dan siapapun kita bisa menjadi korbannya.

Orang-orang kemudian ramai-ramai mencari masker dan membagikan beberapa cara melindungi diri. Beberapa cara di antaranya mencuci tangan dengan sanitizier lalu mengeringkannya sebab virus akan mati ketika dikeringkan. Lalu, menggunakan masker agar virus itu tidak mengenai wajah. Tidak menyentuh atau memegang wajah sendiri atau orang lain.

Seorang teman di Jakarta menceritakan masker dan sanitizier yang sudah ludes di beberapa supermarket atau toko. Sebuah isyarat jika beberapa orang telah membeli atau memborongnya. Juga sebuah tanda jika virus ini sudah dianggap serius.

Saya merasa penasaran dengan orang-orang yang dulu pernah menyebut ini sebagai azab orang-orang China. Atau bagaimana pula mereka ini yang dulu sering membagikan lelucon Corona? Sewaktu-waktu virus itu juga bisa menghinggapi mereka apalagi sudah ada di Indonesia. Mudah-mudahan tidak.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.